Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 60


__ADS_3

Setelah Elif menyematkan cincin pada jari manis tangan Jinan, Jinan meneteskan air mata. Entah itu air mata bahagia atau sedih karena ia akan menikah untuk yang kedua kalinya.


Jinan menatap cincin di jari manisnya itu, kini ia resmi menjadi pinangan seorang pria asal Turki yang baru saja ia kenal selama kurang lebih 3 bulan lalu di Jerman. Ia tidak tahu apakah ini akan menjadi pernikahan terakhirnya atau masih ada pernikahan selanjutnya setelah ini. Jinan tidak mau berpikiran buruk di saat bahagianya ini, saat ini ia hanya bisa berdo'a kepada Allah agar menjadikan Ardo sebagai pelabuhan terakhirnya dalam pencarian cinta dan kebahagiannya.


Setelah menentukan acara pernikahan yang akan diadakan dua minggu lagi dengan bertempatkan di kediaman Jinan pribadi, kini mereka semua yang ada di sana mengisi waktu kosongnya sebelum jam makan siang dengan berbincang santai sembari mencicipi cemilan yang ala kadarnya di atas meja.


"Em, Nyonya, Tuan," seru Jinan memanggil kedua orang tua Ardo yang sedang bermain bersama baby Ayla.


"Ada apa, Jinan?" tanya Elif.


"Jinan permisi ke dapur dulu ya, Nyonya. Jinan mau masak untuk makan siang."


"Astaga, tidak usah repot-repot, Jinan. Kita bisa makan di luar," ujar Elif.


"Bagaimana jika kita makan siang bersama di luar?" usul Ardo.


"Wah, boleh juga," seru beberapa orang yang ada di sana.


"Bagaimana, Jinan? Kita makan siang di luar saja ya," ujar Elif kepada Jinan yang terlihat bingung.


"Em, tapi ..."


"Kenapa, Sayang?" tanya Sila.


"Kenapa, Jinan? Kau tidak suka makan di luar?" tanya Elif saat melihat Jinan ragu untuk berkata.


"Bukan begitu, Nyonya. Tapi Jinan ... em, Jinan belum mandi," ucap Jinan dengan suara pelan. Berharap perkataannya hanya didengar oleh Sila dan Ria yang duduk di dekatnya, tapi ternyata semua orang yang ada di sana bisa mendengar jelas apa yang Jinan katakan.


Mereka menahan tawanya saat mengetahui bahwa Jinan saat ini belum mandi. Yang benar saja, bukan hanya acara lamarannya saja ternyata yang terkesan sangat sederhana, tapi dari pihak calon wanitanya juga ternyata belum mandi.


"Maaf," ucap Jinan tak enak hati. Ia menundukkan kepalanya dengan wajah yang sudah merah merona karena menahan malu.


Eheemm ...


Deheman Ardo membuat semua orang di sana mengarahkan pandangannya pada Ardo, termasuk Jinan sendiri.


"Mandilah, masih ada banyak waktu. Kita akan berangkat setelah dzuhur. Kita juga masih harus menunggu mobil yang baru kusewa datang," ujar Ardo kepada Jinan.


"Ya, kau mandilah adik ipar. Kita akan menunggumu," ujar Huri.


Dengan tidak enak hati, akhirnya Jinan meninggalkan para tamunya untuk pergi mandi. Demi apa pun, ini adalah hal memalukan yang tak akan Jinan lupakan seumur hidupnya. Bagaimana bisa acara yang seharusnya memberikan kesan indah, kini justru menjadi momen yang sangat memalukan untuknya.


 


...


 


Pukul 13.20 di salah satu ruang VIP restoran yang cukup ternama di kota Jakarta, Jinan beserta keluarga Ardo dan Ria baru saja memulai acara makan siangnya. Mereka baru saja sampai di sana lima menit yang lalu. Berhubung ruangan dan makanan sudah di pesan oleh Dedy satu jam lalu melalui panggilan telepon, jadi semua hidangan yang di pesan sudah tersedia di atas meja sebelum mereka sampai di sana.

__ADS_1


Di tengah-tengah acara makannya, tiba-tiba Jinan merasa ingin buang air kecil. Ia berpamitan ke toilet karena tidak ingin menahan rasa ingin buang air lebih lama.


"Mau aku temenin, Kak?" tawar Ria.


"Tidak usah, Ri. Kakak bisa sendiri kok. Tolong jagain baby Ayla sebentar ya," ujar Jinan dan segera meninggalkan ruangan itu dengan tergesa.


Berhubung toilet dan ruang VIP restoran itu tidak terlalu jauh, jadi Jinan bisa sampai dengat cepat di toilet. Pintu toilet pria dan wanita itu berdampingan, saat Jinan hendak masuk ke dalam toilet wanita, tiba-tiba saja ia melihat Romi yang baru saja keluar dari toilet pria. Pandangan mereka berdua kini beradu, mereka terdiam sejenak dengan keterkejutannya masing-masing.


"Jinan. Ka ... kamu di sini?" tanya Romi.


"Em, maaf, aku harus ke toilet."


Karena sudah tak tahan ingin buang air, Jinan dengan terpaksa pergi begitu saja meninggalkan Romi yang masih menatap ke arahnya.


Tujuh menit kemudian, Jinan baru terlihat ke luar dari toilet. Baru dua langkah Jinan keluar toilet, tiba-tiba ia dikejutkan dengan adanya sosok Romi di hadapannya. Ia sungguh terkejut karena Romi masih ada di sana.


"Mas Romi," seru Jinan pelan.


"Jinan, kamu makan di sini?" tanya Romi penasaran. Sepengetahuannya, Jinan hampir tidak pernah makan di restoran mewah seperti ini. Apalagi dengan kondisi ekonominya yang seperti sekarang ini. Ia jelas sungguh penasaran dengan adanya Jinan di restoran ini.


Jinan mengangguk pelan.


"Dengan siapa?" tanya Romi lagi.


"Em, dengan ... dengan keluarga," jawabnya asal. Tidak asal juga sih, bukankah Ria sudah seperti keluarganya sendiri? Dan Ardo? Bukankah sebentar lagi Jinan akan menjadi bagian dari keluarga mereka juga? Jadi tidak salah bukan, jika ia menjawab demikian.


Jinan hanya menganggukkan kepala tanpa menyahuti ucapan Romi.


"Maaf Mas, aku harus segera pergi."


Jinan hendak melangkah untuk pergi dari sana, namun langkahnya lebih dulu dihadang oleh Romi.


...


Di dalam ruang VIP, Ardo beberapa kali melirik ke arah pintu masuk. Sudah sepuluh menit lebih Jinan tak juga kembali dari toilet, ia tampak cemas, takut terjadi hal yang tak diinginkan pada calon istrinya itu.


"Ardo ke toilet sebentar, Ma," pamit Ardo.


Ardo segera berjalan cepat menuju toilet, namun baru beberapa langkah ia keluar dari ruangan VIP, ia sudah bisa melihat Jinan yang sedang berbincang berdua bersama seorang pria, namun Ardo tidak mengenali bentuk tubuh pria itu dari belakang.


Tanpa ingin membuang waktu, Ardo berjalan mendekati kedua orang itu. Tak jauh dari posisi Jinan dan pria itu berada, kini Ardo mulai dapat mendengar pria itu yang berbicara dengan menyebut nama anak Jinan, Ayla.


"Jinan."


Mendengar nama Jinan yang dipanggil dari arah belakang tubuh Romi, sontak kedua orang itu menatap ke arah asal suara. Jinan dan Romi terkejut akan kehadiran Ardo di sana. Jinan terkejut karena Ardo yang menghampirinya, sedangkan Romi sendiri terkejut melihat sosok pria asing dengan perawakan khas Eropa memanggil nama Jinan.


"Apa sudah selesai ke toiletnya?" tanya Ardo tanpa menghiraukan kehadiran Romi di sana karena ia sudah tahu bahwa pria itu adalah mantan suami Jinan.


Ardo bahkan sangat hapal wajah pria itu karena ia sudah pernah melihatnya dari beberapa foto Romi yang ditemukannya saat ia mencari tahu latar belakang Jinan saat pertama kali ia bertemu wanita itu.

__ADS_1


"Iya, sudah," jawab Jinan.


"Dia siapa, Ji?" tanya Romi pada Jinan.


"Saya calon suaminya. Anda siapa?" tanya Ardo balik dengan cepat sebelum Jinan yang menjawab pertanyaan pria itu.


"Calon suami? Kamu mau menikah, Ji?" tanya Romi lagi pada Jinan.


"Kenapa terkejut?" tanya Ardo dengan cepat. Ardo sengaja terus menjawab pertanyaan dari Romi yang ditujukan kepada Jinan. Ia tidak mau memberikan sedikitpun kesempatan untuk Jinan menjawab pertanyaan dari Romi. Ia tidak suka itu.


"Kenapa kau terus menyela pertanyaanku? Aku bertanya kepada Jinan, bukan kepadamu," ujar Romi kesal.


"Kenapa kau kesal? Jinan adalah calon istriku. Mulai saat ini, apa pun yang berhubungan dengan Jinan, semua itu akan berhubungan langsung denganku juga. Termasuk menjawab pertanyaan darimu."


Romi terlihat kesal dengan perkataan Ardo yang terkesan membanggakan bahwa ia calon suami Jinan. Ia hendak menyahuti perkataan Ardo, namun sayangnya Ardo lebih dulu membuka suara.


"Ayo Ji, Mama dan Papa menunggumu. Kau sudah terlalu lama di luar. Makananmu hampir dingin, dan anakmu juga saat ini sedang menangis," alibi Ardo agar Jinan segera pergi meninggalkan mantan suaminya itu.


Dan benar saja, saat mendengar bahwa anaknya menangis, Jinan segera berpamitan kepada Romi dan bergegas kembali ke ruangannya. Sementara untuk Romi sendiri, saat Ardo menyebutkan kata anak kepada Jinan, pikirannya kini langsung tertuju pada anaknya bersama Jinan.


"Apa yang kau maksud itu adalah anakku dan Jinan?" tanya Romi pada Ardo.


Ardo menarik salah satu sudut bibirnya. "Bukankah anakmu sedang ada bersama calon istrimu." Ardo meninggalkan Romi setelah berkata seperti itu.


Romi ternganga mendengar perkataan Ardo.


"Apa maksud pria itu?" batin Romi.


Pikiran Romi kini sudah ke mana-mana. Apakah Ardo mengetahui bahwa ia memiliki anak selain Ayla? Tapi bagaimana Ardo bisa tahu? Apakah Jinan yang memberitahunya?


  


  


  


******


  


 


  


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘


  

__ADS_1


__ADS_2