Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 23


__ADS_3

"Ya, bunga itu aku yang sengaja mengirimnya untukmu. Dan dengan sengaja pula bunga itu kau buang ke kotak sampah," jawab Ardo.


"Untuk apa kau mengirimiku bunga mawar?" tanya Jinan.


"Bukankah sudah kubilang, bahwa aku mencintaimu. Aku ingin menikah denganmu, Jinan. Bunga mawar itu adalah salah satu ungkapan rasa cintaku padamu."


Jinan menaikkan alisnya, ia terlihat keheranan akan jawaban pria itu.


"Jadi menurutmu bunga mawar adalah lambang cinta seseorang untuk orang yang dicintainya?"


Ardo menganggukkan kepalanya. "Bukankah semua wanita akan merasa dicintai saat ada seorang pria yang memberinya bunga mawar merah?"


Jinan ternganga akan ucapan Ardo. Dari mana pria ini mendapatkan statement seperti itu? Mana ada juga lambang cinta hanya berupa setangkai bunga mawar, pikir Jinan.


Saat Jinan hendak menyahuti ucapan Ardo, tiba-tiba suara tangisan baby Ay yang ada di ruangan pribadinya terdengar di telinga Jinan.


"Baiklah Tuan Ardo, sepertinya pembicaraan tidak penting kita ini sudah selesai. Maaf, saya harus segera menenangkan anakku."


Jinan bangkit berdiri hendak meninggalkan Ardo, namun langkah wanita itu terhenti saat Ardo memanggil namanya.


"Aku akan terus menemuimu sampai kau mau menerimaku, Jinan. Aku akan membuktikan keseriusanku padamu," ujar Ardo dengan wajah seriusnya.


"Semoga berhasil," sahut Jinan. Kemudian ia pergi dari sana menuju ruangan pribadinya.


Ardo menghela nafasnya berat. "Apa yang salah dengan niat baikku? Kenapa dia selalu mengabaikan lamaranku?" gumam Ardo pelan.


Trriiinngg ... Trriiinngg ...


Ponsel di dalam saku celana Ardo berdering, pertanda ada panggilan masuk.


"Papa," gumam Ardo saat melihat nama ayahnya pada layar ponselnya.


Klik.


"Halo, Pa."


"Assalamu'alaikum," ujar seorang pria paruh baya di seberang sana.


Ardo menghela nafasnya sembari memutar bola matanya malas. "Wa'alaikumsalam."


"Kebiasaan sekali kau ini."

__ADS_1


"Maaf Pa, aku lupa," sahut Ardo malas.


"Kau itu selalu lupa jika mengucap salam. Kau itu orang islam, Ardo. Dan mengucapkan salam itu sangat penting."


"Iya iya, aku tahu, Pa. Papa kenapa menelfonku?" tanya Ardo mengalihkan pembicaraan.


"Kapan kau akan pulang? Ini sudah satu bulan lebih kau mengundur waktu pulangmu. Apa kau tidak berminat akan bisnis ini?" ujar ayah Ardo kesal pada anak bungsunya itu.


"Aku akan pulang setelah mendapatkan wanita yang kuincar," jawab Ardo.


"Berhenti bermain-main, Ardo. Kau itu memiliki kakak perempuan, bagaimana jika kakakmu yang dipermainkan oleh pria semacam dirimu?"


"Apa maksud Papa? Aku tidak sedang bermain-main, Pa. Aku saat ini memang sedang berjuang untuk mendapatkan hati seorang wanita yang akan menjadi istriku kelak."


"Papa tidak akan setuju jika kau menikah dengan wanita yang tidak benar, Ar."


"Tenang saja, kalian akan menyukai wanita ini. Sudahlah, aku sedang ada urusan saat ini, aku tutup dulu. Assalamu'alaikum."


Ardo memutuskan panggilannya sebelum ayahnya menjawab salam darinya.


***


Di ruang pribadi milik Jinan yang ada di restorannya. Setelah memberi ASI pada baby Ayla yang kelaparan, kini ia dan Ria sedang melakukan panggilan video bersama kedua orang tua Ria. Meski hampir setiap hari mereka telfonan, namun reaksi kedua orang tua Ria selalu saja antusias saat melihat baby Ayla yang menggemaskan.


"Iya, nanti kalau ada waktu kita ke sana ya, Sayang. Sekarang Mami masih harus menemani Papi kalian mengurus cabang baru kantornya di luar kota, jadi masih sibuk."


Jinan dan Ria hanya mengiyakan ucapan Sila. Lagian Jerman itu tidaklah dekat. Butuh waktu yang lebih untuk mereka jika harus ke sini. Tidak mungkin jika mereka ke sini hanya dua atau tiga hari doang.


Setelah selesai dengan panggilannya, Jinan menitipkan baby Ay pada Ria. Sedangkan ia sendiri pergi ke kamar mandi untuk buang air.


Lima menit kemudian, Jinan baru kembali ke rungan pribadinya. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat Ria yang menatapnya penuh curiga.


"Kenapa, Ri?" tanya Jinan.


"Kakak ngapain pasang alarm buat ngingetin kirim foto ke mas Romi?" tanya Ria menuntut jawaban.


"Alarm?" gumam Jinan pelan. "Astaga, Kakak lupa kalau harus mengirim foto baby Ayla pada mas Romi," ujar Jinan kemudian.


Saat ia ingin mengambil ponselnya yang ada di atas sofa, Ria justru malah meraih ponsel itu lebih dulu.


"Kakak jawab pertanyaan aku dulu. Kenapa Kakak memasang alarm hanya untuk mengingatkan Kakak mengirim foto baby Ayla ke mas Romi? Apakah sepenting itu? Apakah Kakak masih mengharapkan mas Romi akan kembali pada Kakak dengan menjadikan baby Ayla sebagai jembatan bagi hubungan kalian?" ujar Ria menuduh dengan segala prasangkanya.

__ADS_1


"Astaga, Ria. Kamu kenapa sih? Kakak hanya mengirim foto Ayla pada ayahnya saja, tidak lebih. Lagi pula Kakak sudah berjanji akan memberitahu mas Romi tentang perkembangan anaknya. Mas Romi berhak tau, Ri. Dia adalah ayah kandung Ayla."


"Dia memang ayah kandung Ayla, Kak. Tapi dia tidak berhak untuk mendapatkan kabar rutin seperti ini mengenai perkembangan anak Kakak. Dia itu sudah berselingkuh, tidak pantas untuknya mendapatkan ini semua. Kakak boleh saja berbuat baik, tapi please jangan bodoh," ujar Ria dengan emosi.


Ia tidak habis pikir, kenapa Jinan sampai sepeduli itu pada pria yang telah mengkhianatinya. Seharusnya dia membuang jauh-jauh nama Romi di hidupnya. Bukan malah kembali mendekatkan diri dengan cara seperti ini.


"Ri, kenapa kamu jadi emosi begini? Kakak tidak ada niatan apa pun selain memberi kabar Ayla pada ayahnya. Itu saja."


"Ada atau tidaknya niatan itu, aku nggak suka, Kak. Kakak itu sudah aku anggap seperti Kakak kandungku sendiri. Jadi aku nggak mau kalau Kakak sampai berbuat hal yang akan merugikan diri Kakak. Aku nggak mau itu."


Jinan tersenyum pilu. Ia mendudukkan tubuhnya di sofa samping Ria, lalu ia peluk tubuh Ria dengan sayang.


"Terima kasih. Kakak tahu kamu sayang sama Kakak," ucap Jinan sembari memeluk erat tubuh itu.


Kemudian Jinan menarik tubuhnya agar ia bisa saling berhadapan dengan Ria. "Tapi kamu juga harus mengerti posisi Kakak, Ri. Kakak ditinggal pergi oleh kedua orang tua Kakak saat usia Kakak masih empat belas tahun. Saat itu Kakak merasa hancur karena kehilangan sosok terbaik di hidup Kakak. Kakak merasa kesepian, Ri. Saudara Kakak meninggalkan Kakak sendiri. Meski ada tante Linda, sosok orang tua tidak akan pernah bisa tergantikan." Jinan menjeda kalimatnya sejenak.


"Bagaimana dengan Ayla, Ri? Sedari ia masih di dalam perut, Ayla sudah kehilangan salah satu orang tuanya. Bahkan saat ia lahirpun, sosok itu masih tidak pernah ia rasakan. Kamu bayangkan, bagaimana sedihnya Ayla jika ia tidak bisa merasakan kasih sayang seorang ayah selamanya? Kehadiran kalian dan aku sebagai seorang ibu tidak akan cukup untuk seorang anak, Ri. Ayla akan tetap membutuhkan sosok seorang ayah di hidupnya."


Air mata Jinan akhirnya banjir juga saat ia mengatakan isi hatinya pada Ria. Sebenarnya ia memang tidak mau lagi berhubungan dengan keluarga dari mantan suaminya itu. Tapi anaknya? Bagaimana anaknya akan mengenal ayah kandungnya jika ia sendiri yang menjauhkan mereka? Saat Ayla sudah bersekolah nanti, Ayla pasti akan bertanya-tanya tentang keberadaan ayahnya padanya saat melihat teman-temannya yang diantar jemput oleh ayah mereka.


Meski ia menikah lagi dan Ayla memiliki ayah sambung pun, sosok ayah kandung masih akan tetap dibutuhkan. Apalagi Ayla adalah seorang wanita, dia pasti akan membutuhkan walinya jika ingin menikah nanti. Dan Jinan tidak mau mengenalkan anaknya saat Ayla sudah dewasa. Biarla mereka mengenal sedari sekarang, meski pertemuan mereka hanya melalui ponsel saja.


"Tapi mas Romi sudah memilih wanita lain, Kak. Dia mungkin sekarang sudah memiliki anak bersama wanita itu. Aku takut Ayla akan diabaikan oleh ayahnya sendiri," ucap Ria yang sudah tak bisa menahan air matanya.


Jinan mengusap air matanya yang membasahi pipi, meski air mata itu tetap saja mengalir tak berhenti.


"Biarlah itu menjadi urusan Allah, Ri. Apapun yang terjadi nanti, Kakak harap mas Romi tidak akan mengecewakan Ayla," ujar Jinan berat. Sebenarnya itu cukup takut jika suatu saat Ayla tidak akan mendapatkan pengakuan dari ayah kandungnya. Tapi mau bagaimana lagi? Lebih baik ia meyesal karena telah mencoba, dari pada menyesal karena tidak pernah mencoba.


Ria memeluk Jinan erat. Kenapa cobaan seperti ini selalu datang kepada orang baik seperti Jinan?


"Semoga Kakak segera mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari pada mas Romi. Aku tidak akan membiarkan Kakak tersakiti untuk yang kesekian kalinya. Aku sayang Kakak," batin Ria haru.


Setelah cukup lama berdrama dengan air mata, kini Jinan dan Ria mengelap wajahnya yang basah dengan tisu. 


"Nih." Ria menyodorkan ponsel Jinan yang diambilnya tadi. Ia memang tidak berhak mengatur hak privasi Jinan. Tapi rasa sayangnya akan Jinan sebagai kakak perempuannya membuat Ria tak rela jika Jinan harus kembali pada pria br3ngsek itu.


Jinan tersenyum lalu menerima ponsel itu. Dengan segera ia menghadap baby Ay yang sedang rebahan di sofa belakang punggungnya.


"Ududu, anak Mama dipungungi ya? Maafin Mama ya, Nak." Jinan mencium pipi gempal Ayla dengan sayang, kemudian ia memotret baby Ayla dan langsung mengirim hasil foto itu pada Romi melalui pesan whatsapp dengan nomor ponsel yang pernah ia gunakan untuk mengirim foto baby Ayla satu bulan lalu. Tak lupa pesan singkat ia sematkan setelah mengirim foto itu.


******

__ADS_1


LIKEEE dan VOTEE nya mana nih 😍


__ADS_2