
Setelah menyelesaikan sholat subuh berjama'ah, Ardo hendak bersiap untuk pergi ke kediaman Linda. Ia masih harus mengurus beberapa hal yang belum selesai.
Sebelum keluar rumah, tak lupa Ardo mencium kedua anaknya yang masih tidur terlebih dahulu untuk berpamitan. "Papa pergi dulu ya, Sayang."
Ardo keluar dari kamar. Di ruang tamu, terlihat Jinan sedang menyiapkan sarapan untuknya.
"Makanlah sedikit. Jangan keluar dengan perut kosong," ujar Jinan mengingatkan.
Ardo mengangguk dan langsung mendudukkan tubuhnya di meja makan. Empat helai roti tawar, selai cokelat kesukaan Ardo, serta dua cangkir teh tawar sudah tersedia di hadapannya. Ardo segera menghabiskan dua helai roti tawar dalam waktu singkatnya, tak lupa teh tawarnya pun ia habiskan agar tidak mengecewakan sang istri yang telah bersusah payah menyiapkan hidangan itu untuknya.
"Sudah jam 6, aku pergi sekarang ya, Sayang."
Jinan meletakkan roti tawarnya yang belum ia habiskan, lalu ia berdiri untuk mengantar suaminya ke depan.
"Habiskan sarapanmu. Aku bisa pergi sendiri."
"Aku akan mengantarmu ke depan."
Ardo menghela nafasnya seraya tersenyum. "Baiklah. Ayo."
Jinan mengantar Ardo sampai teras rumah. Di sana sudah tersedia sebuah mobil sedan hitam yang telah dibawa oleh orang suruhan Ardo yang memang ikut ke Indo bersama mereka.
"Jangan pergi sendirian. Aku sudah bilang sama bibi Sila dan paman Dedy untuk menemanimu ke rumah duka. Mereka akan menjemputmu sekitar jam sembilan. Andy serahkan saja pada Ria, nanti Ria akan menyusul ke sana untuk menemanimu setelah kedua orang tuanya pulang."
Jinan mengangguk. "Jangan berkelahi lagi. Mulai sekarang kau harus banyak bersabar."
"Aku janji," ujar Ardo dengan wajah seriusnya. "Yasudah, aku pergi dulu, ya. Hati-hati selama aku tidak ada."
Ardo mencium kening Jinan selama beberapa detik. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
...
Setiba di kediaman Linda, ternyata beberapa orang kerabat Linda dan Putra yang tinggal di kota yang sama dengan mereka sudah ada di sana. Ardo ikut bergabung bersama yang lainnya dan mulai mengurus segala hal mengenai pemakaman bersama salah seorang pria paruh baya keluarga duka.
Saat semuanya selesai dan may1t siap untuk dimandikan, tiba-tiba Ardo meminta pada Linda untuk menunda proses tersebut. Ia meminta agar mereka menunggu Jinan dan Ayla datang terlebih dahulu agar Ayla bisa memeluk ayahnya untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Dan untungnya Linda mengiyakan karena ia juga ingin cucunya mengenal siapa ayah kandungnya, meski sebenarnya semua ini terlambat.
...
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan menuju kediaman Linda, Jinan terus menggenggam tangannya yang berkeringat dingin. Ia sungguh takut untuk menemui keluarga itu dalam kondisi yang seperti ini. Ia masih berpikir bahwa semua yang terjadi saat ini adalah kesalahannya.
"Tenanglah, Jinan. Kamu tidak salah apa-apa, jangan takut," seru Sila saat melihat rasa gugup di wajah Jinan melalui spion dalam mobil.
Jinan mencoba tersenyum. "Iya, Mi."
Jinan menghela nafasnya berulang kali, berharap rasa gugupnya segera hilang. Namun hingga mereka tiba di rumah duka, rasa gugup yang Jinan rasakan sebelumnya perlahan pudar, kini kembali muncul dan bahkan saat ini lebih dahsyat dari sebelumnya.
Dengan digandeng Sila, Jinan berjalan pelan memasuki rumah tersebut. Ia melihat Linda dan Aurel yang duduk di samping jen4zah segera menghampiri kedua wanita tersebut. Linda menyambut baik kedatangan Jinan, namun rasa bersalah yang menguasai diri membuat Jinan menumpahkan tangisnya pada Linda dengan mengucapkan kata maaf secara berulang.
"Mana Ayla? Ardo bilang Ayla ikut ke sini juga," tanya Linda mengalihkan agar Jinan tak terus menangis.
"Dia sama suami saya di luar. Saya panggilkan sebentar," ujar Sila yang menyahuti pertanyaan Linda.
Seperginya Sila, Linda kembali mengusap punggung Jinan untuk menenangkannya. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Nanti Ayla sedih kalau melihat mamanya menangis seperti ini."
"Sekali lagi Jinan minta maaf, Tante. Kedatangan Jinan dan suami Jinan ke sini benar-benar nggak ada sedikitpun niatan untuk membuat keadaannya kacau seperti sekarang."
Linda hanya tersenyum membalas perkataan Jinan.
"Yasudah, hapus air matamu. Itu Ayla sudah tiba," tunjuk Linda pada Ayla yang baru masuk ke dalam rumah bersama Sila.
Jinan mengusap air matanya saat melihat Ayla sudah tiba di sana.
Awalnya Ayla sempat tidak mengenali Linda, namun setelah diingatkan dan dikenalkan kembali oleh Jinan, barulah gadis kecil itu memanggil Linda dengan sebutan oma.
"Ayla, Sayang. Ayla lihat yang tidur di sana?" tanya Linda pada Ayla dengan menunjuk ke arah Romi yang telah tak bernyawa.
"Itu adalah ayah Ayla. Ayah Romi," ujarnya setelah Ayla menganggukkan kepalanya.
Ayla terlihat bingung dengan perkataan Linda. Gadis kecil itu sepertinya tidak mengerti akan apa yang Linda katakan. Namun saat Sila mengatakan bahwa Ayla memiliki dua ayah, yang di mana 2 orang tersebut adalah Ardo dan Romi, barulah Ayla mulai mengerti. Ia mengerti bahwa ia memiliki 2 orang Ayah, sama seperti ia yang memiliki empat orang oma sekaligus.
"Ayah."
Linda tersenyum haru saat cucunya itu memanggil Romi dengan sebutan ayah. Ia membawa Ayla untuk mendekati dan memeluk Romi untuk yang terakhir kalinya. Rasanya seperti mimpi. Ia seperti bermimpi melihat anak, cucu, dan menantu idamannya ada di sisinya saat ini setelah sekian lama.
Namun di sisi lain ia juga bersedih. Ia sedih karena momen ini terjadi di saat semuanya telah hilang. Semuanya hilang dan tinggal menyisakan dirinya seorang.
"Kenapa? Kenapa engkau melakukan ini padaku," lirih Linda dalam hati.
__ADS_1
Karena Ayla sudah berhasil bertemu ayahnya dan waktu juga sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh, kini jen4zah akan segera dimandikan agar bisa segera dimakamkan.
...
Setelah proses pemakaman selesai, Linda hanya berdiam diri di kamarnya seorang diri. Tak ada satupun yang diizinkannya untuk masuk meski itu Jinan ataupun Ayla. Wanita itu kini terlihat berbeda dari beberapa menit yang lalu. Ia saat ini berubah menjadi pendiam dalam waktu yang singkat. Entah apa yang dipikirkannya, hanya dia sendirilah yang tahu.
Di ruang tamu, Jinan terlihat berbincang bersama Aurel sembari memerhatikan anak-anak mereka yang sedang bermain bersama Ria di sudut ruangan. Sementara Sila dan Dedy, mereka sudah pulang dari beberapa jam lalu karena harus berganti tempat dengan Ria untuk menjaga Andy. Ria tidak akan sanggup menjaga Andy begitu lama seorang diri.
"Maaf karena sudah mengacaukan pernikahan kalian," ujar Aurel setelah mereka berbasa-basi beberapa menit lalu.
Jinan tersenyum kaku. "Saya yang seharusnya minta maaf, Mbak. Karena kehadiran saya, semua permasalahan ini terjadi," sahut Jinan yang masih menyalahkan dirinya atas kejadian saat ini.
"Aku tidak tahu harus senang atau sedih." Aurel menatap ke arah sembarang. "Karena jika semua ini tidak terjadi, aku tidak akan pernah bisa belajar untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi. Meski aku bersedih atas kejadian ini, tapi aku yakin, pelangi akan selalu datang setelah hujan reda. Sekalipun itu hujan badai."
Jinan hanya tersenyum menanggapi perkataan Aurel.
"Sayang."
Jinan dan Aurel menatap ke asal suara, di mana suara tersebut berasal dari Ardo yang memanggil Jinan. Ardo menyapa Aurel dengan menganggukkan kepalanya dan wajah datarnya, kemudian pandangannya ia alihkan pada Jinan.
"Ada apa?" tanya Jinan sembari menghampiri suaminya.
"Apa nyonya Linda sudah bisa ditemui?"
Jinan menggelengkan kepalanya. "Aku samperin lagi saja ya?"
"Tidak perlu, mungkin dia butuh istirahat. Kau dan Ayla pulanglah lebih dulu, sebentar lagi aku juga akan pulang. Nanti malam kita datang lagi ke sini untuk ikut tahlilan, siapa tahu saat itu nyonya Linda sudah mau ditemui."
"Baiklah. Tunggu sebentar."
Jinan menghampiri Aurel sejenak. "Mbak, saya pamit dulu, ya. Insyaa Allah, nanti malam saya ke sini lagi. Mbak masih lama di sini?"
"Saya akan menginap di sini sampai mama Linda tenang."
Jinan menganggukkan kepalanya. Baguslah jika Aurel meningap di sini, setidaknya wanita paruh baya itu ada yang menemaninya selama beberapa hari kedepan.
******
__ADS_1
Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys😘