
Jakarta, Indonesia. 19.10 PM.
Di sebuah restoran yang cukup terkenal di pusat kota Jakarta, Romi sekeluarga beserta Aurel dan anaknya sedang melakukan makan malam bersama. Makan malam yang menjadi salah satu kegiatan rutin mereka di setiap malam minggunya.
Raut bahagia saat itu tercetak jelas di wajah mereka selama berlangsungnya acara makan malam tersebut. Anak lelaki Aurel yang duduk di tengah-tengah antara Aurel dan Romi pun kini menjadikan acara makan malam ini layaknya acara makan malam keluarga.
"Rom, apa kalian benar-benar tidak mau mengadakan resepsi pernikahan?" tanya Linda di sela makannya.
Romi dan Aurel saling pandang sejenak sebelum menjawab pertanyaan Linda.
"Kami yakin, Ma. Cukup akad nikah saja. Lagian 'kan kami sama-sama sudah pernah menikah, rasanya tidak enak saja jika harus melaksanakan resepsi pernikahan."
Romi menelan ludahnya setelah mengatakan itu. Sebenarnya ia ingin sekali mengadakan acara pernikahan besar-besaran bersama wanita yang dicintainya itu. Namun setelah dipikir matang-matang, jika ia melakukan resepsi pernikahan bersama Aurel, maka semua rekan bisnis orang tuanya pasti akan hadir di acara mereka.
Tidak menutup kemungkinan juga jika di sana akan ada orang yang mengenali Aurel karena almarhum orang tua Aurel juga pernah menjadi salah satu rekan bisnis orang tuanya. Bagaimana jika salah satu dari mereka ada yang bertanya tentang anak Aurel atau tentang pernikahan pertama Aurel? Harus menjawab apa ia? Secara, Aurel 'kan belum pernah menikah. Mungkin orang tuanya bisa berhasil ia tipu, tapi orang lain?
Akhirnya, dengan terpaksa Romi dan Aurel pun harus membatalkan rencana resepsi pernikahan mereka yang pada awalnya sudah sempat mereka rencanakan bersama.
Linda menghela nafasnya, ia meletakkan alat makannya di atas piringnya.
"Yasudah, terserah kalian saja. Asalkan kalian bahagia, Mama dan Papa akan ikut apa pun yang kalian inginkan," ucap Linda tersenyum manis.
Romi dan Aurel tersenyum kaku, kemudian mereka saling pandang sejenak sebelum melanjutkan kembali makan malamnya.
Setelah menghabiskan makan malamnya, mereka bersantai sejenak di meja makan sembari menikmati desert yang telah di sediakan pihak restoran. Saat sedang asik menanggapi gurauan anak Aurel, tiba-tiba saja ponsel Romi bergetar.
Tanpa menunggu lama, Romi langsung saja meraih ponselnya untuk melihat notifikasi apa yang masuk ke ponselnya. Romi mengernyitkan keningnya saat melihat ada nomor asing yang mengiriminya pesan whatsapp berupa sebuah photo. Saat ingin mengabaikan pesan itu, Romi di kejutkan akan pesan kedua dari nomor asing tersebut. Pesan yang di dalamnya terdapat dua kata yaitu, 'anak kita'.
Karena penasaran, Romi akhirnya membuka pesan itu. Pesan yang ternyata berasal dari Jinan. Mantan istrinya. Ya, Romi memang belum menyimpan nomor ponsel Jinan setelah Jinan mengiriminya foto anaknya satu bulan lalu.
Mata Romi tampak berbinar saat melihat wajah seorang bayi perempuan yang tampak cantik pada foto yang dikirimkan Jinan. Beberapa detik kemudian, kini mata Romi tampak fokus membaca pesan singkat yang dikirimkan Jinan.
'Assalamu'alaikum, Mas.
Ini foto anak kita yang berusia satu bulan.
__ADS_1
Aku ingin memberitahumu, mulai sekarang aku hanya akan mengirimi foto anak kita dua bulan sekali.
Pesanku masih sama, jangan pernah kamu kecewakan anak kita jika suatu saat nanti dia ingin bertemu denganmu.'
"Anakku cantik sekali," batin Romi dengan senyum sumringahnya.
Linda, Dedy, dan Aurel yang melihat Romi terdiam di depan layar ponselnya dengan senyum mengembang di wajahnya jelas memancing rasa penasaran mereka. Apa yang membuat Romi begitu bahagia hingga bisa tersenyum setulus itu, pikir mereka.
Tanpa sadar, satu tetes air mata bahagia kini mengalir di pipi tirus Romi. Dan hal itu jelas membuat rasa penasaran yang ada di diri Linda, Dedy, maupun Aurel terpanggil untuk menegur pria dua puluh enam tahun itu.
"Kamu kenapa, Rom?" tanya Linda.
Romi yang disentuh Linda pundaknya pun terkaget. Dengan cepat ia meletakkan ponselnya di atas meja dengan posisi terbalik. Tak lupa juga ia mengusap pipinya yang basah.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Linda lagi.
"Eh, anu. Ini, ada ... ada yang ngirimi Romi foto menyedihkan, Ma," ucap Romi gugup.
Linda yang melihat raut gugup di wajah anaknya pun tak percaya akan ucapan Romi. Matanya kini menatap ponsel yang ada di atas meja, dan dengan cepat ia meraih benda pipih itu untuk melihat hal apa yang sudah membuat anak lelakinya itu mengeluarkan air mata.
Linda menggenggam ponsel itu dengan erat sembari memejamkan matanya. Sedetik kemudian ia menatap Romi dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
Romi sendiripun menelan ludahnya saat melihat tatapan mamanya itu. Ia yakin jika mamanya sudah mengetahui penyebab ia yang mengeluarkan air mata.
"Sial. Kenapa juga aku harus mengeluarkan air mata. Mama pasti marah besar sama aku," batin Romi.
Dan benar saja, setiba di rumah Linda langsung menyembur anaknya itu dengan beribu kalimat yang memusingkan kepala siapapun yang mendengarnya.
"Tapi Ma, dia anakku. Darah dagingku. Bagaimana bisa aku mengabaikannya?"
"Dia itu sudah berselingkuh dari kamu. Apa kamu masih percaya bahwa anak itu adalah anak kamu? Bisa jadi anak itu memang anak hasil selingkuh dia sama pria lain."
"Bagaimana bisa anak pria lain kalau wajahnya saja mirip dengan wajahku sewaktu aku kecil, Ma. Mama lihat ini." Romi mencoba memperlihatkan foto baby Ay pada mamanya, namun Linda dengan cepat memalingkan wajahnya.
Linda memang tidak terlalu memasati wajah bayi itu. Saat mengetahui bahwa Jinan yang mengirim foto itu, kemarahan langsung saja menutupi pandangan Linda. Bahkan ia pun sudah terlupa seperti apa wajah bayi itu. Dan sekarang ia tidak mau melihat apa yang ingin ditunjukkan Romi padanya yang menurutnya salah.
__ADS_1
"Mama lihat dulu foto anakku–"
"Dia bukan anak kamu, Romi!" teriak Linda kesal.
Romi terdiam saat melihat mamanya yang sudah dikuasai emosi. Kini pandangannya beralih pada Dedy. Sepertinya ia harus meminta bantuan papanya.
"Pa, co–"
Romi menghentikan ucapannya saat papanya mengangkat salah satu tangannya.
"Kita bahas nanti, biarkan mamamu tenang dulu."
Dedy mengajak istrinya pergi menuju kamar mereka, meninggalkan Romi sendirian di ruang tamu.
Romi mengacak-acak rambutnya kesal.
"Kenapa jadi seperti ini?" gumam Romi.
"Dia anakku. Aku punya satu anak lagi. Aku memiliki dua anak sekarang," gumam Romi dengan gelisah. Gelisah karena takut akan mengecewakan orang tua, dan gelisah karena takut mengecewakan wanita yang ia cintai.
******
LIKKEEE n VOTEEE nya mana nih? Sepi banget sih -,-
__ADS_1