
Pukul 17.05 Jinan baru keluar dari ruangannya dengan beberapa lembar kertas di tangannya, sedangkan baby Ayla ia tinggal di dalam ruangannya bersama dua orang pegawai wanitanya. Sedari Jinan keluar dari ruangannya hingga ia mendudukkan tubuhnya di kursi meja bundar samping Ria dan Elena, Ardo terus saja menatapnya tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun. Jujur, Jinan merasa sangat risih ditatap seperti itu.
"Bisa kau berhenti menatapku seperti itu? Aku tidak nyaman," ujar Jinan.
Ardo tersenyum tipis. "Oke," jawabnya.
Entah apa maksud dari 'oke' yang Ardo katakan, karena setelah menjawab ucapan Jinan, pria itu masih saja menatap wajah Jinan tanpa mengalihkan pandangannya barang sedetikpun. Bahkan saat menandatangani beberapa surat pentingpun Ardo sempat-sempatnya mencuri pandang pada Jinan.
"Aku bilang, berhenti menatapku seperti itu," ujar Jinan lagi.
"Oke," jawab Ardo dengan kata yang sama. Dan dengan perlakuan yang sama juga, Ardo masih saja memandang Jinan seperti sebelumnya.
"Jika kau terus menatapku seperti itu, kita batalkan saja jual beli restoran ini," ujar Jinan yang mulai kesal.
Ardo mengangkat kedua tangannya ke atas. "Oke, maafkan aku."
Dua puluh menit sudah mereka duduk di sana dengan Jinan dan Ardo yang menjadi pemeran utama dalam transaksi jual beli tersebut. Sedangkan Ria dan Elena hanya duduk diam sembari menyaksikan berlangsungnya serah terima segala macam surat-menyurat yang bersangkutan dengan restoran itu.
"Kenapa kau datang sendirian?" tanya Jinan setelah semua proses serah terima baru saja selesai.
"Memangnya aku harus datang dengan siapa?" tanya Ardo.
"Apa kau tidak ingin membawa saksi dalam transaksi ini?" tanya Jinan lagi.
"Untuk apa?" tanya Ardo balik.
"Sebagai saksi saja."
"Aku tidak membutuhkan itu."
"Jika kau tidak memiliki saksi, aku bisa saja menipumu dengan memalsukan surat kepemilikan ini atau yang lainnya," ujar Jinan yang sedang memegang satu lembar kertas berwarna putih.
Ardo menarik salah satu sudut bibirnya. "Tidak masalah."
Jinan, Ria, dan Elena menatap heran akan jawaban Ardo.
"Karena aku percaya bahwa wanita salihah sepertimu tidak akan melakukan hal buruk semacam itu," lanjut Ardo.
Setelah beberapa detik mereka saling pandang, akhirnya Jinan menundukkan pandangannya karena tersadar akan tingkahnya yang memalukan.
Setelah semua berkas selesai ditandatangani kedua belah pihak, Jinan langsung menyerahkan semua berkas-berkas yang berurusan dengan restoran tersebut kepada Ardo. Namun meski berkas tersebut sudah menjadi milik Ardo, tapi Jinan masih memiliki hak atas restoran itu selama lima hari kedepan. Ya, Ardo sengaja memberi waktu lima hari kepada Jinan untuk menyelesaikan segala macam urusannya di sana termasuk untuk berpamitan dengan anak-anak restoran.
Lima belas menit sebelum adzan maghrib berkumandang, mereka segera membubarkan diri untuk bersiap melaksanakan sholat maghrib. Ria, Jinan, dan Elena melaksanakan ibadahnya di dalam ruangan Jinan, sedangkan Ardo sholat bersama pegawai lainnya di mushola restoran.
Ardo sengaja sholat di sana karena satu jam lagi ia akan ikut makan malam bersama Jinan, Ria, dan Elena. Sebenarnya dari awal Jinan sempat menolak keputusan dari Ria dan Elena yang ingin mengajak Ardo untuk makan malam bersama mereka. Namun sepertinya kedua wanita itu kekeh sekali ingin mengajak Ardo makan malam bersama.
__ADS_1
Jinan tidak menyangka jika kedua temannya itu ternyata sangat antusias sekali untuk mendekatkan dirinya dengan Ardo, padahal baru saja ia mengatakan untuk membuka hati, tapi kedua wanita itu sudah bergerak cepat saja dalam bertindak. Dan dengan berat hati, akhirnya Jinan mengikuti saja permainan yang dimainkan oleh Ria dan Elena. Ia hanya bisa berharap semoga semua hal buruk yang pernah menimpanya sebelumnya tidak akan pernah terulang lagi.
Setelah melaksanakan ibadah maghribnya, Jinan, Ria, Elena serta baby Ayla keluar dari ruangan menuju meja yang sebelumnya mereka duduki tadi. Di atas meja itu sudah tersedia berbagai macam menu makanan yang sebelumnya telah dipesan Jinan melalui pegawai restorannya yang tidak sholat.
Baru saja mereka mendudukkan tubuhnya dikursi, dari arah tangga yang menuju ke lantai dua terlihat sosok Ardo yang berjalan ke arah mereka dengan sebagian rambut bagian depannya yang terlihat basah. Ria dan Elena menatap kagum pada sosok pria asal Turkey itu, mereka sepertinya tampak terpesona dengan wajah tampan Ardo yang terlihat lembab karena sentuhan air wudhu.
Tidak hanya Ria dan Elena saja ternyata yang terpesona akan ketampanan Ardo, tapi Jinan juga merasakan hal yang sama dengan kedua temannya itu. Namun beberapa detik kemudian Jinan segera menundukkan pandangannya saat pandangan matanya bertemu dengan Ardo.
"Astaga, apa yang sudah aku lakukan. Memalukan sekali," batin Jinan.
Setelah Ardo sampai di meja para wanita itu, Elena bangkit dari duduknya dan pindah ke kursi kosong yang ada di sampingnya. Ia sengaja membiarkan Ardo duduk di samping Jinan -tepatnya di samping stroller baby Ayla- berharap mereka bisa cepat beradaptasi satu sama lain.
"Astaga, mereka sudah seperti sepasang suami istri yang akan melaksanakan makan malam bersama anaknya yang masih balita," batin Ria saat melihat Jinan, baby Ayla, dan Ardo yang duduk berdampingan.
"Aku yakin, siapapun wanita yang akan menjadi istrimu nanti pasti tidak akan menyesal. Sudah tampan, baik, rajin ibadah lagi," puji Elena pada Ardo dengan tiba-tiba.
"Aku tidak sebaik itu. Semenjak jauh dari keluarga, aku jarang melaksanakan ibadah. Aku bahkan lupa kapan terakhir sholat," ujar Ardo.
"Apa!" pekik Ria dan Elena karena terkejut.
Jinan pun begitu, ia cukup terkejut dengan perkataan Ardo, namun ia tidak sampai memekik seperti kedua temannya itu.
"Kakak serius?" tanya Ria.
Ardo menganggukkan kepalanya yakin tanpa beban sedikitpun.
Ria menganggukkan kepalanya. "Kak Ardo ternyata punya nilai minus di mata Kak Jinan," tambah Ria.
"Apa kau keberatan jika aku jarang sholat?" tanya Ardo pada Jinan.
"Ah?"
Ardo menaikkan kedua alisnya.
"Em, sholat adalah tiang agama. Sebagai seorang lelaki yang akan menjadi imam bagi keluarganya kelak, seharusnya ia bisa menjadikan dirinya sebagai contoh yang baik bagi keluarganya. Terutama dalam urusan agama. Karena itu sangat penting untuk kita di akhirat nanti."
Ardo tersenyum tipis. "Aku hanya bercanda."
Jinan menatap Ardo dengan mengernyitkan keningnya. Bercanda?
"Jangan bercanda. Kau benar-benar tidak pernah ibadah ya?" tanya Elena.
"Aku hanya bercanda, Elena. Dari kecil aku selalu dididik oleh orang tuaku untuk lebih mementingkan Tuhanku dibandingkan kepentingan duniawi. Ya, meski sesekali aku kadang melewatkan waktu sholat karena hati ini masih dipenuhi dengan duniawi. Maklum saja, aku masih manusia normal yang hidup di tengah-tengah mayoritas non-muslim. Godaan syaiton sangat sulit untuk dilawan," ujar Ardo dengan menatap Elena.
Ria dan Elena hanya manggut-manggut saja, mereka cukup mengerti maksud dari perkataan Ardo karena mereka sendiri juga termasuk tipe yang sama. Namun tak ada yang menyadari senyum tipis Jinan dari mereka bertiga saat Ardo berkata tadi.
__ADS_1
Sebelum ada yang melihat, Jinan merubah raut wajahnya sedatar mungkin. Jangan sampai ada yang melihat ia tersenyum, bisa malu dia, pikirnya. Saat Jinan hendak meraih air mineral di atas meja, tiba-tiba saja pergerakannya terhenti saat mendengar ucapan Ardo.
"Apa kau ingin aku menjadi imammu?" tanya Ardo yang berhasil membuat pipi Jinan bersemu merah.
Kenapa juga dia harus malu mendengar pertanyaan konyol Ardo. Bukankah sebelumnya Ardo sudah pernah mengatakan hal yang sama, meski dengan kalimat yang berbeda.
Jinan menghela nafasnya untuk menenangkan perasaannya. "Berhentilah mengatakan hal konyol. Makanlah dengan benar, atau kau bisa pergi sekarang juga," ujar Jinan tanpa menatap ke arah Ardo.
Ardo mengedikkan bahunya mendengar perkataan Jinan. Ia yakin jika Jinan saat ini salah tingkah dengan ucapannya. Tapi jujur, ia sangat senang bisa membuat Jinan salah tingkah seperti itu, dibandingkan beberapa waktu sebelumnya saat wanita itu bersikap cuek dan terkesan tak memedulikan kehadirannya.
Makan malam kali ini terlihat begitu canggung karena Ardo terus-terusan menyantap makan malamnya sambil menatap ke arah Jinan. Pria itu bahkan tidak sungkan lagi untuk menunjukkan rasa ketertarikannya pada Jinan dengan menawarkan berbagai menu makanan yang ada di atas meja pada Jinan.
"Bisa tidak kau fokus saja dengan makananmu? Jika aku mau, aku akan ambil sendiri," ujar kepada Ardo.
"Aku melihatmu seperti ragu untuk mengambil makanan, aku pikir kau malu," ujar Ardo yang berhasil membuat Ria dan Elena tertawa pelan.
Saat pandangan mereka tak sengaja bertemu dengan pandangan Jinan, mereka langsung saja menghentikan tawanya.
"Maaf," ucap Elena pelan.
Jinan menghiraukan perkataan Ardo, ia lebih memilih untuk melanjutkan kembali makan malamnya yang sempat tertunda. Sebenarnya ia tidak malu atau ragu untuk mengambil makanan di atas meja. Hanya saja ia sedikit tak nyaman karena adanya orang lain yang duduk di sampingnya dan ikut makan malam bersamanya tidak dalam rangka apapun.
Belum lama ia menyantap makanannya, baby Ayla tiba-tiba saja menangis. Jinan meletakkan sendok makannya di atas piring, lalu ia meraih baby Ayla yang masih di dalam stroller dan menggendongnya dengan masih dalam posisi duduk di kursinya. Saat Jinan masih menenangkan baby Ayla yang hendak tertidur, tiba-tiba saja sebuah sendok yang sudah berisi makanan terlihat berhenti di depan wajahnya. Ia melihat ke arah Ardo yang sedang menyodorkan sesendok makanan padanya dan berniat untuk menyuapinya.
"Makanlah," ujar Ardo.
"Tidak perlu. Makanlah saja, aku akan melanjutkan makanku setelah baby Ayla tertidur," tolak Jinan.
"Itu akan membutuhkan waktu, sementara makananmu saat itu akan menjadi dingin. Itu tidak akan enak lagi untuk dimakan."
"Tidak masalah, terima kasih," tolak Jinan untuk yang kedua kalinya.
"Kak Ardo makanlah saja, Kak Jinan bisa makan sendiri kok. Sebentar lagi juga baby Ayla akan tertidur," ucap Ria tiba-tiba.
Untuk yang satu ini Ria cukup mengerti batasan yang selalu Jinan terapkan pada dirinya yaitu, tidak boleh terlalu berlebihan jika berhubungan dengan pria yang bukan mahramnya. Seperti halnya yang dilakukan Ardo saat ini yang ingin menyuapi Jinan. Menurut Jinan, hal itu sudah sangat berlebihan untuk ukuran seorang teman.
...
Acara makan malam bersama pada malam hari ini berjalan dengan lancar, meski Jinan sendiri tidak banyak mengeluarkan suaranya dalam setiap perbincangan mereka. Sepertinya wanita itu masih belum terbiasa dengan kehadiran Ardo dalam acara santainya. Apalagi saat itu Ardo sangat menunjukkan sekali rasa ketertarikannya padanya. Dan itu sangat membuat Jinan tidak nyaman dengan perlakuan Ardo.
******
__ADS_1
Tengkyu sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘