
Sebelum peluruh yang ada di senapan itu keluar dari tempatnya, dengan cepat Ardo menutup pintu rumah Jinan. Bersamaan juga saat itu suara tembakan terdengar mengenai pintu rumah Jinan.
Semua orang yang ada di dalam maupun di luar rumah Jinan tampak terkejut akan suara pintu yang ditutup Ardo dengan kuat, dan dengan disusul suara tembakan yang sangat menakutkan itu. Semua orang yang ada di luar rumah Jinan menjerit dan mengetuk pintu rumah dengan kuat, berharap mereka bisa masuk dan berlindung di dalam sana.
Di dalam rumah pun tak sedikit juga yang menjerit ketakutan akan suara tembakan yang baru saja terjadi. Piring yang di pegang Jinan saat itu kini sudah terjatuh di lantai, bahkan pecahan piring beling itu juga sudah memberi luka pada kaki Jinan. Namun karena sangkin takutnya, Jinan bahkan tidak merasakan rasa sakit apa pun di tubuhnya. Yang ada dipikirannya saat ini hanyalah baby Ayla seorang. Dengan panik, Jinan berlari menuju baby Ayla yang sudah menangis dalam rengkuhan Sila, ia memeluk tubuh mungil itu dengan air mata yang tak bisa ditahan. Ia sungguh takut akan terjadi sesuatu pada puteri kecilnya itu. Sudah cukup ia kehilangan keluarga dan suaminya, sekarang ia tidak ingin kehilangan anaknya juga.
Doorr ...
Satu peluru berhasil ditembakkan kembali oleh oknum yang masih belum diketahui siapa pelakunya. Dan kini peluru itu mengenai tepat di lengan kiri Ardo.
Aarrggh ...
"Sial," gumam Ardo.
Dengan emosi yang hampir diujung tanduk, Ardo menarik celana bagian bawahnya, dan ia meraih sebuah pistol yang bertengger di kaki bagian betisnya.
Orang-orang yang melihat Ardo memegang pistol pun membelalakkan matanya. Beberapa dari mereka ada yang menjauh dari Ardo, dan beberapa lagi hanya bisa berdiam layaknya patung karena takut salah gerak.
"Kau membawa pistol? Siapa kau sebenarnya?" tanya Elena yang masih berada di belakang Ardo.
Ardo menatap Elena dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.
"Tetap di dalam rumah. Jangan biarkan ada yang keluar sampai aku kembali," ujar Ardo pada Elena. Lalu ia segera membuka pintu rumah dan berlari menuju sebuah pohon yang tak terlalu besar yang ada di depan rumah Jinan.
Setengah jam sudah suara tembakan di luar sana membuat seisi rumah Jinan menjerit ketakutan. Tidak ada satupun dari mereka yang berani beranjak dari posisinya masing-masing tak terkecuali bagi para lelaki sekalipun. Mereka hanya duduk diam sembari memeluk tubuh gemetar orang-orang di sekitarnya.
Elena yang masih berdiri di balik kaca jendela juga hanya bisa berdiam sembari mengintip kejadian di luar sana dari sela gordeng yang tertutup. Ia menarik nafasnya agar lebih tenang dan tidak panik, lalu ia meraih ponselnya yang ada di saku celananya. Dengan tangan gemetar, Elena menekan beberapa angka pada layar panggilan di ponselnya dan segera mendial nomor tersebut.
Tak lama dari ia menghubungi nomor tersebut, terdengarlah suara sirine dari luar rumah. Ya, Elena menghubungi polisi setempat untuk meminta bantuan agar perkelahian senjata di luar saja segera terselesaikan. Beruntung kantor polisi di sana tidak terlalu jauh, jadi polisi bisa cepat sampai di sana kurang dari lima belas menit.
Saat mobil polisi itu mendekat, orang-orang yang dilihatnya tadi sedang melakukan aksi tembak dengan Ardo kini melarikan diri. Namun Elena cukup terkejut saat melihat Ardo memasuki mobilnya dan pergi mengejar orang-orang itu.
...
__ADS_1
Di dalam sebuah mobil SUV hitam yang sedang dikendarai Ardo, pria itu mengeram marah akan perbuatan keji orang-orang biadab yang ada di dalam mobil depannya yang hampir saja menimpa Jinan. Jika saja ia terlambat sedikit saja tadi, ia tidak tahu akan semarah apa ia saat peluru itu mengenai Jinan atau orang lain yang berada di sana.
Saat mobil mereka telah berada di jalan yang jauh dari keramaian, Ardo membuka kaca jendela mobilnya dan segera meluncurkan satu tembakan kepada mobil di depannya. Satu tembakan pertama hanya mengenai body mobil. Saat tembakan kedua hingga keempat Ardo lesatkan, akhirnya pelurunya berhasil juga mengenai ban belakang mobil itu.
Saat mobil itu kehilangan kendali, Ardo kini menaikkan kecepatan lajunya hingga menabrak mobil tersebut dan membuatnya membentur pohon besar di pinggir jalan. Dengan berhati-hati, Ardo keluar dari mobilnya dan mendekati mobil tersebut. Tak lupa ia membanjiri mobil itu dengan senjata apinya hingga ia sampai di samping mobil tersebut.
Saat ia melihat ke dalam mobil, ternyata dua orang yang ada di dalamnya sudah tidak sadarkan diri. Ardo membuka pintu mobil itu dan menggeledah isi di dalamnya untuk mencari sebuah petunjuk.
Namun belum lama ia menggeledah isi dari mobil itu, tiba-tiba saja ponsel dari si pengemudi mobil yang ada di saku bajunya bergetar. Sebelum dua orang itu sadar dari pingsannya, Ardo segera meraih ponsel yang masih bergetar itu. Ia langsung menjawab panggilan masuk di ponsel itu setelah melihat siapa yang menelfon.
"Bagaimana? Apa kalian berhasil membuat pria itu keluar?"
Suara dari seorang pria tua yang berasal dari ponsel tersebut membuat Ardo mengernyitkan keningnya.
"Apa maksud pria tua ini?" batin Ardo.
"Hey, apa kau mendengarku?" teriak pria di seberang sana saat tak mendapatkan jawaban dari orang yang dihubunginya atas pertanyaannya.
"Siapa kau?" tanya Ardo dengan suara beratnya.
"Kenapa kalian ingin mencelakai wanita itu? Dan siapa pria yang kau maksud," ujar Ardo lagi.
"Siapa kau? Di mana anak buahku?" tanya pria di seberang sana.
"Anak buahmu ada di tanganku. Temui aku sekarang juga di jalan X jika ingin anak buahmu selamat."
Ardo memutuskan panggilannya secara sepihak, lalu ia segera meraih sebuah kawat yang cukup tebal yang ada di bagasi mobilnya untuk mengikat kedua orang yang masih pingsan itu. Dengan mengendarai mobilnya, Ardo membawa kedua orang pria itu menuju jalan yang sudah ia janjikan pada seorang pria yang diyakini adalah pelaku kejahatan yang menimpa Jinan.
Setiba di sana, Ardo harus menunggu hingga setengah jam lamanya terlebih dahulu, barulah sebuah mobil SUV hitam yang hampir mirip dengan mobilnya berhenti tak jauh dari mobilnya terparkir.
"Hei lepaskan kami," teriak kedua orang sandera Ardo di kursi penumpang. Ya, mereka sudah sadarkan diri lima menit setelah Ardo sampai di jalan X. Bahkan Ardo sampai pusing karena harus mendengarkan teriakan kedua orang pria itu begitu cukup lama. Seandainya saja di dalam mobilnya ini ada obat bius ataupun sesuatu yang bisa menampal mulut cerewet kedua pria itu, mungkin ia bisa bersantai dengan tenang di sana, pikirnya.
Saat seorang pria paruh baya yang masih kelihatan bugar keluar dari mobil yang adadi depan mobil Ardo, Ardo pun keluar dari mobilnya seorang diri. Tak lupa senjata api miliknya ia letakkan di belakang pinggangnya untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
"Tuan Evardo," seru pria paruh baya itu dengan raut terkejut saat melihat wajah Ardo. Begitupun dengan Ardo, ia sama terkejutnya karena pria tua itu mengetahui namanya.
"Tuan Evardo," seru pria tua itu lagi saat ia sudah berjalan mendekati Ardo.
"Siapa kau?" tanya Ardo sembari mengacungkan senjata apinya ke arah wajah pria tua itu. Dan saat itu juga, dua orang pria bertubuh besar keluar dari mobil yang mirip dengannya itu dengan mengacungkan senjata apinya juga ke arah Ardo.
Pria tua itu mengangkat kedua tangannya ke atas, kemudian ia melirik kepada dua orang bertubuh besar di belakangnya dan mengkode untuk menurunkan senjatanya.
"Tuan Evardo, ada apa ini?" tanya pria tua itu.
"Kenapa kau ingin mencelakai wanita berhijab itu?" tanya Ardo balik.
Pria tua itu tampak bingung akan pertanyaan Ardo. Wanita mana yang di maksud Ardo, pikirnya.
"Wanita berhijab yang mana, Tuan? Apa yang kau bicarakan?"
"Jangan berpura-pura, katakan apa niatmu menyuruh mereka untuk menembak wanita itu?" teriak Ardo dengan diliputi emosi.
"Ma ... maksud Anda wanita pemilik restoran Asia itu?" tanya pria tua itu.
"Restoran? Apa kau juga yang selama ini meneroro restoran itu dengan darah manusia dan bangkai tikus?" teriak Ardo kembali.
"Y ... y ... ya, Tuan. Ada apa? Apa ka–"
"Biadab!" teriak Ardo, lalu ia melesatkan tembakannya pada bahu pria tua itu. Dan kedua pria bertubuh besar di belakang pria tua itu juga saat itu langsung saja menembaki Ardo dengan senjata apinya.
Ardo berlari ke samping mobilnya untuk berlindung, dan perkelahian senjata api pun kini membanjiri kedua mobil SUV itu.
"Hentikan!" teriak pria tua yang tadi ditembak Ardo pada kedua pria bertubuh besar itu. Dan saat itu juga suara tembakan langsung berhenti.
Ardo mengintip dari balik mobilnya, ia melihat pria tua itu berdiri dengan memegangi lengannya yang berdarah.
"Tuan Ardo, ada apa ini sebenarnya? Kenapa Anda menyerang saya? Bukankah saya tidak ada masalah dengan Anda atau dengan Tuan Berto?" tanya pria tua itu dengan menyebut nama salah satu mantan bos Ardo.
__ADS_1
******
LIKE, COMENT, and VOOTEE guyss please😘