Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 26


__ADS_3

Keesokan harinya Jinan bersama Elena segera pegi ke restoran untuk melihat keadaan di sana saat ini, sedangkan Ria harus ke kampus pagi-pagi sekali dan akan menyusul jika kegiatannya di kampus sudah selesai.


Mendengar kabar dari Rico, restoran kini sudah tidak ada bau bangkai lagi, namun meski begitu restoran tetap harus dikosongkan karena harus dibersihkan lagi dan disemprot dengan pengharum ruangan terlebih dahulu sebelum restoran siap dibuka kembali. Namun meski begitu, Rico sudah memastikan keamanan untuk baby Ayla jika Jinan ingin mengunjungi restorannya hari itu.


Setiba di sana saat Jinan dan Elena hendak membuka pintu restoran, mereka menghentikan gerakannya saat ada seseorang dari arah belakang tubuh mereka yang memanggil nama Jinan. Saat mereka menoleh, ternyata suara itu berasal dari seorang pria tampan dengan kaca mata yang bertengger di wajahnya. Pria itu tak lain yaitu, Evardo Rafandra.


"Pria ini lagi. Ngapain lagi dia manggil aku," batin Jinan heran.


"Astaga, tampan sekali. Pangeran dari mana ini?" batin Elena menatap kagum akan sosok Ardo yang berjalan mendekati mereka.


"Hai, Jinan. Hai juga, Nona," sapa Ardo saat ia sudah berada di hadapan Jinan dan Elena.


"Ha .. hai, Tuan," jawab Elena tergagu. Ia juga cukup terkejut saat Ardo menyebut nama Jinan.


"Astaga, bagaimana bisa Jinan mengenal pria tampan ini?" batin Elena.


Ardo tersenyum kepada Elena, kemudian pandangannya kini beralih pada Jinan sejenak, lalu ia menatap baby Ayla yang sedang menghadap samping kanan dalam gendongan Jinan.


"Hai cantik," sapa Ardo pada baby Ayla. Ia hendak mengusap pipi cubi baby Ayla, namun dengan cepat Jinan menghindar.


"Maaf," ujar Ardo.


"Ada apa?" tanya Jinan.


"Aku kemarin ke sini, tapi ternyata restoranmu tutup. Kenapa? Apa ada perbaikan lagi?" tanya Ardo.


"Tidak ada perbaikan. Hanya saja sedang ada sedikit masalah, Tuan."


Bukan Jinan yang menjawab, melainkan Elena.


Ardo dan Jinan menatap Elena dengan raut terkejut. Begitupun dengan Elena, ia pun sama terkejutnya akan ucapannya sendiri.


"Ada masalah apa?" tanya Ardo pada Elena. 


Elena menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung mau bicara apa.


"Em, tidak ada masalah. Dia hanya asal bicara saja," ujar Jinan yang berusaha menghalangi Elena agar wanita itu tidak mengatakan apa pun pada Ardo perihal keadaan restorannya. Ia bahkan menggenggam tangan Elena dengan erat, berharap wanita itu mengerti akan kode darinya.


"Maaf, Nona. Ada masalah apa di restoran kalian? Siapa tahu saya bisa membantu masalah kalian," ujar Ardo pada Elena, dan menghiraukan ucapan Jinan.


Elena tampak menahan sakit saat Jinan mengeratkan genggaman tangannya.


"Ji," seru Elena.


"Hei, kau membuat tangan temanmu kesakitan," tegur Ardo pada Jinan.


Seketika itu juga Jinan melepaskan genggaman tangannya pada tangan Elena.


"Astaga, maafkan aku, El," ujar Jinan terkejut akan perbuatannya yang telah menyakiti Elena. Ia sontak mengusap pergelangan tangan Elena yang tadi ia genggam, namum dengan cepat Elena menarik tangannya. Ia takut jika Jinan menggenggam tangannya lagi.


Sshh ...

__ADS_1


Elena mendesis merasakan tangannya yang kebas.


"Kau ini kenapa? Kalau terpesona dengan pria tampan ini, jangan sampai membuat tanganku remuk juga kali," bisik Elena pada Jinan dengan bahasa Indonesia.


Jinan menatap bingung pada Elena. Apa maksudnya?


"Apa maksud kamu?" tanya Jinan pelan.


"Kamu terpesona juga 'kan melihat pria tampan ini?"


"Hah? Maksud kam–"


Eheem ...


Ucapan Jinan terpotong akan suara deheman Ardo. Sontak saja mereka berdua menatap kearah asal suara.


"Maaf, restoran hari ini sedang tidak buka. Anda bisa kembali lagi ke sini besok," ujar Jinan. Kemudian ia menarik tangan Elena untuk masuk ke dalam restoran.


"Jinan, tunggu," teriak Ardo sembari menahan handle pintu yang hendak ditutup oleh Jinan.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Ada masalah apa dengan restoranmu?"


"Tidak ada masalah apa pun. Lebih baik kau pulang saja. Maaf," ujar Jinan. Ia hendak menutup pintu itu, namun Ardo dengan cepat menahan pintu itu dengan kakinya agar tidak tertutup.


"Hei, singkirkan kakimu."


"Tidak, sebelum kau beritahu aku sedang ada masalah apa dengan restoranmu," ujar Ardo tak mau kalah.


Jinan membukakan pintu restonya dengan kesal.


"Lihat? Tidak ada masalah apa pun di sini," ujar Jinan menunjuk isi dalam restorannya.


Mata Ardo menatap ke dalam restoran. Memang tidak ada sesuatu yang mencurigakan jika dilihat sekilas. Hanya ada beberapa orang pegawai yang terlihat sedang bersih-bersih di sana.


"Ada apa ini?" tanya seorang pria dari arah belakang tubuh Ardo.


Sontak saja mereka bertiga langsung saja menatap ke arah asal suara.


"Kak Rico," ucap Elena.


Ya, suara itu berasal dari Rico. Rico yang semalam sedang bermalam di rumah temannya, akhirnya harus datang lebih lama dari Jinan dan Elena ke restoran. Rencananya hari ini mereka akan melihat hasil rekaman cctv yang ada di dalam hingga luar restoran. Beruntung setelah kejadian satu bulan lalu Jinan sudah memasang kamera cctv di berbagai sudut ruangan. Semoga saja pelakunya kali ini bisa ketahuan, harap mereka semua.


"Kau lagi?" ujar Rico saat melihat adanya Ardo di sana.


"Kenapa lagi kau di sini? Semenjak kau menemui Jinan di restoran ini, sudah dua kali juga restoran Jinan mendapat teror dari orang yang tidak dikenal. Dan aku yakin jika semua itu berkaitan denganmu," teriak Rico sembari mendorong tubuh tegap Ardo.


"Astaga, Rico!"


"Kak, Rico!"


Pekik Jinan dan Elena bersamaan saat melihat Rico mulai main tangan pada Ardo. Dengan cepat Elena langsung mendekati Rico untuk menarik tubuh tinggi kakaknya. Jangan sampai mereka bertengkar di sini dan menjadi tontonan bagi orang-orang sekitar. Sedangkan Jinan saat itu langsung memeluk tubuh mungil puterinya. Jangan sampai puterinya itu melihat sesuatu yang tidak seharusnya di lihat oleh anak seusia Ayla. Ia takut itu akan mempengaruhi mental puterinya.

__ADS_1


"Sudah, Kak. Jangan membuat onar di sini. Jangan sampai kelakuan Kakak sampai membuat orang-orang berdatangan ke sini," bentak Elena pada kakaknya.


Ardo yang merasa anehpun terlihat kebingungan akan situasi saat ini. Apa maksud pria ini? Kenapa pria ini tiba-tiba emosi dan mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan teror. Ada apa ini sebenarya, pikir Ardo penarasan.


"Diam kau, El. Dia ini pasti penyebab dari teror yang saat ini sedang terjadi di restoran Jinan. Setiap Jinan bertemu dengan pria ini, keesokan harinya pasti restoran Jinan akan mendapatkan teror," bentak Rico tak kalah emosi dari Elena.


Elena terdiam. Apakah benar, pikirnya. Pasalnya ia tidak tahu kapan saja pria ini menemui Jinan, karena akhir-akhir ini ia memang jarang main ke restoran Jinan.


"Tunggu. Apa maksudmu?" tanya Ardo yang tak bisa menahan rasa untuk bertanya.


"Heh, kau sebaiknya jangan berpura-pura. Bukankah semua kejadian ini ad–"


"Sudah cukup, Rico," teriak Jinan kesal.


Ooeekk ... Ooeekkk ...


Tangis baby Ayla pecah seketika saat mendengar teriakan Jinan. Dengan panik, Jinan langsung memeluk tubuh baby Ayla sembari mengayun-ayunkan tubuh mungil anaknya.


"Us us us, maafin Mama, Sayang. Maafin Mama," seru Jinan.


"Ji, lebih baik baby Ayla dibawa masuk saja. Kasihan jika harus melihat kejadian ini," ujar Elena.


Jinan menganggukkan kepalanya. "Jangan bicara sembarangan," ucap Jinan kepada Rico mengingatkan.


Sembari menenangkan anaknya, Jinan berjalan memasuki restoran seorang diri.


"Jika aku melihatmu mendekati Jinan lagi, kupastikan bahwa aku sendirilah yang akan menghabisimu," ujar Rico penuh ancaman. Lalu ia berjalan memasuki restoran menyusul Jinan.


Ardo hanya diam memandang kepergian Rico. Apakah ada masalah serius pada restoran Jinan, batinnya. Pandangan Ardo kini bertemu tatap dengan Elena.


"Nona," seru Ardo.


"Ya, Tuan?" ujar Elena ragu.


"Bisa kau jelaskan?"


"Hah?" tatap Elena bingung akan pertanyaan Ardo.


"Bisa kau jelaskan permasalahan yang sedang terjadi pada restoran ini? Jika memang ini ada kaitannya denganku, aku akan menyelesaikannya."


Elena mengigit bibir bawahnya penuh pertimbangan.


"Aku janji akan membantu kalian jika memang aku bisa," ujar Ardo lagi karena Elena diam saja.


Mata Elena menatap kesana kemari, ia terlihat seperti sedang berpikir untuk berucap.


"Em, baiklah. Aku akan menceritakan semuanya, tapi tidak di sini," ujar Elena dengan menahan senyumnya.


******


LIKEEE, COMENT, and VOOTEEE 💕

__ADS_1


__ADS_2