
Jerman. 01:45 AM.
Sebuah senyum manis mengembang sempurna pada bibir tipis seorang wanita cantik yang baru saja melahirkan seorang bayi lelaki tampan pada dua hari yang lalu. Wanita tersebut tak lain ialah Jinan.
Ia tersenyum bahagia karena melihat seorang pria asing yang kini telah menjadi suaminya sedang tertidur di sofa yang tak jauh dari ranjang tempatnya berbaring. Suaminya itu terlihat jelas jika sedang kelelahan karena sudah dua malam ini tidak bisa tidur jika ia dan anaknya belum terlelap. Di tambah dengan pekerjaan yang harus dilakukan di sela tugasnya menjaga dua orang tercintanya itu, membuat tenaga Ardo terkuras habis.
Di saat sedang asik-asiknya memandang wajah lelah suami tampannya, tiba-tiba saja bayi kecil yang tengah berbaring di samping Jinan menangis kencang. Membuat Jinan yang ada di sana terlonjak kaget dengan tangisan tersebut.
"Ululuu, anak Mama kenapa? Lapar ya, Sayang?" ujar Jinan dengan suara pelan pada bayi tampannya itu.
Dengan cepat Jinan segera memberi ASI pada bayinya itu agar tidak terus menangis dan membuat suaminya yang baru saja dua jam terlelap itu terbangun. Namun apa mau di kata, saat mendengar suara lengkingan bayi mungil itu selama beberapa detik, ternyata Ardo menyadari hal tersebut dan membuatnya terbangun dari nyamannya terlelap.
"Ada apa dengan Andy, Sayang?" ujar Ardo dengan suara parau khas bangun tidurnya sembari menyebut nama anak lelakinya.
Jinan menatap Ardo dengan terkejut. "Ar, kenapa kau bangun?"
"Aku mendengar suara anak kita menangis, aku takut terjadi sesuatu dengan kalian berdua," ujar Ardo sembari mendudukkan tubuhnya di ujung kasur samping kaki Jinan.
Jinan tersenyum tipis seraya meraih tangan kanan Ardo yang ada di atas pahanya. "Tidak apa-apa. Andy hanya haus saja, Sayang. Kau tidurlah lagi. Ini masih jam 2 pagi."
"Aku akan menunggu sampai kalian tidur."
"Ar. Apa kau tidak mencintaiku dan anak kita?"
Ardo mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan dari Jinan yang menurutnya aneh itu.
"Maksudmu apa?" tanya Ardo bingung.
__ADS_1
"Kau tahu. Sudah dua harian ini kau itu sangat kurang istirahat, Ar. Jika kau paksakan terus seperti ini, kau akan sakit. Bayangkan saja jika kau sakit. Kau akan di rawat dan harus istirahat total. Jika kau harus dirawat, bagaimana dengan pekerjaanmu? Dan juga, siapa yang akan menemaniku menjaga Andy dan mengajak Ayla bermain? Apa kau tidak ingin menemaniku menjaga Andy di malam hari? Apa kau tidak mau mengajak Ayla bermain lagi? ... Apa kau tidak menyayangi kami lagi, Ar?"
Ardo melepas genggaman tangan Jinan pada tangannya, lalu ia genggam balik tangan wanita yang ia cintai itu sembari menghela nafasnya.
"Sayang, jangan berkata seperti itu lagi. Kau tahu bahwa aku sangat mencintaimu dan keluarga kecil kita ini, kan? Aku melakukan semua ini karena aku ingin memastikan sendiri bahwa kalian beristirahat dengan baik. Aku tidak mau kau kelelahan–"
"Ar, Sayang. Stop," sela Jinan pada ucapan Ardo. "Dengar. Ini bukan yang pertama untukku, Ar. Apa kau ingat saat aku menceritakan bagaimana pengalaman pertamaku menjaga Ayla di Jerman bersama Ria? Saat itu kita berdua sering begadang hanya untuk menjaga Ayla di malam hari. Tapi kita juga tidak sampai melupakan waktu untuk kita beristirahat. Begitu juga denganmu Ar, kau boleh menjaga kami dengan semaksimal mungkin, tapi kau tidak boleh melupakan kesehatanmu. Jika kau sakit, kau akan membuatku sedih dan merasa bersalah–"
"Sayang. Oke, oke aku istirahat. Tapi please, stop. Jangan berkata seperti itu lagi, ya," sela Ardo balik karen tak ingin mendengar omelan istrinya itu yang akan membuatnya bersedih.
"Beneran?" tanya Jinan memastikan.
"Ya. Tapi kau harus janji, kau harus segera tidur setelah Andy tertidur."
"Kalau aku belum ngantuk, bagaimana?"
Jinan tertawa pelan melihat wajah serius Ardo yang terlihat lucu di matanya. "Iya, iya, setelah ini aku akan segera tidur, Suamiku. Yasudah kau istirahat sana, nanti keburu adzan subuh berkumandang."
Ardo menghela nafasnya sejenak. "Yasudah aku tidur lagi, ya."
Jinan menganggukkan kepalanya sebelum Ardo mengecup keningnya dan berkata 'i love you' dengan suara pelan.
Kemudian pandangan pria itu beralih pada bayi laki-laki di samping Jinan yang sedang meneguk susunya itu. "Bye, anak Papa. Jangan membuat Mamamu begadang ya, Sayang. Aku mencintaimu," ucapnya sebelum mengecup kening anak lelakinya.
Sebelum Ardo kembali ke kasurnya, ia usap lembut pucuk kepala Jinan dengan sayang. Sebenarnya ia tidak tega jika harus tidur lebih dulu dan meninggalkan istrinya sendirian menjaga anak mereka. Tapi di sisi lain ia juga sangat lelah dan mengantuk. Ia benar-benar tidak bisa istirahat dengan baik dalam beberapa hari belakangan ini. Entahla apa yang membuatnya tidak bisa beristirahat, padahal saat Huri melahirkan dulu, ia dan Aslan tidak sampai kelelahan seperti ini.
...
__ADS_1
Keesokan harinya setelah Jinan dan Andy diperiksa oleh Dokter, kini Jinan sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Ia bersama sang suami dan kedua mertuanya saat ini sudah berada di dalam mobil menuju kediaman mereka.
"Oh ya Jinan, Mama lupa memberitahumu sesuatu," ujar Elif di tengah perjalanan mereka.
"Kenapa, Ma?" tanya Jinan.
"Untuk sementara ini, kau dan Ardo pindah ke kamar bawah dulu ya, Sayang. Kemarin malam kamar baru kalian sudah dibereskan oleh Huri, Cemile, dan Ayla. Mereka sudah tidak sabar menanti kepulanganmu hari ini."
"Kenapa repot-repot, Ma? Jinan tidak apa-apa kok di kamar atas saja."
"Tidak, Sayang. Kau 'kan baru saja melahirkan, tidak baik jika harus naik turun tangga. Apalagi nanti pasti banyak yang mengjengukmu, tidak mungkin jika mereka semua masuk ke dalam kamar kalian. Dan tidak mungkin juga jika kau yang harus turun ke bawah, Sayang."
"Iya, Ji. Lebih baik kita pindah kamar dulu untuk sementara hingga jahitanmu kering sempurna. Di sini juga tidak ada yang merasa di repotkan kok, kita semua enjoy melakukan itu, Sayang," ujar Ardo yang menyetujui ucapan Mamanya.
"Baiklah. Jinan ikut saja, Ma," ujar Jinan menurut.
Setiba mereka di halaman rumah, terlihat di sana berjejer mobil-mobil yang sebagiannya tidak Jinan kenali. Saat hendak memasuki rumah, sayup-sayup suara orang yang sedang berbincang dan tertawa membuat Jinan merasa bahwa di dalam rumah tersebut sedang sangat ramai.
"Ramai sekali, Ar. Siapa yang datang?" tanya Jinan pada suaminya yang sedang merangkul pinggangnya.
"Lihat saja," jawab Ardo tak membuat rasa penasaran Jinan berkurang.
******
__ADS_1
Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys 😘