Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 55


__ADS_3

Tepat pukul tujuh pagi, Jinan sudah bersiap untuk pergi ke pasar bersama baby Ayla. Mulai hari ini Jinan ingin memulai kembali usahanya yang sempat terhenti yaitu, dagang kue online. Ia tidak mungkin mengandalkan uang dari hasil restorannya di Jerman saja untuk mencukupi kehidupannya. Ia juga harus mencari uang tambahan untuk biaya hidupnya kedepan dan juga menabung untuk masa depan baby Ayla.


Meski ia sudah menerima Ardo, tapi ia tidak bisa menjamin hidupnya kedepan akan seperti apa. Ia tidak tahu apakah Allah benar-benar menakdirkan dirinya bersama Ardo atau tidak. Ia tidak mau bergantung pada sesuatu yang belum jelas kedepannya akan seperti apa.


Jinan juga sengaja membawa anaknya yang masih bayi itu ke pasar, karena selain tidak ada yang menjaga anaknya di rumah, ia juga sekalian ingin membawa anaknya berjemur matahari pagi. Meski aroma tak sedang disekitar pasar tak baik untuk anak seusia baby Ayla, tapi Jinan tidak punya pilihan lain. Ia hanya bisa berharap kepada Allah untuk kesehatan anaknya.


Saat Jinan membuka pintu rumahnya, ia dikejutkan dengan setangkai mawar merah yang sudah tergeletak di depan pintu rumahnya. Ia menatap ke sekeliling rumahnya untuk melihat apakah ada orang yang mencurigakan yang sudah meletakkan setangkai mawar merah di depan rumahnya.


Namun sudah hampir dua menit mencari, tapi Jinan tidak juga menemukan sesuatu yang mencurigakan. Hanya ada beberapa orang ibu-ibu saja yang sesekali berjalan melewati rumahnya yang hendak menuju pasar. Tidak mungkin bukan jika ibu-ibu itu yang meletakkan mawar merah itu di depan rumahnya. Tidak ada kerjaan sekali, pikirnya.


Saat Jinan ingin membuang bunga itu ke kotak sampah, tiba-tiba saja ia teringat akan Ardo yang pernah diam-diam mengiriminya setangkai mawar merah di depan rumahnya sewaktu di Jerman. Apakah bunga ini juga berasal dari Ardo? Tapi 'kan Ardo sudah pulang ke Turki, bagaimana bisa pria itu pelakunya?


Karena merasa aneh dengan bunga itu, Jinan akhirnya membuang bunga tersebut ke dalam tong sampah yang ada di depan rumahnya. Lalu ia melanjutkan kembali niatannya yang ingin pergi ke pasar.


 


...


 


 


Karena niatan ke pasar hanya ingin membeli bahan-bahan untuk membuat kue saja, jadi Jinan hanya mengunjungi salah satu toko khusus bahan kue saja yang ada di pasar itu. Lima belas menit pertama semua berjalan dengan lancar, namun lima menit kemudian, baby Ayla yang ada dalam gendongan koalanya mulai menangis kencang.


Karena tidak mau menghentikan tangisnya meski sudah ditimang-timang, akhirnya Jinan memutuskan untuk menyudahi belanjanya saja. Mungkin baby Ayla merasa kepanasan berada di dalam toko bahan kue itu yang engap karena ramainya pembeli.


Karena kasihan melihat anaknya yang terus menangis, Jinan akhirnya pulang dengan menggunakan jasa taksi online. Niat hati ingin berhemat sekaligus mengajak anaknya berjemur di pagi hari, malah berakhir di dalan taksi online yang sejuk dengan menguras isi dompetnya.


Setiba di rumah, Jinan langsung membereskan semua barang belanjaannya ke dalam lemari dapur. Tepat pukul satu siang, Jinan segera menghubungi Ria untuk menanyakan bagaimana caranya mempromosikan barang dagangan via online agar banyak yang melirik postingannya. Maklum saja, karena keterbatasannya pada dunia sosial media, membuat Jinan sedikit kudet dengan kecanggihan dari fitur terbaru robot pintar itu.


Pembahasan yang awalnya hanya mengenai bisnis kini berubah topik menjadi kedekatan hubungan Jinan dan Ardo. Saat itu Ria tak henti-hentinya menggoda Jinan dengan ucapan lebaynya yang ia buat-buat sendiri.


Jinan sebenarnya ingin menceritakan kejadian kemarin pagi pada Ria, tapi apadaya ternyata Ria sudah lebih dulu tahu hal itu dari Ardo. Jinan tidak menyangka jika pria yang terlihat cool itu ternyata tidak jauh berbeda dengan para ibu-ibu di kampungnya yang suka menggosip, pikir Jinan.


Ngomong-ngomong tentang gosip, saat Jinan hendak berbelanja di warung bude Wati, para tetangga yang ikut berbelanja di sana langsung mengerubungi Jinan saat ia baru saja sampai di warung itu.

__ADS_1


Semua orang yang ada di sana heboh sekali menanyakan perihal hubungannya dengan Ardo. Dan ternyata kehebohan itu berasal dari salah satu ibu-ibu yang sempat melihat Ardo memberikan kalung untuk Jinan di teras rumahnya kemarin.


"Do'akan saja ya, Bude."


Hanya itu yang bisa Jinan jawab dari sekian banyaknya pertanyaan yang dilontarkan para tetangganya itu. Jinan sengaja menjawab singkat pertanyaan para tetangganya karena ia tidak ingin memberikan jawaban lain yang belum tentu pasti. Hanya jawaban itulah yang menurut Jinan aman untuk diucapkan pada saat ini.


 


 


...


 


 


Setelah sholat maghrib dan setelah baby Ayla tertidur, Jinan terlihat menyibukkan dirinya dengan peralatan dapur. Ia ingin membuat berbagai jenis kue bolu sebagai objek foto untuk postingannya di sosial media nanti.


Sesekali mata Jinan menatap pada layar ponselnya yang ada di atas meja dapur. Ia menghela nafasnya karena tak ada satupun notifikasi yang masuk ke ponselnya.


Sudah bisa menebak Jinan menunggu notifikasi dari siapa? Ya, Jinan menunggu notifikasi dari Ardo.


Ardo yang selama beberapa hari ini selalu mengiriminya pesan, membuat Jinan merasa aneh saat tak mendapatkan notifikasi apa pun dari pria itu. Apalagi setelah beberapa menit pria itu pergi kemarin, Ardo sempat mengiriminya pesan yang mengatakan akan memberinya kabar jika sudah sampai. Tapi sampai saat ini ia tak mendapatkan pesan apa pun dari pria itu.


"Astaghfirullah Jinan, kenapa jadi mikirin dia sih. Astaghfirullah. Maafkan hamba ya Allah," ucapnya merasa lalai.


Jinan beranjak menuju kamar mandi dan membasuh mukanya, setelah itu ia melanjutkan kembali aktifitasnya yang sempat tertunda karena sempat melamunkan sesuatu yang konyol menurutnya.


Lama berkutat dengan peralatan dapurnya, hingga hampir pukul satu malam barulah Jinan selesai mengerjakan semua kue buatannya, termasuk mengambil gambar dari kue-kue tersebut. Meski dengan alat foto yang apa adanya, tapi dengan bantuan Elena dan Ria yang akan mengedit gambar-gambar tersebut, semoga saja hasilnya nanti bisa membuat para calon pelanggannya yang melihat memiliki niatan untuk membeli.


Barulah ingin tertidur di atas kasurnya, tiba-tiba saja baby Ayla terbangun dan menangis tepat di samping telinga kanan Jinan. Dengan menahan kantuk, Jinan bangkit kembali dari posisi nyamannya dan meraih tubuh baby Ayla untuk diberi ASI.


Memberi ASI pada baby Ayla memang hanya membutuhkan waktu setengah jam saja, namun untuk membuatnya tertidur kembali, Jinan baru bisa melakukannya hingga waktu menunjukkan pukul 04.20 pagi. Setelah baby Ayla tertidur, Jinan bukannya ikut tidur juga, ia melainkan pergi ke dapur dan mengisi perutnya dengan salah satu kue bolu yang ia buat sembari menunggu waktu subuh tiba.


***

__ADS_1


Tiga hari berturut-turut Jinan terus menemukan setangkai mawar merah di teras rumahnya. Ia sungguh bingung, kejadian ini sama persis dengan apa yang pernah Jinan alami saat di Jerman beberapa waktu lalu. Kini ia mulai bertanya-tanya, apakah yang mengiriminya bunga mawar ini adalah orang yang sama seperti saat di Jerman waktu itu? Tapi bagaimana bisa? Bukankah Ardo sudah tidak ada lagi di Indonesia? Atau jangan-jangan pria itu tidak pulang ke Turki dan masih ada di sini?


Rasanya Jinan ingin sekali menghubungi pria itu untuk menanyakan tentang setangkai mawar merah di depan rumahnya ini. Tapi karena ragu dan rasa malu yang lebih mendominasi, dan juga Ardo yang tidak pernah sekalipun menghubunginya, akhirnya Jinan memendam sendiri saja rasa penasaran ini.


Pagi ini Jinan disibukkan dengan pesanan kue pertamanya. Setelah seharian kemarin ia disibukkan dengan orang-orang yang hanya sekedar bertanya tentang harga; lokasi; dan rasa dari kue buatannya, tapi alhamdulillah hari ini ia sudah mulai mendapatkan orderan masuk berupa bolu kukus cokelat sebanyak dua loyang. Meski hanya dua loyang, Jinan tetap bersyukur dan mengerjakannya dengan senang hati.


Setelah sholat ashar, Jinan langsung mengantarkan pesanannya menggunakan sepeda motor dengan seorang diri. Beruntung saat itu Sila sedang ada di rumah, jadi Jinan bisa menitipkan baby Ayla yang sedang tidur di sana. Karena jarak lokasi pengantaran yang cukup dekat, jadi Jinan hanya memerlukan waktu setengah jam saja dan bisa kembali ke rumah sebelum anaknya terbangun.


Hari terus berganti, kini dagangan Jinan mulai kebanjiran orderan setelah mendapatkan testimoni dari pelanggan pertamanya yang ternyata seorang food vloger yang cukup terkenal. Semua orderan mulai dari jarak terdekat hingga jarak yang cukup jauh akan Jinan terima dengan senang hati. Berhubung ia tidak bisa mengantar semua pesanannya karena adanya baby Ayla, Jinan akhirnya memutuskan untuk menggunakan jasa kurir ekspres di tempat kerja salah satu teman sekolahnya dulu.


...


Selain sibuk dengan dagangannya, setiap pagi Jinan juga selalu disibukkan untuk membuang setangkai mawar merah yang tak pernah absen datang ke rumahnya ke dalam tong sampah. Ia sungguh merasa terganggu dengan orang yang kurang kerjaan yang sudah meletakkan mawar merah itu di depan rumahnya.


Tapi terkhusus untuk hari selanjutnya, Jinan tidak pernah lagi membuang setangkai mawar yang tergeletas di teras rumahnya itu. Ia tidak membuang mawar itu karena ia sudah mengetahui siapa orang konyol yang rela membuang-buang uang demi setangkai mawar yang akan berakhir di dalam tong sampah. Orang tersebut tak lain adalah Ardo. Firasat tak yakin Jinan selama ini ternyata benar, bahwa Ardo lah orang dibalik setangkai mawar merah itu.


Jinan mengembangkan senyum tipisnya saat untuk kedua kalinya ia membaca pesan yang Ardo kirimkan ke ponselnya.


'Assalamu'alaikum, Jinan. Bagaimana kabarmu dan Ayla di sana? Kuharap kalian baik, dan akan selalu baik. Maaf jika aku baru mengirimimu pesan setelah beberapa hari pergi, karena sebenarnya aku sengaja melakukan itu. Aku ingin kau merindukanku dan menunggu pesan masuk dari ku setiap saat. Bagaimana, apa kau sudah merindukanku? Aku harap jawabannya adalah iya. Oh ya, apa kau masih membuang setangkai mawar itu ke kotak sampah? Kuharap kau tidak melakukannya lagi. Tapi jika kau masih melakukan hal yang sama. Yakinlah bahwa saat ini aku sedang menangis karena cintaku yang tulus telah kau letakkan di tempat sampah 😢. Jinan, aku harus kembali bekerja, sampaikan salamku pada Ayla, bilang padanya bahwa calon ayahnya sedang merindukannya.'


"Sejak kapan pria ini jadi suka menggombal? Pasti karena ajaran Ria dan Elena," ucap Jinan pelan sembari menggelengkan kepalanya.


 


******


 


 


 


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘

__ADS_1


 


__ADS_2