
"Berikan aku nomor ponsel Romi. Aku akan menanyakan keberadaan Ayla padanya," ujar Ardo pada Jinan.
Jinan menarik tubuhnya dari pelukan Ardo, setelah mengusap pipinya yang terdapat satu tetes air mata, ia berjalan ke samping kasurnya untuk mengambil ponselnya yang ada di atas nakas. Ia mencari kontak bernama Romi dan memberikan ponselnya pada Ardo agar suaminya segera menghubungi Romi.
Tuut ... Tuut .. Tuut ...
Panggilan pertama tidak ada jawaban.
Tuut ... Tuut ... Tuut ...
Saat panggilan kedua tidak ada jawaban, Ardo menghela nafasnya kasar. Hingga sampai panggilan keempat juga tidak ada jawaban, Jinan dan Ardo kini mulai terlihat panik.
"Sial, ke mana pria itu," batin Ardo.
"Ayo kita tunggu mereka di depan saja," ujar Ardo dan diiyakan Jinan.
Mereka duduk di kursi kayu sembari menatap kesana kemari, namun ternyata tak ada sedikitpun tanda-tanda kehadiran sosok Romi ataupun kedua orang tuanya di sekitar kediaman Jinan. Dan hal itu sungguh membuat Jinan cemas.
Ia bukannya tidak ingin memercayai keluarga Romi atas diri anaknya, karena ia percaya bahwa Romi dan kedua orang tuanya tidak akan berbuat hal yang akan merugikan darah dagingnya sendiri. Namun hanya saja ... ia merasa sedikit tidak nyaman saja akan keadaan anaknya saat ini. Entah bagaimana cara menjelaskannya, tapi yang jelas ia seperti memiliki firasat yang tidak enak akan kondisi anaknya.
Sudah setengah lima lewat, namun apa yang Jinan harapkan tidak muncul juga. Ia bahkan sudah mondar-mandir karena saking paniknya akan keberadaan anaknya dan juga nomor ponsel Romi yang tidak aktif.
"Jinan."
Jinan menatap kepada asal suara tersebut, di mana sosok Sila terlihat berdiri di depan pintu masuk teras rumahnya.
"Mami," seru Jinan. "Mami sudah pulang?"
"Iya, baru saja. Sejak tadi Mami lihat kamu seperti sedang panik. Memangnya ada apa, Sayang?" Sila menatap ke arah Ardo yang sedang fokus pada ponselnya. Entah sedang apa pria itu, tapi dari raut wajahnya, sepertinya Ardo sedang kesal akan sesuatu.
"Ayla belum pulang, Mi."
Perkataan Jinan sontak membuat Sila mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
"Belum pulang? Belum pulang bagaimana maksudnya?" tanya Sila tak mengerti.
"Tadi pagi tante Sila dan om Putra datang ke rumah Jinan, Mi. Saat mereka tahu bahwa Jinan akan pergi bersama Ardo besok, mereka meminta pada Jinan untuk membawa Ayla ke rumah mereka."
"Astaga, kenapa kamu kasih izin, Jinan?"
"Jinan ... Jinan hanya ingin memberi kesempatan terakhir pada mereka sebelum Jinan dan Ayla pergi, Mi."
"Astaga Jinan, kenapa kamu baik banget gini sih. Ingat ya, Nak. Baik dan bodoh itu beda tipis. Mami bukan ingin mengatakan bahwa kamu bodoh, tapi Mami hanya tidak mau kalau kebaikan kamu pada orang-orang seperti mereka itu menjadi kesempatan buat mereka untuk memanfaatkan kamu. Kamu tidak seharusnya percaya begitu saja sampai menyerahkan anakmu sama mereka. Bagaimana kalau mereka sampai membawa kabur Ayla?"
Jinan membelalakkan matanya. Perkataan Sila tentang Ayla yang dibawa kabur sungguh membuat Jinan semakin cemas. Pikirannya kini sudah mulai bercabang kemana-mana. Bagaimana jika benar bahwa Ayla dibawa kabur oleh keluarga mantan suaminya itu?
"Mami, apa yang harus Jinan lakukan? Jinan ... Jinan takut Ayla kenapa-napa. Jinan hanya membekali 3 botol ASI saja. Bagaiman kalau Ayla merengek karena kelaparan, Mi?" tanya Jinan panik. Ia memeluk Sila erat, air mata pun kini lolos satu persatu dari kelopak matanya.
Di kursi single, Ardo yang sudah selesai dengan kesibukannya pada laptopnya kini bangkit dari duduknya dan menghampiri Jinan. Ia usap bahu dan kepala istrinya itu dengan lembut, lalu ia ambil alih tubuh itu agar masuk ke dalam pelukannya.
"Aku sudah melacak ponsel Romi, saat ini lokasinya ada di jalan raya yang mengarah ke sini. Sepertinya dia sedang dalam perjalanan ke sini. Lebik baik kita tunggu saja, siapa tahu sebentar lagi mereka sampai," ujar Ardo agar istrinya lebih tenang.
Jinan mendongak. "Apa kau serius?"
"Jika anakku sampai kenapa-kanapa, kau akan tamat dalam sekejap, Romi," batin Ardo emosi.
Benar dugaan Ardo, sepuluh menit kemudian terlihatlah sebuah mobil yang sama dengan yang tadi pagi ia lihat berhenti di halaman rumah Jinan. Dari sana, keluarlah sosok Romi dan Linda yang saat itu sedang menggendong seorang anak bayi.
Jinan yang menyadari bahwa itu adalah anaknya lantas berlari menghampiri mereka. Air matanya jatuh saat melihat Ayla merengek dengan mata yang setengah tertutup.
"Ayla lapar, Nak. Susunya habis," ujar Linda yang mencoba menjelaskan.
Jinan menganggukkan kepalanya dan segera meraih Ayla untuk dibawa masuk. Ia bahkan lupa berpamitan kepada Linda dan Romi karena saking paniknya melihat anaknya yang menangis tidak seperti biasanya itu.
Saat Jinan sudah masuk ke dalam rumah bersama Sila, Ardo segera berjalan mendekati kedua ibu dan anak itu.
"Apa kalian lupa ingatan? Aku meminta kalian untuk mengantarkan Ayla sebelum setengah lima sore. Dan sekarang sudah hampir jam lima."
__ADS_1
"Maaf, kita lupa waktu karena saking senangnya bermain ber–"
"Aku tidak butuh penjelasan kalian," potong Ardo pada ucapan Romi. "Kau tahu? Aku paling tidak suka dengan orang yang tidak tahu diri dan suka melupakan janjinya."
"Ini bukanlah kesengajaan. Tolong jangan memperbesar masalah. Lagi pula Ayla adalah anakku, tidak masalah jika dia bersamaku meski sampai esok hari sekalipun," ujar Romi.
"Kau mau membahas hal ini lagi? Apa perkataanku sebelum-sebelumnya belum cukup untuk membuatmu sadar diri? Atau ... harus kubuat hidupmu sengsara dulu, baru kau mau sadar diri?" tanya Ardo pada Romi dengan suara pelan, namun dengan nada yang terdengar mengancam.
"Kalian pulanglah, hari ini aku tidak ingin menambah rasa sedih istriku karena suaminya berkelahi dengan seorang pengecut," ucap Ardo tegas.
Tanpa menunggu sahutan dari kedua orang itu, ia segera berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Romi dan ibunya yang masih terbengong akan perkataannya.
Dari pintu kamarnya, Ardo menatap sedih pada wanitanya yang sedang memberi ASI pada anaknya sambil menciumi pucuk kepalanya. Rasanya ia sangat tidak rela melihat istrinya yang menampakkan raut sedih di wajah cantiknya itu. Padahal ia sudah berjanji untuk tidak membuat istrinya bersedih, tapi belum juga satu minggu ia menikah, ia sudah membuat istrinya itu bersedih karena kelalaiannya. Lalai karena tidak bisa bersikap tegas pada Jinan untuk tidak memberikan Ayla pada Linda dan Putra tadi pagi.
Ardo berjalan memasuki kamar. Sila yang menyadari itu lantas berdiri dari duduknya. Ardo menganggukkan kepalanya pada Sila, dengan artian bahwa ia mengucapkan terima kasih untuk kedatangan wanita itu ke kediaman mereka, sekaligus meminta wanita itu untuk meninggalkan mereka berdua.
Setelah kepergian Sila, Ardo mendudukkan tubuhnya tepat di samping Jinan. Ia mengusap lembut bahu istrinya itu dan juga mengusap pucuk kepala Ayla.
"Apa aku salah karena ingin mendekatkan Ayla pada ayah dan neneknya, Ar? Apa aku tidak boleh memberikan kesempatan itu pada mereka?" tanya Jinan lirih.
Ardo memeluk tubuh Jinan dari samping, ia letakkan kepala Jinan pada dada kanannya tanpa membuat Ayla berhenti meneguk ASI.
"Ayla sangat kelaparan, Ar. Mereka membiarkan anakku kelaparan."
"Maafkan aku," ujar Ardo sembari mencium pucuk kepala Jinan.
******
__ADS_1
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘