Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 38


__ADS_3

Tookk ... Tookk ...


Suara ketukan pintu pada rumah minimalis yang tak jauh dari pusat kota membuat penghuni rumah tersebut menghentikan aktifitasnya yang sedang bermain dengan seorang bayi perempuan di dalam kamar.


"Aku aja yang buka, Kak" ucapn Ria pada Jinan. Ya, rumah tersebut adalah rumah sewa milik Jinan dan Ria.


Tookk ... Tookk ...


"Tunggu sebentar," teriak Ria dari dalam rumah saat pintu kembali diketuk.


Saat pintu terbuka, Ria dikejutkan akan kehadiran Marco, Ira, Elena, dan Rico di depan pintu rumahnya.


"Paman, Bibi," serunya.


Ria mencium punggung tangan kedua orang tua itu, lalu ia mengajak masuk mereka bertiga.


"Jinan ada, Ri?" tanya Ira.


"Em, ada, Bi. Jinan sedang di kamar sama baby Ayla, Bi."


"Bisa kau panggilkan Jinan, Ri? Bibi ingin bicara dengannya."


"Ah?" Ria menatap Ira dan Maro bergantian, kemudian matanya kini menatap Rico yang sedang menatap ke arah meja ruang tamu. Ia cukup iba saat melihat wajah sepupunya itu yang terdapat lebam dan luka. Sepertinya Elena benar-benar mengadukan semua kelakuan Rico pada papanya. Dan Ria yakin bahwa lebam dan luka itu juga perbuatan Marco, karena saat Ardo memukuli Rico tadi pagi, luka dan lebam di wajah Rico tidak sebanyak itu.


"Ria?" seru Ira saat keponakannya itu hanya diam saja sembari menatap Rico.


"Ah? Ya, Bi?"


"Bibi ingin bicara dengan Jinan. Bisa kau panggilkan Jinan ke sini?" ujar Ira mengulangi permintaannya.


"Em, oke."


Ria berjalan menuju kamar untuk memanggil Jinan dan diikuti Elena dari belakangnya. Lebih baik ia bermain dengan baby Ayla saja dari pada harus melihat drama di luar sana, pikirnya.


Tak lama kemudian Ria kembali lagi dengan Jinan di belakangnya. Jinan menyalami Ira, lalu ia tersenyum tipis kepada Marco, kemudian ia mendudukkan tubuhnya di sofa double bersama Ria tanpa menyapa Rico yang duduk di sofa single samping Marco.


"Jinan," seru Ira.


Jinan hanya diam saja sembari menunggu apa yang akan Ira katakan padanya.

__ADS_1


"Jinan. Em, Mama mau tanya sama kamu, Nak."


"Mau tanya apa, Ma?"


"Eem, begini, Sayang. Mama mau tanya, apa benar Rico mau melecehkanmu, Nak?" Ira menggenggam erat tangan suaminya, ia takut jika Jinan membenarkan ucapannya.


Jinan terdiam dengan mata yang menatap ke bawah kakinya. Ia bingung ingin mengatakan apa. Jika memang benar Elena sudah memberitahu orang tuanya, lalu kenapa Ira menanyakan lagi hal itu padanya? Apa Ira butuh penegasan darinya, pikir Jinan.


"Katakan saja, Jinan. Apa pun jawabannya, Papa tidak akan marah. Lagipula Papa percaya akan apa yang Elena katakan tadi pagi kepada kami."


Ira menyikut lengan Marco, mengode untuk suaminya itu diam.


"Katakan saja, Jinan," ujar Ira.


"Em, Mama bisa tanyakan langsung pada Rico, Ma," ujar Jinan dengan melempar pertanyaan Ira pada Rico. Ia benar-benar bingung ingin mengatakan apa. Menurutnya, apa yang Rico lakukan padanya tadi pagi merupakan salah satu tindakan pelecehan. Tapi bagi mereka yang tinggal di negara bebas seperti ini, apakah itu bisa dikatakan sebagai pelecehan?


"Jinan. Di rumah tadi, Rico sudah menceritakan semuanya pada kami. Rico mengatakan bahwa dia hanya memegang tanganmu saja, Nak. Tapi Elena mengatakan bahwa Rico ingin melecehkanmu. Mama ingin tahu yang sebenarnya, Nak. Mama mohon, beritahu kami apa yang sebenarnya terjadi, Nak."


"Jinan tidak tahu apa yang Rico ceritakan pada kalian sebenarnya. Tapi seperti yang Mama ketahui dari Rico, Rico memang hanya memegang tangan Jinan saja, Ma." Jinan menjeda kalimatnya sejenak. Ia harus menyusun setiap kata-katanya sebaik mungkin agar apa yang keluar dari mulutnya tidak menimbulkan masalah baru, baik bagi dirinya ataupun bagi Rico. Beberapa detik kemudian Jinan menghela nafasnya sebelum melanjutkan perkataannya.


"Rico memang belum melakukan apa-apa kepada Jinan selain hanya memegang tangan Jinan saja. Tapi jika saat itu Ardo tidak ada, Jinan tidak tahu apa yang akan terjadi saat itu." Jinan menundukkan kepalanya. Ia tidak tahu apakah perkataannya ini sudah benar atau bahkan salah. Tapi kenyataannya begitulah yang terjadi, ia tidak pandai merangkai kata-kata.


Jinan dan Ria menatap Marco dengan wajah terkejutnya. Kenapa Marco menanyakan hal itu? Ria dan Jinan saling pandang sejenak. Layaknya memiliki telepati, mereka hanya terdiam dan saling pandang dengan semua prasangka di benaknya. Sepertinya mereka mulai curiga bahwa Marco mengetahui hal itu dari Elena.


"Rico yang mengatakan itu semua pada kami, Nak."


Ria dan Jinan terkejut kembali. Rico? Bagaimana bisa?


"Jinan," seru Marco dan membuat Jinan menatap Marco.


"Apakah benar, Nak?" Kini pandangan Jinan beralih pada Ira yang bertanya padanya.


"Itu benar, Bibi, Paman."


Bukan Jinan yang menjawab, melainkan Ria. Jika Rico sudah memberitahu orang tuanya, itu berarti tidak ada lagi yang harus ditutup-tutupi, pikir Ria.


Ria menceritakan apa yang ia ketahui tentang kejadian teror dan tembakan yang dilakukan Octav pada Jinan kepada kedua orang tua Rico. Tidak ada yang Ria lebih-lebihkan atau kurang-kurangi dari ceritanya. Yang Ria katakan saat ini sama persis seperti apa yang diceritakan Rico pada Ira dan Marco tadi pagi. Dan hal itu justru membuat Ira menangis dalam pelukan suaminya. Ira tidak menyangka bahwa apa yang Rico katakan padanya tadi pagi ternyata benar. Sedangkan Marco sendiri terlihat geram saat mengetahui bahwa rekan kerjanyalah dalang dari semua kejadian yang menimpa Jinan.


"Maafkan kelakuan anak Papa, Nak. Maafkan Papa dan Mama karena tidak bisa menjaga Rico dengan baik. Maafkan kami, Nak."

__ADS_1


Jinan hendak menyahuti ucapan Marco, namun sebelum ia berucap, ia dikejutkan dengan Ira yang duduk di hadapannya.


"Astaghfirullah. Mama kenapa duduk di sini, ayo berdiri."


Bukan hanya Jinang terkejut, semua yang ada di sana pun terkejut akan apa yang dilakukan Ira.


Jinan hendak membantu Ira berdiri, namun wanita itu menggelengkan kepalanya sembari menggenggam tangan kanan Jinan.


"Maafkan Rico, Jinan. Dia tidak tahu tentang kejadian direstoranmu. Rico bilang bahwa tuang Octav memang pernah mengancamnya untuk melukai saudaranya. Rico pikir itu adalah Elena. Tapi setelah beberapa minggu Elena tidak mendapatkan masalah apa pun, Rico berpikir bahwa tuan Octav tidak serius dengan ucapannya, Nak. Rico juga tidak menyangka bahwa tuan Octav akan melakukan itu semua sama kamu, Jinan. Mama mohon maafkan Rico, Nak."


"Mama berdirilah, Jinan sudah memaafkan Rico, Ma."


"Kau serius, Nak?" tanya Ira dengan mendongakkan wajahnya.


Jinan hanya menganggukkan kepalanya tanpa tersenyum. Ia memang sudah mencoba memaafkan Rico, karena ia tidak ingin menyimpan dendam pada siapapun. Apalagi ia akan pergi dari sini, biarlah semua ini menjadi pengalaman buruk baginya selama tinggal di negara ini. Namun untuk kembali dekat dengan Rico, sepertinya Jinan tidak akan bisa.


Ia cukup trauma untuk berdekatan dengan pria yang sudah hampir ingin melecehkannya. Meskipun yang dilakukan Rico saat itu hanya sekedar memegang tangannya saja, tapi bagi Jinan hal seperti itu sudah sangat menakutkan. Dan ia juga takut jika masih ada orang-orang yang semacam tuan Octav lagi kedepannya yang akan menganggunya dan baby Ayla. Menurutnya, nyawa tidak bisa diajak bercanda.


Ira bangkir dari duduknya, ia duduk di samping Jinan, sedangkan Ria bergeser ke sofa single samping Jinan. Ira memeluk tubuh Jinan cukup lama dalam diam.


"Maafkan Mama, Nak," seru Ira pelan yang masih dalam pelukan Jinan.


"Mama tidak salah, tidak perlu meminta maaf," ujar Jinan.


"Rico, minta maaflah dengan Jinan, Nak. Akui semua kesalahanmu," ujar Ira pada anak lelakinya.


Rico menatap Jinan dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Namun sayangnya, wanita itu tidak membalas tatapannya. Jinan hanya menundukkan kepalanya atau menatap ke arah lain selain ke arahnya.


Ya, dari awal kedatangan Rico sekeluarga ke sini hingga saat ini, Jinan memang tidak pernah melirik ke arah Rico sedikitpun. Jangankan untuk melirik, mengetahui bahwa pria itu mengunjunginya saja jantung Jinan sudah dag dig dug dibuatnya.


"Ji, aku minta maaf. Aku ... aku benar-benar tidak mengetahui apa yang sudah dilakukan tuan Octav padamu. Aku berani bersumpah–"


"Aku sudah memaafkanmu," potong Jinan tanpa menatap Rico sedikitpun.


"Aku juga minta maaf atas kejadian tadi pagi, Ji. Saat itu aku sedang dalam kondisi mabuk. Aku tidak sadar atas apa yang kulakukan padamu, Ji. Dan ... dan untuk perasaanku yang kuucapkan tadi pagi, aku serius, Ji. Aku tidak main-main dengan ucapank–"


"Co," seru Jinan dengan menatap kesal pada wajah pria itu. Jelas sekali tatapan itu menandakan bahwa ia tidak suka dengan kalimat yang Rico ucapkan padanya tentang perasaannya. Karena hal itu justru mengingatkannya akan kejadian buruk pagi tadi.


******

__ADS_1


Tengkyu sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘


__ADS_2