Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 77


__ADS_3

"Alasan. Cepat, sekarang kamu telepon Jinan. Tanyakan, dia sudah ada di mana."


Karena tidak punya pilihan lain, Romi akhirnya mencoba menghubungi Jinan. Namun sayang, sudah tiga kali ia mencoba menelepon Jinan, tapi hasilnya masih tetap sama, status panggilan tidak dapat dihubungi.


"Tidak bisa, Ma. Sepertinya mereka sudah di pesawat."


"Ini semua gara-gara kamu. Kalau saja kamu mau menelepon Jinan semalam, pasti kita tidak akan ketinggalan seperti ini," omel Linda.


"Yasudah, ayo pulang. Tidak ada gunanya juga ribut di sini," ujar Putra menengahi.


Mereka akhirnya memutuskan untuk pulang. Namun baru saja Romi dan Putra hendak masuk ke dalam mobil, tiba-tiba dua orang wanita paruh baya yang hendak melewati rumah Jinan memanggil nama Romi.


"Mau cari Jinan ya?" tanya salah satu wanita itu.


"Em, iya. Kalau boleh tahu, apa Jinan sudah lama perginya?" tanya Romi.


Kedua wanita paruh baya itu menghampiri Romi. "Sudah dari subuh. Lagian, kalian ngapain sih pake nemuin Jinan lagi. Mau nuduh dia yang macem-macem lagi?"


"Maaf, Bu. Kita tidak ada niatan untuk menuduh Jinan yang macam-macam. Kita hanya mau bertemu cucuk kita saja. Anak Romi dan Jinan," ujar Putra.


"Cucu? Nggak salah denger nih? Bukannya kemarin kalian sibuk ngatain Jinan hamil karena selingkuhannya? Kenapa sekarang jadi berubah pikiran gini? Ooh ... jangan-jangan kalian sudah tahu kebenarannya ya, kalau Jinan itu tidak selingkuh, tapi yang selingkuh itu kamu," tunjuk salah satu wanita itu kepada Romi.


Romi yang dituduh itu membelalakkan matanya. Ia terkejut, entah wanita itu benar-benar tahu kebenarannya atau hanya sekedar menebak saja.


"Hey, apa-apaan kalian ini," teriak Linda tiba-tiba yang baru saja keluar dari mobil. "Seenaknya saja menuduh anak saya selingkuh. Kalian bisa saya laporkan ke polisi ya, karena sudah memfitnah anak saya."


Kedua wanita itu mendecik dan melipat kedua tangannya di depan dada.


"Laporkan saja kalau berani. Kita tidak takut."


"Iya, laporkan saja. Lagipula, yang seharusnya dilaporkan ke polisi itu adalah kalian, karena kalian sudah memfitnah Jinan selingkuh dan hamil karena selingkuhannya. Enak saja kalian, sudah menuduh kehamilan Jinan, setelah anaknya lahir kalian seenaknya mau mau bertemu dengannya. Dasar keluarga tidak tahu malu."


"Jaga mulut kamu. Kalian semua ini orang miskin yang tidak tahu apa-apa dengan masalah keluarga kami. Jadi jangan sok tahu dengan keluarga saya. Kalian–"


"Ma, sudahlah. Ayo kita pulang," potong Romi.


"Tidak, Mama ingin memberi pelajaran dulu dengan mereka. Seenaknya saja memfitnah keluarga kita."


"Pa, ayo bantu Romi," ujar Romi pada Putra agar segera membawa kembali Linda masuk ke mobilnya. Namun karena Linda yang terus-terusan mendapatkan pancingan dari kedua wanita paruh baya itu, Linda akhirnya bisa berhasil terlepas dari pegangan anak dan suaminya begitu saja.


Saat Linda berjalan mendekati kedua wanita paruh baya itu dan hendak memukulnya, tiba-tiba saja sebuah suara seorang wanita dari dalam mobil yang ada di jalanan depan rumah Jinan menghentikan gerakannya. Mereka semua yang ada di sana menatap ke arah sumber suara yang di mana ternyata suara itu berasal dari Sila. Sila yang saat itu baru saja pulang dari sarapan setelah mengantar kepergian Jinan, saat melihat sekumpul orang-orang yang ada di depan rumah Jinan lantas meminta Deddy untuk menghentikan kendaraannya.


Saat melihat bahwa keluarga Romi yang ternyata ada di sana, ia langsung turun dari mobil dengan disusul suaminya yang juga ikut turun bersamanya.

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Sila dengan menatap acuh ke arah Linda dan Romi.


"Begini, Bu Sila. Mereka orang ini mau bertemu dengan Jinan dan anaknya," ujar salah satu wanita paruh baya yang tadi sempat memancing kemarahan Linda.


Sila menatap Romi, Linda, dan Putra secara bergantian. "Kalian terlambat, Jinan dan suaminya sudah pergi. Pesawatnya sudah berangkat sejak pukul 6 pagi. Lebih baik kalian pulang saja dari pada berdiri tidak jelas di sini," ujar Sila dengan wajah datar.


"Ayo Ma, kita pulang saja. Jinan dan Ayla sudah pergi," ujar Romi kepada mamanya. Ia sepertinya juga sudah cukup malu karena pertengkaran ini. Dan ia juga takut akan rahasianya yang akan terbongkar jika terus berlama-lama meladeni ibu-ibu rempong ini.


Linda hendak bertanya pada Sila, namun belum juga suaranya keluar, tangannya sudah ditahan oleh Putra. Putra menggelengkan kepalanya, memberi kode pada istrinya agar tidak meneruskan perdebatan. Ia dan Deddy yang baru saja menjalin kerja sama, jelas saja tidak mau jika kerja sama mereka sampai batal hanya karena istrinya yang tidak bisa mengontrol emosi.


Linda yang terus ditahan pun mendengus kesal. Ia memang tahu persis apa peranan seorang Sila dalam kehidupan Jinan, tapi ia tidak tahu kenapa suaminya itu bersikeras sekali menghalanginya yang hanya ingin bertanya pada Sila. Karena cengkraman suaminya yang semakin kuat, akhirnya ia memutuskan untuk masuk ke dalam mobil saja dan memilih untuk tidak bertanya tentang maksud perkataan Sila tadi.


Saat Linda hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba ia menghentikan gerakannya karena Sila yang memanggil namanya.


"Jangan pernah mengganggu kehidupan Jinan lagi. Dia sudah bahagia dengan suami dan keluarga barunya. Jika kalian ingin bertemu dengan cucu dan anak kamu, Romi. Kalian harus bersabar hingga sampai Jinan pulang ke Indonesia nanti."


"Ke mana Ji–"


"Jangan bertanya. Aku mohon jangan bertanya apa pun, karena aku tidak akan pernah bisa menjawab pertanyaan kalian," potong Sila yang tak kalah cepat dengan Romi yang hendak bertanya itu.


"Pulanglah. Dan jangan pernah datang lagi ke sini sampai Ardo atau Jinan sendiri yang meminta kalian untuk datang."


Tanpa menunggu sahutan dari mereka, Sila dan Deddy segera membalikkan tubuhnya dan masuk ke dalam mobilnya untuk segera pulang. Tidak ada waktu dan tidak ada untung baginya untuk meladeni keluarga mantan suami Jinan itu.


Seperginya Sila dan Deddy dari sana, kedua wanita paruh baya yang ada di sana pun ikut meninggalkan keluarga Romi yang masih menatap ke arah mobil Sila yang mulai menjauh dari halaman Jinan. Saat mobil Sila sudah memasuki halaman rumahnya, Linda membuka pintu mobilnya dan menutup pintu itu dengan membantingnya. Sementara Aurel yang sedari tadi hanya menyaksikan itu dari dalam mobil, kini hanya bisa menundukkan kepalanya dengan berbagai kalimat acak di kepalanya.


******


Setelah hampir tiga belas jam Jinan dan Ardo sekeluarga berada di atas awan, kini mereka sudah mendarat dengan aman di Bandara Istanbul.


"Inilah negaraku" seru Ardo saat mereka sudah keluar dari bandara.


Jinan tersenyum. "Aku tahu."


Setelah menemukan orang-orang suruhan Basir yang telah membawa 3 mobil untuk menjemput mereka, mereka segara masuk ke dalam mobil dengan pasangannya masing-masing. Di dalam mobil yang ditumpangi Ardo dan Jinan, Jinan tampak bersandar pada pundak Ardo sembari melihat pemandangan di luar sana.


Tampaknya Jinan sudah mulai nyaman dalam rengkuhan Ardo, sepertinya juga ia sudah tidak canggung lagi saat bersentuhan fisik dengan suaminya itu. Tapi entahlah, kita lihat saja nanti apakah ia tidak akan canggung lagi saat Ardo kembali meminta haknya nanti. Karena saat ini Jinan masih belum selesai juga kedatangan tamu bulanannya.


"Sayang."


Jinan mendongak. "Kenapa?"


"Mana ponselmu?" tanya Ardo.

__ADS_1


"Ada di dalam tas."


"Berikan padaku," pinta Ardo.


"Untuk apa? Kenapa dengan ponselmu?" tanya Jinan heran.


"Berikan saja," ujar Ardo tanpa berniat menjawab pertanyaan Jinan.


Tanpa merubah posisinya, Jinan meraih ranselnya yang ada di samping kirinya. Ia meraih ponselnya yang ada di dalam sana dan segera memberikannya pada Ardo.


Saat Ardo menerima ponsel itu, ia segera membuka tempat penyimpanan Sim Card, dan membuang Sim Card itu melalui jendela mobil. Jinan yang melihat itu lantas menegakkan tubuhnya dengan tiba-tiba.


"Hati-hati, Ji. Nanti kepala Ayla tersantuk," ujar Ardo mengingatkan.


"Kenapa kau membuang kartunya, Ar?" tanya Jinan yang tak memedulikan perkataan Ardo.


"Kenapa memangnya?" tanya Ardo santai.


"Kenapa? Ka–"


"Hey," potong Ardo. "Kau akan menjadi penduduk sini. Dan kau tidak akan membutuhkan kartu itu lagi."


"Ya, tap–"


"Ini." Ardo menyodorkan sebuah ponsel yang sudah menyala pada Jinan. "Ponsel baru untukmu. Sim Card, pulsa, dan data internet sudah aman. Bahkan kontak orang-orang pentingmu juga sudah aku pindahkan semua ke sini. Jadi kau hanya tinggal memakainya saja."


"Tapi Ar, kenapa harus ponsel baru? Bukankah seharusnya aku hanya mengganti kartunya saja?" tanya Jinan heran.


"Ponsel ini sudah jelek dan tidak canggih. Sebagai istri seorang Ardo, kau harus memiliki seperti apa yang aku miliki juga. Oh ya, aku juga sudah memindahkan semua foto-foto yang ada di ponsel lamamu ke ponsel barumu."


Jinan mengernyitkan keningnya. "Bagaimana bisa? Bukankah kau belum mengirimnya?"


Ardo tersenyum tipis. "Aku melakukannya sebelum kita berangkat."


Jinan yang tidak mengerti maksud dari perkataan Ardo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudahlah, jangan bertanya lagi. Ayo bersandar, nikamati perjalananmu menuju rumah utama," ujar Ardo saat Jinan membuka mulutnya yang hendak bertanya lagi.


  


******


  

__ADS_1


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘


__ADS_2