
Baru saja Jinan melangkahkan kakinya ke dalam pesawat, tiba-tiba saja pundaknya ditepuk dari arah belakang. Ia pikir itu ulah Ardo, namun saat ia menghadap ke belakang, ia amat terkejut saat sosok yang tak asing baginya berada di hadapannya saat ini.
"Bibi," gumam Jinan pelan dengan nada tak percaya. (ganti bahasa Indo aja ya, kan nggak lucu kalau bahasanya setengah-setengah)
"Kau Jinan, kan?" tanya seorang wanita paruh baya yang Jinan sebut sebagai bibi.
"Ya, aku Jinan. Apa ini benar Bibi Carry?"
Ardo yang melihat itu hanya bisa diam, ia tidak akan mengganggu aktifitas pribadi Jinan selagi itu tidak membayakan Jinan.
"Jadi benar bahwa kau Jinan, anak dari kakakku, Caty?" Bukannya menjawab pertanyaan Jinan, wanita bernama Carry itu malah kembali bertanya pada Jinan.
Saat Jinan hendak menjawab pertanyaan Carry, tiba-tiba saja pundaknya di tepuk dari belakang.
"Permisi, Nona. Anda menghalangi jalan," ujar salah satu petugas pesawat tersebut kepada Jinan.
"Ah ya, maafkan aku."
Jinan berjalan masuk ke dalam pesawat, sedangkan Ardo pergi mencari tempat duduk mereka berdua.
Tepat di samping kursi penumpang dengan penerbangan kelas bisnis, Jinan menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan menghadap ke arah Carry dan suaminya dengan raut antusiasnya.
"Em, Bibi, Paman, saya Jinan. Bibi dan Paman masih ingat dengan Jinan?" tanya Jinan antusias.
Jinan mengulurkan tangannya untuk bersalaman kepada bibinya, namun sayang sekali, Carry hanya menatap acuh tangan itu tanpa berniat untuk meraihnya.
Dengan tidak enak hati, Jinan menarik kembali uluran tangannya. Pandangan Jinan beralih pada suami Carry, ia tersenyum dan mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada, dan dibalas anggukan oleh suami Carry.
"Kau sudah menikah?" tanya Carry saat menyadari kehadiran baby Ayla dalam gendongan Jinan.
"Ah, iya, Bibi. Aku sudah menikah satu tahun lalu," jawab Jinan dengan tak nyaman. Entahlah, sepertinya ia sedikit sensitif dengan pertanyaan itu. Masalahnya, bagaimana jika Carry sampai menanyakan keberadaan ayah dari anaknya ini?
"Di mana suamimu?"
Dan benar saja, pertanyaan itu akhirnya meluncur juga dari mulut bibinya.
Belum juga Jinan menjawab pertanyaan Carry, tiba-tiba saja Ardo memanggilnya dari belakang tubuhnya.
"Ji."
"Ah, ya?" Jinan menatap ke arah Ardo.
"Apa sudah selesai? Di sana tempat dudukmu." Ardo menunjuk tempat duduk Jinan. Kebetulan tempat duduk mereka berjarak dengan satu kursi lainnya. Jinan memang sengaja meminta jarak tempat duduknya terpisah dengan Ardo agar pria itu tidak terlalu berdekatan dengannya.
"Apa dia suamimu?" tanya Carry dengan menunjuk ke arah Ardo.
Jinan kembali menatap ke arah Carry.
"Em, bu ... bukan, Bibi."
"Lalu di mana suamimu? Jangan bilang kau hamil di luar nikah," tuduh Carry yang berhasil membuat Jinan beristighfar dengan spontan.
"Astaghfirullah. Jinan tidak seperti itu, Bibi."
"Kalau dia bukan suamimu, lalu di mana suami?"
__ADS_1
"Jinan sudah bercerai, Bibi," ujar Jinan dengan kepala tertunduk.
"Cerai? Anakmu masih bayi, tapi kau sudah menyandang status janda?" Jinan menganggukkan kepalanya tak bertenaga.
"Astaga Jinan, kenapa nasibmu buruk sekali. Lalu siapa dia? Apa dia calon suamimu yang baru?"
"Em, dia temanku, Bibi. Dia hanya menemaniku saja untuk pulang ke Indonesia," jawab Jinan gugup. Sungguh ia benar-benar tidak nyaman dengan pembahasan saat ini.
"Pulang? Kau tinggal di Jerman, Jinan?" tanya Carry terkejut.
"Ya, Bibi. Jinan tinggal di sini sejak satu tahun lalu."
"Kau di sini sudah satu tahun, tapi kau tidak menemui keluarga ibumu di sini?"
"Ah?" Jinan terkejut dengan perkataan Carry. Keluarga ibunya masih ada di sini?
"Jinan ... Jinan tidak tahu jika Bibi ada di Jerman."
"Tidak tahu? Kau tidak tahu jika kami tinggal di sini? Kau itu bodoh atau bagaimana, Jinan? Jelas-jelas ibumu itu besar di Jerman, jelas saja jika kita semua ada di sini."
Mendengar kata bodoh dari mulut Carry yang ditujukan kepada Jinan, Ardo mulai terpancing emosi. Ia menghela nafasnya berulang kali untuk mengatur emosinya agar tidak meledak saat itu juga. Ia ingin melihat dulu kelanjutan dari pembicaraan Jinan dan bibinya, jika bibi Jinan kembali mengejek Jinan lagi, barulah saat itu ia bertindak.
"Maafkan Jinan, Bibi. Jinan pikir kalian sudah pergi ke negara lain," ucap Jinan merasa bersalah. Ia benar-benar tidak tahu jika saudara dari ibunya ada di sini. Ia benar-benar tidak mengetahui semua itu karena ia sudah sangat lama tidak ke Jerman. Terkahir kali Jinan ke Jerman saat ia masih berusia sepuluh tahun, saat omanya meninggal dunia, dan itu sudah sepuluh tahun lalu.
"Alasan. Bilang saja kau itu di hasut oleh ayahmu yang miskin itu untuk tidak lagi berhubungan dengan kami, iya 'kan?" tuduh Carry.
Jinan menatap Carry dengan sangat terkejut saat ayahnya disebut-sebut dan dituduh oleh Carry.
"Astaga Bibi, kenapa Bibi membawa-bawa ayah saya? Ayah saya udah meninggal beberapa tahun lalu, Bibi."
Jinan membatu seketika dengan linangan air matanya yang tidak bisa dibendung lagi. Ia tidak menyangka jika ayahnya yang sudah meninggal beberapa tahun lalu kini dijelek-jelekkan oleh saudara iparnya sendiri.
Jinan menggelengkan kepalanya, ia tidak terima jika ayahnya dituduh yang tidak-tidak seperti itu oleh Carry. Ayahnya adalah sosok pria terbaik di hidupnya, ayahnya bukan pembawa sial.
"Bibi, kepergian ayah dan ibu itu sudah menjadi takdir dari Yang Maha Kuasa. Dengan siapapun ibuku menikah, kematian pasti akan datang menghampirinya di waktu dan kejadian yang sama. Karena itu memang sudah menjadi takdirnya."
"Lihatlah kau sekarang. Selain berpenampilan udik, kau juga sudah pandai menjawab perkataan orang yang lebih dewasa darimu. Aku yakin jika sifat ini menurun dari mendiang ayahmu itu."
"Astaghfirullah, Bibi. Kenapa Bibi bicara seperti itu?" ujar Jinan dengan suara yang mulai tercekit.
Saat mendengar suara Jinan yang mulai tercekit, Ardo mengarahkan pandangannya yang tadinya menatap sembarang arah kini menatap ke arah Jinan. Ia terkejut saat melihat Jinan meneteskan air matanya. Ada apa ini, pikir Ardo.
Ya, Ardo yang berusaha menahan emosinya saat itu terlihat memikirkan hal lain dan memilih untuk tidak mendengar percakapan dari kedua orang itu. Namun tak disangka, ternyata keputusannya untuk meredam emosi malah berujung dengan jatuhnya air mata dari kelopak mata wanita yang ia cintai.
"Kenapa apanya? Seumur hidup, kakakku tidak pernah berani membantah perkataan orang yang lebih tua darinya. Dan jelas-jelas sifat jelekmu ini berasal dari ayahmu Jinan, bukan dari kakakku. Apa kau tidak menyadari itu?"
"Hey, bisakah kau menjaga kata-katamu," ujar Ardo dengan intonasi yang meninggi.
Oeekk ... Oeekk ...
Tangis baby Ayla samar-samar terdengar di telinga Jinan saat teriakan Ardo yang tepat berada di atas kepala bayi itu terdengar menakutkan.
Jinan memeluk puterinya dengan menepuk-nepuk pelan pant4tnya untuk menenangkannya. Ia bahkan tidak memedulikan Ardo dan pamannya yang saat itu mulai saling lempar teriakan, karena fokus Jinan saat itu hanya pada anaknya saja.
"Hey, rendahkan bicaramu. Kau berbicara dengan istriku," teriak suami Carry yang tak suka dengan Ardo yang membentak istrinya.
__ADS_1
"Istrimu yang lebih dulu mengejek temanku. Seharusnya kau mengajarkan dia untuk berbicara yang lebih sopan."
Mendengar suara ribut-ribut itu, para petugas pesawat yang tak jauh dari mereka langsung menghampiri mereka dan berdiri di tengah-tengah keempat orang itu.
"Kalau kalian mau bertengkar, lebih baik kalian turun dari sini. Pesawat sebentar lagi akan terbang, silahkan membubarkan diri."
Dengan menahan emosinya, Ardo pergi meninggalkan ketiga orang itu menuju tempat duduknya.
"Kalian juga, ayo bubar," ujar petugas itu kepada Jinan, Carry, dan suaminya.
Carry dan suaminya pergi meninggalkan Jinan dengan angkuhnya. Jinan menghela nafasnya, kemudian ia juga ikut pergi menuju tempat duduknya. Beruntung baby Ayla sudah tidak menngis lagi, jadi ia bisa sedikit lega.
Saat hendak mendudukan tubuhnya di kursi, pandangan Jinan terarah pada sosok Ardo yang sedang menyandarkan punggungnya pada kursi dengan mata terpejam. Karena tak ingin mengganggu, Jinan akhirnya menghiraukan Ardo begitu saja dan mulai duduk di kursinya.
***
Selama di perjalanan menuju Indonesia, Jinan dan Ardo tidak banyak berbicara. Mereka hanya berbicara seperlunya saja seperti jika Jinan yang ingi ke toilet, ia akan meminta bantuan Ardo untuk menjaga anaknya. Atau saat ia hendak sholat, dan berbagai macam keperluan penting lainnya. Selain itu mereka hanya berdiam diri dengan aktifitas dan pikirannya masing-masing.
Hampir enam belas jam di dalan pesawat dengan satu kali transit, kini pesawat yang ditumpangi Jinan telah tiba di Bandara Soekarno-Hatta. Sedari keluar dari pesawat hingga menuju bagasi pengambilan koper, mata Jinan terus menatap ke sana kemari mencari sosok bibi dan pamannya. Namun sayangnya dua orang paruh baya itu tak terlintas di pandangannya.
"Apa yang kau cari, Jinan?" tanya Ardo heran.
"Ah? Em, aku sedang mencari keberadaan bibi dan pamanku."
"Mereka sudah pergi dengan taksi."
"Apa? Tahu dari mana kau?" tanya Jinan heran dengan perkataan Ardo.
"Aku lihat tadi," ujar Ardo santai.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Untuk apa? Untuk diejek kembali?" tanya Ardo posesif.
"Dia itu bi–"
"Ya, aku tahu dia bibimu. Tapi aku tidak bisa melihatmu diejek seperti tadi, Jinan. Tidak akan bisa," potong Ardo dengan wajah seriusnya. Terkesan posesif di mata Jinan.
Jinan menatap Ardo dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Raut wajah Ardo saat itu sangat terlihat serius ke arahnya. Jinan tidak menyangka akan melihat raut wajah itu di wajah pria seperti Ardo.
Selain kedua orang tuanya, tidak pernah ada orang yang seperhatian seperti ini kepadanya. Kini Jinan mulai berpikir, apakah Ardo benar-benar tulus mencintainya?
******
__ADS_1
Tengkyu bagi yang sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘