
"Ayla bicaranya lancar banget ya, Kak. Jadi gemes deh. Beda banget kalau kita lagi video call. Nggak mau ngomong. Sok malu," seru Ria setelah mendudukkan tubuhnya di samping Jinan, dan Elena di belakangnya.
Jinan tertawa pelan akan perkataan Ria. "Setiap hari Ardo terus melatihnya berbicara. Jadinya, ya gitu deh."
Ria dan Elena mengangguk paham akan perkataan Jinan.
Sembari Ayla dan Cemile sedang melihat adik bayi mereka, Jinan, Ria, dan Elena memanfaatkan waktu yang diberikan Ardo saat ini dengan bercerita tentang keseharian masing-masing selama mereka tidak bertemu. Mereka bercerita tentang percintaan, kekonyolan, dan banyak lagi lainnya.
Di tengah-tengah perbincangan mereka yang sangat seru itu, entah kenapa tiba-tiba saja Ria ingin mengatakan sesuatu yang sangat ingin ia bicarakan kepada Jinan. Dengan menggigit bibir bawahnya, ia lirik ke arah pintu sejenak, memastikan bahwa tidak ada satu orangpun yang masuk saat ia berbicara, terlebih itu Ardo karena ia takut Ardo akan salah faham dengan apa yang ia bicarakan. Saat dirasa kondisi aman, Ria dengan mendekatkan wajahnya pada Jinan mulai membuka suara.
"Kak, Kakak sudah tahu belum kalau mas Romi dan istri barunya itu akan bercerai?"
"Hah?" Jinan mengerutkan keningnya, masih bingun dengan pertanyaan Ria.
"Mantan suamimu, Ji," tambah Elena menerangkan.
"Mas Romi dan mbak Aurel akan bercerai?" Ria dan Elena mengangguk mengiyakan. "Kenapa bisa?"
"Kakak belum tahu, ya?" tanya Ria memastikan, dan dibalas anggukan kepala oleh Jinan.
"Em, kalau tentang mas Romi jatuh miskin dan om Putra meninggal, Kakak sudah tahu?"
Jinan membelalakkan matanya karena terkejut. "Innalillahi wa inna ilaihiroji'un. Kamu serius, Ri?"
Ria menganggukkan kepalanya membenarkan. "Nggak lama setelah Kakak pergi, perusahaan om Putra terkena masalah yang cukup serius. Berita perselingkuhan mas Romi juga tersebar di perusahaannya, bahkan berita itu juga sampai tersebar di lingkungan kita, Kak. Dan katanya sih, om Putra meninggal karena mereka nggak punya uang untuk membawa om Putra ke rumah sakit untuk mengobati penyakitnya yang kambuh."
Jinan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. "Astaghfirullah."
"Kakak beneran nggak tahu, ya?"
Jinan mengelengkan kepalanya pelan.
"Apa kau tidak pernah berkomunikasi dengan mantan suamimu? Em ... maksudku memberi kabar tentang Ayla seperti saat di Jerman dulu?" ralat Elena pada kalimat pertamanya.
"Em, semenjak pindah ke Turki, aku sudah loss contac sama mereka semua, El. Whatsapp mas Romi centang satu terus. Saat Ardo menelfon nomornya, ternyata nomornya sudah tidak aktif. Mas Romi juga nggak akan bisa contac aku, soalnya aku sudah ganti nomor semenjak sampai di sini, dan aku juga lupa untuk menyimpan nomor dia karena aku pikir Ardo sudah menyimpannya lebuh dulu. Jadi, aku nggak tahu apa-apa soal keadaan mereka."
Ya, Ardo memang sudah memblokir nomor Romi di malam hari pada hari yang sama saat ia mengganti nomor hp dan ponsel Jinan. Ia melakukan itu agar Romi benar-benar hilang dari hidup anak dan istrinya, meski suatu hari nanti mereka akan tetap bertemu saat ia dan Jinan balik ke Indonesia. Tapi setidaknya, saat ini Jinan harus fokus terlebih dahulu pada dunia barunya di sini.
__ADS_1
Elena memandang Jinan dengan menaikkan salah satu alisnya. Ia terlihat seperti memikirkan apa yang baru saja Jinan ucapkan.
"Bisa seperti itu, ya?" batin Elena. Ia jelas tahu orang seperti apa Ardo dan keluarganya. Tapi apa mungkin?
Elena menggelengkan kepalanya pedan, ia hembuskan nafasnya sembari menganggukkan kepalanya, berpura-pura paham dan tidak tahu apa-apa tentang maksud dari perkataan Jinan.
"Tapi, Ayla sudah tahu 'kan tentang ayah kandungnya, Kak?" tanya Ria.
"Em." Jinan menggelengkan kepalanya pelan. "Kakak bingung cara menjelaskannya, Ri. Soalnya juga, mereka 'kan tidak pernah berbagi kabar. Kakak juga nggak punya foto mas Romi untuk diperkenalkan sama Ayla. Semua foto pernikahan kita ada di rumah mas Romi."
Di rasa pembahasan mulai terlihat tak nyaman bagi Jinan dan Elena, Elena pun hendak mengambil inisiatip untuk untuk mengalihkan topik pembicaraan. Namun belum juga mulutnya mengeluarkan suara, tiba-tiba saja Ria kembali menyeletuk. "Bukannya Kakak pernah bilang sama aku kalau kak Ardo bisa meretas, ya? Kalau tidak salah, kak Ardo juga pernah menyelidiki kehidupan Kakak dan rumah tangga Kakak sebelumnya 'kan saat di Jerman dulu? Terus, kenapa kak Ardo nggak coba untuk mencari tahu nomor ponsel mas Romi yang baru?"
Elena menggigit bibir bawahnya sembari memejamkan matanya mendengar perkataan Ria, sedangkan Jinan hanya terdiam mendengar kalimat tersebut. Ardo memang bisa meretas, tapi apakah bisa suaminya itu melakukan seperti yang Ria ucapkan?
"Nanti Kakak tanyakan lagi sama Ardo, ya. Lagian, kita juga sudah ada planing untuk balik ke Indo setelah hari raya tahun ini."
"Iy–"
"Wah, apa kau serius ingin pulang ke Indo, Ji?" potong Elena saat Ria hendak mengeluarkan kembali kalimatnya. Sudah cukup menurutnya membicarakan hal yang tidak penting seperti itu. Telinganya saat ini sudah sangat panas mendengar Ria terus membahas Romi, Romi, dan Romi. Dan ia yakin, Jinan pun merasakan hal yang sama seperti apa yang ia rasakan.
Di malam hari saat hendak tidur, Jinan tiba-tiba saja teringat akan yang dibicarakan Ria tadi siang padanya. Ia melirik pada pintu kamar mandi yang di mana Ardo sedang ada di dalam sana. Saat sedang memikirkan hal tersebut, tiba-tiba saja ia terkejut saat lengan kanannya disentuh oleh Ardo yang ternyata sudah berada di sampingnya.
"Kenapa melamun?" tanya Ardo.
"Em, tidak apa-apa," ujar Jinan dengan tersenyum manis.
"Yasudah, ayo kita tidur. Manfaatkan waktu sebaik mungkin untuk beristirahat, karena kau akan terjaga jika Andy ingin menyusu."
Jinan menganggukkan kepalanya, dan Ardo segera mengambil tempat untuk berbaring di samping istrinya itu.
"Ar," seru Jinan saat Ardo baru saja menarik selimutnya.
"Kenapa?" tanya Ardo sembari memiringkan tubuhnya menghadap Jinan.
"Apa kau mengetahui kabar tentang, em, ayah kandung Ayla?"
Ardo menaikkan salah satu alisnya saat mendengar pertanyaan itu keluar dari mulut istrinya. Kenapa tiba-tiba Jinan menanyakan perihal mantan suaminya, begitulah pikir Ardo.
__ADS_1
"Em, Ria dan Elena tadi sempat cerita mengenai kondisi mas Romi dan keluarganya. Aku ... aku hanya, aku hanya ingin tahu–"
"Aku tahu," potong Ardo cepat tanpa ekspresi.
"Ar," seru Jinan tak enak hati melihat wajah suaminya itu.
Satu tahun lebih ia bersama dengan pria itu, ia tahu jelas bahwa wajah yang ditampilkan suaminya itu adalah tampang jika suamonya itu mulai badmood.
"Ar." Jinan menelan salivanya. "Sayang, aku tidak bermaksud unt–"
"Boleh aku jujur?" tanya Ardo datar.
"Hah?"
"Aku ingin kita berkata jujur. Karena aku yakin, di antara kita pasti ada sesuatu yang kita tidak saling tahu satu sama lain."
Jinan masih diam, ia tidak mengerti akan maksud dari perkataan Ardo. Jujur? Apa Ardo menyimpan rahasia padanya? Atau, apakah ada sesuatu yang membuat Ardo berpikir bahwa ia sedang menutupi sesuatu darinya? Ia tidak mengerti!
"Apa ada sesuatu yang kau rahasiakan da–"
"Ya," sahut Ardo sebelum Jinan menyelesaikan pertanyaannya, dan hal itu membuat Jinan mengernyitkan keningnya bingung. Ardo menyimpan sesuatu darinya? Apa itu?
"Tapi, sebelum aku mengatakannya, aku ingin meminta sesuatu darimu."
"Apa?" tanya Jinan.
"Aku tahu kau tidak akan melakukannya, tapi aku hanya ingin mengingatkan untuk kau tidak memotong perkataanku sebelum aku selesai berbicara." Jinan mengangguk paham. "Aku juga ingin kau memahami terlebih dahulu setiap perkataanku sebelum memberi komentar." Jinan mengangguk kembali. "Dan juga, aku ingin kau memahami dan mengerti alasan yang aku berikan nanti." Lagi-lagi Jinan mengangguk meski sedikit tak paham akan kalimat terakhir yang Ardo ucapkan tersebut.
******
Belum di edit. Maapkeun kalo banyak typo dan nggak nyambung, akoh mau lanjut bobo dulu😅
Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys 😘
__ADS_1