Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 68


__ADS_3

Sudah lima belas menit menunggu, namun Jinan belum juga keluar juga dari kamar mandi. Entah apa yang dilakukan wanita itu di dalam sana, yang jelas hal itu membuat Ardo menjadi panik sendiri.


"Jinan, kenapa kau belum keluar?" Ardo terus mengetuk pintu kamar mandi sembari berteriak memanggil nama istrinya, ia sangat takut terjadi apa-apa dengan Jinan di dalam sana. Apalagi ia tidak mendengar suara air di dalam sana, membuatnya berpikiran buruk akan keadaan istrinya itu.


"Jinan apa kau mendengarku? Jinan apa kau baik-baik saja? Aku akan mendobrak pintu ini jika kau tidak menjawabku, Jinan."


Saat hendak mendobrak pintu kamar mandi, tiba-tiba saja pintu itu terbuka dan muncullah Jinan dari dalam sana dengan piyama panjang dan hijab panjang yang menutupi dada.


"Apa kau tidak apa-apa? Kenapa lama sekali di dalam?" Dengan hebohnya Ardo memutari tubuh istrinya untuk melihat apakah ada sesuatu yang membuat istrinya itu terluka.


"Aku tidak apa-apa, Ar."


Ardo memegang kedua bahu Jinan, menatapnya dengan wajah cemas. "Kenapa tadi tidak menyahut panggilanku? Kau lama sekali di dalam, aku takut kau kenapa-napa, Jinan."


"Aku ... aku tidak apa-apa. Aku hanya ... em, mengganti pakaianku saja," alibi Jinan dengan tergugup.


Mengganti pakaian? Ardo terdiam sejenak dengan perkataan Jinan, sedetik kemudian ia membawa Jinan untuk duduk di sofa double samping jendela. Ardo menggenggam kedua tangan Jinan dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya meraih dagu Jinan dan mengarahkan wajah Jinan padanya.


"Lihat aku," ujar Ardo dengan menatap mata wanita itu.


"Aku. Evardo Rafandra, saat ini sudah resmi menjadi suamimu, Jinan. Kau adalah istriku. Semua yang ada pada dirimu adalah milikku juga. Termasuk tubuhmu."


Jinan menelan salivanya mendengar Ardo berkata seperti itu.


"Aku yakin kau pasti tahu bahwa setiap apa yang suamimu lihat dan sentuh pada dirimu, akan membawa pahala untukmu. Aku sangat yakin jika kau faham itu, terlebih kau sudah pernah menikah sebelumnya."


Ardo menjeda kalimatnya sejenak untuk melihat reaksi Jinan yang ternyata masih menatapnya dalam diam.


"Canggung, gugup, panik, atau apa pun itu, pasti akan selalu ada untuk dua orang asing yang baru saja menjalin suatu hubungan. Terlebih untuk wanita muslimah sepertimu yang baru satu kali menjalin hubungan dengan waktu yang sangat singkat."


"Aku faham akan ketakutan yang kau rasakan saat ini. Dan aku akan memberimu waktu hingga kau benar-benar siap untuk melepas hijabmu di depanku, bahkan untuk menyerahkan dirimu padaku. Tapi aku berharap agar kau tidak terlalu lama membuatku menunggu."


"Kau tahu, aku adalah pria normal. Meski aku belum pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita, tapi aku tidak menjamin akan bisa menahan gejolak asmara di diriku ini. Apalagi saat berada berdua dengan wanita yang aku cintai di dalam satu ruangan seperti ini."


Jinan menundukkan pandangannya. Mendengar perkataan Ardo, ia menjadi merasa bersalah karena sudah berniat untuk menghindari suaminya itu dari kewajibannya. Ia merasa bahwa dirinya ini sudah membuat suaminya kecewa.


Meski Ardo tidak mengatakannya secara langsung, tapi ia bisa melihat sendiri dari semua perkataan Ardo jika pria itu kecewa padanya karena ia yang belum bisa memberikan haknya sebagai seorang istri.


"Maafkan aku," lirih Jinan masih dengan menatap lantai.


Ardo menangkup kedua pipi Jinan dan diarahkannya agar menatap ke arahnya.


"Kenapa minta maaf?" tanya Ardo. Sebutir air mata yang jatuh dari kelopak mata wanita itu membuat Ardo tersenyum tipis dan mengusap pipi istrinya yang basah dengan lembut. "Kenapa menangis?"

__ADS_1


"Maafkan aku," lirih Jinan kembali.


"Hey, kenapa minta maaf lagi? Aku tidak apa-apa. Aku bisa mengerti, kau santai saja." Ardo menarik Jinan dalam pelukannya. Ia mencium pucuk kepala istrinya dengan sayang.


"Ayo kita tidur, ini sudah malam." Ardo menarik tubuhnya dari pelukannya, ia hendak berdiri untuk segera tidur, namun langkahnya terhenti saat Jinan menarik tangannya.


Ardo menoleh ke arah Jinan. "Ada apa?"


Jinan menelan salivanya. "Aku ... aku sudah siap."


Ardo terdiam sejenak. Siap? Ia kembali mendudukkan tubuhnya disamping Jinan. Di raihnya kedua tangan wanita itu, dan dielusnya dengan sayang tangan lembut itu.


"Jangan dipaksakan. Aku bisa menunggu sampai kau benar-benar siap. Dan jangan merasa terbebani akan hal ini. Aku tidak mau kau melakukannya hanya karena terpaksa," ucap Ardo dengan tersenyum, berusaha menenangkan Jinan.


"InsyaAllah aku siap, Ar. Aku ... aku tidak ingin membuatmu menunggu. Izinkan aku berbakti padamu," Jinan menjeda ucapannya, "Suamiku."


Pria manapun akan sangat senang jika mendengar kalimat romantis itu dari mulut istrinya. Wanita yang mereka cintai. Begitu juga dengan Ardo saat ini. Rasanya seperti mimpi saja saat Jinan menyebut kata 'Suamiku' dan mengatakan bahwa dia mau memberikan haknya padanya, bahkan di malam pertama pernikahan mereka.


"Apa kau serius?" tanya Ardo penuh harap akan jawaban 'ya' dari Jinan.


"Insyaa Allah aku siap, Ar," jawab Jinan pelan.


Ardo tersenyum penuh kemenangan. Tanpa banyak bertanya kini tangannya sudah bergerah hendak membuka Jilbab Jinan. Sungguh ia sangat penasaran sekali dengan wajah cantik istrinya itu saat sedang tidak berjilbab. Ia yakin semua lelaki yang pernah melihat Jinan pasti akan merasakan hal yang sama dengannya. Tapi sayangnya, hanya ia seoranglah pria beruntung yang bisa melihat keindahan itu.


Saat tangan Ardo sudah berada di atas kepala Jinan dn hendak menarik jilbab itu, tiba-tiba saja Jinan menahan tangannya.


"Kenapa?" tanya Ardo heran. Jangan bilang jika Jinan berubah pikiran? Oh no, bisa gila ia malam ini jika Jinan sampai berubah pikiran.


Jinan terdiam sejenak. "Jangan pernah tinggalkan aku. Impianku untuk menikah sekali seumur hidup sudah tidak ada, dan aku tidak mau menikah untuk ketiga kalinya."


Ardo bisa melihat raut kecewa di mata wanitanya itu. Entahla seperti apa rasanya sakitnya dikhianati oleh pria br3ngs3k itu, sehingga membuat Jinan takut untuk menjalin hubungan kembali. Namun dalam hati ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan membuat Jinan kecewa dan selalu membuat Jinan bahagia hingga akhir hayatnya nanti.


"Yang bisa membuatku meninggalkanmu hanyalah kematian, Ji. Tidak akan ada selain kematian yang bisa membuatku meninggalkanmu. Aku akan selalu bersamamu. Jika boleh, hingga kita di akhirat nanti."


Tanpa sadar Jinan memeluk tubuh Ardo dengan air mata bahagianya. Ia tidak tahu apakah Ardo berbohong atau serius dengan perkataannya. Tapi apa yang ia dengar dari mulut Ardo saat ini, ia merasa jika Ardo tidak hanya mengatakan janji manis untuknya, melainkan sebuah keseriusan yang akan terus pria itu berikan untuknya.


Sementara Ardo yang dipeluk oleh Jinan kini membatu sejenak, ia tidak percaya jika Jinan bisa memulai kontak fisik dengannya lebih dulu. Merasa bahunya basah karena air mata Jinan, Ardo mengusap punggung istrinya agar istrinya itu bisa sedikit lebih tenang.


Beberapa menit kemudian Jinan menarik tubuhnya dari pelukannya bersama Ardo. Dan saat itu Ardo segera mengusap pipi istrinya sembari tersenyum kecil.


"Sudah selesai menangisnya?" tanya Ardo bercanda, namun tetap dijawab Jinan dengan anggukan kecil.


"Apa kita bisa memulainya sekarang?" tanya Ardo mengingat niat awalnya yang ingin membuka jilbab Jinan.

__ADS_1


Jinan menatap Ardo dan menganggukkan kepalanya dengan malu-malu. Saat tangan Ardo sudah ada di kepala Jinan dan hendak membuka jilbab itu, lagi-lagi Jinan menahan tangannya.


"Ada apa?" tanya Ardo heran.


"Em, apa tidak sholat sunnah dulu?" tanya Jinan dengan tersipu.


Ardo tersenyum. "Sebelum sholat. Apa boleh aku membuka hijabmu lebih dulu?"


Tanpa menjawab pertanyaan Ardo, Jinan langsung meraih tali pengait jilbabnya yang ada di belakang kepalanya. Saat ia hendak melepas ikatan tali itu, kini giliran Ardo yang menahannya.


"Biar aku saja."


Tidak bisa menolak, Jinan akhirnya membiarkan saja Ardo membuka jilbabnya. Perlahan tapi pasti, tangan Ardo mulai membuka jilbab itu dengan hati-hati. Baik Ardo maupun Jinan, mereka sama-sama terlihat deg-degan akan hal itu. Ardo deg-degan karena akan segera melihat wajah istrinya yang tanpa penghalang, sedangkan Jinan deg-degan karena mulai malam ini ia akan segera menjadi milik Ardo sepenuhnya.


Saat jilbab sudah terbuka, Ardo tak bisa berkata-kata dengan apa yang ia lihat. Selama ini, bagaimanapun situasinya, ia akan selalu mengatakan bahwa mamanya adalah wanita tercantik di dunia. Namun setelah melihat keindahan di depan matanya saat ini, dengan perasaan bersalah ia harus mengatakan bahwa istrinya adalah satu-satunya wanita tercantik di dunia ini.


Sepertinya besok ia harus berterima kasih pada ayah dan ibu mertuanya. Karena berkat mereka, saat ini ia bisa mempersunting seorang bidadari dunia secantik dan sebaik istrinya ini. Jinan!


"Cantik." Satu kata yang berhasil membuat kedua pipi Jinan menjadi merah merona karena malu akan pujian dari suaminya itu.


"Ayo kita wudhu."


Ardo bangkit dari duduknya, meninggalkan Jinan untuk segera berwudhu di kamar mandi. Di tengah hujan rintik malam itu, kedua pasangan baru itu kini tengah melaksanakan sholat sunnah berjama'ah. Tidak memakan waktu lama, sepuluh menit kemudian mereka berdua sudah berada di atas kasur dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polos mereka berdua.


Sementara baby Ayla saat itu sudah diletakkan Ardo di atas kasur single samping kasur mereka. Entah kebetulan atau apa, karena setelah mereka sholat sunnah, tiba-tiba saja dua orang pria yang merupakan pegawai hotel mengantarkan satu buah kasur tambahan ke kamar mereka.


  


  


******


   


  


Segini aja ya, udah jangan ganggu Jinan dan Ardo yang lagi ibadah😙 Sorry nggak bisa diceritakan proses pembuatan adiknya baby Ayla karena Nai masih jomblo. Takut nanti jadi pengen buat juga😅😝😋


    


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘

__ADS_1


__ADS_2