
Setelah berhasil mendapatkan izin dari Jinan, Linda dan Putra segera berpamitan untuk pulang dengan membawa serta cucu perempuannya. Setiba di rumahnya, mereka terlihat heboh memasuki rumah dengan memanggil anak, menantu dan cucunya Andre. Bahkan saking hebohnya, semua yang ada di rumah itu terlihat heran akan tingkah kedua pasangan paruh baya itu.
Romi yang saat itu baru saja keluar kamar terlihat heran mendengar teriakan Mamanya dengan memanggil namanya serta nama anak dan istrinya.
"Kenapa sih, Ma, Pa? Kenapa berisik sekali," seru Romi saat hendak menuruni anak tangga.
"Rom, lihat Mama bawa siapa."
Bersamaan saat itu dengan Romi yang melihat ke arah kedua orang tuanya, pria itu langsung menghentikan langkahnya dan terdiam di tengah-tengah anak tangga karena melihat sosok anak perempuannya ada disini.
"Ayla," pekik Romi.
Saking senangnya, ia berlari menyusuri anak tangga untuk segera memeluk Ayla dan Mamanya secara bersamaan.
"Apa aku tidak salah lihat? Ini beneran anakku Ayla, kan? Astaga Mama, anakku ada di sini. Anakku Ayla ada di sini," seru Romi antusias. Ia benar-benar tidak menyangka jika kedua orang tuanya bisa membawa Ayla pulang ke rumah mereka.
"Ya sudah, ayo kita duduk," ujar Linda.
Sementara mereka menuju sofa ruang tamu, saat itu di dalam sebuah kamar, seorang wanita cantik yang tak lain adalah Aurel, istri dari Romi, sedang memakaikan baju pada anak lelakinya yang baru selesai mandi. Setelah selesai dengan anaknya, Aurel mengajak anaknya keluar dari kamar untuk mencari Romi karena suaminya itu tak juga kembali ke kamar. Maklum saja, kamar mereka saat ini sudah kedap suara, jadi Aurel tidak tau bahwa di luar sana sedang ada kehebohan.
Belum juga menginjak anak tangga, Aurel tampak heran saat dari atas sana ia melihat suami dan kedua mertuanya sedang asik bermain bersama seorang bayi. Karena penasaran, akhirnya Aurel mendekati ketiga orang itu sembari menggendong Andre.
Saat sudah mendekati ketiga orang itu, Aurel nampak memasati bayi yang ada dalam gendongan Linda. Dan nampaknya, ia mulai mengenali sosok bayi itu. Karena ingin memastikan bahwa tebakannya benar, Aurel berjalan semakin maju dan mendudukkan tubuhnya di sofa single samping kanan ketiga orang itu.
Awalnya ketiga orang itu tidak menyadari kehadirannya dan Andre disana. Namun saat Andre memekik, barulah ketiga orang itu menoleh kearah mereka berdua.
"Aurel."
"Aurel."
"Sayang."
Seru ketiga orang itu secara bersamaan. Sepertinya mereka cukup terkejut karena melihat Aurel yang sudah ada di sana secara tiba-tiba.
"Sejak kapan kamu di situ, Rel? Ngagetin aja," ujar Linda dengan tawa kecilnya.
__ADS_1
"Iya, Sayang. Kamu kok bisa tiba-tiba ada di situ sih," ujar Romi.
"Baru aja. Belum sampai 5 menit," ujar Aurel.
Memang ia belum 5 menit di sana, namun 2 menit duduk di dekat ketiga orang itu tanpa disadari kehadirannya, membuat ia seakan berada di sana sudah sejak 2 hari yang lalu. Sangat membosankan, pikirnya.
"Aurel, ayo lihat ke sini, Sayang. Ini anak Romi bersama Jinan. Kamu pasti sudah pernah bertemu dengan Ayla, kan?" tanya Linda dengan polosnya.
"Sudah, Ma. Aurel sudah bertemu dengan Ayla saat pertama kali Romi bertemu dengan Ayla waktu di restoran. Iya 'kan, Sayang?" sambar Romi dengan antusias.
Aurel menganggukan kepalanya mengiyakan. Sepertinya hari ini akan menjadi hari yang paling membosankan untuknya dari pada hari-hari sebelumnya yang dihiasi dengan perbincangan mereka tentang Ayla.
"Andre, ayo kenalan sini sama Ayla," ujar Putra kepada anak kecil yang berusia 1 tahun itu.
Putra membawa Andre ke pangkuannya, ia menirukan suara anak kecil yang layaknya sedang berkenalan dengan teman barunya yaitu, Ayla. Dan Linda yang tak ingin kalah dari suaminya juga ikut menirukan suara anak kecil sebagai suara Ayla yang sedang berkenalan dengan Andre.
Tampak di sana mereka sangat bahagia dengan percakapan konyolnya. Begitu juga dengan Andre yang sepertinya sangat menyukai momen yang sedang terjadi saat ini.
Sementara Aurel yang melihat itu hanya tersenyum tipis. Ia tidak tahu harus bahagia atau sedih, tapi ia harap semoga saja kedepannya nanti posisi Ayla yang sudah diakui oleh keluarga suaminya itu tidak akan menyingkirkan posisi Andre yang juga termasuk cucu kandung Linda dan Putra. Meski kedua mertuanya itu tidak mengetahui kenyataan itu.
Ya, memang tadi pagi Jinan membawakan tiga botol ASI yang sudah diperah untuk makanan anaknya selama di sana. Bahkan yang awalnya hanya ada 2 botol ASI di dalam kulkas, ia harus menambah satu botol ASI lagi agar anaknya tidak kekurangan maknan di sana. Karena bagaimanapun, Ayla tidak dibiasakan oleh Jinan untuk mengkonsumsi susu lain selain yang berasal dari sumbernya langsung.
Sebelum Linda membawa Ayla pergi juga Jinan dan Ardo sudah menjadwalkan mereka untuk memberikan ASI pada Ayla saat 2 jam sekali. Yang itu artinya Jinan dan Ardo meminta pada Linda dan Putra untuk mengembalikan Ayah sebelum pukul 4.30 sore atau bahkan bisa lebih awal dari itu jika terjadi sesuatu yang tak terkendali.
***
Di kediaman Jinan, kini wanita itu terlihat tak tenang setiap mengerjakan pekerjaannya. Pikirannya yang seharusnya fokus memasak lauk makan siang untuknya dan suaminya kini harus bercabang kemana-mana. Ia benar-benar tidak tenang memikirkan kondisi putri satu-satunya yang sedang bersama ayah kandungnya.
Bahkan saking tidak fokusnya, pada pukul empat sore saat Jinan sedang menuangkan air panas untuk membuat kopi untuk suaminya, tiba-tiba saja ia tidak sengaja membuat sedikit air termos itu mengenai tangan kirinya. Pekikannya yang spontan itu membuat Ardo yang sedang fokus pada laptopnya menjadi teralihkan.
Karena takut istrinya kenapa-napa, akhirnya Ardo berlari cepat menuju dapur untuk melihat kondisi istrinya.
"Sayang, ada apa?" tanya Ardo panik. Saat ia melihat Jinan mengibaskan tangan kirinya sembari meniup-niupnya, pandangannya segera menelisik ke sekitar istrinya. Ia yang melihat setengah gelas kopi dengan air yang bergelimang di atas meja lantas membelalakkan matanya dan segera mendekati istrinya.
"Astaga, tanganmu merah. Ayo kita ke rumah sakit," ajak Ardo yang sedang menelisik tangan istrinya itu. Ia memeluk bahu istrinya dan mengajaknya untuk ke rumah sakit.
__ADS_1
"Tidak, Ar. Aku tidak apa-apa."
Ardo menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Jinan.
"Tidak apa-apa apanya? Tanganmu itu terkena air panas, jangan sampai tanganmu sampai melepuh. Aku tidak bisa jika harus melihat tangan istriku sakit, bahkan sampai melepuh," ujar Ardo kesal. Ia kesal karena rasa paniknya yang sudah berlebihan. Ia benar-benar tidak bisa melihat orang yang dicintainya terluka meski sedikitpun.
"Ar, aku tidak apa-apa. Percayalah. Aku punya salep yang masih bisa dipakai. Pakai itu juga nanti sembuh sendiri. Kau tidak perlu berlebihan sampai harus ke rumah sakit," ujar Jinan menenangkan. Tapi bukannya tenang, Ardo justru semakin pusing karena istrinya itu menganggap remeh luka yang ada di tangannya.
"Sudahlah. Dari pada ribut seperti ini, lebih baik kau bantu aku mengoles salep agar tanganku tidak melepuh."
Karena istrinya yang terus protes karena tidak mau dibawa ke rumah sakit, akhirnya Ardo dengan terpaksa menuruti apa mau istrinya itu. Dengan perlahan ia mengolesi salep yang tidak ia mengerti apa namanya itu di sekitar tangan istrinya yang memerah. Sesekali ia meniupi luka itu, berharap agar cepat pulih dan tidak meninggalkan rasa sakit dan bekas kemerahan di sana.
"Kenapa bisa sampai seperti ini? Apa kau tidak hati-hati?" tanya Ardo setelah selesai mengobati tangan istrinya.
"Aku .. aku rindu Ayla, Ar," ujar Jinan dengan menundukkan kepalanya.
Ardo menghela nafasnya. Ia raih tubuh ramping Jinan dan dibawanya ke dalam pelukannya. Jinan memang tidak pernah meninggalkan anaknya seperti ini, sangat wajar jika istrinya ini merindukan buah hatinya itu. Meninggalkan Ayla pada kedua orang tuanya saat selepas acara pernikahan mereka saja Jinan terus menanyakan anaknya, apalagi saat anaknya bersama keluarga mantan suaminya yang pernah berbuat buruk padanya.
"Sabar ya, mungkin sebentar lagi Ayla pulang," ujar Ardo menenangkan. Sesekali ia mencium pucuk kepala Jinan di sela usapannya pada punggung belakang Jinan.
"Tapi ini sudah pukul 16.13, Ar. Kenapa Ayla belum juga pulang?"
"Mungkin mereka sedang di jalan. Sabar saja, Ayla pasti akan pulang."
Meski berusaha menenangkan, namun dalam hatinya, Ardo sangat menahan amarahnya. Ia memang tidak tahu sedang di mana dan sedang apa Ayla sekarang, namun karena melihat istrinya yang tampak sedih memikirkan anaknya, Ardo pun menjadi tersulut emosinya.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘
__ADS_1