Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 54


__ADS_3

"Ya, Ar. Ya, aku menerimamu. Apakah kau puas?" ujar Jinan dengan pipi yang sudah memerah karena menahan malu.


Ardo mengembangkan senyumnya mendengar perkataan Jinan. Akhirnya. Perjuangan yang Ardo jalani selama hampir tiga bulan ini akhirnya membuahkan hasil juga. Ia tidak menyangka jika seorang Jinan yang sangat sulit untuk didekati ternyata kini mau menerima cintanya. Astaga, ia masih tidak percaya bahwa hari ini telah tiba.


"Tidak," seru Ardo dan berhasil membuat Jinan menyatukan alisnya.


"Apa maksudmu tidak? Mau apa lagi kau? Jangan memintaku mengatakan hal konyol lagi Ar, atau aku akan menarik semua perkataanku," ancam Jinan. Oh astaga, baru juga beberapa hari Jinan bersikap manis padanya, kini Jinannya yang galak sudah kembali lagi, pikir Ardo.


"Aku tidak akan puas sebelum kau menjadi istriku. Bahkan saat itu juga mungkin aku tidak akan puas sampai kita memiliki anak, atau sampai kita menua bersama, atau mungkin sampai kita mati bersama dan hidup di dunia yang baru bersama."


Jinan terdiam dengan perkataan Ardo yang terdengar sekedar menggoda. Namun di setiap kalimat yang Ardo sebutkan tadi, jelas sekali Jinan bisa melihat bahwa kalimat tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Dan itu berhasil membuat bulu roma Jinan bergidik.


"Em." Jinan tersadar akan lamunannya. "Jam berapa pesawatmu terbang? Ini sudah hampir jam sebelas, kau akan ketinggalan pesawat," ucap Jinan yang salah tingkah.


Ardo melirik jam tangannya. "Penerbanganku masih satu jam lagi. Sebaiknya aku pergi sekarang, karena aku harus membeli sesuatu dulu untuk seseorang."


Jinan menganggukkan kepalanya sembari tersenyum tipis. "Baiklah."


"Sampaikan salamku buat Tuan Dedy dan Nyonya Sila. Maaf aku tidak sempat mengunjungi mereka karena aku sudah terlambat."


"Akan kusampaikan."


"Baiklah, aku pergi dulu. Jaga anak kita baik-baik."


"Hah?" Jinan menatap bingung ke arah Ardo. Anak kita? 'Anak kita' siapa yang pria ini maksud?


Ardo tertawa tipis. "Maksudku anakmu," ralat Ardo saat melihat raut bingung di wajah Jinan. "Bukankah sebentar lagi Ayla akan menjadi anakku juga? Tidak masalah bukan jika aku menyebutnya anak kita," ujar Ardo dengan menaikkan turunkan alisnya sebanyak dua kali.


"Jadi yang di maksud 'anak kita' itu adalah Ayla? Astaga, pria ini percaya diri sekali," batin Jinan.


"Lebih baik kau pergi sekarang. Bisa-bisa kau akan benar-benar ketinggalan pesawat," ucap Jinan yang tak menghiraukan perkataan Ardo. 


"Baiklah-baiklah, aku pergi sekarang. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," sahut Jinan.


Baru satu langkah kaki Ardo menginjak halaman rumah Jinan, tiba-tiba pria itu menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Jinan.


"Ada apa? Apa ada yang tertinggal?" tanya Jinan heran.


Bukannya menjawab, Ardo malah berjalan mendekati Jinan dengan wajah seriusnya. Setelah dua meter di depan Jinan, Ardo menghentikan langkahnya.


"Jangan bersedih atas segala tuduhan buruk orang lain padamu. Secepatnya aku akan mengurus hal ini. Yang perlu kau lakukan hanyalah menjaga hatimu untukku. Aku akan datang dalam waktu dekat. Aku berjanji tidak akan membuatmu lama menunggu," ujar Ardo dengan menatap lembut mata indah milik Jinan.


Jinan tak merespon ucapan Ardo, sedangkan Ardo sendiri tak melanjutkan ucapannya. Mereka hanya saling diam dan saling pandang, hingga suara tangis baby Ayla dari dalam kamar yang menyadarkan mereka berdua dari lamunannya.


"Baiklah, aku pergi sekarang. Kau baik-baik di sini selama aku pergi," ucap Ardo dan dibalas anggukan kepala oleh Jinan.


"Masuklah, kasihan Ayla. Aku akan segera pergi," ucap Ardo saat Jinan masih berdiri di hadapannya.


"Ah, baiklah."


Jinan masuk ke dalam rumahnya, meninggalkan Ardo sendirian di teras rumahnya. Di dalam kamar ia langsung meraih tubuh baby Ayla sembari mengayun-ayunkan tubuh mungil itu dalam rengkuhannya. Belum lama ia mengayunkan tubuh mungil itu, suara pintu rumah yang diketuk dari luar berhasil menghentikan aktifitas Jinan. Ia berjalan ke depan untuk melihat siapa tamu yang datang ke rumahnya.

__ADS_1


Jinan mengernyitkan keningnya saat melihat Ardo yang berdiri di depan pintu rumahnya.


"Kau belum pergi?" tanya Jinan heran.


"Em, ranselku tertinggal di sofa."


Jinan melirik ke arah sofa. Ternyata benar, ransel Ardo masih terletak di atas sana. Bisa-bisanya ia tidak menyadari adanya benda sebesar itu di sofanya.


Jinan mempersilahkan Ardo untuk mengambil sendiri ranselnya di sofa karena ia sedang menggendong baby Ayla.


"Aku pergi," ujar Ardo setelah mengenakan ranselnya.


"Sudah tiga kali kau mengatakan 'aku pergi' tapi sampai sekarang kau masih ada di sini," ujar Jinan dengan tersenyum geli.


Ardo tertawa pelan. "Baiklah, kali ini aku benar-benar pergi." Ardo maju satu langkah dari posisinya berdiri, lalu ia mengusap lembut pipi cubi baby Ayla. "Papa pergi ya, Sayang. Jaga Mamamu baik-baik untuk Papa. Papa menyayangi kalian berdua."


Jinan menatap haru pada Ardo. Pipi putih wanita itu kini sudah berganti menjadi berwarna merah saat mendengar perkataan Ardo. Mama? Papa? Sayang?Kenapa rasanya aneh sekali mendengar ketiga kalimat itu. Rasanya seperti ada sesuatu yang mengalir bersamaan dengan darah di dalam tubuhnya.


Jinan tersadar dari lamunannya saat Ardo menjentikkan jari tangannya di depan wajah Jinan.


"Kenapa melamun?" tanya Ardo.


"Ah? Si ... siapa yang melamun? Ak ... aku ti ... tidak melamun," ujar Jinan gugup.


Ardo tersenyum geli dengan tingkah Jinan yang menurutnya lucu, ia tahu Jinan pasti malu mendengar perkataannya tadi.


Ddrrtt ... Drrtt ...


Ardo meraih ponselnya yang bergetar dan melihat siapa yang menelponnya.


"Taksiku sudah ada di depan, aku pergi sekarang. Sampai jumpa, Jinan. Sampai jumpa Ayla. Assalamu'alaikum," pamit Ardo.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati," ujar Jinan dan dibalas anggukan kepala oleh Ardo.


Belum jauh Ardo berjalan, Jinan melihat sebuah taksi yang berhenti tepat di samping Ardo berdiri. Ia masih melihat ke arah Ardo sampai pria itu memasuki mobil. Saat mobil itu pergi menjauh, barulah Jinan masuk ke dalam rumahnya.


 


 


***


 


 


Di kediaman Romi.


Waktu sudah menunjukkan pukul satu siang, Linda yang pingsan sedari tiga jam lalu kini akhirnya membuka matanya. Cukup lama ia terdiam dengan pikirannya sendiri. Saat Putra masuk ke dalam kamar, Linda mengarahkan pandangannya pada suaminya itu dengan mata yang berkaca-kaca.


"Alhamdulillah Mama sudah sadar," ucap Putra saat pandangan mereka bertemu.


"Mama minum dulu." Putra membantu Linda untuk duduk dan memabantu Linda untuk meneguk air hangat yang baru saja dibawanya dari dapur.

__ADS_1


Setelah dua tegukan berhasil masuk ke dalam tenggorokan Linda, wanita itu langsung memeluk erat tubuh suaminya. Air matanya mulai mengalir dengan perlahan dari kelopak matanya.


Putra yang mengerti dengan keadaan saat ini hanya diam sembari membalas pelukan istrinya. Sesekali ia mengusap punggung belakang Linda agar wanita itu bisa lebih tenang. Setelah beberapa saat, barulah Linda membuka suaranya.


"Apa anak itu benar cucu kita, Pa? Kenapa wajahnya mirip sekali dengan Romi kita saat kecil?" lirih Linda yang masih dengan posisinya.


"Dia benar cucu kita, Ma. Papa sudah mengatakan ini sebelumnya, bukan? Dia cucu kita. Cucu kandung kita. Putri dari anak kita."


"Tapi Jinan sudah berselingkuh, Pa," serunya dengan isak tangis yang lebih kencang. Ia kini mulai kesal dengan keadaan saat ini. Ia kesal dengan dirinya sendiri. Ia kesal dengan semua yang sudah terjadi pada hidupnya.


Putra menarik Linda dari pelukannya, ia mengusap air mata yang membanjiri pipi istrinya itu dengan sayang.


"Mama percaya jika itu cucu kita?" tanya Putra dengan menatap lurus netra hitan Linda.


"Mama ... Mama tidak tahu, Pa. Tapi wajahnya ... wajahnya mirip sekali dengan wajah Romi kecil," lirih Linda.


"Dia cucu kita, Ma. Dia anak kandung Romi. Mungkin Tuhan memberikan wajah Romi kecil kita pada anak itu agar kita bisa mengetahui yang sebenarnya. Tuhan ingin kita tahu bahwa Jinan tidak berselingkuh, Ma."


"Tapi, Pa. Jinan sendiri yang mengatakan bahwa ia sudah mencintai pria lain di hadapan Mama. Mama masih ingat jelas perkataan dia saat itu, Pa."


"Manusia bisa berbohong, Ma. Semua orang bisa berbohong, termasuk Jinan. Jinan hanyalah manusia biasa, ia juga bisa berbohong. Tapi untuk berselingkuh dan menghancurkan rumah tangganya sendiri, Papa tidak percaya jika Jinan bisa melakukan itu." Putra menjeda ucapannya sejenak. 


"Mama ingat saat pertama kali Mama mengatakan pada Papa untuk menjodohkan Jinan dengan Romi? Setiap hari Mama selalu memuji Jinan di depan Papa. Mama selalu mengatakan bahwa Jinan adalah sosok wanita terbaik yang pernah Mama kenal selama ini. Mama ingat saat Mama ingin membujuk Romi untuk menikah dengan Jinan? Saat itu Mama selalu memuji kebaikan Jinan di depan kita semua. Setiap saat Mama selalu mengatakan bahwa Romi adalah pria beruntung yang bisa menikah dengan wanita seperti Jinan. Mama selalu mengatakan bahwa tidak ada wanita baik sebaik Jinan. Mama juga selalu mengatakan bahwa Jinan adalah malaikat berwujud manusia."


"Apa menurut Mama malaikat bisa melakukan hal sejahat itu? Mama sudah salah satu kali dengan menuduh Jinan hamil karena pria lain. Papa tidak mau Mama sampai salah lagi untuk kedua kalinya. Papa sayang sama Mama, makanya Papa mengatakan ini semua. Demi kebaikan Mama, demi kebaikan kita semua, Ma."


"Ma, Papa sangat ingin menimang cucu kandung Papa. Kalau Mama terus-terusan menuduh Jinan selingkuh tanpa adanya bukti, Papa khawatir Jinan tidak akan mau mengakui kita sebagai Oma dan Opa-nya anak itu, Ma. Papa tidak mau itu, Ma."


"Tapi Mama sudah terlanjur percaya dengan perkataan Jinan, Pa. Mama butuh bukti jika memang benar Jinan tidak selingkuh," ujar Linda yang masih kekeh dengan pikirannya sendiri.


Putra menghela nafasnya panjang. Istrinya ini kenapa susah sekali melihat kebenaran, tapi jika melihat keburukan, mudah sekali untuk percaya.


Tookk ... tookk ...


"Ma, Pa."


Suara ketukan pintu dan suara Romi yang terdengar sayup-sayup membuat Linda dan Putra langsung menatap ke arah pintu yang masih tertutup. Sedetik kemudian Linda dan Putra saling pandang.


"Jangan pisahkan Romi dengan anaknya. Dia berhak tahu," ucap Putra tiba-tiba. Ia tahu sekali sifat istrinya itu, jangan sampai hanya karena pernikahan anak mereka yang akan berlangsung beberapa hari lagi, membuat istrinya rela menjauhkan seorang anak dari ayah kandungnya sendiri.


Linda menggenggam tangan kanan Putra dengan mata yang berkaca-kaca. "Jangan sekarang, Pa. Mama ingin Romi fokus dengan pernikahannya saja untuk saat ini. Mama sudah terlanjur sayang dengan Aurel, Pa."


Putra diam sejenak, kemudian ia menghembuskan nafasnya. "Baiklah."


******


 


 


 


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕

__ADS_1


Piupiu, see u nxt bab 😘


 


__ADS_2