Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 79


__ADS_3

Setelah sarapan Ardo segera berangkat ke kantor sendirian. Ia yang pergi dengan terburu-buru, jelas memancing rasa curiga Basir pada anak lelakinya itu. Karena menurut pengamatan Basir selama hidup bersama Ardo, anak lelakinya itu hanya akan terburu-buru jika ada sesuatu yang sangat genting saja.


Hari ini adalah hari pertama Ardo pergi ke kantor setelah kepulangannya dari Indonesia. Dan untuk urusan yang menurutnya 'sangat genting' sepertinya itu tidak mungkin. Apalagi status Ardo sebagai direktur utama di perusahaannya kini belum diumumkan secara resmi.


"Apa aku harus menyelidikinya?" batin Basir sembari meneguk air putihnya.


***


Setiba di kantor, Ardo segera meraih ponselnya yang ada di saku dalam jasnya. Ia ingin menelepon Adli agar pria itu segera ke ruangannya.


"Jangan biarkan siapapun masuk ke ruanganku sampai aku beri perintah, kecuali Adli. Aku sedang tidak ingin diganggu," ujar Ardo pada sekertarisnya yang meja kerjanya terdapat di depan ruangannya.


"Baik, Tuan."


Ardo masuk ke ruangannya dengan wajah datar. Setelah mendudukkan tubuhnya pada meja kerjanya, ia segera mengeluarkan laptop yang ada di dalam tas kerjanya. Sepuluh menit berkutat pada laptopnya, kini Ardo sudah dapat masuk ke dalam cctv yang ada pada perusahaan milik Putra, orang tua Romi.


Selama menunggu kedatangan Adli, Ardo memantau satu persatu dari setiap cctv yang ada pada layar laptopnya. Melihat beberapa pekerja yang sedang mengerjakan tugasnya dengan serius dan ada juga yang sedang berbincang.


Tookk ... Tookk ... Tookk ...


Ardo membuka pintu ruangannya dengan remot yang ada di samping laptopnya. Ia tahu bahwa itu Adli karena mantan sekretaris papanya itu tidak akan pernah melanggar apa yang sudah pimpinannya sampaikan kecuali jika yang datang adalah orang tuanya. Dan untuk orang tuanya sendiri, tidak mungkin mereka sepagi ini datang ke kantor. Apalagi papanya yang sejak menyerahkan jabatan Direktur Utama kepadanya, tidak pernah lagi masuk ke kantor.


Saat pintu terbuka, benar saja bahwa itu adalah Adli. Melihat kedatangan pria itu, Ardo segera membawa laptopnya menuju meja tamu dan mendudukkan tubuhnya pada sofa double.


"Apa kau memberitahu papaku?" tanya Ardo basa-basi.


"Tidak, Tuan."


"Bagus."


Setelah Adli memberikan laptop yang dibawanya pada Ardo, Ardo segera memasukkan beberapa data dan video yang sudah diretas ke dalam komputer itu. Kini jari-jari pria itu mulai bermain indah di atas keyboar laptop tersebut dengan sangat serius.


Adli yang melihat kelincahan Ardo dengan semua kode-kode pada layar komputer tersebut tampak heran. Ia tidak menyangka bahwa anak dari bos-nya itu ternyata bisa melakukan hal seperti itu. Ia ingin bertanya pada Ardo tentang semua ini, tapi melihat wajah serius pria itu, Adli terpaksa mengurungkan niatnya dan memilih untuk melihat saja apa yang akan pria itu lakukan selanjutnya.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu, kini Ardo menghentikan kegiatannya. Ia bangkit dari duduknya dan menuju meja kerjanya.


"Bawakan 2 cangkir kopi ke ruanganku sekarang juga. Jangan lama," ujar Ardo pada telepon genggam yang ada di atas meja.


Setelah meletakkan kembali gagang telepon itu pada tempatnya, Ardo berdiri di depan jendela yang mengarah pada jalan raya. Ia hanya berdiri diam tanpa melakukan apa pun, menghiraukan Adli yang terlihat bingung karena ia yang tidak melanjutkan kegiatannya. Padahal hanya satu langkah lagi maka semuanya selesai. Tapi Ardo? Pria itu justru hanya berdiri diam di depan jendela tanpa melakukan apa pun. Membuang-buang waktunya saja, pikir Adli.


Tookk ... Tookk ...


Ardo membuka pintu dengan menggunakan remot yang ada di tangannya saat mendengar suara pintu itu terketuk. Di sana muncullah seorang OB dengan membawa 2 cangkir kopi pesanan Ardo. Setelah OB tersebut meletakkan cangkir itu di atas meja depan Adli, barulah Ardo kembali mendudukkan tubuhnya di samping Adli.


"Minumlah," ujar Ardo.


Tanpa menunggu sahutan Adli, Ardo kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Tak sampai 5 menit, kini apa yang Ardo kerjakan akhirnya selesai juga. Ia menarik sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman licik saat apa yang ia kerjakan berhasil terlaksana sesuai keinginannya.


Pandangan Ardo kini beralih pada layar laptop miliknya yang ada di sampingnya. Kini ia sudah bisa melihat semua layar komputer yang ada pada perusahaan milik Putra menampilkan beberapa video yang menayangkan seorang pria dan wanita sedang memasuki kamar hotel. Pria dan wanita itu tak lain adalah Aurel dan Romi.


Tak hanya itu, Ardo juga mengirimkan rekaman cctv Romi dan Aurel yang sedang berbincang singkat di ambang pintu kamar hotel. Hal yang mengejutkan dari video itu adalah, keadaan Aurel yang sedang hamil besar. Mereka di sana bahkan sempat melakukan sentuhan intim pada bibir mereka. Semua orang tahu bahwa hari itu adalah hari kedua sebelum acara pernikahan Romi dan Jinan berlangsung. Mereka tahu karena semua video-video itu sudah terdapat waktu yang sangat lengkap.


Video terakhir yang kini sedang tayang adalah, saat Romi membawa Aurel ke dalam kamar pribadinya saat ia masih berstatus sebagai suami sah Jinan. Di sana juga terlihat Jinan yang berdiri di depan pintu kamar seperti yang diceritakan pada bab 1 PERJALANAN HIDUP JINAN.


"Tuan, apa kau tidak keterlaluan pada mereka?" tanya Adli.


Ardo menatap Adli dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Keterlaluan? Mereka pantas mendapatkannya, Ad. Mereka bisa saja membangun kembali usahanya, tapi Jinan? Jinan tidak bisa mengembalikan kebahagiaannya karena sudah berulang kali dikecewakan oleh mereka."


Adli tidak bicara lagi. Wajah kesal Ardo akan pertanyaannya jelas bukanlah waktu yang tepat untuk mereka berdebat.


"Baiklah, Tuan," ujar Adli pasrah.


Ardo menghela nafasnya panjang.


"Kau tahu apa yang harus kau lakukan?" tanya Ardo saat ia menyerahkan kembali laptop itu pada Adli.

__ADS_1


"Ya, Tuan."


"Bagus. Jangan sampai papaku mengetahui semua ini."


Baru dua detik pandangannya mengarah pada laptop miliknya, kini ia mengarahkan kembali pandangannya pada Adli.


"Kau bisa pergi, atau bisa tetap di sini dengan syarat tidak mengganggu kegiatanku."


"Em, saya pergi saja, Tuan. Ada hal lain yang ingin saya kerjakan," ujar Adli dan diiyakan Ardo.


***


Indonesia 14.53 PM.


Di perusahaan milik Putra sore ini telah terjadi kehebohan yang sangat langkah. Di mana terdapat hampir sepuluh video yang menayangkan sosok Romi -anak dari pemilik perusahaan tersebut- sedang keluar masuk kamar hotel bersama seorang wanita yang kini sudah menjadi istrinya.


Putra yang baru saja menonton semua video yang ditayangkan pada komputernya itu tampak tak percaya akan apa yang ia lihat. Ia bahkan sampai menggelengkan kepalanya selama menonton video itu. Benar-benar sulit dipercaya, pikirnya. Tapi jika dilihat baik-baik, video rekaman itu tampak asli dan tidak diedit.


Setelah video itu selesai terputar, Putra segera beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangannya untuk segera kembali ke rumah. Ia ingin menanyakan hal ini langsung pada putranya. Meski sudah ada bukti di depan mata, tapi ia masih memiliki sedikit harapan akan pengakuan dari anaknya itu bahwa semua yang ada pada video itu tidaklah benar.


Saat ia keluar ruangan, tampak seluruh karyawannya yang sedang ada di salah satu meja terlihat sedang berkumpul dengan berbisik. Saat mereka menyadari kehadirannya, mereka segera membubarkan diri sembari menatap ke arah putra dengan pandangan yang tak enak dilihat.


Putra yang melihat itu, sudah bisa menebak jika apa yang terjadi pada komputernya beberapa menit lalu juga terjadi pada komputer milik karyawannya. Ia ingin berteriak pada karyawannya itu, tapi ia akan bertambah malu jika apa yang telah ia saksikan tadi ternyata benar. Dengan terpaksa ia akhirnya memutuskan untuk segera pergi dari sana dan menanyakan kebenarannya pada Romi.


  


******


  


Segini dulu ya. Udah nggak kuat aku, palak pusing banget ini😢


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕

__ADS_1


Piupiu, see u nxt bab 😘


__ADS_2