
Buugg !!!
Satu pukulan tepat mengenai wajah tampan Rico dan berhasil membuat pria itu terjatuh ke lantai.
"Rico!" teriak Jinan terkejut.
Aarrgghh !!!
Rico memekik kesakitan sekaligus terkejut akan pukulan Ardo. Ya, yang memukul Rico adalah Ardo.
"Jadi ini wujud aslimu hah!" ujar Ardo dengan terus memukuli Rico yang tidak membalas pukulannya meski sedikitpun. Bahkan Rico terlibat begitu pasrah saat ia pukuli. Mungkin juga karena Rico yang masih dalam pengaruh alkohol, membuat tenaga Rico tak cukup, bahkan tak bisa melawan pukulan Ardo.
"Ardo, stop." Jinan berteriak ketakutan saat melihat Ardo yang seperti orang kerasukan.
"Kak Jinan, ada apa?" teriak Ria dari dalam kamar mandi saat mendengar keributan di luar sana. Saking takutnya akan terjadi sesuatu yang buruk pada Jinan dan anaknya, Ria pun buru-buru memakai celananya dan keluar dari kamar mandi.
"Astaga, Kak Ardo!" pekik Ria saat melihat Ardo yang sedang memukuli Rico dengan bringas.
"Kak Ardo, stop!" teriak Ria di samping Ardo. Ia tidak berani melerai pukulan Ardo. Alih-alih memisahkan, bisa-bisa dia yang akan kena pukulan pria itu.
"Ardo, hentikan." ucap Jinan dengan volume suara yang ditinggikan.
Ardo mengabaikan suara kedua wanita itu dan terus memukuli Rico. Ardo sudah sangat geram dengan tingkah Rico sejak pria itu mulai memaksa masuk kedalam rumah Jinan. Dan ia juga menjadi semakin emosi saat melihat Rico hendak melecehkan Jinan.
Ya, Ardo sudah berada di sekitar rumah Jinan sedari dua jam yang lalu. Itulah kenapa ia bisa mengetahui apa yang Rico lakukan sedari awal pada Jinan. Hanya saja ia tidak bisa mendengar percakapan mereka berdua karena jarak yang tidak memungkinkan.
🌱🌱
Semenjak Ardo memberitahu Jinan tentang pelaku teror yang terjadi di restorannya dua minggu lalu, kini Jinan seolah menjaga jarak darinya. Satu minggu berturut-turut saat ia berkunjung ke rumah Jinan, Jinan selalu mengusirnya karena tidak ada hal penting menurut Jinan yang ingin ia bicarakan.
Ia berpikir Jinan hanya butuh waktu untuk menenangkan diri karena baru saja mengetahui bahwa yang menyebabkan masalah kemarin adalah orang terdekatnya sendiri. Jadi menurutnya, wajar saja jika Jinan menjaga jarak dengannya. Orang terdekatnya saja bisa menjadi penyebab kejadian buruk untuknya, apalagi ia yang tidak memiliki ikatan apa pun dengan Jinan. Ia bisa memahami itu.
Namun meski Jinan melarangnya untuk mendekatinya, tapi Ardo tidak akan semudah itu untuk menuruti apa yang Jinan katakan. Ia malah berinisiatif untuk diam-diam mengawasi Jinan dari jarak yang tidak terlalu jauh. Ia ingin memastikan keadaan wanita itu agar tetap aman sekaligus mencoba mencaritahu lebih tentang kehidupan Jinan di saat wanita itu sedang sendiri.
Tidak ada alasan yang begitu penting bagi Ardo dengan ia yang masih menetap di Jerman saat ini kecuali hanya untuk mendapatkan hati seorang wanita berhijab asal Indonesia itu. Pokoknya, ia harus segera mendapatkan hati Jinan sebelum ia kembali ke Turkey.
Dan beruntungnya ia yang masih mengawasi Jinan hingga sampai saat ini, jadi ia bisa mengetahui kejadian buruk yang menimpa Jinan. Jika tidak, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan Rico saat dirinya tak ada di sana. Ardo menggelengkan kepalanya, ia tidak bisa dan tidak akan pernah bisa membayangkan itu semua.
🌱🌱
"Ardo, kubilang stop sekarang juga!" teriak Jinan untuk kesekian kalinya. Saat ini air mata Jinan sudah mengalir deras, membasahi pipi tirusnya. Ia kini mulai tidak tega saat melihat Rico yang sudah tak berdaya dalam genggaman Ardo.
__ADS_1
"Kak Ardo, stop, Kak." Ria pun juga tak kalah hebohnya berteriak, berharap Ardo menghentikan aksinya. Air mata wanita itu pun juga tak bisa lagi untuk tidak keluar dari tempatnya saat melihat sepupunya yang sudah lemah tak berdaya di tangan Ardo.
"Please stop, Ar," lirih Jinan di belakang tubuh Ardo. Dan saat itu juga Ardo menghentikan aksinya.
Saat Ardo menghentikan aksinya, Ria langsung buru-buru menghampiri Rico.
Dengan nafas yang memburu, Ardo masih menatap Rico penuh emosi. Beberapa detik kemudian, pandangan Ardo beralih pada Jinan yang berdiri di belakang tubuhnya.
Tes!
Satu tetes air mata membasahi pipi pria asal Turkey itu saat melihat wajah sembab Jinan. Ia sedih saat mengingat bahwa wanita dambaan hatinya itu hendak dilecehkan orang terdekatnya sendiri. Dan ia juga sedih saat melihat wanita dambaan hatinya itu menjatuhkan air matanya hanya untuk seorang pria br3ngsek seperti Rico.
"Jangan menangis," ucap Ardo pelan.
Jinan mendongak menatap Ardo dengan air mata yang membanjiri wajah mulusnya. Ia menatap Ardo sejenak, kemudian ia menggelengkan kepalanya dan langsung berlari masuk ke dalam kamarnya dengan isakan yang tak bisa ia tahan.
"Jinan," panggil Ardo, namun tak ditanggapi Jinan.
"Kak Ardo, kenapa Kakak memukuli kak Rico?" tanya Ria di sela isak tangisnya.
Ardo membalikkan tubuhnya menatap Ria.
"Beruntung aku hanya memukulnya, tidak membunuhnya," ujar Ardo dingin.
"Kau tahu? Pria yang kalian tangisi ini memang pantas mendapatkan pukulan dariku karena dia sudah berani-beraninya ingin melecehkan Jinan."
Ria membelalakkan matanya mendengar ucapan Ardo.
"Jika saja aku tidak ada di sini, aku tidak tahu apa yang akan dilakukan saudaramu ini pada Jinan."
Ria menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Jangan berbohong. Kak Rico tidak mungkin seperti itu."
"Terserah," ujar Ardo lalu ia pergi meninggalkan kediaman Jinan. Sepertinya ia butuh pelampiasan atas kemarahannya pada Rico saat ini.
Seperginya Ardo, Ria menatap wajah Rico yang sudah berlumuran darah segar. Ia memang sangat tidak percaya akan apa yang dikatakan Ardo, tapi anehnya ia masih saja memikirkan perkataan pria itu. Bagaimana mungkin Rico ingin melecehkan Jinan? Ria menggelengkan kepalanya, itu tidak mungkin.
Kemudian pandangan Ria mengelilingi sekitar, ia mencari sosok Jinan di sana, namun ia tak mendapati siapa pun di sana. Masih dengan isaknya, Ria memeluk tubuh Rico dan membawanya ke sofa ruang tamu.
Setelah membaringkan Rico di sofa dan membersihkan wajah serta beberapa bagian tubuh Rico dari darah, Ria masuk ke dalam kamarnya untuk melihat keadaan Jinan. Di sana ia melihat Jinan yang sedang duduk membelakangi pintu sembari menggendong baby Ayla. Saat ia mendekat, ternyata Jinan sedang memberi ASI pada baby Ayla sembari menangis. Tangisan tanpa suara yang sangat memilukan bagi siapapun yang melihatnya.
__ADS_1
Ria duduk di samping Jinan, kemudian ia memeluk tubuh wanita itu. Cukup lama mereka berada dalam posisi seperti itu tanpa suara sedikitpun. Bahkan saat baby Ayla selesai dengan ASI-nya pun mereka masih dalam posisi yang sama. Hingga akhirnya Ria memberanikan diri untuk bersuara.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Kak?" tanya Ria yang masih dalam posisinya.
Jinan tak menyahuti pertanyaan Ria, ia hanya diam sembari memejamkan matanya dengan tangisannya yang tak berkesudahan.
"Kak Ardo bilang, kak Rico ingin melecehkan Kakak. Apa itu benar, Kak?" tanya Ria lagi dengan sedikit mendongakkan kepalanya.
Masih tak ada jawaban dari Jinan. Tangis wanita itu sepertinya menjadi lebih deras meski tanpa suara. Bahkan bahu Jinan pun kini terlihat berguncang seiring dengan seseguknya.
"Sepertinya aku tidak bertanya dulu deh," batin Ria merasa bersalah.
Ria memeluk Jinan lebih erat. Sesekali juga ia mengusap bahu wanita itu dengan sayang.
***
Tiga puluh menit kemudian.
Tookk ... Tookk ...
"Assalamu'alaikum," seru seorang wanita cantik bak model papan atas dari teras rumah Jinan.
Wanita tersebut adalah Elena. Ia baru saja sampai di kediaman Jinan setelah melewati cobaan yang melelahkan di pagi hari di sepanjang jalan.
Saat melihat pintu rumah yang terbuka lebar, Elena langsung saja masuk ke dalam rumah. Pandangannya meneliti sekitar ruangan untuk mencari sang pemilik rumah dan juga kakak lelakinya. Ya, Elena tahu bahwa Rico ada di sana karena ia melihat mobil Rico yang terparkir di depan rumah Jinan.
Saat pandangannya terarah ke sofa ruang tamu, ia mengernyitkan keningnya saat melihat Rico tertidur di sana dengan kondisi yang terlihat berantakan.
"Kak Rico," serunya lalu menghampiri Rico.
"Kak El."
Elena menoleh menatap asal suara yang memanggilnya. Ia melihat Ria yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.
"Ria, kenapa kak Rico tidur di sini?" tanya Elena. "Dan kenapa juga wajahnya babak belur begini? Dia berkelahi dengan siapa?"
__ADS_1
******
Tengkyu sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘