
Selama Jinan pingsan, Ardo beserta keluarga Ria hanya duduk diam di ruang tamu sembari menunggu Jinan sadarkan diri. Saat Ira menanyakan pada Ardo tentang apa yang dikatakan anak lelakinya tadi, Ardo hanya mengatakan, "kita tunggu Jinan sadar saja dulu."
Ardo sengaja tidak membuka suara, ia tidak ingin Rico mengakui kesalahannya di saat Jinan sedang tidak sadarkan diri. Ia ingin Jinan melihat sendiri bahwa orang terdekatnyalah yang menjadi dalang di balik semua kejadian ini. Dan ia juga ingin menghapus semua tuduhan yang pernah Rico berikan padanya selama beberapa hari ini. Ia tidak mau image-nya buruk di hadapan Jinan. Misinya untuk menjadapatkan hati Jinan belum selesai, ia tidak mau Jinan menjauh darinya bahkan di saat mereka belum sempat untuk dekat.
Cukup lama mereka menunggu di sana dengan rasa canggung karena Rico yang terus menatap tajam pada Ardo. Beberapa detik kemudian, akhirnya suasana bisa sedikit mencair karena kehadiran baby Ayla yang menjadi mainan bagi para orang tua dan juga Ria. Meski Ardo dan Rico masih saling diam, tapi mereka tidak mau memedulikan kedua pria itu. Selagi mereka tidak membuat ulah di depan baby Ayla, itu sudah cukup.
...
Setengah jam kemudian, Jinan kini mulai membuka matanya. Ia memegang kepalanya yang masih terasa pusing. Bersamaan saat itu juga, Ria yang baru saja ingin memasuki kamar terkejut saat melihat Jinan sudah sadarkan diri. Tak perlu menunggu lama, Ria langsung saja menghampiri wanita itu.
"Kakak," serunya sembari berjalan menghampiri Jinan. "Masih pusing?" tanyanya saat melihat Jinan memijat kepalanya.
"Kepala Kakak pusing sekali, Ri," ucap Jinan pelan.
"Yaudah Kakak istirahat saja, nanti aku buatin teh hangat ya." Jinan menganggukkan kepalanya.
Ria pergi ke dapur untuk membuatkan teh hangat buat Jinan. Tak lupa ia memberitahu orang tuanya bahwa Jinan sudah sadarkan diri. Dan saat itu juga, Ira dan Sila langsung masuk ke dalam kamar Jinan, sedangkan para pria hanya berdiri di ambang pintu untuk melihat keadaan Jinan. Mereka tidak masuk ke dalam kamar karena Jinan yang memang tidak memperbolehkan para pria masuk ke dalam kamarnya tanpa seizinnya, siapapun itu tak terkecuali saudara ataupun papi Ria.
"Alhamdulillah kamu sudah sadar, Sayang," ucap Sila sembari mengusap kening hingga kepala Jinan.
"Kamu sakit, Nak?" tanya Ira.
Jinan menggelengkan kepalanya lemah. "Hanya tidak enak badan sedikit, Ma. Mungkin karena kurang tidur," jawab Jinan pelan.
"Kamu harus banyak-banyak istirahat, Sayang. Jangan terlalu memikirkan masalah kemarin. Mami, Papi, dan paman kamu di sini akan segera mengurus masalah ini. Kamu tenang saja ya Nak, insyaAllah hal seperti kemarin itu tidak akan terjadi lagi."
Seperti apa yang diucapkan Marco saat kejadian darah di restoran Jinan satu bulan lalu, saat kejadian bangkai di restoran Jinan kemarin terjadi, ia sudah bergerak meminta bantuan temannya yang kebetulan bekerja dengan kelompok orang-orang bawah tanah untuk mencaritahu siapa dan apa motif dari orang yang ingin mencelakai Jinan kemarin.
Pandangan Jinan kini beralih menatap beberapa orang yang berdiri di ambang pintu kamarnya. Ia memandang Rico dengan mata sayunya. Ia memasati wajah Rico untuk mencari tahu tentang apa yang dikatakan Ardo tadi. Namun sayang sekali, ia tidak menemukan raut bersalah atau apa pun yang mencurigakan di wajah Rico sedikitpun. Ia hanya menemukan raut cemas serta emosi yang masih tersisa di wajah pria itu.
"Aku mau bicara dengan Rico," ujar Jinan pelan.
Sila dan Ira menata Jinan heran. Kenapa tiba-tiba Jinan ingin bicara dengan Rico?
"Permisi," seru Ria tiba-tiba dari depan pintu.
Ketiga pria yang ada di ambang pintu itu memberi jalan pada Ria yang hendak masuk ke dalam kamar dengan segelas air hangat di tangannya.
"Minum dulu, Kak."
__ADS_1
Jinan meminum teh hangat yang dibawa Ria sebanyak dua kali tegukan, kemudian ia memberikan lagi gelas itu kepada Ria.
"Kamu istirahat ya, Sayang. Jangan terlalu lelah." Sila mengusap kepala Jinan dengan sayang.
"Maaf, Mi. Aku ingin bicara dengan Ria, Ardo, dan Rico sebentar saja di ruang tamu."
Jinan sengaja tidak ingin mengikutsertakan para orang tua ke dalam pembicaraannya karena semua ini memang belum jelas kebenarannya. Ia tidak mau para orang tua itu berpikiran negatif padanya jika ia menanyakan sesuatu yang menjuru pada Rico nantinya. Dan ia juga sengaja mengajak Ria karena ia butuh teman wanita untuk mendampinginya berbicara dengan lawan jenis.
Ira menatap Sila, kemudian Sila menganggukkan kepalanya, memberi kode agar mereka menuruti kemauan Jinan.
...
Di ruang tamu, kini Jinan beserta Ria, Rico, dan Ardo sudah duduk di kursinya masing-masing. Ria bersama Jinan di sofa double, sedangkan Ardo dan Rico di sofa single yang saling berhadapan.
Beberapa menit berlalu mereka hanya saling diam saja di sana. Tak ada satu orang pun yang ingin membuka pembicaraan. Rico sibuk dengan tatapan tak sukanya pada Ardo yang sedang menatap Jinan. Ria yang sibuk mengamati situasi, ia tidak tahu kenapa Jinan ingin bicara padanya dan kedua pria itu. Sedangkan Jinan sendiri masih mengontrol perasaannya jika memang benar Rico yang menjadi dalang dari semua kejadian ini.
Sebenarnya ia tidak percaya jika Rico ada kaitannya dari semua kejadian ini, tapi jika ia tidak bertanya dan mencari tahu, ia tidak akan pernah tahu kebenarannya.
Jinan menghela nafasnya, semoga saja apa yang dikatakan Ardo tidaklah benar adanya.
"Apa kau mengenal tuan Octav, Co?" tanya Jinan dengan menatap ke arah Rico.
"Kak Rico." Ria menendang kaki Rico karena pria itu masih sibuk menatap Ardo.
"Di tanya sama Kak Jinan," ujar Ria.
"Ada apa, Ji?" tanya Rico pada Jinan.
"Apa kau mengenal tuan Octav?" tanya Jinan kembali.
Rico mengetnyitkan keningnya dengan wajah heran.
"Tuan Octav yang mana?" tanyanya bingung.
"Memangnya ada berapa banyak tuan Octav yang kau kenal," ujar Ardo menimpali.
Rico menatap Ardo tak suka. "Tidak usah ikut campur. Yang bertanya padaku itu Jinan, bukan kau."
Ardo mengedikkan bahunya, lalu ia kembali menatap Jinan. Lebih baik ia sibuk menatap Jinan saja dari pada harus meladeni pria tempramen semacam Rico, pikirnya.
__ADS_1
"Jawab saja pertanyaanku, Co. Apa kau mengenal tuan Octav?" Jinan kembali mengulangi pertanyaannya.
"Tuan Octav yang kukenal adalah rekan bisnis papa, Ji. Apa dia yang kau maksud?"
"Apa kau mengenal Clara?" tanya Jinan tanpa menanggapi pertanyaan Rico.
Rico kembali mengernyitkan keningnya. Ia heran kenapa Jinan bisa tahu dengan rekan bisnis papanya beserta anak perempuannya.
"Kenapa kau menanyakan itu padaku, Ji? Apa kau mengenal tuan Octav dan anak perempuannya?" tanya Ardo.
"Jadi benar, kau mengenal Clara."
"Y ... ya. A ...ada apa, Ji?" tanya Rico gugup. Saat ini ia sudah memilili filling yang tidak enak akan apa yang Jinan katakan selanjutnya.
"Jadi benar juga, jika teror dan kejadian di acara aqiqah baby Ayla itu semua ada kaitannya denganmu, Co?" tanya Jinan dengan suara yang mulai lirih. Ia tidak percaya jika apa yang dikatakan oleh Ardo memanglah benar adanya. Ia tidak percaya jika penyebab semua kekacauan ini karena ulah Rico. Orang terdekatnya. Orang yang sudah ia anggap sebagai saudara sendiri, seperti Ria dan Elena.
Rico membelalakkan matanya saat Jinan mengatakan sesuatu yang di luar pemikirannya. Kenapa jadi dia yang di salahkan, batin Rico.
"Ken ... kenapa tiba-tiba kau jadi menuduhku, Ji? Ada apa ini?" tanya Rico kebingungan.
Ria yang mendengar itu juga pun tak kalah kagetnya dengan Rico. Bagaimana bisa saudaranya yang menjadi penyebab semua ini, pikirnya. Karena sepengetahuan Ria, Rico hanyalah pria normal yang sedikit nakal, layaknya anak muda pada umumnya. Rico bahkan tidak pernah terlihat berhubungan dengan orang-orang di dunia bawah tanah seperti itu. Rico termasuk orang yang cukup penyayang menurutnya. Mana mungkin Rico bisa melakukan hal menjijikan seperti itu.
"Kak, kenapa Kakak menuduh Kak Rico? Kak Rico tidak mungkin ada kaitannya dengan itu semua," ujar Ria membela Rico.
Jinan diam sejenak. Sekali lagi, ia juga tidak percaya jika Rico ada kaitannya dengan semua kejadian ini. Dan ia juga sebenarnya tidak mau menuduh siapapun. Tapi dari cerita Ardo beberapa jam lalu dan semua jawaban Rico atas pertanyaannya tadi, ia menjadi sedikit curiga kepada Rico. Meski sebenarnya ia tidak ingin mencurigai siapaun juga. Apa lagi Rico salah satu orang terdekatnya selain Ria.
"Bisa kau saja yang menceritakan semuanya pada Rico?" tanya Jinan pada Ardo.
Ardo menaikkan kedua alisnya. "Dengan senang hati, tuan puteri."
Tidak ada yang menanggapi bercandaan Ardo karena mereka semua saat ini sedang dalam mode serius dengan pikirannya masing-masing. Ardo mengedikkan bahunya acuh, kemudian ia mulai menceritakan kembali kepada Rico dan Ria seperti apa yang sudah ia ceritakan sebelumnya pada Jinan.
"Tidak mungkin. Kau jangan sembarangan mengarang cerita. Tuan Octav tidak mungkin melakukan semua ini," bantah Rico akan semua yang diceritakan Ardo.
"Apa kau ingin kupertemukan dengan orangnya langsung agar kau memercayai ucapanku." Ardo menaikkan salah satu alisnya.
Rico mengepalkan tangannya erat. "Sial. Pria tua itu ternyata tidak main-main dengan ucapannya. Aku kira dia akan menyerang Elena, tapi tak kusangka ternyata korbannya adalah Jinan. Pantas saja Elena masih baik-baik saja sampai sekarang," batin Rico menggeram marah.
******
__ADS_1
Maaf ya kalo belakangan ini up nya gak rutin, karena sibuk😆
btw, LIKE dan VOTE-nya dong😘💕