
"Assalamu'alaikum," teriak seorang wanita dari depan rumah Jinan.
"Wa'alaikumsalam," sahut Jinan dari dalam rumah.
Tookk ... Tookk ...
"Tunggu sebentar."
Tookk ... Tookk ...
"Astaghfirullah," guman Jinan yang mulai kesal.
Jinan berlari menuju pintu depan rumahnya untuk membukakan pintu pada Ria yang berkunjung ke rumahnya. Ya, Jinan tahu itu suara Ria. Sejak kecil mereka sering bermain bersama, ia jelas tak pernah lupa akan suara temannya itu.
Dan benar saja, setelah pintu terbuka Ria sudah berdiri di depan pintu dengan senyum lebarnya.
"Nggak sabaran banget sih. ketuk-ketuk mulu, berisik tau." Ria hanya menyengir kuda mendengar Jinan mengomel.
"Oh ya, tumben kamu pagi-pagi sudah ke sini. Biasanya masih tidur," ujar Jinan saat melihat jam yang masih menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Khusus menemani kakakku tersayang ini, aku rela bangun pagi," ujar Ria dengan memeluk tubuh Jinan sembari berjalan menuju dapur.
"Baby Ayla mana, Kak? Udah bangun belum?" tanya Ria yang tak melihat sosok anak bayi mungil itu.
"Baru saja tidur. Ayla semalam tidur cepat, jam 4 tadi baru bangun, dan sekarang baru tidur lagi setelah Kakak kasih ASI."
Ria manggut-manggut saja dengan perkataan Jinan. Setelah mereka sampai di dapur, Ria tampak heran melihat kondisi dapur Jinan yang penuh dengan peralatan dan bahan-bahan untuk membuat kue.
"Kakak masih jualan?" tanya Jinan.
"Iya, ada yang minta dibikinin brownies tiga loyang. Katanya sih request dari anaknya yang akan pulang dari dinas," ujar Jinan menjelaskan.
"Kenapa Kakak terima? Kakak 'kan sebentar lagi akan menikah, Kak. Kenapa masih jualan?" tanya Ria heran.
"Udah terlanjur," jawab Jinan singkat.
"Astaga, Kakak. Selama dua minggu ini kita itu harus mempersiapkan pernikahan Kakak dengan kak Ardo. Kita akan sibuk, Kak. Memang semuanya dikerjakan oleh orang WO, tapi 'kan kita juga harus ke KUA, harus fitting baju, harus cek lokasi juga. Apa Kakak mau terima bersih gitu aja? Nanti kalau ada dekorasi yang nggak sesuai dengan kemauan Kakak, gimana? Seharusnya Kakak itu istirahat yang baik di rumah selagi tidak ada kegiatan, bukannya berjualan seperti ini," omel Ria panjang lebar.
Jinan tersenyum geli mendengar Ria mengomel. Sebenarnya Ardo juga sudah mengingatkannya saat pria itu menelponnya jam enam tadi untuk tidak berdagang lagi, tapi karena ia yang sudah terlanjur menerima pesanan ini dari dua hari sebelumnya, mau tidak mau ia harus melakukannya hingga selesai. Meski ia sudah berencana untuk tidak berdagang lagi, tapi ia juga tidak ingin membatalkan orderan seenaknya saja. Baginya, apa yang sudah ia janjikan tidak boleh dibatalkan begitu saja tanpa adanya alasan yang memang begitu urgent.
__ADS_1
Setelah Jinan menjelaskan kepada Ria kenapa ia menerima pesanan itu, akhirnya Ria tidak mengomel lagi. Wanita itu bahkan ikut membantu Jinan menyiapkan bahan-bahan untuk membuat butter cream selagi Jinan melakukan langkah terakhir pada adonan brownies-nya.
Pukul 08:35 pagi, tiga loyang brownies dengan toping cokelat parut kini telah selesai dikerjakan. Sembari menunggu brownies itu diambil oleh pemiliknya, Jinan segera bersiap untuk mandi sebelum Ardo datang ke rumahnya untuk mendaftarkan diri ke KUA setempat. Sementara Ria saat ini hanya menunggu di dalam kamar Jinan bersama baby Ayla yang sudah terbangun sedari satu jam lalu.
Tiga puluh menit berlalu, Jinan yang sudah siap untuk pergi namun masih harus menunggu Ardo yang belum datang dan juga menunggu orang yang akan mengambil brownies ke rumahnya. Belum lama ia menunggu, terdengar suara deru mesin mobil yang berhenti di depan rumah Jinan. Jinan dan Ria sontak keluar dari rumah untuk melihat siapa yang datang. Dan ternyata sosok wanita paruh baya dan seorang pria dengan seragam tentra yang keluar dari mobil tersebut.
Ria dan Jinan masih setia melihat ke arah kedua orang itu hingga pada kedua orang itu berjalan menghampiri Jinan dan Ria.
"Assalamu'alaikum," sapa kedua tamu Jinan.
"Wa'alaikumsalam," sahut Jinan dan Ria.
"Benar ini rumah Nak Jinan yang menjual kue brownies?" tanya seorang wanita paruh baya.
"Iya, Bu. Apa Ibu yang memesan kue dengan Jinan?" tanya Jinan ramah.
"Benar. Apa pesanan Ibu sudah jadi, Nak?"
"Alhamdulillah sudah, Bu. Tunggu sebentar ya, Jinan ambilkan dulu. Mari masuk, Bu."
Setelah melihat kedua tamunya duduk di sofa ruang tamunya, Jinan segera ke dapur untuk mengambil brownis yang sudah siap dibawa oleh pemiliknya. Ria yang masih di ambang pintu bersama baby Ayla pun hanya diam saja sembari menatap intens pada pria yang datang bersama ibu-ibu itu. Dari cara pria itu menatap Jinan, Ria bisa melihat jika pria berbaju tentra itu memiliki ketertarikan pada Jinan.
Saat Jinan keluar dari dapur, Ria kembali menatap ke arah pria berbaju tentra itu. Dan lagi, pria itu menatap ke arah Jinan dengan tatapan yang sangat Ria kenali. Tatapan akan rasa tertarik pada lawan jenis. Ria membiarkan saja hal itu terjadi selama pria itu tak mengusik Jinan atau melakukan hal yang akan merugikan Jinan.
Setelah transaksi selesai dilakukan dan kedua tamu Jinan hendak keluar dari rumah, bersamaan juga saat itu dengan mobil yang dibawa Ardo sampai di depan rumah Jinan.
"Di mana Jinan, Ri? Itu mobil siapa?" tanya Ardo setelah berada dua langkah di depan Ria.
Belum Ria menjawab, kedua tamu Jinan beserta Jinan sendiri yang ada di dalam rumah sudah terlihat di ambang pintu akan keluar dari rumah. Ria memasang wajah ramahnya kepada kedua orang tamu itu saat pandangan mereka beradu.
"Terima kasih sudah order dengan Kakak saya ya, Bu," ujar Ria berbasa-basi.
"Sama-sama, Nak. Wah, anak kamu cantik sekali ya," ucap ibu itu saat melihat Ayla dalam dekapan Ria.
Ria hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalanya tanpa ada niat untuk meralat perkataan ibu itu yang mengatakan bahwa Ayla adalah anaknya.
"Oh ya Jinan, nanti kapan-kapan kalau saya mau pesan brownies lagi bisa, kan?" tanya ibu-ibu itu pada Jinan.
"Maaf Nyonya, sepertinya Jinan tidak akan bisa lagi membuatkan kue untuk Anda."
__ADS_1
Ibu-ibu itu menatap ke arah asal suara, yang di mana asal suara tersebut berasal dari Ardo. Ia mengernyitkan keningnya saat mendengar kalimat inggris dari Ardo yang mengatakan bahwa Jinan tidak bisa lagi membuatkan kue untuknya.
"Kenapa?" tanyanya pada Ardo.
"Sebentar lagi Jinan akan menikah denganku, dan dia tidak akan pernah berjualan lagi karena aku tidak ingin melihatnya kelelahan."
Ibu-ibu itu menatap tak percaya pada apa yang Ardo katakan. Ia mengalihkan pandangannya ada anak lelakinya sejenak, kemudian pandangannya tertuju pada Jinan yang sedang tersenyum tipis ke arahnya.
"Maaf, Bu. Sepertinya ini adalah orderan terkhir Jinan. Kalau Ibu mau, Jinan bisa tuliskan resepnya untuk Ibu buat sendiri di rumah," ujar Jinan tak enak hati.
"Eh, ya, tidak apa-apa Jinan. Semoga pernikahan kalian dilancarkan ya. Maaf jika Ibu merepotkanmu menjelang hari bahagiamu," ucap ibu-ibu itu tulus.
Seperginya kedua tamu Jinan itu, Jinan masuk ke dalam rumah untuk mengambil berkas-berkas yang akan dibawa.
"Kemarin mantan suaminya, sekarang pria asing. Sepertinya setelah menikah nanti, aku akan meminta Jinan untuk bercadar saja," ucap Ardo dan berhasil membuat Ria membelalakkan matanya.
"Ah? Bercadar?"
"Ya. Aku tidak suka jika milikku dilihat seperti tadi oleh pria manapun."
Ya, selain Ria, Ardo juga menyadari tatapan yang tak asing dari pria berbaju tentra tadi kepada Jinan. Ia adalah seorang pria normal, dan ia sangat tahu apa arti dari pandangan pria tadi.
Ria menahan tawanya yang ingin meledak. "Posesif banget," gumamnya dalam bahasa Indonesia.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
__ADS_1
Piupiu, see u nxt bab 😘