Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 21


__ADS_3

Setelah tiga hari libur, kini restoran milik Jinan akan kembali dibuka. Wangi dari pengharum ruangan yang menenangkan akhirnya dapat membuat semua pegawai menjadi lega setelah tiga hari lalu harus mencium bau yang sangat tidak sedap karena ulah oknum yang sampai saat ini belum diketahui siapa pelakunya. Meski masih khawatir akan kejadian tiga hari lalu, tapi mereka harus tetap tenang agar tidak memancing rasa takut satu sama lain. Semoga saja kejadian itu tidak terjadi lagi kedepannya pada tempat kerja mereka ini.


Jinan selaku pemilik dari restoranpun juga masih merasa khawatir akan kejadian tiga hari lalu yang terjadi pada restorannya. Namun mau bagaimana lagi, ia percaya bahwa semua yang terjadi sudah menjadi kehendak sang pencipta. Yang harus ia lakukan sekarang adalah harus lebih berhati-hati lagi untuk kedepannya. Mungkin juga ia akan memasang cctv pada restorannya agar ia bisa mengetahui jika ada seseorang yang berniat buruk pada restorannya.


Ya, Jinan memang belum memasang cctv pada restorannya. Ia pikir hal semacam itu tidaklah penting karena ukuran restorannya yang cukup kecil, maka situasi dapat dikendalikan tanpa harus memasang cctv. Tapi ia tidak menyangka jika hal seperti kemarin itu bisa terjadi pada restoran kecilnya ini.


Untuk hari ini dan beberapa hari kedepan, Jinan tidak akan pergi ke restorannya karena masih harus menjaga jahitannya yang masih basah. Lagi pula, Ria dan keluarganya juga tidak mengizinkan Jinan untuk bepergian dulu hingga beberapa minggu kedepan.


Belum juga satu hari di rumah, Jinan sudah merasa bosan. Bosan karena tak bisa melakukan apa pun selain mengurus baby Ay di kamar dan ruang tamu sendirian. Bahkan untuk makan pun Jinan hanya menunggu salah satu pegawainya mengantarkan makanan ke rumah, ia tidak diperbolehkan Ria untuk mengerjakan apa pun meski hanya memasak air sekalipun. Ria dan keluarganya terkadang suka berlebihan, padahal 'kan pekerjaan ringan seperti itu ia masih bisa melakukannya.


Jujur, terkadang Jinan merasakan sedih dan senang sekaligus. Sedih karena merasa seperti orang yang sedang dipenjara di rumahnya sendiri. Dan senang karena mendapatkan perhatian super posesif dari keluarganya.


Siang ini saat baby Ay mulai memejamkan matanya setelah bermain bersamanya, Jinan pun hendak memejamkan matanya juga. Namun baru saja akan terlelap, baby Ay justru terbangun dengan lengkingan tangis yang berhasil mengejutkannya.


Jinan menghela nafasnya, ia menepuk-nepuk pelan samping *4**** baby Ay berharap puteri cantiknya itu berhenti menangis. Namun baby Ay tak kunjung menghentikan tangisnya sampai pada saat Jinan memberinya ASI barulah baby Ay berhenti menangis dan memejamkan matanya kembali.


Saat Jinan hendak memejamkan mata untuk kedua kalinya, ia kembali dikejutkan dengan tangis baby Ay yang memekakkan telinga. Sembari mengoam dan menahan kantuk, Jinan kembali memberi ASI pada baby Ay agar puterinya itu tertidur kembali. Namun sudah sepuluh menit meneguk makanannya, ternyata baby Ay tak kunjung memejamkan matanya juga. Dan dengan terpaksa, akhirnya Jinan bangkit dari tidurnya menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya dengan air bersuhu dingin, berharap kantuk di matanya bisa cepat berkurang.


Jinan menggendong baby Ay dan mengajaknya untuk duduk santai di teras rumah agar tidak bosan berada di dalam kamar terus. Baru saja membuka pintu rumahnya, Jinan sudah dikejutkan dengan setangkai bunga mawar merah yang tergeletak di lantai teras rumahnya. Mata Jinan menatap kesana kemari untuk mencari siapakah gerangan yang mengiriminya bunga di siang hari seperti ini. Setelah beberapa saat mengamati, namun tidak ada sedikitpun yang mencurigakan bagi Jinan di sekitar sana.


Dengan wajah tanpa dosanya, Jinan pun menggeser bunga itu ke samping dinding menggunakan kakinya. Ia mrlanjutkan langkahnya dan mendudukkan tubuhnya di kursi kayu teras rumahnya sembari memangku baby Ay yang saat itu sedang menatapnya dengan tersenyum.


"MasyaAllah, anak Mama cantik banget sih," ujar Jinan gemas. Sangkin gemasnya, Jinan bahkan terus-terusan menciumi pipi gempal bayi itu hingga puas. 


...


Di dalam sebuah mobil SUV hitam yang terparkir rapih di samping rumah salah satu warga setempat, seorang pria tampan terlihat menahan kesal saat melihat Jinan menendang bunga mawar merah darinya dengan kaki.

__ADS_1


"Sial. Apa maksudnya menendang bunga dariku?" rutuk pria tersebut sembari memukul kemudi mobilnya.


***


🍁Flashback On🍁


Setelah mengetahui bahwa restoran Jinan besok akan dibuka lagi, keesokan harinyapun Ardo kembali mendatangi restoran Asia itu. Ia datang satu jam lebih awal dari saat biasa ia datang ke sana. Namun setelah satu jam menunggu, Ardo tak juga mendapatkan sosok yang ia cari di sana.


"Kenapa dia belum datang? Bukankah di jam seperti ini biasanya dia sudah ada di sini?" batin Ardo kesal.


"Baiklah, aku akan menunggu sampai selesai jam makan siang. Mungkin dia akan datang sebentar lagi," gumam Ardo mencoba bersabar.


Namun setelah ia menghabiskan makan siangnyapun, ia masih tak mendapatkan sosok yang ia cari sedari tadi. Para pegawai yang ada di sana pun terlihat heran melihat Ardo yang sudah dua jam lebih duduk di sana seorang diri. Biasanya juga pria itu tidak pernah lebih dari satu jam duduk di sana.


Apakah pria itu sedang menunggu seseorang? Dan ataukah yang pria itu tunggu adalah bos mereka? Karena setahu mereka, beberapa hari belakangan ini, mereka sering kali melihat pria itu terlibat perbincangan singkat dengan bos mereka. Apakah mereka harud bertanya pada pria itu? Bagaimana jika tebakan mereka salah? Itu akan membuat mereka seolah-oleh sedang mengusir pria itu. Sepertinya mereka tidak perlu melakukan itu, pikir mereka semua.


"Tuan," panggil seorang wanita petugas kasir tersebut dan berhasil membuyarkan lamunan Ardo.


"Ini kembaliannya," ujar wanita itu dengan memberikan beberapa lembar uang kembalian pada Ardo.


"Maaf, boleh saya bertanya," ujar Ardo setelah menerima uang kembalian tersebut.


"Ah, iya boleh. Apa yang ingin Anda tanyakan, Tuan?"


"Di mana pemilik restoran ini?" tanya Ardo dengan wajah datar namun tersirat rasa penasaran yang dalam pada pertanyaan tersebut.


"Pemilik restoran ini?" tanya petugas kasir itu mengulang pertanyaan Ardo.

__ADS_1


Ardo menganggukkan kepalanya tanpa bersuara, ia menatap wanita itu untuk menunggu jawaban dari wanita tersebut.


"Maksud Anda, Nona Jinan?" tanya wanita itu lagi.


"Memangnya ada yang lain?" tanya Ardo balik dengan wajah kesal.


Wanita itu menelan ludahnya. "Em, maaf Tuan. Nona Jinan baru saja melahirkan kemarin, jadi dia tidak bisa datang ke sini."


Ardo terdiam sembari mengernyitkan keningnya saat mendengar jawaban wanita itu. Melahirkan? Bagaimana bisa ia tidak mengetahui berita sepenting ini?


Tanpa berpamitan pada petugas kasir itu, Ardo berjalan cepat meninggalkan restoran dan melajukan mobilnya menuju tempat yang akan membawanya pada apa yang dicarinya sedari tadi.


...


Lima belas menit kemudian, Ardo sudah berada di depan rumah sederhana yang tak jauh dari restoran Asia milik Jinan tadi. Yaitu rumah Jinan.


Karena tak sempat untuk membeli hadiah, akhirnya Ardo hanya bisa membawa setangkai bunga mawar merah yang ia beli di pinggir jalan raya. Demi mendapatkan toko bunga itu juga ia harus memutar balik mobilnya agar bisa sampai di rumah Jinan saat ini, padahal rumah Jinan hanya berjarak lima ratus meter saja dari restorannya.


Dengan setangkai bunga mawar merah di tangannya, Ardo mulai berjalan pelan mendekati rumah tersebut. Setiba di depan pintu rumah itu, jantung Ardo mulai berdetak tak karuan, telapak tangannya pun mulai berkeringat.


"Sial, kenapa aku jadi berkeringat seperti ini," rutuk Ardo pelan.


Saat tangannya hendak mengetuk pintu rumah itu, tiba-tiba saja Ardo mengurungkan niatnya. Akhirnya ia meletakkan saja bunga mawar itu di depan pintu dan berjalan cepat menuju mobilnya sebelum ada yang melihat kehadirannya di sana.


🍁Flashback Off🍁


******

__ADS_1


LIKE, COMENT, and VOTEEEE 💕


__ADS_2