
Sepulang dari bertemu dengan baby Ayla, Romi langsung menceritakan keseruannya bersama anak perempuannya kepada Linda. Ia tampak bersemangat saat menceritakan bagaimana lucu dan cantiknya wajah anak perempuannya itu.
Senyum sumringah yang terpancar dari wajah pria itu membuat Linda semakin menggebu-gebu ingin bertemu dengan cucunya itu. Ia bahkan semakin mendesak Romi untuk terus sering berkomunikasi dengan Jinan agar dapat segera membawa cucunya itu pulang ke rumah. Tak hanya Linda dan Romi saja yang bahagia dengan hal itu, ternyata Putra juga merasakan rasa bahagia yang sama dengan anak dan istrinya.
Hanya saja, di sisi lain ada seorang wanita yang terlihat tidak menyukai raut bahagia dari ketiga orang itu. Wanita itu adalah Aurel. Ia bukannya tidak menyukai jika suami dan mertuanya bahagia, tapi ia tidak suka jika kebahagiaan mereka harus dengan cara mengabaikannya seperti ini.
🍁Flashback On🍁
Suasana di meja makan tampak terasa dingin. Semua yang ada di sana hanya diam sembari menatap ke arah Romi yang sedang sibuk sendiri dengan Ayla yang ada dalam rengkuhannya. Aurel pun yang berada di sebelah Romi terlihat tak nyaman dengan tingkah suaminya yang mengabaikannya dan sibuk dengan anaknya dari Jinan.
Ardo yang melihat kecanggungan itu hanya bisa menikmati suasana. Ia membiarkan saja Romi dengan kesenangannya, karena apa yang pria itu rasakan saat ini hanyalah sementara, karena sebentar lagi ia akan membawa Ayla jauh dari pria itu. Dan ia pastikan, Romi tidak akan pernah bisa bertemu atau sekedar berkomunasi dengan Ayla melalui Jinan atau siapapun itu. Sedangkan untuk Aurel sendiri, ia tidak peduli. Biarlah wanita itu merasakan bagaimana rasanya cemburu pada seorang anak kecil yang bahkan belum mengerti apa artinya dunia.
"Masyaa Allah, anakku cantik sekali. Sayang, coba kamu lihat, anakku cantik sekali, bukan?" ujar Romi kepada Aurel. Aurel hanya tersenyum kaku sembari mengiyakan perkataan Romi.
Saking asiknya dengan Ayla, Romi bahkan tidak menyadari ketidaknyamanan istrinya di sana. Romi terus saja memuji anak perempuannya bersama Jinan tanpa memikirkan orang-orang yang ada di sana yang sedang menatapnya. Pria itu seolah menjadikan waktu hanya sebagai miliknya bersama Ayla saja.
"Anakmu bukan hanya dia saja, Mas. Andre juga anakmu, tapi kamu tidak pernah sekalipun memperlakukan Andre seperti itu. Untuk memuji saja mungkin bisa dihitung dengan jari. Tapi anak itu? Kamu begitu berlebihan kepada anak itu, Mas," batin Aurel yang merasa sedih.
🍁Flashback Of🍁
Aurel menghela nafasnya berat. Karena tak bisa berbuat banyak, akhirnya Aurel hanya bisa bersabar dan berpura-pura seolah kebahagiaan ini adalah bahagia untuknya juga. Ia tidak bisa berbuat banyak akan hal ini karena ia tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga barunya. Mungkin Romi bertingkah berlebihan seperti ini karena memang pria itu tidak pernah bertemu anak perempuannya sedari anak itu lahir. Apalagi yang ia pernah dengar, perasaan seorang ayah pada anak perempuannya itu sungguh berbeda dengan perasaan seorang ayah pada anak lelakinya. Dan mungkin juga ia harus memaklumi itu.
__ADS_1
***
Tak terasa hari pernikahan Jinan dan Ardo kini tersisa 2 hari lagi. Rencana awal acara pernikahan yang akan dilakukan di kediaman Jinan, kini berubah menjadi di sebuah ballroom hotel bintang 5 di pusat kota Jakarta.
Ardo sengaja merubah lokasi pernikahannya bukan karena ia tidak menghargai keputusan Jinan, melainkankan ia ingin menjadikan pernikahan Jinan kali ini lebih mewah dari pernikahan pertamanya bersama Romi. Ia ingin membuat segala sesuatu tentang Jinan menjadi lebih baik dari apa yang pernah wanita itu rasakan sebelumnya bersama mantan suaminya.
Dan meskipun tamu undangan yang datang sebagian besar hanya dari tetangga di sekitar rumah Jinan dan beberapa saudara kedua orangtua Jinan saja, tapi untuk ukuran rumah Jinan yang begitu kecil, jelas itu tidak akan muat.
...
Sore ini Jinan beserta keluarga Ria akan menuju hotel tempat akan diberlangsungkannya acara. Mereka akan menginap di sana hingga sampai acara tiba nanti. Keluarga dari Elena juga siang tadi sudah sampai di hotel, mereka saat ini sedang istirahat sembari menunggu kedatangan Jinan dan yang lainnya.
Setiba Jinan di hotel, ia langsung di tarik oleh Elena menuju kamarnya. Di sana ia diminta Elena untuk memakai daster yang sudah disiapkannya. Tak ketinggalan, berbagai alat makeup di atas nakaspun sudah menanti untuk dioleskan ke wajah Jinan.
"Ayolah, Ji. Sekali-sekali tidak apa-apa, kan?" ujar Elena karena Jinan terus menolak untuk dipoles makeup.
Elena menatap ke arah Ria dengan wajah lesu untuk meminta bantuan agar bisa membujuk Jinan. Wanita salihah si keras kepala.
"Bagaimana setelah sholat maghrib saja?"
Namun mendengar usul dari Ria, ia kembali mengembangkan senyumnya ke arah Jinan.
"Setelah maghrib ya, Ji?" mohon Elena.
"Setelah isya' Ardo dan keluarganya mau ngajak kita makan malam bersama. Kalau sudah main makeup-makeupan gitu pasti lama. Nggak enak kalau harus menolak ajakan keluarga Ardo."
Elena menghela nafasnya lesu, ia tampak kecewa karena tidak bisa mengadakan pesta bridal shower untuk Jinan. Tapi sedetik kemudian ia menatap Jinan dengan wajah antusiasnya.
"Setelah makan malam?" tanya Elena penuh harap.
__ADS_1
Jinan tampak menimbang permintaan Elena. Namun karena melihat Elena yang ingin sekali melakukan hal yang belum ia ketahui seperti apa itu, akhirnya ia mengiyakan saja permintaan wanita itu.
Setelah acara makan malam bersama selesai, saat keluarga Ardo, keluarga Ria, dan keluarga Elena sedang berbincang santai di meja makan, Elena dan Ria dengan tidak sabarnya berpamitan kepada semua orang yang ada di sana dan segera menarik tangan Jinan menuju kamar mereka.
"Hey hati-hati, nanti baby Ayla jatuh," teriak Sila pada Elena dan Ria yang menarik Jinan dengan semangatnya.
"Ada apa dengan mereka? Kenapa terburu-buru sekali?" pertanyaan yang sama dari beberapa orang yang ada di meja makan itu dalam hatinya dengan penasaran.
Meski tingkah ketiga wanita itu mengundang rasa penasaran pada semua orang yang ada di meja makan, namun mereka semua membiarkan saja para wanita itu pergi. Mungkin hanya urusan sesama wanita saja pikir mereka.
Setiba di kamar, Ria segera meraih baby Ayla dan meletakkannya di tengah-tengah kasur dengan di halangi bantal guling di sisi kanan dan kirinya. Sementara Elena segera meminta Jinan untuk mengenakan daster panjang yang telah ia siapkan sedari siang tadi.
Setelah maghrib tadi, Jinan sempat melihat kegiatan bridal showe melalui youtube, dan sepertinya itu tidak terlalu buruk. Mungkin sedikit menyenangkan, pikirnya. Jadi Jinan hanya bisa pasrah saja dengan apa yang kedua wanita itu lakukan pada dirinya saat ini.
"Kalian benar-benar ingin membuatku seperti annabelle," ucap Jinan dan dibalas tawa geli Ria dan Elena.
Di tengah-tengah kesibukan Elena dan Ria yang sedang menghias wajah cantik Jinan dengan alat makeupnya, tiba-tiba pintu kamar mereka diketuk dari luar. Elena berjalan santai dan segera membukakan pintu. Ia sedikit terkejut melihat kehadiran Ardo di depan pintu kamarnya seorang diri.
"Ada apa?" tanya Elena.
"Di mana Jinan?" tanya Ardo balik.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
__ADS_1
Piupiu, see u nxt bab 😘