Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 36


__ADS_3

"Kak El."


Elena menoleh menatap asal suara yang memanggilnya. Ia melihat Ria yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi.


"Ria, kenapa kak Rico tidur di sini?" tanya Elena. "Dan kenapa juga wajahnya babak belur begini? Dia berkelahi dengan siapa?"


"Aku juga kurang tahu, Kak. Aku tadi sedang di kamar mandi dan hanya mendengar ribut-ribut dari ruang tamu. Saat aku keluar, aku melihat kak Rico sedang dipukuli oleh kak Ardo."


"Ardo?"


Ria menganggukkan kepalanya.


"Kenapa Ardo memukuli kakakku?" tanya Elena heran.


"Aku juga tidak tahu, Kak."


Elena tampak bingung. Ada apa ini sebenarnya? Semalam Rico tidak pulang ke rumah, dan pagi ini pria ini sudah berada di rumah Jinan dengan keadaan yang sangat kacau.


"Tapi Kak Ardo tadi sempat bilang sama aku, kalau dia memukuli kak Rico karena ...."


Elena menaikkan kedua alisnya, menunggu kelanjutan dari ucapan Ria.


"Em, kak Ardo marah karena ia melihat kak Rico ingin melecehkan kak Jinan," ujar Ria ragu. Ia mengigit bibir bawahnya, takut apa yang Ardo sampaikan padanya itu tidak benar.


"Apa? Apa kau serius, Ri?" tanya Elena kaget.


"A ... aku tidak tahu, Kak," ujar Ria.


"Jinan di mana?"


"Di kamar. Katanya dia tidak mau keluar kamar sebelum ... sebelum kak Rico pulang."


"Jadi benar jika kak Rico ingin melecehkan Jinan?" tanya Elena lagi.


"Aku tidak tahu, Kak. Kak Jinan tidak mau cerita sama aku. Dia hanya diam saja setelah beberapa menit menangis."


Elena diam sejenak, kemudian ia bangkit dari duduknya untuk melihat keadaan Jinan di dalam kamar, dan diikuti oleh Ria dari belakang.


Di dalam sana, Jinan terlihat sedang mengajak main baby Ayla. Namun pandangan wanita itu terlihat kosong, hanya tangannya saja yang bergerak mengikuti gerakan tangan baby Ayla.


Elena melangkah memasuki kamar.


"Jinan," panggilnya, namun Jinan tak menyahuti panggilannya. Bahkan wanita itu mungkin tidak menyadari kedatangannya.

__ADS_1


Saat Elena duduk di pinggir kasur samping baby Ayla, Jinan masih tak menyadari kehadirannya. Sepertinya wanita itu sedang melamun. Saat Elena pindah duduk di belakang tubuh Jinan dan menepuk bahu wanita itu pelan, barulah wanita itu tersadar dari lamunannya.


"Elena," seru Jinan kaget.


"Apa yang kau lamunkan?" tanya Elena.


Jinan menatap Elena datar. "Em, tidak ada," serunya pelan.


"Jangan berbohong, Ji. Katakan, apa yang telah dilakukan kak Rico padamu," ujar Elena dengan raut seriusnya.


"Ah?" Jinan menatap Elena terkejut.


"Kenapa Elena bertanya seperti itu?" batinnya.


Mata Jinan tampak berkaca-kaca saat ia kembali mengingat kejadian satu jam lalu. Dengan cepat Jinan menengadahkan kepalanya ke atas agar air matanya tidak tumpah untuk kesekian kalinya.


Jinan menghela nafasnya, kemudian ia tersenyum tipis pada Elena.


"Em, tidak ada, El. Oh ya, ada apa kau ke sini?" tanya Jinan dengan maksud untuk mengalihkan pertanyaan Elena.


"Ada apa?" ujar Elena bingung. "Ada apa apanya? Kita 'kan mau ke restoran. Kenapa kau bertanya lagi?" ujar Elena mengingatkan.


Jinan membelalakkan matanya, ia terlupa jika saat ini ia harus pergi ke restoran bersama Ria dan Elena.


"Ria bilang, Ardo mengatakan padanya bahwa kau hampir dilecehkan oleh kak Rico. Apa benar?"


Jinan menatap ke arah Ria yang sedang duduk di samping baby Ayla, namun saat pandangan mereka bertemu, Ria langsung menundukkan pandangannya.


Saat Jinan menatap Elena kembali, saat itu juga matanya kembali berkaca-kaca. Dan sedetik kemudian, tangisnyapun akhirnya pecah juga. Elena menghela nafasnya, ia memeluk tubuh Jinan erat sembari mengusap pelan punggungnya.


Cukup lama Jinan menangis dalam pelukan Elena, sehingga membuat Elena yakin bahwa apa yang dikatakan Ardo pada Ria tentang perbuatan jelek Rico kepada Jinan memanglah benar.


Elena menghela nafas berulang kali untuk mengontrol emosinya akan apa yang sudah dilakukan kakaknya itu. Baru saja beberapa hari lalu Rico hampir membuat Jinan dalam bahaya, sekarang saat masalah itu sudah hilang, ia kembali memberi masalah baru pada Jinan. Masalah yang mungkin akan berakibat fatal pada hubungan pertemanan mereka.


"Sepertinya aku harus pulang, El," ujar Jinan tiba-tiba.


Elena mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Jinan. Ia menarik tubuhnya dari pelukan Jinan, kemudian ia menatap Jinan dengan raut bingungnya.


"Pulang?" tanya Elena.


Jinan menganggukkan kepalanya.


"Aku akan pulang ke Indonesia. Sepertinya Jerman tidak cocok untuk orang sepertiku," lirih Jinan.

__ADS_1


Ia kembali meneteskan air matanya saat mengingat kembali akan tujuannya ke sini, yaitu untuk meraih cita-citanya. Cita-cita yang telah dirancang sedemikian rupa oleh sang ayah untuknya sejak ia masih kecil. Tapi sayang, sepertinya Jinan tidak bisa melakukan apa yang diinginkan mendiang ayahnya. Ia gagal, bahkan sebelum ia memijakkan kakinya ke halaman tempat ia akan bersekolah nantinya.


"Kau ... kau mau pergi, Ji?" tanya Elena tak percaya.


Jinan menganggukkan kepalanya pelan namun penuh keyakinan.


"Tidak! Kakak tidak boleh pergi. Kakak sudah berjanji akan melanjutkan sekolah di sini bersamaku. Kakak tidak boleh pergi, Kak," ujar Ria yang tak setuju dengan perkataan Jinan. Dia di sini terpaksa kuliah hanya karena permintaan Jinan, tapi kenapa sekarang wanita itu malah ingin pulang, bahkan sebelum ia memulai kuliahnya.


"Kakak sudah tidak punya apa-apa lagi untuk bertahan hidup di sini, Ri. Dan Kakak juga merasa, Jerman bukanlah negara yang cocok untuk Kakak tinggal. Lebih baik Kakak pulang saja," ujar Jinan dengan menatap Ria sendu.


"Kakak mau ninggalin aku sendirian di sini? Kakak tega sama aku?" tanya Ria sedih.


Jinan menghampiri Ria dan duduk di samping wanita itu. Ia menggenggam erat tangan Ria sembari menatapnya dengan pandangan yang menenangkan. Ya, Jinan berusaha untuk membuat Ria tenang meski hatinya sendiri sedang dalam keadaan amburadul.


"Kamu tidak sendirian, Ri. Di sini ada keluarga kamu yang akan menemanimu. Kamu juga bisa pindah ke apartement Elena saat Kakak sudah pulang nanti. Di sana tempatnya lebih nyaman dan luas, bukan? Kamu akan betah di sana."


Ria menggelengkan kepalanya. "Kakak jahat sama aku. Kakak mau ninggalin aku di sini sendirian. Kakak gak sayang sama aku," lirih Ria sembari memeluk erat tubuh ramping Jinan.


***


Di rung tamu, Rico baru saja terbangun dari pingsannya. Ia memijat kepalanya yang terasa pusing.


Ssssshhh ...


Rico mendesis kesakitan saat tangannya tak sengaja menyentuh pelipisnya.


"Sial," umpat Rico saat ia mengingat kejadian beberapa menit lalu saat Ardo memukulinya.


"Kenapa juga aku harus bersikap seperti itu pada Jinan. Aayyss Jinan pasti akan semakin menjauhiku. Sial, bodoh kau Rico," gumam Rico yang tak hentinya mengumpati dirinya sendiri.


Pandangan Rico kini menuju pada pintu kamar Jinan yang tertutup. Ia ingin sekali menemui wanita itu untuk minta maaf atas perlakuannya yang tidak seharusnya ia lakukan. Apalagi ia melakukannya pada Jinan, wanita sholehah yang tak seharusnya mendapatkan perlakuan tak pantas seperti itu.


Rico berdiri dan hendak berjalan menuju kamar Jinan, namun baru saja ia berjalan dua langkah, tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat melihat pintu kamar itu terbuka. Ia melihat Elena keluar dari kamar itu seorang diri.


"Elena," gumam Rico. Ia cukup terkejut melihat kehadiran adik perempuannya di sana.


   


  


******


Tengkyu sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘

__ADS_1


__ADS_2