Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 71


__ADS_3

Hari ini Jinan dan Ardo akan cek out dari hotel tempat mereka menginap dan pulang ke rumah Jinan. Sementara keluarga Ardo lainnya masih stay di hotel sampai dua hari lagi mereka pergi ke Turki.


Sebelum benar-benar pulang, mereka mengunjungi makam kedua orang tua Jinan terlebih dahulu. Terlebih Ardo yang sangat ingin ke sana karena ia yang belum pernah bertemu kedua mertuanya itu.


Dua gundukan tanah dengan tanggal kematian yang sama kini sudah ada di hadapan Ardo. Pria itu tersenyum ke arah batu nisan yang bertuliskan nama kedua mertuanya.


"Selamat, kalian telah berhasil mendidik seorang anak. Dia wanita yang kuat, cantik, salihah, lembut, dan penyabar. Kalian pasti bangga dengan sosok Jinan yang sekarang."


Ardo menghentikan ucapannya, ia terdiam dengan waktu yang cukup lama hingga ponsel yang ada di saku jaketnya berdering.


"Apa masih lama?" Sebuah pesan singkat dari Jinan.


Wanita itu memang tidak ikut mengunjungi makam kedua orang tuanya. Selain karena adanya Ayla yang masih kecil, ia juga tidak diperbolehkan oleh almarhum/ah orang tuanya untuk mengunjungi makam. Jika rindu atau ingin mengenang suatu moment, ia hanya cukup mendo'akan kedua orang tuanya saja seusai sholat. Lagipula makam kedua orang tuanya juga, Jinan sudah meminta seseorang untuk mengurusnya.


Kembali ke Ardo. Setelah membalas pesan istrinya, ia mengucapkan seuntai doa untuk kedua mertuanya. Kemudian dielusnya pucuk kedua nisan itu dengan tersenyum.


"Ayah, ibu, kalian pasti sudah tahu siapa aku. Aku Evardo Rafandra, menantu kalian."


"Maaf jika aku terlambat datang di kehidupan Jinan sehingga membuat goresan yang cukup dalam di hatinya. Tapi kalian tenang saja, aku akan menyembuhkan goresan itu hingga benar-benar menghilang. Kupastikan dia akan selalu bahagia di sampingku."


"Aku pergi dulu, Jinan sudah menungguku."


Ardo bangkit dari jongkoknya, ia segera pergi dari sana sebelum Jinan kembali mengiriminya pesan. Setiba di mobil, ia melihat Jinan yang sedang menatap layar ponselnya sembari menenangkan Ayla yang sedang merengek.


"Maaf lama. Kenapa Ayla? Apa dia lapar?" tanya Ardo setelah masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Jinan.


"Mungkin dia lapar. Tapi aku tidak berani memberinya ASI di sini. Aku takut ada yang mengintip," ujar Jinan bimbang.


"Kau bisa pindah ke kursi penumpang, aku akan menjagamu."


Tanpa menjawab ucapan Ardo, Jinan segera pindah ke kursi penumpang untuk memberi ASI pada anaknya. Dan tak lama dari itu Ayla langsung menghentikan tangisnya setelah berhasil meneguk makanannya.

__ADS_1


...


Dalam perjalanan pulang, Jinan teringat akan sesuatu yang harus ia sampaikan pada Ardo.


"Ar."


Ardo melirik Jinan sekilas, kemudian ia fokuskan kembali pandangannya pada jalanan depan.


"Kenapa?"


"Mas Romi tadi mengirim pesan. Katanya besok dia harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis, jadi dia ingin bertemu kita hari ini."


Jinan tak melanjutkan perkataannya, ia ingin melihat reaksi Ardo atas apa yang ia sampaikan. Namun ternyata Ardo hanya diam saja. Sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu, entah mengenai pertemuan mereka bersama Romi atau memikirkan hal lainnya, Jinan tak tahu itu.


Jinan ingin bertanya lagi pada suaminya itu, tapi entah kenapa rasanya canggung sekali saat melihat raut wajah Ardo yang mendadak serius seperti itu. Namun karena tak punya pilihan lain, Jinan akhirnya memberanikan diri untuk membuka suaranya.


"Ar," seru Jinan.


"Ah?" Jinan menatap heran ke arah Ardo.


Sekarang?


"Kalau dia tidak mau, batalkan saja. Di sini dia yang butuh, bukan kita," ujar Ardo yang semakin membuat Jinan heran. Ada apa suaminya ini, kenapa tiba-tiba jadi seperti ini setelah pulang dari kuburan, pikirnya. Aneh.


Namun meski masih terheran dengan tingkah suaminya itu, Jinan tetap melakukan apa yang Ardo sampaikan padanya. Ia segera membalas pesan dari Romi seperti yang Ardo katakan tadi. Sekaligus memberitahu bahwa mereka sudah dalam perjalanan menuju restoran yang di maksud.


Lima belas menit berlalu, kini Jinan dan Ardo sudah sampai di depan restoran. Tanpa menunggu Romi yang belum membalas pesan Jinan, mereka segera masuk ke dalam restoran dan langsung memesan makanan. Kebetulan jam makan siang juga sudah hampir tiba, jadi sembari menunggu kedatangan Romi, mereka ingin mengisi perutnya terlebih dahulu.


Setelah pelayan restoran pergi dari hadapan mereka, Jinan berpamitan pada Ardo untuk ke toilet. Sudah sejak dari pemakaman tadi ia menahan buang air kecil, rasanya sudah sangat tidak bisa lagi untuk ditahan.


"Aku mau ke toilet, bisa tolong gendong Ayla?" tanya Jinan meminta izin.

__ADS_1


Ardo mengiyakan dan segera meraih Ayla dari gendongan Jinan. Seperginya Jinan, tiba-tiba saja ponsel Jinan yang ada di atas meja bergetar. Awalnya Ardo mengabaikan ponsel itu dan hanya fokus pada anaknya saja sembari mengecek notifikasi di ponselnya sendiri. Namun karena ponsel istrinya itu terus menggetarkan meja, akhirnya Ardo meraih ponsel itu untuk melihat siapakah gerangan yang terus menghubungi istrinya. Setelah dilihat, ternyata nama kontak Romi yang sedari tadi menelpon istrinya. Ardo berdecih, dan tanpa pikir panjang, Ardo segera menjawab panggilan itu.


"Assalamu'alaikum, Ji. Jinan, apa kamu sudah sampai di restoran? Maaf aku tidak sempat membalas pesanmu karena baru saja selesai rapat," seru orang dari sebrang sana.


"Tidak perlu menjelaskan. Cepat datang ke sini sebelum kita pergi dari sini," ujar Ardo to the point.


"K ... kau?"


Ardo menarik salah satu sudut bibirnya, ia tahu jika Romi saat ini sedang terkejut karena telah mendengar seorang pria yang berasal darinya, bukan suara Jinan si pemilik ponsel.


"Dalam satu jam kau tidak datang, kita akan pergi dari sini."


Ardo langsung memutuskan panggilannya tanpa menunggu sahutan dari Romi di sebrang sana. Ia menarik sudut bibir semakin ke atas, sepertinya waktu bermain akan tiba. Ia jadi tidak sabar untuk melihat raut cemas, terkejut, malu, bahkan marah, di wajah pria itu.


Wajah licik Ardo kini ia ubah menjadi senyum lebar saat melihat Jinan sudah keluar dari toilet dan sedang berjalan ke arahnya. Ia segera meletakkan ponsel Jinan di atas meja dan berpura-pura mengajak ngobrol Ayla agar Jinan tidak curiga padanya yang sudah menjawab panggilan masuk di ponsel wanita itu.


   


  


******


Segini dulu ya, mata sudah 5 watt😥


  


  


Udah bab 71 aja nih hehe ...


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕

__ADS_1


Piupiu, see u nxt bab 😘


__ADS_2