Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 92


__ADS_3

"Ramai sekali, Ar. Siapa yang datang?" tanya Jinan pada suaminya yang sedang merangkul pinggangnya.


"Lihat saja," jawab Ardo tak membuat rasa penasaran Jinan berkurang.


"Apasih, pakai rahasia-rahasia segala," omel Jinan sembari tersenyum penasaran.


Ardo menatap kearah Jinan, ia kecup kening istrinya sejenak, lalu ia rangkul bahu wanita itu tanpa berniat meladeni omelan wanita tercintanya itu.


Baru satu langkah kaki mereka menapaki lantai teras rumah itu, suara anak kecil yang sangat melengking mulai terdengar di telinga Jinan dan Ardo. "Bibi Jinan dan adik bayi sudah datang. Bibi Jinan dan adik bayi sudah datang."


Semua yang ada di dalam rumah tersebut sontak menghentikan tawa dan perbincangan mereka saat mendengar jeritan dari Cemile.


"Ayla, kemari. Adik bayinya sudah datang," teriak Cemile kembali sembari melompat-lompat kegirangan.


Tak lama dari itu, lengkingan selanjutnya pun terdengar kembali di telinga Jinan. Di mana lengkingan tersebut berasal dari anak cantiknya yang tak lain adalah Ayla.


"Mama."


"Hati-hati, Cemile, Ayla," ujar Jinan kepada kedua gadis kecil itu yang sedang berlari ke arahnya.


"Mama."


"Bibi."


Seru kedua gadis kecil itu saat tubuh mereka berhasil memeluk kaki Jinan.


"Cemile, Ayla, hati-hati, Sayang. Mama Jinan nanti jatuh loh," ujar Ardo mengingatkan.


"Maaf, Paman," seru Cemile dengan tertawa lucu, sedangkan Ayla tak menggubris perkataan papanya tersebut, ia hanya fokus pada mamanya yang baru pulang dan adik bayinya yang baru datang.


"Kenapa masih di sini? Ayo kita masuk. Kasihan mamanya, pasti lelah berdiri terus."

__ADS_1


Ucapan Elif dari belakang tubuh Jinan dan Ardo membuat Ardo segera menggendong Ayla dan Cemile untuk masuk ke dalam rumah, sementara Jinan juga ikut berjalan masuk bersama Elif di sampingnya. 


Saat mulai memasuki rumah tersebut, Jinan tiba-tiba saja dikagetkan dengan sosok seorang sahabat yang sudah lama tidak ia temui selama ia berada di Turki. Orang tersebut tak lain ialah Ria dan Elena.


"Ria, Elena," seru Jinan dengan ekspresi terkejutnya. Bahkan wanita yang sedang menggendong bayi lelaki mungil itu sampai menghentikan langkahnya karena saking terkejutnya akan kedatangan kedua sahabatnya itu.


"Jangan lari, kita yang akan ke sana," ujar Elena mengingatkan agar Jinan tidak berlari menghampiri mereka. Temannya satu itu jika sedang bahagia memang terlihat jelas sekali di wajah dan tingkah lakunya.


Ya, Jinan jelas sangat bahagia di tengah keluarga barunya yang mau menerima dia apa adanya. Dan tentunya, bisa menyayangi dirinya dan anak perempuannya dengan tulus dan sepenuh hati.


"Kak Jinan apa kabar, Kak?" tanya Ria setelah ia dan Elena berada di hadapan Jinan.


"Alhamdulillah baik. Bagaimana dengan kalian berdua?" tanya Jinan balik.


"Kita baik, Ji. Wah anakmu dan Ardo tampan sekali, padahal baru beberapa hari lahir, tapi sudah kelihatan sekali bibit unggulnya," ujar Elena memuji baby Andy.


Jinan tersenyum menyahuti pujian Elena. "Mami Sila sama Tante Ira mana? Mereka nggak ikut?"


"Mereka ada project bareng di Indo, Kak. Jadi kita pergi bertiga doang ke sini," ujar Ria menjelaskan.


"Em, kak Rico ada di hotel, Kak. Dia belum siap ketemu sama Kakak," ujar Ria yang membuat Jinan hanya tersenyum kaku sembari menganggukkan kepalanya pelan. 


Sejujurnya Jinan sudah melupakan akan kesalahan yang dilakukan Rico padanya dulu. Namun saat mendengar bahwa Rico masih memikirkan masalah itu, ia jadi kembali teringat akan apa yang pernah terjadi padanya karena Rico saat itu.


"Hey, ayo masuk. Kenapa jadi mengobrol sambil berdiri? Ayo ayo masuk, kita ngobrol di ruang tamu. Itu Ayla dan Cemile sudah tidak sabar mau melihat adik bayinya."


Lagi-lagi, perkataan Elif yang tiba-tiba itu langsung memecah rasa tidak enak hati antara Elena dan Jinan secara bersamaan. Mereka saling pandang sejenak, kemudian segera merubah raut mukanya menjadi ceria seperti beberapa menit lalu.


"Ayo masuk."


Mereka berempat segera masuk menuju ruang tamu, yang di mana di sana sudah terdapat beberapa orang anggota keluarga dari pihak Basir seperti, paman, bibi, dan sepupu Ardo lainnya. Jinan yang sudah mengenal mereka semua pun langsung saja menganggukkan kepalanya sebagai bentuk salamnya pada mereka karena saat ini ia sedang tidak bisa bersalaman dikarenakan adanya baby Andy dalam gendongannya.

__ADS_1


Tak lama Jinan berada di ruang tamu itu menemani anggota keluarga suaminya berbincang karena ia harus segera memberi ASI pada anak lelakinya. Kini bersama Ardo, Ayla, Cemile, Elena, dan Ria, Jinan perlahan berjalan menuju kamar barunya yang ada di lantai satu. Kamar yang cukup luas yang kini sudah dihias dengan tema luar angkasa.


"Wah, keren banget kamarnya."


"Ay yang hias kamar ini, Mama. Ay hebat, kan?" ujar Ayla dengan suara cedalnya saat menyahuti seruan mamanya.


"Cemile juga ikut menghias kamar ini, Bibi. Ayla dan Cemile yang menghias kamar adik Andy," ujar Cemile yang juga tidak ingin ketinggalan untuk diakui kehebatannya karena sudah membuat kamar adik barunya itu menjadi sekeren ini.


Jinan tersenyum kepada kedua gadis kecil itu. "Iya, Ayla dan Cemile hebat sekali. Top deh kalian berdua." Jinan memberi jempol tangan kanannya kepada kedua gadis kecil itu, dan dibalas oleh mereka dengan sorakan gembira.


"Sayang, aku tinggal ke luar dulu ya. Kau sama teman-temanmu dulu. Kalian pasti butuh berbagi cerita," ujar Ardo setelah meletakkan tas jinjing yang berisi beberapa keperluan baby Andy.


Setelah kepergian Ardo, Jinan segera mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur sembari memberi ASI pada baby Andy. Ria dan Elena yang masih di dalam sana saat itu sedang membereskan isi dari tas yang diletakkan Ardo tadi. Sedangkan Ayla dan Cemile sendiri saat ini masih setia di samping Jinan, sedang memerhatikan wajah adik bayi mereka yang sangat tampan itu.


"Mama, kenapa adik bayinya tidur? Kita 'kan mau main sama adik bayi," ujar Ayla dengan memberengutkan wajahnya ketika melihat mata baby Andy tertutup rapat.


"Adik bayi 'kan masih kecil, Sayang. Jadi harus banyak tidur. Sama seperti Ayla dan Cemile saat bayi dulu."


"Tapi 'kan kita mau main sama adik bayi, Mama."


Jinan tersenyum gemas dengan anak gadisnya itu. Ia usap kepala Ayla dengan lembut, kemudian ia lakukan hal yang sama pula kepada Cemile. "Boleh kok main sama adik bayi, tapi suaranya pelan-pelan saja ya, Sayang. Jangan sampai adik bayinya terbagun, karena adik bayinya masih kelelahan setelah pulang dari rumah sakit."


Meski sedikit kecewa karena harapannya untuk bermain dan bercanda bersama adik bayinya tidak terwujud, namun Ayla dan Cemile menurut saja dengan apa yang dikatakan Jinan.


Saat Jinan selesai dengan baby Andy, bersamaan juga saat itu Ria dan Elena menghampirinya dengan satu buah piring kecil berisi beberapa buah-buahan yang sudah dipotong dan segelas air mineral di tangan mereka.


"Ayla bicaranya lancar banget ya, Kak. Jadi gemes deh. Beda banget kalau kita lagi video call. Nggak mau ngomong. Sok malu," seru Ria setelah mendudukkan tubuhnya di samping Jinan, dan Elena di belakangnya.


   


******

__ADS_1


   


Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys 😘


__ADS_2