
Setelah melewati perjalanan panjang yang cukup memakan waktu, kini mereka telah sampai pada rumah utama yang di maksudkan oleh Ardo saat di dalam mobil tadi. Rumah utama yang Ardo maksud adalah rumah sederhana yang tidak terlalu besar layaknya rumah para sultan yang sering diceritakan Ria pada novel bacaannya. Namun dibalik kesederhanaannya itu, rumah ini justru terlihat begitu mewah dan sangat sedap dipandang mata.
Rumah ini adalah milik orang tua Ardo. Meski hidup dengan bergelimang harta, tapi Elif tipikal orang yang kurang menyukai rumah yang berukuran terlalu besar. Selain karena anggota keluarga mereka yang tidak terlalu banyak yang tinggal di sana, Elif juga tidak terlalu suka jika ada banyak orang asing yang berkeliaran di rumah pribadinya.
Hal yang menakjubkan dari rumah itu saat mobil yang mereka tumpangi bergerak ke arah samping rumah adalah, taman dan garasi mobilnya. Taman yang sangat indah dengan luas sekitar 50 meter, dan garasi mobil yang di mana berbagai jenis mobil berjejer rapi tanpa saling menghalangi jalan untuk mobil lain yang akan keluar masuk.
Pemandangan itu sungguh sangat memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya, terutama bagi Jinan yang saat ini sedang membelalakkan matanya. Ia benar-benar tidak menyangka jika dibalik rumah sederhana yang ia lihat dari arah depan, ternyata terdapat sebuah garasi yang keren dan taman yang sangat indah di belakangnya.
"Masyaa Allah ...."
Sebuah suara yang terdengar di telinga Ardo membuat pria itu menoleh pada asal suara tersebut. Ia tersenyum saat melihat raut kagum itu pada wajah istrinya.
Taman yang ia bangun sepuluh tahun lalu khusus untuk mamanya tercinta itu memang sangat memanjakan mata dan bisa membuat siapapun yang berada di sana merasa tenang dan nyaman. Bukannya ia ingin membanggakan diri atas apa yang telah ia ciptakan, tapi memang pada kenyataannya seperti itu, dan ia cukup bangga dengan dirinya sendiri.
"Indah, kan?" tanya Ardo tepat pada telinga Jinan.
"Bagaimana bisa kalian menciptakan taman seindah itu?"tanya Jinan tanpa menatap ke arah Ardo.
"Apa pun yang dibuat dengan cinta, akan menghasilkan sesuatu yang sangat indah," bisik Ardo lembut.
Saat hembusan nafas Ardo menerpa daun telinganya, Jinan mengalihkan pandangannya dari taman itu kepada Ardo. Ia membatu saat jarak di antara mereka hanya tersisa 1 cm.
Kedua mata mereka beradu cukup lama, hingga pada saat Ardo hendak memajukan wajahnya, sebuah suara dari arah depan berhasil merusak momen romantis yang barus saja ia ciptakan.
"Maaf Tuan, kita sudah sampai."
Jinan menarik tubuhnya dari Ardo dengan menghela nafasnya beberapa kali untuk menenangkan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Malu sekali rasanya saat ada orang yang memergokinya saat ia hendak melakukan sentuhan fisik dengan suaminya itu. Lagian, kenapa juga ia diam saja saat Ardo hendak mendekatkan wajahnya seperti tadi.
Sementara Ardo saat itu hanya memejamkan matanya dengan kesal. Ia melirik pada anak buah papanya itu dengan tatapan tajam, memberi kode agar pria itu keluar lebih dulu dari mobil.
"Maaf," ucap Ardo pada Jinan saat pria itu sudah keluar mobil.
"Em. Ayo kita keluar," ujar Jinan dan segera membuka pintu mobil dengan salah tingkah.
...
__ADS_1
"Home tour-nya nanti saja, kalian istirahat saja dulu. Setelah sholat isya' kita makan malam bersama di bawah," ujar Basir pada Jinan saat mereka sudah berada di ujung bawah anak tangga.
Kedua anak dan menantunya menganggukkan kepala. Mereka berpisah menuju kamarnya masing-masing, yang di mana kamar Ardo dan Huri sama-sama berada di lantai dua, sedangkan kamar Basir dan Elif berada di lantai satu.
"Masuklah," ujar Ardo saat ia berhasil membuka pintu kamarnya.
Jinan menatap Ardo sejenak, kemudian ia melangkahkan kakinya, memasuki kamar suaminya itu. Baru tiga langkah berjalan, tiba-tiba mulut Jinan ternganga saat pandangannya tak sengaja melirik pada sebuah bingkai foto pernikahan mereka berdua yang tergantung di atas punggung tempat tidur.
Jinan menoleh pada Ardo yang masih berdiri di belakangnya dengan tersenyum senang.
"Ayo masuk, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu."
Ardo memeluk pinggang Jinan dan mengajaknya agar semakin masuk ke dalam kamarnya yang sekarang sudah menjadi kamar mereka berdua.
"Setelah kau menerimaku, aku langsung merenovasi kamar ini menjadi lebih besar. Warna kamar ini sebelumnya adalah soft grey, aku merubahnya menjadi warna putih karena aku tahu bahwa putih adalah warna kesukaanmu untuk sebuah kamar. Oh ya, aku juga sudah menambah satu ruangan lagi untuk pakaian dan barang-barang wanitamu lainnya seperti hijab atau aksesoris. Karena yang aku tahu, setiap wanita pasti memiliki barang-barang pribadi dan pakaian yang jumlahnya bahkan bisa dua kali lipat dari pakaian pria." Ardo menunjuk sebuah pintu berwarna hitam yang terletak di depan tempat tidur.
"Apa kau mau melihatnya?" tanya Ardo dan diiyakan Jinan.
"Letakkan Ayla di atas kasur dulu. Nanti dia terbangun jika terus kau ajak berkeliling."
Jinan yang melihat itu mengucap syukur berulang kali dalam hatinya. Ia masih tidak percaya, karena apa yang pernah ia lihat di film-film, ternyata bisa ia rasakan saat ini setelah menjadi istri seorang Evardo.
"Mama tidak menyukai rumah besar. Setiap ruangan di rumah ini sudah dibuat semaksimal mungkin oleh papa. Jadi, aku minta maaf jika ruangan yang kuberikan untukmu ini sangat kecil."
Jinan menatap Ardo dengan mengernyitkan keningnya.
"Untukku?"
"Ya, ruangan ini khusus untukmu. Semua pakaian, hijab, tas, sepatu, apa pun itu milikmu akan berada di sini.Tapi kau tenang saja, jika kau kekurangan lemari, kau bisa meletakkannya di lemariku yang ada di luar."
"Kenapa seperti itu?"
"Apanya?"
"Ar, ruangan ini cukup besar jika hanya untuk pakaianku sendiri. Aku bukanlah tipe orang yang suka mengoleksi pakaian seperti yang kau pikirkan. Ini akan mubazir, Ar."
__ADS_1
"Maafkan aku. Ternyata aku masih belum memahamimu sepenuhnya," ujar Ardo.
Jinan mendekati Ardo dengan tersenyum. Ia usap lembut rahang pria itu dan membuat pandangan mereka bertemu. "Tidak perlu terburu-buru, semua butuh proses. Di bandingkan denganmu, aku bahkan lebih banyak belum memahamimu."
"Terima kasih. Terima kasih sudah menerimaku."
Ardo memeluk Jinan erat. Ia memang belum lama menikah dengan Jinan, tapi ia sungguh merasa sangat beruntung sudah bisa menikah dengan wanita seperti Jinan. Wanita istimewah dengan segala kesederhanaannya. Ia harap ia bisa menjadi cinta terakhir Jinan, dan begitu juga sebaliknya.
"Apa kau sudah selesai?" tanya Ardo saat ia menarik pelukannya.
"Selesai apa?" tanya Jinan heran.
"Menstruasi."
Mendengar kata tersebut, pipi Jinan kini menjadi merah. Ia kini paham akan maksud dari pertanyaan suaminya tadi.
"Maaf, aku be–"
"It's oke," potong Ardo yang langsung mengerti tanpa mendengar ucapan lengkap Jinan. "Ayo istirahat. Aku mau sholat dulu, sebentar lagi waktu maghrib habis."
Jinan menghela nafasnya tidak enak hati. Ia yang melihat keseriusan Ardo selama beberapa hari ini sebenarnya sudah mulai ingin menyenangkan hati suaminya itu dengan cara apa pun. Cara apa pun yang salah satunya yaitu dengan melakukan apa yang pria normal inginkan bersama istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, bukan ia yang mengendalikan semua ini.
...
"Besok pagi aku harus segera pergi ke kantor. Ada pekerjaan penting yang harus aku lakukan. Jika kau ingin melihat-lihat isi rumah ini, kau bisa minta ditemani dengan Kak Huri dan Cemile. Apa kau tidak keberatan?" tanya Ardo saat mereka sedang dalam perjalanan menuju lantai satu untuk ikut makan malam bersama.
Jinan tersenyum tipis. "Oke."
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
__ADS_1
Piupiu, see u nxt bab 😘