
Sudah lima hari ini Linda tidak pernah keluar dari kamarnya selain ke kamar mandi atau dapur untuk makan. Ia bahkan sangat jarang berbicara jika tidak ada hal yang benar-benar penting untuk ditanggapi.
Selama tiga hari itu juga Jinan tidak pernah absen untuk mengunjungi kediaman Linda meski Linda hanya diam di dalam kamar. Ia jadi semakin merasa bersalah karena malihat sikap Linda yang berubah menjadi pendiam seperti itu. Ia bingung harus bagaimana, padahal dua hari lagi ia sudah harus kembali ke Turki karena pekerjaan Ardo yang sudah menunggu. Tidak mungkin ia pergi dengan keadaan seperti ini. Ia tidak mau pergi dengan perasaan bersalah yang belum selesai seperti ini.
Pagi ini sama seperti hari sebelumnya, Jinan akan bersiap mengunjungi kediaman Linda bersama anak dan suaminya. Ardo juga ingin segera mengurus pertanggung jawabannya kepada keluarga itu atas perbuatannya yang telah lalu.
"Sayang, aku ke rumah paman Dedy sebentar, ya. Semalam dia memintaku untuk ke sana pagi ini sebelum dia pergi ke kantor," ucap Ardo setelah ia dan Jinan menyelesaikan sarapan paginya.
"Oke. Aku mandikan Ayla dan Andy dulu, ya. Setelah kamu pulang, kita langsung ke rumah tante Sila."
Seperginya Ardo, Jinan segera membawa semua piring kotor ke wastafel dapur. Setelah mencuci peralatan makannya, barulah ia membangunkan Ayla untuk mengajaknya mandi.
Tak perlu waktu lama untuk memandikan Ayla dan ketika ia sedang mengeringkan tubuh Ayla dengan handuk, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk dari luar. Siapakah tamu yang berkunjung ke rumahnya sepagi ini? Jika itu Ardo ataupun Ria, mereka pasti akan langsung masuk setelah mengucap salam. Karena pintu kembali diketuk untuk kedua kalinya, Jinan dengan cepat membungkus tubuh Ayla dengan handuk dan membawanya untuk segera membuka pintu.
Jinan terdiam sejenak saat melihat tamunya tersebut adalah Linda. Ia cukup terkejut karena yang awalnya Linda tidak ingin ditemui oleh siapapun, kini wanita itu sendiri yang mendatanginya ke rumahnya pagi-pagi sekali seperti ini.
Jinan mengajaknya masuk dan meninggalkannya sejenak untuk memakaikan Ayla baju. Setelah selesai dengan Ayla, ia membiarkan anaknya itu mendekati Oma-nya, sedangkan ia menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk Linda.
Sekembalinya dari dapur Jinan melihat Linda sedang bermain bersama Ayla. Ia sedikit heran karena saat itu Linda terlihat tidak seperti beberapa hari belakangan ini yang tampak diam dan mengacuhkan orang-orang di sekitarnya. Kini Linda terlihat lebih santai dan tersenyum hangat saat sedang bermain bersama Ayla.
"Ini Tante, di minum dulu," ucap Jinan seraya meletakkan satu gelas teh manis hangat ke atas meja.
Linda tersenyum. "Terima kasih, Nak," ujarnya dan segera meneguk sedikit minuman yang dibawa oleh Jinan.
Jinan tampak terdiam beberapa saat karena Linda yang tengah sibuk meladeni Ayla. Namun beberapa saat kemudian Linda mulai menatap kearahnya.
"Maafkan saya, Jinan." ucap Linda dan membuat Jinan kebingungan. Maaf? Kenapa Linda mengatakan itu padanya.
"Maaf jika beberapa hari ini saya mengacuhkan kalian semua."
Jinan mulai mengerti apa yang Linda maksud. "Tidak perlu minta maaf, Tante. Tante tidak salah apapun, justru Jinan-lah di sini yang harusnya minta maaf, karena kehadiran Jinan semua ini bisa terjadi."
Linda menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nak. Ini bukan kesalahan kamu."
__ADS_1
"Tante ..."
"Bisakah saya meminta sesuatu padamu, Jinan?" sela Linda saat Jinan menjeda ucapannya.
"A ... apa?" tanya Jinan dengan sedikit ragu.
"Bisakah kamu tidak memanggil saya dengan sebutan itu? Bisakah kamu memanggil saya dengan sebutan ... Mama?"
Jinan diam tak menanggapi pertanyaan Linda. Ralat, lebih tepatnya permintaan. Ia bingung kenapa Linda memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan mama. Itu akan sangat canggung untuknya setelah semua yang terjadi. Saat Jinan hendak berucap, bersamaan saat itu Ardo kembali ke rumah dengan beberapa kertas di tangannya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Jinan dan Linda menatap ke arah asal suara secara bersamaan.
Melihat kedatangan Linda di kediamannya, Ardo menyalami wanita itu dan ikut bergabung dengan duduk di samping istrinya.
"Baru saja kita mau ke sana, ternyata nyonya sudah ke sini lebih dulu," ujar Ardo sembari memangku Ayla yang ingin dipangku olehnya.
Jinan mendudukan tubuhnya disamping Linda dan menggenggam kedua tangan wanita itu. Ia merasa iba melihat Linda yang tampak tidak memiliki semangat. Jujur saja, ini tidak seperti Linda yang ia kenal saat pertama kali wanita itu menemuinya setelah kematian kedua orangtuanya beberapa tahun lalu.
"Nyonya Linda."
Linda mendongak menatap Ardo saat namanya dipanggil.
"Saya secara pribadi minta maaf atas semua yang telah terjadi. Sekali lagi saya minta maaf karena perbuatan saya yang sudah mengumbar aib anak Anda, sehingga perusahaan yang telah suami Anda bangun mengalami kebangkrutan. Saya juga minta maaf karena pengakuan saya itu membuat Romi menjadi kehilangan nyawanya."
Linda menggelengkan kepalanya. "Saya sudah memaafkan kalian atas apa yang kamu lakukan beberapa tahun lalu, karena cepat atau lambat berita itu pasti akan menyebar dengan sendirinya. Saya berterima kasih kepada kalian karena kalian sudah mau mengakui kesalahan kalian kepada kami. Saya justru malu karena saya tidak bisa mengakui semua kesalahan keluarga saya yang telah merugikan Jinan."
"Tante Linda, itu tidak masalah. Jinan sudah melupakan semua yang telah berlalu."
Linda tidak menanggapi sahutan dari Jinan karena saat ini ia mulai kesulitan menahan air matanya yang hendak menetes.
"Nyonya Linda."
__ADS_1
Linda kembali mendongak menatap Ardo yang memanggilnya seraya mengusap ait matanya.
"Besok malam kami akan segera pulang ke Turki karena pekerjaan saya tidak bisa ditinggal lebih lama lagi."
"Pulang?"
Ardo menganggukkan kepalanya. "Ya, tapi sebelum kita pergi, saya ingin memastikan bahwa tidak ada lagi konflik di antara kita. Itu sebabnya kenapa saya minta maaf sebesar-besarnya pada Anda dan berharap Anda dapat memaafkan kesalahan saya, meski saya tahu ini tidak akan mudah untuk Anda sendiri."
"Apakah kalian akan kembali lagi ke sini suatu saat nanti?" tanya Linda dengan perasaan sedihnya. Baru saja berniat untuk memperbaiki hubungan yang sebelumnya sempat renggang, tapi kenapa mereka sudah harus pergi saja?
"Kita pasti akan pulang ke Indonesia karena ini adalah kampung halaman Ayla dan Jinan."
Linda menundukkan kepalanya.
"Kita akan sering-sering pulang ke sini jika Ardo ada waktu, Tante. Kami tidak akan melewatkan waktu untuk berkunjung ke kediaman Tante jika kami ada di sini," ujar Jinan mencoba memberi pengertia.
Linda mendongan menatap Jinan dengan wajah sayunya. "Apa kita bisa memulai semuanya dari awal, Nak?"
Jinan tersenyum dan mengangguk, ia memeluk Linda erat dan dibalas pelukan juga oleh Linda.
"Nyonya Linda."
Linda dan Jinan melepas pelukannya saat Ardo memanggil Linda kembali.
"Em, saya ingin menepati janji saya." Linda mengernyitkan keningnya. Janji? "Sebelumnya saya pernah berjanji kepada Anda dan Romi akan memberikan kalian modal 50% dari kerugian yang kalian dapatkan atas perbuatan saya kemarin tapi, berhubung Romi sekarang telah tiada," Ardo menjeda kalimatnya selama dua detik. "dan tidak mungkin jika saya harus membiarkan Anda mendirikan perusahaan seorang diri jadi, saya memutuskan untuk memberikan saham saya yang ada di perusahaan paman Dedy sepenuhnya kepada Anda."
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys😘
__ADS_1