
Alarm yang di set pukul 04.45 pagi kini berdering kencang, membangunkan penghuni kamar yang kini sedang menikmati waktu istirahatnya setelah melakukan ibadah panjangnya semalam. Ardo yang saat itu terbangun lebih dulu segera mematikan alarm yang memekikan telinga.
Ia melihat Ayla yang ada di kasur single samping kasurnya seperti sedang menggeliat hendak menangis segera meraih tubuh bayi mungil itu untuk menenangkannya agar tidak menangis. Sedangkan Jinan sendiri, karena saking lelahnya, wanita itu bahkan tidak bergerak sedikitpun dari tidurnya meski suara alarm yang singkat itu mengisi seluruh sudut ruangan kamar mereka.
Melihat Jinan yang masih tertidur dengan sangat nyenyak membuat Ardo jadi tidak tega jika harus membangunkan wanita itu lebih awal seperti ini. Untungnya setelah memberi ASI pada Ayla di tengah-tengah ibadah mereka semalam, tepatnya pukul satu pagi hingga sampai saat ini, bayi mungil itu belum juga terbangun dan meminta makanannya pada Jinan. Jadi Jinan bisa istirahat dengan tenang tanpa harus terbangun untuk menyusui anaknya.
Merasa Ayla sudah kembali tertidur, Ardo meletakkan kembali bayi mungil itu di atas kasur single. Ardo mendekati istrinya yang masih tertidur, ditatapnya wajah lelah wanita cantik itu dengan senyum kebanggaannya, lalu dengan perlahan ia cium kening istrinya dengan sayang sebelum beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya agar bisa melaksanakan ibadah subuh.
"Terima kasih, Sayang. I love you," bisik Ardo dengan sangat pelan agar istrinya tidak terbangun akan suara dan gerakannya.
Saat Ardo sedang melaksanakan ibadah subuh, tiba-tiba saja Ayla terbangun dari tidurnya dengan menangis kencang. Selama hampir satu menit Ayla menangis, Jinan yang mendengar kebisingan dalam tidur nyenyaknya itu akhirnya menggeliatkan tubuhnya sembari mengerjabkan matanya. Seperti biasanya, saat Ayla menangis di tengah malam, Jinan akan segera terbangun untuk menenangkan anaknya itu.
Jinan bergerak secara perlahan menuju putri cantiknya itu karena saat itu daerah kewanitaannya sedikit perih, jadi ia tidak bisa bergerak cepat. Mengingat tentang daerah kewanitaannya, pandangan Jinan kini menatap sekitar, mencari keberadaan suaminya. Ia yang melihat Ardo sedang sholat lantas meraih ponselnya yang ada di nakas untuk melihat jam.
"Astghfirullah, sudah jam lima," gumam Jinan.
Menyadari tangisan Ayla yang semakin kencang, Jinan langsung tersadar akan bayi mungil itu dan bergegas untuk memberinya ASI. Saat diberi ASI, Ayla langsung terdiam dan menikmati satu-satunya makanan lezat yang bisa ia teguk itu.
"Ji."
Jinan terlonjak kaget saat Ardo memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang, menatap Ardo yang masih terduduk di sajadahnya. Kebetulan saat itu Jinan menyusui Ayla dengan posisi memunggungi Ardo. Meski Ardo sudah melihat tubuhnya, tapi Jinan masih belum seberani itu untuk menampakkan bagian privasi dari tubuhnya secara terang-terangan pada Ardo.
"Y ... ya?" tanya Jinan.
"Aku sudah menyediakan air hangat untukmu, mungkin sebentar lagi sudah bisa dipakai. Setelah menyusui Ayla, mandilah. Biar aku yang menjaga Ayla," ujar Ardo memberitahu.
Jinan tersenyum malu, ia hanya mengangguk tanpa menyahuti ucapan Ardo. Kemudian ia membalik badan lagi dan fokus menyusui Ayla sebelum Ardo menghampirinya dan sebelum Ayla selesai dengan ASI-nya.
Beberapa menit berlalu, kini Ardo yang bergantian menjaga baby Ayla, sedangkan Jinan sendiri sedang melaksanakan sholat subuhnya yang terlambat.
...
Selepas melaksanakan kewajibannya, Jinan dan Ardo duduk santai di sofa double depan televisi yang ada di ruang tamu kamar hotel mereka.
"Ji, aku mau bicara penting denganmu," ujar Ardo setelah film yang sedang mereka tonton selesai.
"Apa?"
__ADS_1
"Kau sudah tahu bukan jika papa sudah menyerahkan perusahaannya padaku?" Jinan mengangguk akan pertanyaa Ardo.
"Aku ... aku tidak bisa berlama-lama di Indonesia, karena masih banyak pekerjaan yang harus aku urus. Apa kau tidak keberatan jika tiga hari lagi kita segera pulang ke Turki?" tanya Ardo di akhir kalimatnya.
Jinan diam sejenak. Pulang ke Turki? Ardo memang pernah mengatakan padanya jika setelah mereka menikah, mereka akan tinggal di Turki. Tapi tiga hari lagi?
"Apakah ... harus secepat itu?" tanya Jinan ragu. Ia takut Ardo tersinggung dengan pertanyaannya.
"Maaf jika aku baru bisa memberitahumu dadakan seperti ini. Saat itu aku terlupa untuk memberitahumu. Tapi aku benar-benar tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu lama, Ji."
Jinan tersenyum tipis. "Baiklah. Aku akan ikut kemanapun suamiku pergi."
"Suamiku?" tanya Ardo dengan menaikkan salah satu alisnya.
Jinan membuang pandangannya, ia tak kalah terkejutnya dengan Ardo akan perkataannya yang asal itu. Astaga Jinan, kenapa bisa keceplosan begini.
Ardo tidak bisa menahan tawanya saat melihat wajah Jinan yang sudah memerah karena menahan malu. Wanita itu selalu saja membuatnya gemas karena rasa malunya yang membuat pipinya memerah seperti tomat. Padahal saat pertama kali mereka bertemu, Jinan bahkan terlihat galak padanya, tapi entah kenapa tiba-tiba wanita itu berubah menjadi pemalu seperti ini. Ia jadi rindu dengan Jinannya yang galak dulu, pikir Ardo.
"Ji," panggil Ardo.
"Bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan sayang?"
Jinan sedikit terkejut dengan pertanyaan sekaligus permintaan dari Ardo itu. Sayang? Terdengar romantis, tapi terdengar memalukan bagi Jinan untuk hubungan mereka yang masih sangat baru ini. Bisa-bisa mereka akan terus digoda oleh keluarga Ardo dan Ria.
"Kenapa?" tanya Jinan asal.
"Kenapa apanya?" tanya Ardo yang tak mengerti.
"Em, maksudku ... em, apa tidak terlalu cepat?" tanya Jinan dengan bodohnya. Astaga, mungkin ini akan menjadi pertama kali baginya untuk ia merutuki dirinya sendiri yang tidak bisa bertanya dengan benar.
"Tidak ada kata terlalu cepat untuk memulai suatu kebaikan bagi sebuah hubungan. Aku tidak mungkin terus-terusan memanggil wanitaku hanya dengan menyebut namanya saja. Aku ingin memanggilmu dengan panggilan yang menjadikan itu sebagai do'a. Sayang, yang artinya aku akan selalu menyayangimu. Bukan hanya itu saja, aku juga ingin membuktikan pada orang-orang di luar sana yang pernah menghinamu, menuduhmu, atau bahkan yang pernah meninggalkanmu, bahwa kau adalah wanita hebat yang memang sepantasnya diperlakukan dengan istimewah seperti ini."
"Kau tidak perlu membuktikan apa pun pada siapapun mengenai diriku, Ar. Jika kau ingin memberikan sayangmu padaku, buktikan hanya pada diriku, bukan pada orang lain."
"Tapi aku ingin mereka melihat bahwa kau–"
"Ar," potong Jinan. "Selama kalian mencintai dan menyayangiku dengan tulus, itu sudah cukup bagiku. Tidak perlu pengakuan orang lain. Karena sebesar apa pun pengakuan dari kita, orang yang sudah menyimpan rasa benci akan sangat sulit untuk dirubah."
__ADS_1
Jinan dan Ardo terdiam. Mereka terdiam dengan saling bertatapan. Entah apa yang mereka pikirkan, semua itu hanya mereka sendirilah yang tahu. Beberapa detik kemudian, Ardo menghela nafasnya berat, kemudian ia tersenyum kepada Jinan, seolah perkataan Jinan hanyalah angin lalu.
"Baiklah. Tapi aku akan tetap memanggilmu dengan apa yang sudah aku katakan tadi. Aku mohon jangan menolak," ujar Ardo yang seolah tidak ingin dibantah.
Jinan yang tidak bisa menolak karena Ardo terus memaksanya untuk memanggilnya dengan sebutan sayang, akhirnya ia hanya bisa mengiyakannya saja. Sementara Ardo yang mendapat izin dari Jinan langsung mengembangkan senyumnya. Sebenarnya ia tidak butuh izin dari Jinan akan hal itu, hanya saja ia ingin jika suatu saat ia memanggil Jinan dengan kalimat yang sedikit romantis, itu tidak akan membuat Jinan terkejut lagi.
"Bisa tolong kau ambilkan ponselku dia atas nakas?" ujar Ardo di sela acara televisi yang sedang mereka tonton.
Tanpa bertanya, Jinan segera bangkit dari duduknya untuk mengambil ponsel Ardo di atas nakas tempat tidur mereka. Saat Jinan berdiri dan membelakangi Ardo, Ardo mengernyitkan keningnya saat melihat noda merah pada gamis abu-abu Jinan di bagian bokongnya.
Setelah diperiksa oleh Jinan di kamar mandi, ternyata wanita itu sedang kedapatan tamu bulanannya. Dan saat itu juga Ardo terdiam dengan pikirannya sendiri.
"Datang bulan? Harus sekarangkah?" batin Ardo sembari menelan pil pahitnya.
"Ayla, mamamu bisa membuat papamu ini gila selama satu minggu. Bagaimana ini? Apa yang harus Papa lakukan?" bisik Ardo pada bayi mungil yang ada dalam gendongannya itu.
Saat melihat Jinan yang kembali dari kamar mereka, Ardo segera pura-pura menonton televisi dengan serius. Seolah ia sedang fokus akan permasalahan yang ada pada acara yang sedang ia tonton.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘
__ADS_1