
Di tengah makan siang Jinan dan Ardo, tiba-tiba saja sosok Romi masuk ke dalam restoran sambil berlari dengan nafas yang ngos-ngosan. Jinan yang melihat itu mengernyitkan keningnya, kedatangan Romi yang seperti itu membuat ia berfikir bahwa pria itu baru saja dikejar preman. Sementara Ardo saat itu hanya melirik sekali ke arah Romi dan melanjutkan kembali makan siangnya.
"Maaf jika aku terlambat. Kalian belum mau pergi, kan?" tanya Romi diselanya mengatur nafas.
"Em, tidak," jawab Jinan singkat.
Tanpa disuruh untuk duduk, Romi sudah mendudukkan tubuhnya sendiri di kursi yang berhadapan dengan Jinan. Ardo yang melihat Romi duduk berhadapan dengan istrinya pun lantas bangkit dari duduknya dan segera meminta Jinan untuk bertukar tempat duduk dengannya.
"Bersihkan wajah dan tanganmu di wastafel. Jangan sampai anakku sakit setelah bertemu denganmu," ujar Ardo dengan wajah datarnya.
"Apa maksudmu?"
"Tangan dan wajahmu penuh dengan keringat, dan di dalam keringat itu terdapat banyak bakteri yang sangat tidak bagus untuk kesehatan Ayla. Aku hanya tidak mau anakku jatuh sakit hanya karenamu," jelas Ardo dengan nada sombong.
"Ayla adalah anakku, bukan anakmu. Kau jangan berlebihan, lagi pula aku tidak berkeringat." Romi tak suka dengan cara bicara Ardo yang mengatakan bahwa Ayla adalah anaknya. Dan terlebih pria itu mengatakan seolah ia membawa penyakit untuk anaknya.
Ardo menarik salah satu sudut bibirnya, kemudia ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sembari memeluk tubuh Ayla.
"Kau ingin membicarakan tentang status seorang ayah bagi Ayla?" tanya Ardo dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Kau tahu. Kau itu hanyalah seorang ayah biologis. Bukan ayah yang selayaknya seorang ayah pada umumnya. Kau mengatakan bahwa Ayla adalah anakmu, seolah kaulah yang selalu ada bersamanya sejak anak ini masih berupa sebuah zigot." Ardo menjeda kalimatnya sejenak. "Jangan kau kira aku tidak tahu seperti apa dirimu selama ini, Romi."
Romi terdiam dengan perkataan Ardo yang sangat menusuk sampai ke dalam hatinya, terlebih kaliamat terakhir yang Ardo ucapkan. Romi bisa menebak jika Ardo saat ini sedang mengungkit masa lalunya saat bersama Jinan.
Tunggu dulu!
Jika dugaannya benar. Terus, dari mana Ardo bisa mengetahui semua itu? Apakah Jinan yang menceritakan semua itu pada Ardo?
Pandangannya kini menatap ke arah Jinan dengan penuh tanya. Namun sayangnya wanita itu hanya menundukkan kepalanya, menatap makanannya yang ada atas di piring. Seolah wanita itu tidak mendengar percakapan mereka, atau hanya berpura-pura tidak mendengar dan tidak ingin terlibat dalam perbincangan ini.
"Satu lagi." Romi menatap Ardo yang malanjutkan perkataannya. "Kau harus ingat ini. Ayla adalah anak Jinan. Dan sekarang Jinan adalah istriku. Itu berarti Ayla juga termasuk anakku."
Karena tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan juga takut aibnya terbongkar karena sudah meladeni perkataan Ardo, akhirnya Romi memilih mengalah dan memutuskan untuk pergi ke wastafel samping toilet restoran untuk mencuci tangan sekaligus mukanya.
Sepanjang kepergiannya dari hadapan Ardo, tak sedetikpun Romi menghentikan umpatannya pada Ardo yang berlagak sombong di depannya. Seolah dialah satu-satunya pria di muka bumi ini yang berhak dan pantas untuk menjadi ayah sekaligus suami bagi Ayla dan Jinan.
__ADS_1
Setelah mendudukkan kembali tubuhnya pada kursi yang berhadapan dengan Ardo, kini barulah Ardo memberikan Ayla padanya. Anak perempuannya yang sangat cantik dan menggemaskan. Tubuhnya putih bersih dengan hidung yang lumayan mancung, persis seperti ibu kandungnya. Dan bagian yang paling ia sukai adalah, mulut, bibir, dan telinganya yang sangat mirip dengannya saat ia kecil dulu.
Romi sangat menikmati momen kebersamaannya bersama Ayla di sana. Ia bahkan tak peduli akan Ardo yang berusaha sok romantis bersama Jinan di hadapannya.
Tepat pukul 13.30 siang, Ardo memutuskan untuk menyudahi pertemuannya bersama Romi hari ini. Sebentar lagi adalah waktu Ayla tidur siang bersama Jinan, ia tidak ingin hanya karena pertemuan mereka yang tidak menguntungkan ini, jadi harus merugikan anak dan istrinya. Terlebih ia yang sudah muak melihat wajah pria br3ngs3k itu.
"Bisakah satu minggu sekali aku bertemu anakku, Ji?" tanya Romi setelah mereka keluar resto.
"Tidak bisa." Bukan Jinan yang menjawab, melainkan Ardo. Dan hal itu jelas membuat Romi mengernyitkan keningnya menatap pria itu dengan tatapan tidak suka.
"Kenapa?"
"Jinan akan ikut bersamaku ke negara asalku. Dan kita tidak tahu kapan akan kembali lagi ke sini. Itulah kenapa aku meminta Jinan untuk bertemu denganmu hari ini."
Romi membelalakkan matanya. Ke negara asal Ardo? Baru saja ia bertemu dengan anaknya, kini Jinan sudah mau membawa lagi anaknya jauh darinya.
"Ke mana?" tanya Romi.
"Kau tidak perlu tahu. Aku yang akan mengabarimu nanti jika kita sudah kembali ke Indonesia."
"Berhenti mengatakan bahwa dia anakmu," potong Ardo geram. "Dia memang anak biologismu. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya atas diri Ayla. Jinan yang berhak sepenuhnya atas Ayla, dan aku yang sepenuhnya berhak atas Jinan saat ini. Jadi tanpa izinku, Jinan tidak akan bisa melakukan apa pun. Seharusnya kau bersyukur karena Jinan masih mau mempertemukan kau dengan Ayla, dan aku masih mengizinkankannya untuk itu."
"Jika saja aku yang menjadi Jinan, mungkin aku tidak akan sampai meminta izin pada suamiku. Dan aku juga akan menjauhkan Ayla sejauh-jauhnya darimu."
Jinan menggenggam lengan Ardo. Saat pandangan mereka bertemu, Jinan bergumam pelan dengan mengatakan;
"Sudahlah, ayo pulang."
Ardo menghela nafasnya, rasanya tenaganya terkuras banyak hanya karena meladeni pria ini berbicara. Sepertinya ia sedikit menyesal karena sudah mengusulkan akan pertemuan ini.
"Kau harus tahu, Romi. Aku sudah mengetahui semuanya. Jangan sampai aku membongkar semua kebusukanmu ini pada anakmu."
"Ar," seru Jinan dengan mengeratkan genggaman tangannya pada lengan Ardo. Sementara Romi saat itu terdiam sembari membelalakka matanya akan perkataan Ardo. Mengetahui semuanya?
"Baiklah. Ayo masuk ke mobil." Ardo memberikan Ayla pada Jinan dan berjalan menuju pintu depan mobil untuk membukakan pintu mobil untuk istrinya itu.
__ADS_1
"Maaf Mas, aku harus pulang," pamit Jinan dengan menatap wajah Romi sekilas.
"Jinan," panggil Romi.
Jinan menghentikan langkahnya tanpa berbalik badan untuk menatap pria itu.
"Aku mohon, terus beri aku kabar tentang perkembangan Ayla. Katakan apa saja yang kalian butuhkan, aku pasti akan mengirimkannya untuk kalian."
"Sayang, ayo," teriak Ardo yang sudah satu menit menunggu Jinan di samping pintu mobil.
"Insyaa Allah," ucap Jinan pada Romi, lalu melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam mobil.
Romi menatap kepergian Jinan dengan menghela nafasnya panjang. Tak lama dari itu ia melihat Ardo yang berjalan ke arahnya dengan wajah datar. Cukup dekat jarak di antara mereka, hingga menyisakan jarak beberapa senti saja antara wajahnya dengan wajah Ardo.
"Jika suatu saat nanti Ayla mengetahui semua kebusukan ayah kandungnya ini yang sudah mencampakan ibunya, kau pasti sudah bisa membayangkan seperti apa pandangan dan sikap Ayla nantinya padamu," bisik Ardo tepat di depan wajahnya.
Romi terdiam, menatap terkejut akan apa yang Ardo ucapkan. Tidak, ia tidak bisa membayangkan itu. Dan ia tidak mau anaknya membencinya karena masa lalunya. Tidak. Tidak akan ia biarkan itu terjadi.
"Sial," umpat Romi setelah mobil yang dibawa Ardo melaju menjauhinya.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘
__ADS_1