Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 50


__ADS_3

Di dalam rumah sederhana itu, sebagian warga yang datang ke rumah Jinan terlihat asyik bermain bersama baby Ayla yang sangat menggemaskan. Dan sebagian warga lainnya ikut duduk bersama Jinan, Ardo, Sila, dan Dedy di sofa ruang tamu.


Ya, kursi kayu di ruang tamu Jinan kini sudah berubah menjadi sofa empuk. Meski keadaan rumah Jinan masih seperti semula, namun perabotan yang ada di dalam rumah itu hampir tujuh puluh persen berubah menjadi baru semua. Seperti sofa, meja tamu, meja makan, peralatan dapur, TV, serta alat-alat mandi pun terlihat baru semua. Hanya kamar dan beberapa barang penting lainnya milik kedua orang tua Jinan saja yang tidak berubah sama sekali. Mungkin Sila ingin membuat rumah Jinan menjadi lebih baik tanpa menghilangkan kenang-kenangan Jinan bersama kedua orang tuanya.


Sila? Ya, Jinan begitu yakin jika semua ini karena ulah Sila. Karena selain keluarga Ria, tidak ada lagi orang yang bisa sebaik ini padanya. Jinan benar-benar sangat beruntung untuk ini.


"Wah, jadi ini calon suaminya Jinan ya," ujar Wati saat Sila mengatakan bahwa Ardo adalah calon suami Jinan.


"Bude, Ardo ini adalah teman Jinan selama di Jerman. Dia ke sini hanya ingin ngantar Jinan saja," ujar Jinan berusaha meluruskan.


"Ya ampun Jinan, kamu tidak perlu malu sama kita. Sudah sepantasnya juga kamu mencari ayah baru buat anakmu. Jangan hanya si Romi itu saja yang bisa mencari istri baru, kamu juga harus begitu dong.


Jinan mengernyitkan keningnya saat mendengar perkataan Wati. Istri baru? Apa Romi sudah menikah lagi, pikir Jinan penasaran.


Melihat raut bingung pada wajah Jinan, Sila langsung saja menggenggam tangan wanita berhijab syar'i itu.


"Maafkan Mami, Jinan. Mami lupa memberitahu kamu bahwa kurang dari dua minggu lagi Romi akan menikah."


Jinan tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Mi. Mami tidak perlu minta maaf seperti ini. Kita 'kan sudah berpisah, sudah sepantasnya juga mas Romi menikah lagi," ujar Jinan dengan santainya.


Ardo yang mendengar kata menikah dengan nama Romi yang disebut-sebut pun mengernyitkan keningnya.


"Romi akan menikah? Dengan siapa?" tanya Ardo dalam hati dengan sangat penasaran.


"Apakah Jinan kembali ke Indonesia karena ingin menikah lagi dengan Romi?"


Pikiran Ardo tentang Jinan dan Romi mulai tak karuan. Demi apa pun, ia tidak akan pernah rela jika Jinan kembali menjalin hubungan bersama Romi.


Ardo ingin sekali menanyakan hal itu pada Jinan, namun sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuknya bertanya, karena saat ini di sekelilingnya ini masih sangat ramai dengan para tetangga Jinan. Mungkin ia akan menanyakan hal ini pada Jinan besok atau mungkin nanti malam melalui pesan WhatsAppnya.


  


***

__ADS_1


 


Keesokan harinya setelah Ardo selesai mandi, ia langsung saja menelfon Jinan melalui nomor pribadi yang Jinan berikan kemarin padanya. Rencananya hari ini Ardo ingin meminta Jinan untuk menemaninya jalan-jalan mengelilingi kota Jakarta sebelum ia pulang ke negara asalnya -Turkey- besok. Siapa tahu dengan jalan-jalan bersama, mereka bisa semakin cepat akrab dan Jinan bisa segera menerima cintanya.


Tapi malang di nasib, khayalan indah untuk seharian bersama Jinan kini buyar seketika saat Jinan menolak ajakannya. Jinan mengatakan bahwa ia tidak memiliki teman untuk pergi bersamanya, sedangkan Sila dan Dedy hari itu sedang ada pertemuan bisnis dengan kliennya dan tak bisa ditinggalkan begitu saja. Jinan tidak mau jika pergi hanya berdua saja dengan Ardo, jika bukan karena terpaksa seperti kepulangannya ke Indo bersama pria itu kemarin.


Dan dengan berat hati, akhirnya Ardo pergi jalan-jalan sendiri dengan menyewa satu orang tour guide melalui ponsel pintarnya.


...


Di sebuah kamar di kediaman Romi dan keluarganya, Linda terlihat mondar mandir dengan wajah cemasnya. Putra yang sedari memasuki kamar melihat istrinya bertingkah aneh pun kini tak tahan untuk menegurnya. Namun bukannya berhenti, Linda justru terlihat marah dengan suaminya yang terus-terusan bertanya, kenapa, kenapa, dan kenapa.


"Papa bisa diam tidak? Mama ini sedang pusing."


"Pusing kenapa, Ma? Mama cerita sama Papa, siapa tahu Papa bisa bantu."


"Jinan, Pa. Jinan."


"Kemarin sore dia pulang ke rumahnya, Pa. Bagaimana ini?"


"Bagaimana apanya? Dia pulang ke rumahnya yasudah, kenapa Mama yang pusing."


"Papa ini bagaimana sih. Jinan pulang ke rumahnya di saat Romi akan melangsungkan pernikahan. Menurut Papa apa itu artinya?"


"Artinya? Maksud Mama apa sih, kenapa bicaranya mutar-mutar begitu. Papa pusing mendengarnya."


"Astaga, Papa. Papa bayangkan, bagaimana jika Jinan pulang ke rumahnya hanya untuk membatalkan pernikahan Romi, Pa. Bagaimana?" ujar Linda cemas.


"Astaghfirullah, Mama. Kenapa Mama jadi menuduh Jinan seperti itu. Jangan suka su'udzon, Ma."


"Siapa yang su'udzon, Pa? Mama hanya takut saja. Apalagi sekarang dia sudah melahirkan, Mama takut dia memanfaatkan keadaan dengan anak itu, Pa. Anak dari selingkuhannya."


"Astaghfirullah, Mama. Mama masih mengira bahwa anak Jinan itu, anak dari selingkuhannya? Kenapa Mama jadi seperti ini sekarang, Ma. Mama dulu sering sekali bilang sama kami semua kalau Jinan itu anak yang baik. Lalu kenapa sekarang malah Mama sendiri yang menuduh Jinan seperti ini."

__ADS_1


"Itu karena dia sudah berselingkuh dari Romi, Pa. Papa sendiri yang mengatakan itu saat di rumah Jinan waktu itu."


"Papa saat itu hanya asal bicara, Ma. Papa juga tidak tahu alasan mereka berpisah itu karena apa."


"Tapi dia membenarkan hal itu, Pa. Itu sudah jelas buat Mama."


"Tapi bagaimana jika anak itu memang benar anak Romi? Cucu kita," ujar Putra dengan wajah serius. Dan hal itu jelas membuat Linda terdiam seketika.


Bagaimana jika benar bahwa anak itu adalah cucunya? Linda menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Jika dia bersikeras untuk mengakui anak itu sebagai cucu Mama, Mama akan melakukan tes DNA."


Putra menghela nafasnya panjang.


"Mama jangan pernah menyesali perbuatan Mama selama ini jika benar bahwa anak itu adalah anak Romi. Cucu Mama sendiri."


Setelah mengatakan itu, Putra meninggalkan kamarnya dan lebih memilih untuk pergi ke ruang kerjanya, dari pada harus melihat istrinya yang terus-terusan berpikiran negatif pada mantan menantunya.


Putra sebenarnya juga tidak percaya dengan alasan Jinan yang bercerai dari anaknya hanya karena wanita itu sudah mencintai pria lain, apalagi sampai hamil dengan pria lain. Tapi ia juga tidak bisa melakukan apa-apa untuk membuktikan itu semua. Untuk menyelidiki itu juga ia tidak mengetahui keberadaan Jinan selama satu tahun ini, sedangkan awal-awal perceraian anaknya, ia hanya fokus pada istrinya yang masih bersedih dengan perceraian itu. Di tambah dengan kehadiran Aurel di keluarganya membuat mereka melupakan adanya Jinan yang pernah menjadi menantu mereka.


Dan sekarang Jinan sudah kembali? Apa ia harus menyelidikinya, pikir Putra.


  


  


******


  


  


Tengkyu bagi yang sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘

__ADS_1


__ADS_2