
Tookk ... Tookk ...
Suara ketukan pintu pada pintu rumah Jinan yang cukup kencang membuat penghuni rumah tersebut dengan cepat membukakan pintu. Ternyata yang mengganggu keluarga kecil itu pagi-pagi seperti ini adalah sosok wanita cantik yang tak lain adalah Ria.
Ria yang baru saja mengetahui dari tetangganya bahwa rumah milik sahabatnya itu sudah ada penghuninya dengan tidak sabar segera pergi ke sana untuk mengecek siapa yang ada di rumah itu. Sebelumnya ia memang sangat yakin jika yang ada di sana adalah Jinan sang pemilik rumah. Apalagi saat mengingat perkataan Jinan beberapa bulan lalu tentang rencana kepulangannya ke Indo beberapa hari setelah idul fitri. Namun ia juga tak yakin karena Jinan yang tidak ada kabar sama sekali sejak tiga hari lalu.
Dan setelah pintu rumah terbuka, tebakannya ternyata benar. Ia melihat seorang pria tampan yang tak lain adalah Ardo yang membukakan pintu untuknya. Yang itu artinya, Jinan sahabatnya benar-benar ada di rumah itu.
"Kak Ardo," seru Ria dengan wajah kagetnya. "Ka ... kalian ada di sini?"
"Yang kau lihat, bagaimana?" tanya Ardo balik.
Ria terkekeh dengan salah tingkah. "Em, aku mau bertemu Jinan. Di mana dia?"
"Sedang membuat sarapan."
"Boleh aku masuk?" tanya Ria sembari menunjuk ke arah dalam rumah Jinan.
Tanpa menjawab, Ardo segera memiringkan tubuhnya, membiarkan teman istrinya itu masuk ke dalam rumah. Selama kedatangan Ria di rumah mereka, Ardo memanfaatkan kehadiran Ria untuk menjaga anak lelakinya yang masih tertidur, sedangkan ia harus menyegarkan tubuhnya yang sudah sangat lengket akibat keringatnya setelah olahraga beberapa menit lalu.
...
"Ya ampun Kak, bibit unggul mulai terlihat di wajah anak lelaki Kakak satu ini. Ganteng banget sih. Seandainya aku nikah dengan bule kayak kak Ardo, anakku pasti bakal lebih tampan dari anak Kakak. Astaga, kok aku jadi pengen nikah sama cowok bule, ya."
Sedari tadi Jinan hanya menggelengkan kepalanya saja mendengar celotehan sahabatnya satu itu mengenai ketampanan anak lelakinya, setelah beberapa menit lalu sibuk ngomel karena kedatangannya yang tidak ada kabar. Tapi Ria orangnya memang begitu, selalu tidak bisa berlama-lama cemberut jika melihat ada yang bening-bening seperti ini. Jadi Jinan santai saja karena ia sudah sangat hafal akan tingkah wanita berambut hitam sebahu itu, meski wanita itu sudah memiliki kekasih.
"Mami sama papi sudah tahu kalau Kakak sudah pulang, Ri?" tanya Jinan yang hampir menyelesaikan hidangan sarapannya di atas meja makan.
"Nggak tahu tuh. Tadi pas aku tahu Kakak sudah pulang, aku langsung ke sini tanpa bilang mami papi. Aku yakin, mereka pasti akan seneng banget kalau tahu Kak Jinan sudah balik ke sini. Apalagi sampai tahu kalau wajah asli kedua anak Kakak ini cantik dan tampan bagaikan artis korea."
__ADS_1
"Oh ya?" tanya Jinan yang langsung dibalas Ria dengan anggukkan kepala.
Setengah jam setelah pembahasan tersebut, lebih tepatnya saat mereka sedang menikmati sarapan pagi bersama, tiba-tiba saja suara ketukan pintu dengan diiringi ucapan salam dari luar rumah terdengar di telinga mereka yang ada di meja makan. Karena sudah bisa menebak siapa yang datang, Jinan memutuskan untuk membuka sendiri pintu tersebut.
Dan benar saja, di depan sana Sila dan Dedy sudah terlihat berdiri dengan wajah exited-nya. Lebih tepatnya Sila yang sangat exited karena sudah tidak sabar ingin bertemu wanita yang sudah dianggapnya sebagai anak sendiri itu.
Saat pintu itu terbuka dan saat pandangan kedua orang paruh baya itu mendapatkan wajah Jinan di ambang pintu , Sila dengan cepat memeluk tubuh ramping Jinan sebagai bentuk spontannya saat bertemu dengan orang yang dirindukan.
"Masyaa Allah Jinan, akhirnya kita bertemu juga ya, Sayang. Mami kangen banget sama kamu loh," seru Sila dengan mata yang berkaca-kaca yang bahkan kini satu tetes air mata bahagianya sudah membasahi pipinya.
"Jinan juga kangen banget sama Mami. Mami apa kabar? Mami sehat 'kan?" tanya Jinan yang masih dalam pelukan Sila.
Sila melepas pelukannya. "Mami sehat, Sayang. Bagaimana dengan kamu? Apa kamu sehat?" tanya Sila sembari memegang kedua pipi tirus Jinan.
"Jinan sehat, Mi. Kita semua sehat kok."
"Kapan sampai sini? Kamu kok nggak ngabarin kita sih Sayang, kalau mau pulang. 'Kan kita bisa jemput kalian di bandara."
Pandangan Jinan kini beralih kepada Dedy yang sudah berada tepat di sebelah Sila.
"Assalamualaikum, Pi." Jinan mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "Papi apa kabar?"
"Alhamdulillah baik. Kamu sama keluarga kamu gimana, Nak? Baik-baik saja, kan?"
"Alhamdulillah kita baik-baik saja, Pi."
"Ya udah, ayo masuk, Mi, Pi. Kebetulan kita lagi sarapan. Mami dan Papi sudah sarapan? Kalau belum, sarapan bareng kita aja. Ria juga ada di dalam kok."
Jinan membawa Sila dan Dedy masuk kedalam untuk sarapan bersama. Kebetulan sekali saat itu dua orang paruh baya itu belum sarapan karena tadi mereka terburu-buru ingin cepat-cepat berkunjung ke rumah Jinan.
__ADS_1
Waktu sarapan yang biasanya hanya memerlukan waktu paling lama setengah jam, maka pagi ini mereka melewati sarapan hampir satu setengah jam karena perbincangan yang sangat panjang membuat waktu sarapan mereka jadi lebih lama. Tak puas berbincang di meja makan, kini mereka melanjutkan perbincangannya di atas sofa ruang tamu hingga waktu menunjukkan pukul 10.33 pagi.
"Astaga Mi, sudah jam segini. Kita 'kan ada janji untuk bersilaturahmi ke rumah pak Fadil setelah jam makan siang nanti," ujar Dedy yang mengingatkan istrinya akan janji mereka kepada partner kerjanya.
"Astaghfirullah. Iya Pi, Mami lupa. Saking asiknya ngobrol sama Jinan, Mami sampai lupa kalau ada janji dengan Pak Fadil," sahut Sila yang juga sama terkejutnya. "Yasudah kalau begitu, kita pamit dulu ya, Sayang. Nanti malam kalian jangan lupa untuk ke rumah Mami, ya. Kita makan malam bersama. Mami akan masakin makanan kesukaan kamu."
"Insyaallah Mi," sahut Jinan.
...
Dan malam harinya setelah melaksanakan ibadah sholat isya' berjama'ah di rumah bersama suami dan anak sulungnya, Jinan kini sudah siap untuk berkunjung ke rumah Ria untuk menghadiri acara makan malam dari Sila tadi pagi.
"Mama, kita mau ke mana?" tanya Ayla saat mereka sudah berada di halaman depan rumahnya.
"Mau makan malam di rumah oma Sila, Sayang," sahut Jinan.
"Rumah oma Sila di mana, Ma?"
"Itu, yang rumahnya warna putih," tunjuk Jinan ada rumah bercat putih dengan pagar berwarna cokelat tua.
Di tengah perjalanan mereka, tak sedikit Jinan bertemu dengan tetangganya yang kebetulan berpapasan dengannya. Tak sedikit juga dari mereka yang mencoba berbasa-basi dengannya. Mulai dari menanyakan kabar hingga sampai memuji keelokan fisik kedua anak serta suami dan dirinya.
Awalnya Jinan merasa santai dengan sapaan tetangganya itu, namun saat ada seorang wanita paruh baya yang mulai masuk pada topik mengenai mantan suaminya, mood Jinan tiba-tiba saja perlahan memburuk. Kini ia sudah mulai merasa tidak nyaman berada di sana.
"Em, maaf ibu-ibu, kita sudah ditunggu dengan keluarga pak Dedy dan bu Sila. Mungkin ngobrolnya kita lanjutin besok saja, ya," seru Ardo dengan bahasa Indonesia yang audah lumayan fasih saat menyadari adanya rasa ketidaknyamanan pada istrinya. Bukan hanya istrinya, sebenarnya ia juga kurang senang jika ada yang membahas mengenai pria brengs3k itu, apalagi di tengah mood mereka yang sedang normal.
******
__ADS_1
Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys 😘 iya