
"Ayo Sayang, kita pergi."
Aurel meraih pergelangan tangan Andre yang masih bersama Linda. Baru saja ia ingin menarik tangan Andre, tiba-tiba saja tangannya yang sedang memegang koper terlebih dahulu ditarik oleh Romi dari belakang. Ia hempaskan koper itu kesembarang arah, lalu ia raih Andre ke dalam rengkuhannya.
"Apa-apaan kamu, Romi!" teriak Aurel kesal.
"Kalau mau pergi, pergi sendiri sana. Jangan kamu bawa-bawa anakku."
"Anakmu?" Aurel menyunggingkan bibirnya. "Kamu itu tidak pantas untuk menjadi seorang ayah. Kamu itu lebih pantas menjadi seorang j4lang."
Plaakkk!
Sebuah tamparan dari Linda yang cukup keras berhasil mendarat di pipi mulus Aurel, membuat Aurel dan Romi di sana terkejut karenanya. Bahkan Andre yang melihat itupun sampai ikut terkejut dan berujung dengan tangisan yang cukup keras.
"Mama. Apa yang mama lakukan?" tanya Romi dengan nada yang sedikit tinggi.
"Diam kamu," ujar Linda dengan mata melotot, kemudian ia alihkan pandangannya pada Aurel dengan raut tak sukanya.
"Mama nampar aku?" tanya Aurel yang masih tak percaya akan semua yang terjadi. Selama ini Linda memang terlihat dingin padanya, namun baru kali ini wanita paruh baya itu berani bermain tangan padanya. Apalagi di depan anak serta cucunya yang belum mengerti apa-apa.
"kenapa? kamu terkejut? Seharusnya dari dulu aku sudah nampar wajahmu itu. karena kehadiranmu itu, anakku dan Jinan jadi bercerai. kamu itu pembawa sial, tau nggak hah! Sudah merusak rumah tangga orang, sekarang kamu juga seenaknya ngatain anak saya dengan sebutan seperti itu. Apa kamu tidak sadar bahwa sebenarnya yang j4lang itu adalah kamu, bukan anak saya. sudah tahu tidak memiliki hubungan apapun, tapi berani-beraninya melakukan hubungan suami istri diluar nikah. merusak nama baik keluarga saya saja!"
Tsss ...
Satu tetes air mata berhasil gugur dari mata indah Aurel. Perkataan Linda yang sangat pedas itu sungguh menusuk relung hatinya. Membuatnya sungguh terhina dengan sebuah kenyataan yang selama ini tidak ia sadari.
Baru saja Linda hendak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba saja suara Romi lebih dulu terdengar di sana. "Mama, hentikan. Kenapa Mama berkata seperti itu kepada Aurel?" Ia yang tak tega melihat wanita yang ia cintai jelas sungguh merasa terluka akan perkataan mamanya. Meski apa yang mamanya katakan tidak sepenuhnya salah, tapi tetap saja, baginya mamanya tidak pantas mengucapkan perkataan terkutuk itu.
__ADS_1
"kenapa? Kamu masih mau membela wanita itu hah? Wanita yang sudah menghancurkan keluarga kita.Wanita yang sudah mengataimu seorang jal–"
"Mama, stop!" teriak Romi emosi. Ia berjalan menuju Aurel yang masih terdiam mematung dengan air mata yang membasahi pipi tirusnya. Ia rengkuh tubuh ramping istrinya itu ke dalam pelukannya dengan rasa sayang dan emosi yang menjadi satu.
"Kamu lihat. Gara-gara wanita sepertimu, anakku sekarang sudah berani membentakku!" teriak Linda pada akhir kalimatnya sembari mengarahkan telunjuknya ke arah wajah Aurel.
"Ma, maafin Romi. Romi nggak sengaja membentak Mama. Lagi pula Mama juga nggak seharusnya bicara seperti itu sama Aurel, Ma. Aurel berkata seperti itu hanya karena dia emosi sesaat. Dia tidak serius, Ma. Seharusnya Mama tahu bahwa Aurel tidak seperti itu. Aurel wanita baik, Mama tahu itu 'kan, Ma," ujar Romi yang merasa bersalah karena telah membentak mamanya. Ia juga masih mencoba membela istrinya meski keadaan di antara mereka sedang tidak baik-baik saja.
Aurel yang saat itu masih dalam pelukan Romi segera memundurkan langkahnya selangkah. Ia usap air matanya yang masih membasahi pipinya itu, lalu ia tersenyum dengan sangat terpaksa kepada Linda yang sedang menatapnya dengan api amarah.
"Terima kasih. Terima kasih karena sudah mengingatkanku pada kenyataan yang sempat aku lupakan."
"Aurel, Sayang–"
Aurel mengangkat tangannya, memberi kode untuk Romi berhenti berbicara dengan tanpa menatap ke arah pria tersebut. Ia berjalan mendekati Linda dengan wajah datarnya, kemudian ia menghela nafasnya sebelum ia mengucapkan beberapa kata yang sangat ingin ia sampaikan kepada ibu mertuanya itu sedari dulu.
"Tapi harus anda ketahui, Nyonya Linda," lanjutnya setelah mengusap pipinya. "Anda harus tahu bahwa selama ini, orang yang kau kira perusak rumah tangga orang ini adalah korban yang sesungguhnya!"
"Say–"
Ucapan Romi terputus saat Aurel menghempaskan tangannya yang berusaha untuk menyentuh lengan istrinya itu.
"Kamu." Aurel menunjuk wajah Romi dengan telunjuknya. "Asal kamu tahu, aku sudah muak hidup penuh dengan drama sama kamu selama ini. Sudah cukup aku menderita karena semua perbuatanmu. Aku capek, Romi. Jadi, tolong kamu diam dan biarkan semuanya terungkap. Aku ingin mengakhiri semua ini. Aku benar-benar sudah capek, Romi."
Satu butir air mata kembali membasahi pipi tirus Aurel saat wanita itu kembali teringat masa-masa remajanya dulu saat masih berpacaran bersama Romi.
"Sayang, maafin aku."
__ADS_1
Aurel menggelengkan kepalanya, kemudian ia menghadap ke arah Linda yang masih diam sembari menatap ke arahnya dengan raut bingung. Sepertinya wanita paruh baya itu mulai memikirkan perkataannya barusan.
"Asal Nyonya tahu, hampir empat tahun lalu, anak Nyonya yang Nyonya banggakan ini telah merampas kesucianku. Dia datang ke apartemenku dengan keadaan mabuk dan meniduriku dengan tidak sadarkan diri."
"Apa yang kamu bicarakan? Jangan bicara sembarangan kamu ya," ujar Linda dengan emosi karena anaknya lagi-lagi dituduh oleh menantunya sendiri.
Aurel menarik salah satu sudut bibirnya dengan penuh rasa kecewa. "Kita berdua memang menjalin hubungan tanpa sepengetahuan Anda sejak lama, Nyonya Linda. Kita berdua saling mencintai layaknya sepasang kekasih pada umumnya. Tapi untuk kejadian malam itu, aku benar-benar tidak menginginkannya."
Aurel menjeda kalimatnya beberapa detik untuk menghela nafas. "Sebelum aku hamil, Romi sudah lebih dulu berjanji akan bertanggung jawab sepenuhnya jika aku hamil. Tapi sayangnya ... anakmu ini hanya menginginkan tubuhku lagi dan lagi dari pada menepati janjinya padaku, Nyonya Linda. Sampai pada Anda menikahkan Romi dan Jinan di saat usia kehamilanku yang hampir mendekati hari kelahiran, Romi masih belum juga menepati janjinya padaku."
"Sayang."
Panggilan dari Romi tak membuat Aurel menyahutinya. Bahkan wanita itu terus saja berucap, mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini terpendam di dalam hatinya.
"Aku akui bahwa aku adalah wanita paling bodoh yang bisa jatuh cinta dengan lelaki yang tidak bisa bertanggung jawab seperti dia," tunjuk Aurel pada Romi tanpa memandang wajah pria itu. "Aku memang bodoh karena dengan gampangnya menyerahkan tubuhku yang tak lagi suci itu padanya hanya karena kata 'tanggung jawab' dan 'menikah'. Aku memang benar-benar bodoh karena masih mau bertahan sampai saat ini dengan pria brengsek seperti itu yang sudah melakukan kesalahan yang telah berulang kali dilakukan."
"Tapi mulai detik ini ... aku akan mengambil keputusanku sendiri." Aurel berbalik badan, menatap ke arah Romi. "Aku ingin kita hidup masing-masing saja. Aku ingin kita bercerai."
******
Nggak usah terlalu full lah ya cerita tentang keluarga Romi-nya. Kalau mau detail banget ntar jadinya panjang sampe ber eps eps. Ntar jadinya bukan cerita Jinan lagi dong hhehe. Lagian cerita ini mau segera ditamatkan. Soalnya mau fokus sama new story yang buat aku greget karena nggak selesai2 sampe skrg karena cibuk😅
Maaf kalo ngaretnya parah👌
__ADS_1
Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys 😘