
Setelah 2 hari berada di kampung halamannya, hari ini Jinan beserta keluarga kecilnya akan berkunjung ke rumah Romi yang ternyata alamat tinggalnya berada tak jauh dari komplek perumahannya yang sebelumnya.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Romi, jantung Jinan selalu berdetak lebih kencang dari biasanya. Ia sungguh deg-degan karena hari ini mereka akan meminta maaf atas perbuatan mereka yang tidak menyenangkan bagi keluarga itu.
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja," seru Ardo dengan menggenggam tangan kiri istrinya yang sudah berkeringat dingin, padahal saat ini mereka sedang berada di dalam taksi yang AC-nya sudab di set cukup rendah.
Jinan tersenyum lebar kepada suaminya sembari menganggukkan kepala. Namun meskipun senyum itu dibuat selebar apapun, tapi Ardo tetap bisa melihat adanya rasa takut pada wajah istrinya itu. Sepanjang perjalanan pun akhirnya ia terus menggenggam tangan istrinya, berharap istrinya tidak terlalu tegang.
Dan saat mobil yang mereka tumpangi berhenti tepat di depan sebuah rumah yang cukup sederhana yang dimana mereka yakini bahwa rumah tersebut adalah rumah kontrakan milik Romi, saat itu juga mereka segera turun dari mobil. Nampaknya rumah tersebut sedang tidak ada orang karena suasana yang terlihat sepi dan tidak ada sepasang sendalpun yang terlihat di teras rumah tersebut.
"Kenapa sepi sekali. Apa kita salah rumah?" tanya Jinan kepada Ardo.
"Ini benar rumahnya. Kita ketuk saja, mungkin orangnya sedang ada di dalam."
Jinan menganggukan kepala dan melanjutkan langkahnya untuk mendekati rumah tersebut.
Tookk ... Tookk ... Tookk ...
Tanpa ada suara sedikitpun, dan tanpa perlu menunggu waktu lama, pada ketukan kedua yang dilakukan Jinan, kini pintu rumah tersebut terbuka dengan perlahan, enampilkan sosok seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Linda.
Diam.
Mereka saling diam dengan pikirannya masing-masing. Linda yang dengan keterkejutannya karena melihat sosok seorang wanita yang sampai saat ini masih menjadi seorang menantu idamannya. Sedangkan Jinan sendiri terdiam karena masih tak percaya bahwa ia saat ini sedang berada di depan seorang wanita yang pernah menjadi Ibu mertuanya, sekaligus orang yang sudah membuatnya kecewa.
Ardo? Pria itu hanya diam dengan pandangan yang ia tujukan pada anak lelakinya yang ada dalam gendongannya.
"Mama, Mama."
Suara mungil seorang gadis cantik yang ada di sebelah Jinan, dengan diikuti tarikan kecil pada ujung bajunya, membuat Jinan, Linda serta Ardo tersadar dari lamunannya dan menatap ke arah gadis kecil itu.
"Kenapa, Sayang?" tanya Jinan kepada Ayla yang sedang mengusap keringat di dahinya.
"Panas, Mama. Keringat Ay banyak sekali," ujar gadis kecil itu dengan wajah yang terlihat berlindung di balik kaki sang nama.
Linda yang melihat hal itu dengan tidak enak hati segera mengajak masuk Jinan beserta keluarga kecilnya. Sedari mereka memasuki rumah hingga Jinan mendudukan tubuhnya di atas sofa, Linda terus memperhatikan wajah Ayla yang sebelumnya pernah ia lihat melalui ponsel anak lelakinya. Romi.
__ADS_1
"Tunggu sebentar ya, saya buatkan minum dulu."
Linda pergi menuju dapur setelah Jinan menganggukkan kepalanya. Di dapur ia terdiam sejenak karena masih tak percaya jika wanita yang pernah menjadi menantunya itu, saat ini sedang ada di rumahnya bersama dengan keluarga barunya. Tanpa sadar, satu tetes air mata penyesalan mulai mengalir di pipi wanita itu.
Seandainya dulu ia tidak gegabah dengan menuduh Jinan selingkuh, mungkin saat ini ia tidak akan berada di rumah sederhana ini dengan sejuta penyesalan yang tidak bisa ia lupakan. Seandainya dulu ia mencari tahu terlebih dahulu penyebab perceraian anaknya, mungkin saat itu pernikahan anaknya masih bisa diselamatkan dan hubungan mereka tidak akan serenggang ini.
Tapi, kata 'seandainya' di sini ternyata benar-benar hanya akan menjadi 'andai' bagi dirinya untuk kehidupan yang lebih baik. Ia tidak akan bisa merubah apapun dengan semua penyesalan yang digenggamnya.
Linda menghela nafasnya untuk menetralkan perasaan harunya. Ia usap wajahnya dengan air agar tidak terlihat bahwa wanita itu baru saja menangis.
Dengan cepat ia segera membuatkan es teh manis untuk Jinan dan yang lainnya. Ya, di rumahnya saat ini hanya ada teh yang bisa ia berikan kepada tamunya. Selain karena hampir tidak ada yang bertamu ke rumahnya, ia juga tidak memiliki uang lebih untuk sekedar membeli sirup atau cemilan kecil lainnya.
Saat Linda kembali ke ruang tamu, ia melihat pemandangan yang lagi-lagi harus membuat matanya berkaca-kaca. Ia melihat keluarga kecil yang sangat harmonis sedang duduk di sofa ruang tamu miliknya. Sebelum air mata itu jatuh membasahi pipinya, Linda dengan cepat mendongakkan kepalanya ke atas sembari menghela nafasnya. Jangan sampai Jinan melihat kerapuhan yang ada pada dirinya.
"Silahkan diminum," ujar Linda sembari meletakkan gelas berisi es teh manis di atas meja ruang tamunya.
"Terima kasih, Tante."
"Terima kasih."
Karena merasa sangat haus dan juga panas, Ardo segera meneguk minumannya hingga gelas tersebut tidak tersisa air lagi sedikitpun. Sedangkan Jinan saat itu memilih untuk membantu anak gadisnya untuk meneguk minumannya terlebih dahulu sebelum ia meneguk minumannya sendiri.
"Kita baru dua hari di sini, Tante. Tante apa kabar?" tanya Jinan yang berusaha untuk terlihat santai meski keringat dingin masih membanjiri telapak tangannya.
Linda menundukkan kepalanya sejenak, kemudian menghadap ke arah Jinan kembali. "Baik. Bagaimana kabar kamu, Nak?"
"Alhamdulillah kita baik-baik saja," jawab Jinan.
"A ... apa ini, Ayla?" tanya Linda sembari menatap ke arah Ayla dengan ragu.
Jinan tersenyum, lalu mengusap kepala anak gadinya yang sedang duduk di sampinya. "Iya, ini Ayla. Tante masih ingat?"
"Ayla," serunya dengan mata berkaca-kaca. "Ayla cucuku."
Lagi-lagi air mata wanita paruh baya itu berguguran, membasahi pipinya yang sudah tak kencang lagi. Sedetik kemudian ia ucap air matanya dan tersenyum kepada anak kecil tersebut.
__ADS_1
"Boleh ...."
Jinan tersenyum melihat isyarat Linda yang ingin memeluk Ayla.
"Ayla, Sayang. Ayla masih ingat tidak? Ini adalah oma Ayla," ujar Jinan pada anak gadisnya.
"Oma?" Jinan mengangguk. "Oma Ay 'kan oma Sila, Mama."
Jinan tersenyum kembali. "Oma Sila memang oma Ayla. Tapi yang ini juga oma Ayla, namanya oma Linda. Jadi, Ayla punya dua oma."
"Dua oma?" Jinan mengangguk. "Sama kayak nenek yang dikuburan kemarin ya, Ma."
Jinan mengiyakan ucapan Ayla mengenai neneknya yang ada dua. Satu ada di Turki yaitu, orang tua Ardo. Dan satunya lagi yang sudah ada bersama Allah di surga yaitu, kedua orang tuanya.
"Ayla mau peluk oma Linda?"
Ayla melirik ke arah Linda sejenak, kemudian ia menatap ke arah Ardo yang menganggukkan kepalanya. Memberi arti bahwa ia harus memeluk oma-nya.
Dan tanpa mengucapkan kata sedikitpun, Ayla berjalan pelan ke arah Linda dengan sedikit ragu. Saat jaraknya tinggal satu langkah lagi, Ayla menghentikan langkahnya. Ia diam dengan menata ke arah Linda dengan tatapan imutnya.
"Oma."
Air mata Linda kembali jatuh saat mendengar satu kata yang menurutnya sangat indah di telinganya. Dengan segera ia peluk tubuh mungil itu dengan tangis bahagia yang tidak bisa ia artikan dengan kata-kata.
Melihat itu, Ardo segera menarik bahu Jinan untuk ia rangkul dengan tangan kanannya.
******
Banyak yang minta Jinan panggil Ardo dengan sebutan MAS. Oke, i know. Tapi gak sekarang ya, sengaja untuk konflik selanjutnya. 😅
Konflik lagi? Masih panjang dong? Gak kok, bentar lagi end.
Pengennya sih gak nyampe 100 bab, tapi gak taulah ya kalo ada adegan yang molor-molor dikit. Maklumlah, ini ide di otak udah mentok banget gara2 kelamaan gak nulis. 😅
__ADS_1
Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys😘