Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 100


__ADS_3

Baru saja Ardo hendak membuka suaranya kembali, namun dengan cepat Romi memukul meja yang ada di depan mereka untuk kedua kalinya sembari berteriak, "s3tan!" yang di mana membuat Jinan membeku ketakutan akan teriakan tersebut. Ia benar-benar takut jika Romi dan Ardo akan melakukan perkelahian di sini.


Ardo yang jelas tahu bahwa umpatan itu ditujukan padanya hanya diam saja, karena sebelumnya juga ia sudah bisa menebak bagaimana reaksi pria itu jika mengetahui bahwa semua kekacauan ini bermula darinya. Menurut analisanya, Romi pasti akan melakukan sesuatu yang tidak menyenangkan padanya jika sifat pria itu masih sama seperti dulu. Dan ia harus siap akan hal buruk tersebut.


"Jadi, kau yang telah menyebarkan berita tidak penting itu di perusahaan papaku?" Romi mencibirkan bibirnya. "Ternyata tebakanku benar. Kaulah dalang dari semua permasalahanku selama ini."


Ardo tidak menyahuti perkataan Romi, Ia masih dengan diamnya seraya memandang wajah pria itu dengan tatapan datarnya. Memberikan kesempatan pada pria itu untuk mengungkapkan semua kekesalannya padanya.


Namun bukan omelan lagi yang kini Ardo dapatkan, ia melainkan mendapatkan bogem mentah dari Romi secara tiba-tiba. Dan hal itu jelas membuat Jinan serta Linda terlonjak kaget yang dengan spontan mereka berteriak kencang serta bergerak menjauh dari kedua pria itu.


Ardo yang tidak terima akan pukulan dari Romi, dengan segera menangkis pukulan pria itu yang hendak dilayangkan kembali untuk kedua kalinya. Kini kedua pria itu benar-benar mewujudkan rasa takut yang Jinan cemaskan sedaritadi, yaitu berkelahi dengan sangat brutal di dalam rumah tersebut.


Aksi pukul-memukul yang membuat beberapa barang-barang hancur yang ada di ruangan tersebut terjadi begitu saja tanpa ada satu orangpun yang hendak memisahkan kedua pria itu. Baik Jinan maupun Linda hanya bisa berteriak ketakutan di sudut ruangan, tidak ada yang berani untuk melerai kedua pria itu karena saking takutnya mereka pada perkelahian yang sangat mengerikan itu. Bahkan hanya untuk meminta bantuan dari para warga sekitar pun terjadi pada saat darah segar dari tubuh dan wajah kedua pria itu mulai membanjiri lantai ruangan.


Jinan dan Linda yang berlari ketakutan dengan air mata yang membanjiri wajahnya membuat beberapa warga sekitar yang kebetulan melihat mereka segera mendekatinya.


"Ada apa, Bu, Neng? Kenapa kalian seperti ketakutan begitu?"


"Kenapa menangis, Neng?"


"Ada apa ini? Kenapa ramai sekali? Itu suara apa ribut-ribut di dalam?"


Berbagai pertanyaan yang datang tak bisa dicerna dengan baik oleh Linda maupun Jinan. Mereka hanya berteriak meminta tolong sembari menunjuk ke arah rumah yang di mana di dalamnya terdapat Romi dan Ardo yang sedang berkelahi. Para warga yang melihat ketakutan di wajah kedua wanita itu, serta suara gaduh di dalam rumah kontrakan milik Linda yang terdengar, membuat mereka semua dengan segera berlari memasuki rumah tersebut.


Melihat suasana ruangan yang tampak seperti kapal pecah dan perkelahian yang cukup serius, para pria yang ada di sana segera memisahkan Romi dan Ardo sebelum adanya aksi saling bunuh karena wajah kedua pria itu kini sudah tampak babak belur.


"Astaghfirullah. Hey, berhenti."


Meski sulit untuk memisahkan kedua pria itu yang memiliki postur tubuh lebih besar dari mereka semua yang membantu, -terlebih Ardo yang memiliki tubuh atletis- tapi karena jumlah warga yang cukup banyak, membuat kedua pria itu akhirnya berhasil dipisahkan.


"Sudah cukup. Apa-apaan kalian ini!" teriak seorang pria paruh baya yang berada di tengah-tengah antara Ardo dan Romi.


"Dia! Dia pelakunya! Dia yang membuat hidupku hancur seperti ini! Dia dalangnya!" teriak Romi seraya menunjuk ke arah Ardo dengan jari telunjuknya.


"Dia pelakunya. Dia yang membuat hidupku hancur! Dia yang menyebabkan aku jatuh miskin seperti ini. Dia ... dia ...."

__ADS_1


Romi terlihat kesulitan untuk melanjutkan perkataannya, dan hal itu membuat Ardo sedikit menyunggingkan bibirnya.


"Kenapa? Apa yang mau kamu katakan? Kamu mau mengatakan bahwa aku yang menyebarkan berita pers–"


"Sialan!" sela Romi dengan berteriak dan mencoba untuk memukul Ardo kembali. Namun karena para warga yang siaga memegangi kedua pria itu, serangan Romi pun akhirnya tidak sampai mengenai Ardo.


Ardo tersenyum sinis. "Seharusnya Anda mengingat sesuatu sebelum meluapkan emosi Anda, Tuan Romi. Anda harus ingat, bahwa semua yang kulakukan padamu itu tidak akan pernah terjadi jika bukan kau sendiri yang memulainya lebih dulu," ujar Ardo dengan emosi yang coba ia tahan.


"Sialan. Lepaskan aku!" teriaknya lagi yang masih tak mendapatkan sahutan dari orang-orang yang memeganginya.


"Romi, hentikan. Hentikan, Nak," lirih Linda dari arah belakang tubuh Romi.


Dengan rasa ragu akan amukan kedua pria itu, Linda mencoba memberanikan diri untuk berjalan dengan perlahan mendekati anak lelakinya.


"Hentikan, Romi."


Romi menghentikan aksi berontaknya saat telinganya samar-samar mendengar suara lirih dari Linda. Ia arahkan pandangannya kepada asal suara, dan saat melihat mamanya berjalan mendekatinya dengan wajah sembab penuh air mata, Romi dengan seketika melunakan tumbuhnya yang sebelumnya mengeras karena emosi yang memuncak.


Para warga pun yang melihat emosi Romi yang mulai menurun kini mulai melepaskan tubuh pria itu. Dan saat tubuhnya tidak lagi dipegang oleh warga, Romi segera menghampiri Linda dan memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


Linda menggelengkan kepalanya. "Cukup, Nak. Semua sudah berlalu. Jangan membuat masalah lagi, Mama mohon."


Mendengar perkataan mamanya yang sangat aneh di telinganya, Romi segera melepas pelukannya. Ia tatap wajah wanita yang telah melahirkannya itu dengan mengernyitkan keningnya.


"Apa yang Mama katakan? Kenapa Mama berkata seperti itu? Mama harus ingat Ma, kita tinggal di rumah kecil seperti ini, semua karena ulah mereka, Ma. Dan Mama juga harus ingat, perbuatan mereka ini jugalah yang sudah membuat papa meninggal."


Linda meraih kedua tangan Romi dengan tangan yang gemetar, jangan sampai anaknya itu kembali meluapkan emosinya. "Papa kamu meninggal karena penyakitnya yang tidak bisa lagi disembuhkan, Nak. Itu semua sudah takdir."


Jinan pun yang merasa kondisi mulai aman dari perkelahian segera menghampiri suaminya. Para warga yang masih memegangi tubuh Ardo saat itu langsung melepaskan pegangannya saat Jinan sudah berada di hadapan Ardo. Tanpa sepatah kata pun, air mata yang tadinya hanya beberapa tetes mengalir di pipi mulus wanita itu, kini kembali deras saat melihat kondisi tubuh dan wajah suaminya yang hampir dipenuhi oleh lebam dan darah akibat pukulan dari Romi dan juga benturan pada barang-barang yang ada di dalam ruangan tersebut.


Jinan memeluk tubuh suaminya dengan isak tangis yang tidak bisa lagi ia tahan. Ia benar-benar tidak tega melihat kondisi suaminya yang sangat memprihatinkan itu.


"Maafkan aku," seru Ardo sembari membalas pelukan istrinya dan mengusap bahu serta belakang kepala istrinya dengan sayang dan juga rasa penyesalan.


Saat Ardo masih memeluk istrinya, pandangannya tak sengaja menangkap pada Linda yang sedang menatap ke arahnya.

__ADS_1


"Pulanglah, sebelum Romi kembali pada emosinya," seru Linda pada Ardo dengan bahasa isyarat saat wanita paruh baya itu sedang memeluk tubuh tinggi anak lelakinya.


Karena tak ingin membahayakan istrinya jika perkelahian berlanjut, Ardo segera mengajak Jinan untuk pergi dari sana. Tak lupa mereka berpamitan dengan Linda menggunakan bahasa tubuh, tanpa bersuara sedikitpun agar Romi tidak menyadari pergerakan mereka karena saat ini pria itu sedang membelakangi mereka.


...


Di perjalanan pulang, Jinan tak hentinya menangis sembari memeluk tubuh suaminya. Meski Ardo sudah mengatakan bahwa ia baik-baik saja, tapi Jinan tetap saja khawatir akan kondisi pria itu.


"Sayang, tenanglah. Aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil."


"Luka kecil apanya? Jelas-jelas wajah dan bajumu berlimbuh darah. Dan lebam ini apa?" Jinan menunjuk lebam pada pelipis suaminya. "Masih mau bilang tidak apa-apa?"


Ardo tertawa kecil. "Tenanglah, Sayang. Lebam ini aku dapatkan karena aku tidak sengaja menabrak ujung lemari tv. Dan semua darah ini ... em, ini darah si br3ngsek itu. Apa kau tidak melihat wajahnya yang tampak seperti zombi itu? Dia yang sangat parah. Aku sih tidak apa-apa."


Jinan menarik tubuhnya dari pelukan sang suami. "Masih bisa bercanda?"


Ardo menyengir kuda. "Sudahlah, jangan menangis lagi. Aku tidak menyukai air mata ini. Ayo senyum."


Meski rasa khawatir tak bisa hilang begitu saja dari dirinya, tapi Jinan berusaha untuk tersenyum agar suaminya itu tidak mengomel lagi.


"Sayang."


Jinan menatap ke arah Ardo yang memanggilnya.


"Ma–"


Tcciitttt !!!


Suara Ardo terputus begitu saja saat mobil yang mereka tumpangi berhenti mendadak dan membuat tubuh mereka tersentak ke depan.


    


******


    

__ADS_1


Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys😘


__ADS_2