
Hari ini Jinan berencana pergi ke restorannya bersama baby Ayla, Ria dan Elena. Saat ia baru saja memakai bajunya, tiba-tiba ponselnya yang ada di atas nakas bergetar, yang menandakan adanya pesan masuk. Jinan mengabaikan pesan masuk itu karena ia pikir itu pesan dari Elena yang ingin memberitahunya bahwa wanita itu sudah di perjalanan.
Satu jam sudah Jinan menunggu bersama Ria di meja makan, namun Elena tak juga kelihatan batang hidungnya. Karena merasa terlalu lama, Jinan akhirnya meraih ponselnya yang ada di nakas kamar untuk menelfon Elena. Saat ia membuka ponselnya, Jinan melihat ada satu pesan masuk yang belum dibacanya. Jinan mengernyitkan keningnya saat mengetahui bahwa pesan masuk itu berasal dari Romi, mantan suaminya.
"Ngapain mas Romi mengirimiku pesan? Tumben sekali, biasanya juga 'kan pesanku tidak pernah ada yang dibalasnya," gumam Jinan pelan.
Karena saking penasarannya, akhirnya Jinan membuka pesan itu.
"Assalamualaikum, Jinan. Kamu apa kabar? Bisakah kamu mengirimkan foto anak kita. Aku ingin melihat wajahnya yang sekarang."
Jinan terkejut melihat isi pesan dari Romi. Romi ingin melihat wajah anaknya? Apakah itu artinya Romi mau menerima kehadiran anaknya? Jinan tersenyum tipis, akhirnya anaknya tidak akan kehilangan sosok seorang ayah, meski sang ayah tersebut tidak akan selalu ada disampingnya setiap saat.
Saat Jinan hendak membalas pesan tersebut, tiba-tiba saja Jinan menghentikan gerakan tangannya.
"Bukankah aku sudah berjanji akan mengirimkan foto baby Ayla pada mas Romi saat dua bulan sekali?" batin Jinan.
Setelah dipikir-pikir beberapa saat, akhirnya Jinan mengurungkan niatnya untuk membalas pesan dari Romi. Kini ia kembali pada tujuan awalnya yang ingin menghubungi Elena.
Satu panggilan pertama tak ada jawaban dari Elena. Saat Jinan menelpon untuk kedua kalinya, akhirnya Elena menjawab panggilannya.
"Assalamu'alaikum, El."
"Wa'alaikumsalam. Ji, apa kau sudah siap?" tanya Elena dengan nafas ngos-ngosan.
"Sudah dari satu jam yang lalu. Kau di mana, El? Kenapa nafasmu terdengar ngos-ngosan begitu?" tanya Jinan.
"Aku sedang di jalan, Ji. Mobilku tiba-tiba saja kehabisan bensin, jadi aku harus mendorong mobilku sampai pom bensin," ujar Elena.
"Astaga, kenapa kau bisa lupa isi bensin, El? Lalu sama siapa kau mendorong mobil?"
"Semalam mobilku dipinjam oleh temanku. Saat mau kupakai pagi ini, ternyata bensinnya habis. Dan sekarang aku minta tolong sama temanku yang rumahnya ada di sekitar sini untuk membantuku mendorong mobil, Ji."
"Aneh-aneh saja. Jadi sekarang kau ada di mana? Apa butuh bantuan?" tanya Jinan.
"Tidak. Pom bensin sudah dekat, kau tunggulah di rumah, sekitar satu jam lagi aku akan sampai di sana."
"Baiklah. Hati-hati, jangan ngebut. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Jinan memutuskan panggilan setelah Elena membalas salamnya. Jinan meletakkan kembali ponselnya di atas nakas, lalu ia mendekati baby Ayla yang masih nyenyak di atas kasurnya. Setelah Jinan mencium singkat kening baby Ayla, ia kembali ke meja makan untuk menunggu Elena sembari memakan cemilan yang dibeli Ria tadi malam.
Belum lama Jinan duduk, tiba-tiba saja pintu rumahnya diketuk dari arah luar. Jinan saling pandang dengan Ria sejenak, kemudian Ria bangkit dari duduknya untuk melihat siapakah di luar sana yang mengetuk pintu rumahnya. Saat Ria baru saja berbalik, tiba-tiba tangannya dari arah belakang ditarik oleh Jinan.
"P4ntatmu merah semua, Ri. Kamu datang bulan ya?" tanya Jinan sembari menunjuk kearah ****4* Ria.
__ADS_1
"Hah?" Ria meraba celana bagian belakangnya, ia terkejut saat melihat ada noda darah di tangannya. "Astaga, sepertinya aku datang bulan, Kak. Yaudah, aku bersih-bersih dulu ya. Kakak tolong bukain pintunya. Kalau itu kak Elena, bilangin dia untuk tunggu sebentar."
Setelah Ria pergi dari hadapannya, Jinan bangkit dari duduknya untuk membukakan pintu.
Tookkk ... Tookkk ...
"Iya, tunggu sebentar," ucap Jinan sembari mempercepat jalannya.
Saat Jinan membuka pintu, ia terkejut saat melihat sosok Rico yang sedang berdiri di depan pintu rumahnya dengan penampilan yang terlihat sedikit berantakan. "Rico," gumam Jinan. Mata Jinan menatap ke arah belakang Rico untuk mencari sesosok yang ia tunggu-tunggu sedari tadi.
"Kenapa kau di sini? Di mana Elena?" tanya Jinan canggung.
"Em, aku tidak datang bersama Elena. Aku ke sini karena ingin bicara denganmu, Ji."
"Ah? Ma .. mau bicara apa?" tanya Jinan sedikit gugup.
"Aku mau minta maaf denganmu, Ji. Aku bersumpah, aku tidak tahu apa-apa tentang perbuatan tuan Octav padamu."
"Em, ya aku sudah memaafkanmu, Co," jawab Jinan pelan.
"Apa kita bisa berteman seperti dulu, Ji? Aku tidak bisa jika kita bersikap canggung terus seperti ini," ujar Rico sembari memegang kepalanya.
"Maaf Co, sepertinya aku tidak bisa jika harus berteman dekat denganmu lagi. Kau tahu 'kan bahwa aku ini seorang janda beranak satu. Tidak ada yang bisa melindungiku dan anakku dari segala jenis kejahatan selain diriku sendiri, Co." Jinan menjeda ucapnnya sejenak. "Aku yakin jika Ria dan Elena pasti sudah menceritakan sedikit tentang hidupku padamu. Aku hanya ingin hidup tenang, Co. Aku harap kau mengerti dengan kondisiku saat ini."
"Kau tidak perlu khawatir Ji, aku akan memastikan kau dan baby Ayla akan selalu aman. Jika kau membutuhkan sosok seorang suami untuk melindungimu dan anakmu, aku siap untuk menjadi suamimu."
"Ji," seru Rico. "Aku ... aku suka sama kamu."
Jinan menggelengkan kepalanya.
"Ji."
"Cukup, Co. Aku sudah memaafkanmu, sebaiknya kau pergi dari sini. Aku dan Ria juga akan segera pergi sebentar lagi," usir Jinan. Jinan berbalik dan hendak menutup pintu rumahnya, namun dengan cepat Rico menahan pintu itu agar tidak tertutup.
"Ji, aku serius dengan perkataanku. Aku menyukaimu, Ji. Aku suka padamu. Aku cinta padamu, Jinan."
"Co, kamu jangan bercanda ya. Kita ini sudah seperti saudara. Tidak akan ada yang namanya cinta di antara kita," terang Jinan sembari berusaha untuk menutup pintu.
"Kita bukan saudara, Ji. Kita adalah dua orang yang jauh dari kata saudara. Aku mencintaimu, dan itu hal yang wajar."
"Lepaskan, Co." Jinan tidak menanggapi ucapan Rico, ia terus berusaha untuk menutup pintu rumahnya yang masih ditahan Rico. Bahkan Rico saat ini sudah mulai mendorong pintu rumanya dan berusaha untuk masuk.
Daarr ...
Dobrakan pintu yang didorong Rico berhasil membuat pintu itu terbuka lebar. Ria yang ada di dalam kamar mandi saat itu terkejut mendengar suara dobrakan pintu dari arah luar.
__ADS_1
"Kak Jinan, ada apa?" teriak Ria dari dalam kamar mandi.
"Ri, keluar sekarang," teriak Jinan. Ia saat ini sudah mulai panik saat Rico mulai berjalan pelan ke arahnya.
"Ada apa, Kak? Aku lagi mencuci celana dalamku. Tunggu sebentar," sahut Ria.
Jinan tak lagi menanggapi ucapan Ria, ia kini hanya fokus pada Rico yang terlihat aneh hari ini.
"Co, keluarlah. Tidak baik jika seorang pria masuk ke dalam rumah seorang wanita asing tanpa izin."
"Kau bilang tadi kita saudara, tapi sekarang kau bilang kita orang asing. Yang mana yang benar, Jinan?" tanya Rico dengan terus berjalan menghampiri Jinan.
Tap!
Tubuh Jinan saat ini sudah menubruk pintu kamarnya, namun Rico masih saja berjalan maju ke arahnya, dan itu semakin membuat Jinan ketakutan.
"Co, kau mau apa? Menjauh dariku, Co."
"Kenapa, Jinan? Kenapa kau ketakutan seperti ini?" tanya Rico dengan tersenyum tipis.
"Rico, kau ini kenapa? Pergilah Co, jangan seperti ini. Kumohon."
"Kenapa, Ji?"
"Co, kau mabuk?" tanya Jinan sembari menutup hidungnya dengan tangan kanannya saat mencium aroma mulut Rico yang kini semakin dekat dengannya.
"Tidak," sahut Rico pelan. Rico terus berjalan mendekatkan tubuhnya pada Jinan.
"Astaga. Ria!" teriak Jinan saat Rico berhasil mengunci tubuhnya di antara pintu kamar dan tubuh Rico. Saat Jinan hendak membuka pintu kamar, tiba-tiba tangannya ditahan oleh Rico.
"Astaghfirullah!" pekik Jinan kaget. "Co, please. Jangan seperti ini." Jinan semakin ketakutan dengan sikap Rico yang berbeda dari biasanya.
"Rico, lepaskan. Astaghfirullah ya Allah," seru Jinan dengan isakan tangisnya. Ia mencoba melepaskan tangannya yang digenggam Rico, namun sayang sekali genggaman itu begitu erat.
Saat Rico hendak mendekatkan wajahnya pada wajah Jinan, tiba-tiba saja teriakan seorang pria dari arah belakang tubuh Rico mengagetkan mereka berdua.
"B4jingan!"
Rico dan Jinan sontak menoleh ke asal suara tersebut, dan ...
Buugg !!!
Satu pukulan tepat mengenai wajah tampan Rico.
******
__ADS_1
Tengkyu sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘