
Sejak kecil Jinan selalu hidup dengan damai dalam segala kesederhanaannya. Hidup dengan tenang di desa yang ada di pinggir kota. Masalah terbesarnya saat itu hanyalah saat ada seorang preman yang mencoba memalak ibunya di pasar. Semenjak kepergian kedua orang tuanya, masalah terbesarnya saat itu hanyalah kehampaan, pengkhianatan, serta cacian akan kehamilannya.
Saat ia ingin membangun kembali hidup barunya di luar negeri, masalah terbesar Jinan saat itu adalah sebuah teror yang amat mengerikan baginya. Dan saat ini, Jinan tidak pernah menyangka bahwa ia akan mendengar suara tembakan yang begitu mengerikan dari jarak yang sangat dekat. Bahkan tembakan itu ternyata tertuju kepadanya. Apakah seperti ini rasanya hidup di luar negeri? Begitu menakutkan dan jauh dari kata tenang seperti yang pernah ia rasakan di desanya tempatnya tinggal.
Selama dua hari ini, Jinan hanya mengurung dirinya di dalam rumah dengan ditemani Ria dan keluarganya. Rasa takut akibat kejadian menakutkan di acara aqiqah Ayla kemarin membuat Jinan tak berani jauh dari orang-orang terdekatnya. Ia takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada anaknya jika saja kejadian seperti kemarin terulang lagi di saat ia sedang sendiri.
Jinan juga tidak berani menerima tamu selain keluarga Ria. Bahkan Ardo yang berulang kali datang ke rumahnya pun ia tolak kehadirannya, meski ia tahu jika pria itu mengenal paman Ria, Marco. Ia hanya belum berani saja bertemu orang yang tidak dikenalnya. Apalagi kemarin ia sempat melihat Ardo memegang senjata api, itu jelas membuat Jinan menjadi berpikir negatif pada pria itu. Ia pikir Ardo memang ada kaitannya dengan semua kejadian buruk di restorannya dan tembakan kemarin itu.
Hari ini adalah hari ketiga semenjak kejadian tembakan di acara aqiqah baby Ayla. Pagi ini Jinan sedang menyusui baby Ayla dengan ditemani mami Ria sebagai teman ngobrolnya. Sila memang belum pulang ke tanah air. Rencananya dia dan suaminya akan di Jerman selama satu bulan penuh untuk melepas rindu pada anak satu-satunya, Ria. Selama di Jerman, Sila dan suami tinggal di rumah Marco. Kadang setiap pagi atau siang ia dan suaminya akan berkunjung ke rumah Ria dan Jinan, dan akan kembali pada malam hari. Hari ini ia hanya bisa diantar oleh Elena yang kebetulan ingin pergi kuliah karena sang suami sedang ada urusan dengan Marco. Saat mereka sedang serius bercerita, tiba-tiba pintu kamar Jinan dibuka dari luar.
Ceklek ...
"Kak," panggil Ria dari ambang pintu.
Jinan menoleh menatap Ria tanpa mengubah posisinya.
"Ada apa, Ri?" tanya Jinan.
"Em, Kak Ardo datang lagi. Apa Kakak tidak mau menemuinya sebentar saja," ujar Ria ragu.
Jinan menatap wajah mungil baby Ayla. "Katakan padanya untuk pulang dan jangan pernah temui Kakak lagi, Ri. Kakak belum siap bertemu orang lain. Kakak takut, Ri," ujar Jinan nanar.
"Kak Ardo bilang, dia punya berita penting yang harus disampaikan pada Kakak."
"Tidak ada yang perlu disampaikan, Ri. Kaka–"
"Dia tahu siapa dalang dibalik semua ini, Kak," potong Ria.
Jinan terdiam sejenak, lalu ia menatap Ria dengan tatapan datar.
"Temuilah dia, Sayang. Siapa tahu dia membawa kabar baik."
Jinan menatap Sila saat wanita paruh baya itu mengelus punggungnya.
"Tapi Jinan masih takut, Mi. Bagaimana jika tiba-tiba ada orang jahat lagi di luar sana," ujar Jinan dengan raut cemas.
__ADS_1
Sila tersenyum. "Kita masih punya Allah yang akan melindungi kita, Sayang."
Jinan menatap Sila dengan tatapan nanar. Karena sangkin takutnya, ia hampir saja terlupa untuk menyertakan Allah di setiap permasalahannya.
"Astaghfirullah," lirih Jinan pelan sembari menundukkan kepalanya.
"Temuilah, Nak."
Jinan menatap Sila sejenak, lalu pandangannya mengarah pada Ria yang masih berdiri di ambang pintu.
"Aku tunggu di luar ya, Kak. Kasihan kak Ardo sendirian."
...
Di sinilah Jinan berada saat ini. Duduk di kursi terasnya bersama seorang Evardo. Pria antahberanta yang datang ke kehidupannya dengan sebuah penawaran aneh dan tak masuk akal menurutnya.
"Katakanlah. Aku tidak mau berlama-lama di luar sini bersamamu," ujar Jinan pelan.
"Tenanglah, mereka tidak akan berani mengganggumu lagi," ujar Ardo sembari menatap wajah samping Jinan.
"Tenang? Kau menyuruhku untuk tenang? Apa manurutmu aku bisa tenang setelah mengetahui bahwa ada orang yang berniat ingin mencelakaiku? Dan ... kau bilang tadi mereka tidak akan mengusikku lagi? Dari mana kau tahu?" tanya Jinan curiga.
"Aku akan ceritakan semuanya, tapi aku mohon untuk kau jangan memotong perkataanku sebelum aku menyelesaikan ceritanya."
Jinan membuang nafasnya kasar, lalu ia mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
Saat melihat Jinan hanya diam saja, kini Ardo mulai menceritakan semua yang telah dikatakan pria tua kemarin padanya. Tidak ada yang Ardo lewatkan sedikitpun dari apa yang ia ketahui tentang adanya teror di restoran Jinan serta kejadian di acara aqiqah Ayla kemarin. Bahkan nama Rico pun tak lupa untuk ia sematkan di dalam ceritanya.
Dan saat mendengar nama Rico keluar dari mulut Ardo, Jinan langsung menatap Ardo dengan raut ... campur aduk. Marah, terkejut, dan rasa tak percaya yang menyatu menjadi satu.
Baru saja Ardo menyelesaikan ceritanya, sebuah mobil berjenis BMW berwarna putih berhenti tepat di depan Jinan dan Ardo. Setelah beberapa detik menunggu, keluarlah tiga orang pria dan satu orang wanita yang salah satunya adalah Rico.
Rico yang melihat adanya Ardo di rumah Jinan pun menjadi emosi, ia berjalan cepat dan hendak memukul Ardo. Namun belum sampai tangannya pada wajah Ardo, Ardo sudah lebih dulu menangkis pukulan dari Rico.
Marco, Dedy, dan Ira yang baru saja datang bersana Rico pun kaget bukan main akan kelakuan pria itu. Begitu juga dengan Jinan, ia bahkan sempat memejamkan matanya sembari menjerit saat Rico hendak memukul Ardo.
__ADS_1
"Kenapa lagi kau ke sini hah? Tidak puas kau melihat Jinan hampir terluka kemarin?" teriak Rico yang masih berusaha untuk memukul Ardo.
"Rico, apa yang kau lakukan!" teriak Marco, lalu ia berlari untuk memisahkan anaknya dengan pria bernama Ardo itu.
"Kenapa kau mau memukul dia? Apa kau sudah gila?"
"Seharusnya Papa memukul dia juga. Semenjak kenal dia, Jinan sering sekali mendapat teror dari orang yang tidak dikenal. Dan terakhir pria ini datang ke sini, dia membawa sekelompok penjahat yang hampir saja melukai Jinan, Pa!" teriak Rico pada papanya.
Ria yang mendengar keributan dari dalam rumahpun kini sudah berada di ambang pintu. Ia ingin mengingatkan mereka untuk tidak ribut karena akan mengganggu baby Ayla, namun ia segera mengurungkan niatnya dan hanya menyaksikan apa yang sedang terjadi saat melihat situasi yang sedang tidak baik saat itu.
"Apa kau punya buktinya?" tanya Marco.
"Tanpa bukti juga kita semua sudah tahu bahwa dialah dalang dibalik semua ini."
"Jika kau tidak memiliki bukti, jangan pernah menuduh orang lain atas kesalahan yang belum tentu ia perbuat, sekalipun orang itu mencurigakan. Papa kenal dengan pria ini, dan Papa tidak percaya jika dia dalang di balik semua ini."
"Papa membelanya?" tanya Rico terkejut.
"Papa tidak membelanya. Papa hanya mengatakan apa yang menurut Papa benar saat ini."
Rico menggelengkan kepalanya. "Papa keterlaluan. Dia membawa pengaruh buruk pada Jinan, Pa!" teriak Rico.
"Bisa kalian hentikan," ujar Jinan tiba-tiba dengan suara pelan. Ia memegang kepalanya yang berdenyut. Baru saja hendak berjalan, tiba-tiba pandangannya kabur. Dan sedetik kemudian Jinan pingsan di tempat. Beruntung Ardo ada di depannya saat itu, dan kini tubuh Jinan sudah berada dalam pelukan Ardo.
"Kakak!"
"Jinan!"
"Astaga, Jinan!"
"Jinan!"
Hampir semua orang yang ada di sana memekik karena terkejut melihat Jinan yang tiba-tiba pingsan.
******
__ADS_1
LIKE, COMENT, and VOOTTEEE😘💕