
Dua puluh menit di perjalanan, kini Jinan telah sampai di depan rumah Ria. Ia akan menjemput kedua anaknya terlebih dahulu sebelum pulang ke rumah.
Tookk ... Tookk ...
"Assalamualaikum."
Tak butuh waktu lama pintu terbuka dan munculah Ria dari balik pintu tersebut.
"Waalaikumsalam. Kak Jinan. Astaga, kenapa baju Kakak darah semua." Ria menatap ke sekeliling Jinan. "Kak Ardo mana?"
"Em ...."
Saat merasa ada sesuatu yang aneh pada Jinan, Ria segera mengajak Jinan masuk ke dalam rumah tanpa menunggu Jinan menjawab pertanyaannya. Sepertinya sesuatu yang tidak baik sedang terjadi. Lebih baik ia membiarkan Jinan mengistirahatkan dirinya sejenak, setelah itu barulah ia bertanya apa yang sedang terjadi.
Ria membawa Jinan ke kamar tamu untuk Jinan membersihkan diri terlebih dahulu. Ia tidak mungkin membawa Jinan masuk ke kamarnya dengan keadaan seperti ini, karena di sana ada Ayla. Ayla pasti akan bertanya mengenai darah pada tubuh Jinan, dan itu pasti akan membuat gadis kecil itu khawatir terhadap mamanya. Meskipun masih berusia dua tahun, tapi gadis kecil itu sudah bisa mengerti akan hal-hal yang seperti itu.
"Aku akan ambilkan baju ganti untuk Kakak. Kakak mandilah dulu di sini, ya."
Saat Ria hendak membuka pintu kamar, Jinan memanggilnya dan membuat Ria kembali menatap Jinan.
"Apa susu Andy sudah habis, Ri?" tanya Jinan.
"Satu jam lalu masih setengah botol, Kak. Mungkin sekarang sudah habis. Nanti aku minta mama bawa Andy ke sini, ya."
Jinan menganggukkan kepalanya.
"Oh ya, nanti baju kotornya letakin aja di ember ya, Kak. Jangan sampai Ayla melihat noda darah di baju Kakak."
Ria segera meninggalkan Jinan di kamar tamu setelah Jinan mengangguk, sementara ia pergi ke kamar mamanya untuk memberitahu bahwa Jinan telah kembali. Setelah itu barulah ia kembali ke kamarnya untuk mengambil baju ganti untuk Jinan. Saat ia memasuki kamar, Ayla yang saat itu ada di kamarnya langsung berlari dan menubruk tubuhnya.
"Kakak, ponselnya mati," ujar Ayla dengan suara cadelnya sembari memanyunkan bibirnya yang lucu.
Ria menggendong Ayla dan meraih ponsel yang dipegang gadis kecil itu.
"Ayla sayang, main ponselnya sudah cukup, ya. Mama Ayla sudah pulang, nanti mama Ayla marah loh kalau lihat Ayla main ponsel lama-lama," seru Ria memberitahu.
Mendengar bahwa mamanya sudah pulang, mata Ayla langsung melebar dengan mulut menganga. Sedetik kemudian gadis kecil itu bersorak kegirangan dan meminta untuk segera bertemu mamanya.
"Baiklah. Tunggu sebentar ya, Kak Ria ambil baju untuk mama Ayla dulu."
Ria menurunkan Ayla dan segera mencari baju untuk Jinan kenakan. Setelah menemukan baju yang cocok untuk Jinan serta hijabnya, Ria segera mengajak Ayla ke kamar tamu.
Setiba di kamar tamu, ternyata Sila sudah ada di sana sedang menenangkan Andy yang sedang menangis. Sepertinya bayi tampan itu kehausan karena stok susu perahnya sudah habis.
"Adik Andy," teriak Ayla saat menyadari sosok adik bayinya itu ada di sana.
Ria menurunkan Ayla, dan gadis kecil itu langsung berlari menghampiri adik Andy-nya. Meski adik Andy-nya sedang menangis, tapi Ayla seolah tak mempermasalahkan itu, ia terus saja mengajak adiknya itu berbicara dan menciumi pipi gembul Andy.
__ADS_1
Sejak satu jam lalu Ayla sudah disibukkan di kamar Ria dengan ponsel yang Ria pinjamkan padanya, mungkin saja saat ini gadis kecil itu sedang merindukan adiknya yang tampan.
Tak lama setelah kedatangan Ria, kini pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok Jinan yang keluar dari sana dengan tubuh yang berbalut kain handuk. Melihat kedua buah hatinya ada di kamar itu, bagai sebuah keajaiban, tiba-tiba saja rasa lelah yang sangat mendalam ia rasakan tadi, kini pudar dengan seketika.
Mungkin benar kata orang. Selelah apapun kita, jika sudah bertemu sang buah hati, maka rasa lelah itu tidak akan ada artinya lagi.
"Mama," teriak Ayla saat melihat orang yang ditunggu-tunggunya sejak tadi kini telah ada di hadapannya.
Ayla berlari dan memeluk kaki Jinan, dan langsung disambut Jinan dengan senyuman manis. Jinan mengangkat tubuh Ayla dan segera menurunkan anaknya itu ke atas kasur.
"Mama, kenapa lama sekali pulangnya? Ay 'kan kangen," seru Ayla dengan memanyunkan bibirnya.
Jinan tersenyum. "Maaf ya, Sayang. Mama sama papa tadi ada urusan mendadak di luar."
"Papa mana?" tanya Ayla.
"Urusan papa belum selesai. Nanti kalau urusan papa sudah selesai, papa akan langsung pulang kok. Ayla sudah makan?" tanya Jinan mengalihkan pembicaraan.
"Sudah. Kak Ria yang suapin Ay tadi."
Jinan mengernyitkan keningnya. "Kakak?" Jinan menatap ke arah Ria, dan dibalas Ria dengan menyengir kuda.
"Aku ambil minum dulu untuk Kakak, ya," ujar Ria dan berlalu keluar kamar.
"Menolak tua katanya," sambut Sila kemudian.
Setelah Ayla menganggukkan kepalanya, Jinan mendekati Sila dan mengambil Andy yang masih menangis kecil.
"Maaf ya Mi, Jinan merepotkan Mami dan Ria sampai malam begini," ujar Jinan sembari mendudukkan tubuhnya di samping Sila, dan diikuti Ayla yang juga duduk disampingnya.
"Kenapa minta maaf? Mami senang kok dititipin Andy dan Ayla. Rumah ini jadi rame, nggak sepi lagi," sahut Sila. "Oh ya, gimana dengan Romi dan ibunya? Mereka marah nggak setelah mengetahui itu semua?"
Jinan menatap Sila dalam diam, lalu ia menurunkan pandangannya. Romi?
"Mas Romi ... dia ...."
Sila menyentuh lengan Jinan. "Yasudah, kita bahas itu nanti saja. Sekarang, mana Ardo? Kata Ria kamu pulang sendirian?"
"Dia ... di rumah sakit," ujar Jinan dengan volume yang sangat pelan.
"Rumah sakit?" Jinan mengangguk pelan. "Kenapa? Apa terjadi sesuatu dengan Ardo? Ria bilang baju kamu ada noda darah. Apa Ardo terluka, Jinan?" tanya Sila cemas.
"Mi," seru Jinan sembari melirik ke arah Ayla.
"Ah ya, maaf," sahut Sila.
...
__ADS_1
Setelah Andy menyusu dan tertidur, Jinan dengan ditemani Sila duduk di meja makan untuk melaksanakan makan malamnya yang tertunda. Sedangkan Ayla dan Ria menjaga Andy di kamar Ria.
Hampir sepuluh menit Jinan menyantap makan malamnya, kini Sila kembali menanyakan keberadaan Ardo dan juga kabar Romi sekeluarga setelah mendengar pengakuan Ardo.
"Mas Romi meninggal, Mi."
Jinan menundukkan kepalanya, sedangkan Sila terbelalak kaget. Meninggal? Bagaimana bisa?
Jinan menceritakan kejadian saat mereka berkunjung ke rumah Romi tadi. Jinan menceritakan semuanya tanpa ada sedikitpun yang dikurangi ataupun dilebih-lebihkan.
Sila sangat kaget saat mendengar cerita Jinan. Ia tahu, dengan sifat Romi yang seperti itu, pertengkaran pasti akan terjadi. Tapi ia tidak menyangka jika Romi sampai memiliki niat untuk membunuh Ardo. Dan lagi ... sekarang Romi sudah meninggal.
Sila memeluk Jinan, ia usap punggung wanita yang sudah dianggapnya anak itu untuk menenangkannya.
"Semua ini sudah takdir, Nak. Jangan menyalahkan Ardo, Romi, atau diri kamu sendiri. Semua sudah diatur oleh yang di atas. Kita do'akan saja semoga semuanya dilancarkan."
Jinan mengangguk dalam pelukan Sila.
...
Hampir jam dua belas malam, akhirnya Ardo sampai di rumah. Jinan yang memang tidak bisa tidur segera membantu suaminya itu membersihkan tubuhnya sebelum ia bertanya tentang apapun yang sebenarnya sangat ingin ia tanyakan.
Sembari menunggu Ardo yang sedang mengenakan pakaian, Jinan memanaskan sayur yang dibawanya dari rumah Ria untuk Ardo makan. Ia bahkan sampai menyuapi Ardo makan karena tak tega melihat suaminya itu yang kelelahan.
"Tante Linda bagaimana, Ar? Apa ada yang menemaninya di sana?" tanya Jinan memulai pembicaraan.
"Aurel yang menemaninya. Semua kerabatnya tidak bisa datang malam ini."
Jinan mengangguk. "Bagaiman lukamu? Apa sakit?"
"Tidak apa-apa. Ini tidak sakit," sahut Ardo. "Anak-anak bagaimana? Apa mereka baik-baik saja?"
"Mereka baik. Ayla tadi menanyakanmu, tapi sudah kujawab bahwa kamu sedang ada urusan diluar.
Ardo mengangguk. "Besok setelah subuh aku akan langsung ke sana. Minta tolong Ria untuk menjaga Andy sementara. Siapkan ASI yang cukup untuknya. Kamu dan Ayla menyusul setelah anak-anak bangun. Ayla harus bertemu Romi sebelum dia dimakamkan."
"Maafkan aku," ujar Jinan dengan mata berkaca-kaca. "Gara-gara aku, semua menjadi seperti ini."
Ardo membawa Jinan ke dalam rengkuhannya. "Tidak ada yang perlu disalahkan. Ini sudah menjadi jalan yang harus kita tempuh. Kita harus menjalaninya dengan ikhlas, Allah pasti sedang mempersiapkan sesuatu yang indah dibalik semua kejadian ini. Percayalah."
******
Tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys 😘
__ADS_1