
Sore ini Jinan beserta Elena dan Ria akan mengunjungi restoran milik Jinan yang sebentar lagi akan menjadi milik orang lain. Ya, Jinan sudah menjual restorannya pada Ardo kemarin. Dan hari ini mereka akan menandatangani segala macam surat-menyurat yang berkaitan dengan pembelian restoran.
Jinan sengaja membawa Ria dan Elena dipertemuannya dengan Ardo sebagai saksi akan transaksi jual beli tersebut. Dan dari pihak Ardo sendiri, entahlah, Jinan juga tidak tahu siapa yang akan dibawa pria itu.
Sembari menunggu kedatangan Ardo, ketiga wanita dewasa itu mengisi waktu luang mereka dengan menyantap cemilan ringan mereka sambil berbincang santai dan bermain dengan baby Ayla. Mulai dari perbincangan santai mengenai perpisahan mereka, hingga berujung pada Ria yang tiba-tiba membahas tentang Ardo.
"Kalau dilihat-lihat, sepertinya kak Ardo memang serius dengan Kak Jinan."
Jinan menatap heran pada Ria. Kenapa juga anak ini tiba-tiba membahas tentang Ardo.
"Memangnya kenapa dengan Ardo?" tanya Elena.
"Sama seperti sebelumnya, kak Ardo menyatakan perasaannya kembali pada Kak Jinan," ujar Ria.
"Wow, apa kau serius, Ri?" tanya Elena dan dijawab dengan anggukan oleh Ria.
"Kenapa jadi membahas Ardo sih? Pria itu hanya bercanda saja, dia itu tidak serius dengan kata-katanya," ujar Jinan
"Tidak serius apanya? Kalau kak Ardo memang tidak serius, kenapa dia harus capek-capek memantau dan membantu Kak Jinan setiap saat sampai saat ini? Seharusnya kak Ardo itu pulang ke negara asalnya dua bulan yang lalu, tapi dia rela mengurungkan kepergiannya. Hanya karena apa?"
Elena dan Jinan menatap Ria tanpa menyahuti ucapannya yang terhenti itu.
"Itu karena kak Ardo ingin mendapatkan hati Kak Jinan terlebih dahulu sebelum ia pulang ke negara asalnya. Apa menurut Kakak semua yang sudah dia lakukan pada Kakak selama ini hanya main-main saja?"
Mereka terdiam sejenak, memikirkan perkataan Ria yang terdengar sangat mengenal Ardo.
"Dari mana kamu tahu itu semua, Ri?" tanya Jinan penasaran.
"Dua hari yang lalu, tepatnya di resto ini saat kak Ardo menemuiku untuk meminta bantuanku agar bisa lebih mengenal Kakak. Dan dia juga bercerita kepadaku tentang alasan kenapa dia bisa mencintai Kakak sampai seperti ini."
"Sepertinya apa yang Ria katakan masuk akal juga, apalagi jika dilihat dari tatapan Ardo selama ini padamu, Ji. Sepertinya Ardo memang menyukaimu, Ji," ujar Elena. Setelah ia memikirkan kembali akan tingkah Ardo setiap berada didekat Jinan, sepertinya ia setuju akan apa yang Ria ucapkan.
"Kenapa kalian berdua jadi membicarakan dia sih."
"Jinan, apa kau tidak ingin menikah lagi?" tanya Elena.
Jinan mengernyitkan keningnya menatap Elena. Menikah? Kenapa pembahasan mereka jadi sampai sana, pikir Jinan.
"Kalian berdua ini ada apa sih? Kenapa jadi membicarakan hal yang seperti ini? Bukannya kita tadi sedang pembahas tentang kepergianku," ujar Jinan kesal.
"Apa salahnya? Kita sebagai teman sekaligus saudaramu di sini sangat peduli padamu, Ji."
Jinan mengalihkan pandangannya, ia menatap ke arah meja bartender yang sedang ramai oleh berbagai minuman.
"Aku ingin menikah. InsyaAllah aku akan menikah. Karena anakku pasti akan membutuhkan sosok ayah selain ayah kandungnya yang tidak akan ada setiap saat di sampingnya. Tapi Ardo?" Jinan menjeda ucapannya.
"Kalian tahu 'kan bahwa aku tidak mengenal pria itu. Lalu bagaimana bisa aku menerima ungkapan hatinya dan memercayai ucapannya."
__ADS_1
"Kalau begitu, kenapa kalian tidak berusaha untuk saling kenal lebih dulu saja? Siapa tahu kalian berjodoh," ujar Elena memberi usul.
"Wah bener tuh, Kak," sambut Ria antusias.
Jinan menatap heran pada kedua wanita dihadapannya itu. Kenapa mereka berdua bersemangat sekali membahas Ardo, pikirnya.
"Ayolah, Ji. Mau sampai kapan kau seperti ini terus. Aku perhatikan Ardo itu baik kok."
"Iya, Kak. Insting Kak Elena itu sembilan puluh persen selalu benar loh."
"Yakinlah Ji, Ardo adalah pria yang baik. Kau akan menyesal sudah menyia-nyiakan pria sebaik dan setampan itu."
Jinan menatap kedua wanita itu bergantian. Apa ia harus mengikuti saran Ria dan Elena? Membuka hatinya untuk Ardo?
"Bagaimana, Ji?" tanya Elena lagi.
"Em ...."
"Apa yang kau ragukan lagi, Jinan? Apa masih karena kau yang belum mengenalnya? Ayolah Jinan, kalian bisa saling mengenal terlebih dahulu. Tidak perlu terburu-buru untuk menerimanya."
"Ayolah, Kak."
Elena menghela nafasnya kesal. Susah sekali membuat Jinan membuka suara, pikirnya.
"Begini saja, jika dia benar-benar baik dan tulus padamu, apa kau mau menerimanya?" tanya Elena untuk kesekian kalinya karena Jinan hanya diam dengan pikirannya sendiri.
"Ayolah, Ji. Jawab saja, apa susahnya sih?" ucap Elena dengan kesal.
Jinan menghela nafasnya. "Ya," jawab Jinan singkat dan pelan.
"Apa kau serius?" tanya sosok pria di belakang tubuh Jinan.
Jinan yang terkejutpun menoleh ke belakang. Ia membelalakkan matanya saat melihat sosok Ardo di belakang sana.
"Kau?" gumam Jinan sembari berdiri dan menunjuk kearah Ardo. Bagaimana bisa Ardo tiba-tiba ada di sana tanpa sepengetahuannya atau Ria dan Elena.
Pandangan Jinan kemudian mengarah pada Ria dan Elena. Ia menatap curiga pada kedua wanita itu. Sepertinya Ria dan Elena sengaja membiarkan Ardo berdiri di belakangnya untuk mendengar semua perkataannya mengenai perasaannya.
"Kalian tahu dia di sini?" tanya Jinan menuduh.
"Maaf, Ji. Karena hanya dengan begini kita bisa tahu perasaanmu yang sebenarnya pada Ardo, Ji."
Ya, Ria dan Elena sengaja memancing Jinan di beberapa pertanyaan terakhir saat Ardo sudah berjalan mendekat ke arah mereka. Elena bahkan sempat memberi kode pada Ardo untuk diam tepat empat langkah di belakang Jinan. Dan untungnya Jinan tidak mengetahui itu semua.
"Jinan."
Jinan menatap kembali pada Ardo yang masih berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Apa benar kau akan menerimaku jika aku benar-benar serius padamu?" tanya Ardo.
Jinan terlihat membatu dengan pertanyaan Ardo. Harus menjawab apa dia? Kenapa jantungnya tiba-tiba menjadi berdetak lebih cepat saat melihat Ardo menatapnya dengan intens seperti itu. Apa yang terjadi dengannya?
"Jinan," seru Ardo. Ia berjalan mendekati Jinan dengan pelan. Tak ada senyum di wajah itu barang sedikitpun, hanya ada keseriusan yang Jinan lihat pada tatapan pria itu. Dan tatapan itu sungguh membuat Jinan tak bisa berkutik.
"Jawab aku," seru Ardo kembali saat ia sudah berada dua langkah di depan Jinan.
"A ... a ... ak ... ku." Jinan menelan salivanya sembari mengatur nafasnya yang terasa berat. Tatapan Ardo padanya saat ini sungguh membuatnya tak bisa bernafas dengan baik.
Jinan menoleh saat pundahnya disentuh Ria dan Elena dari samping kanan dan kirinya. Ia menatap Ria dan Elena bergantian, dan kedua wanita itu menganggukkan kepalanya saat tatapan mereka bertemu dengan tatapan Jinan.
"Katakan saja, Ji. Dia pria yang tepat untukmu," ujar Elena pelan.
"Kakak berhak bahagia. Aku yakin kak Ardo bisa membuat Kakak bahagia seperti dulu," tambah Ria.
Jinan menatap baby Ayla yang berada di stroller samping kirinya, kemudian ia menundukkan kepala sembari memejamkan matanya untuk menenangkan diri atas perasaannya yang sedang tak menentu ini. Beberapa detik kemudian Jinan menghela nafasnya dan mendongakkan kepalanya menatap Ardo yang masih menatapnya.
"Apa kau mau menerimaku jika aku benar-benar serius padamu?" tanya Ardo kembali.
"Ya," jawab Jinan pelan.
"Aku akan membuktikan keseriusanku padamu. Tapi aku mohon padamu, jangan pernah menghindariku lagi, Jinan."
Jinan tak menjawab ucapan Ardo, ia hanya diam dengan masih menatap wajah pria itu.
"Aku janji tidak akan mengecewakanmu," ujar Ardo lagi.
"Jangan berjanji untuk ingkar," seru Jinan.
"Tidak akan," ucap Ardo penuh keyakinan.
Ria dan Elena tersenyum senang mendengar perbincangan singkat Jinan dan Ardo. Entahla, perbincangan itu terdengar begitu romantis di telinga mereka berdua.
"Aku harap kak Ardo tidak akan mengecewakan kak Jinan," batin Ria.
"Hanya ini yang bisa kulakukan untuk menebus kesalahan kakakku, Ji. Aku yakin Ardo adalah pria yang tepat untukmu. Dan aku harap filingku kali ini tidak salah," batin Elena.
Beberapa menit mereka terdiam dengan posisi yang masih berdiri, hingga tangisan baby Ayla yang menyadarkan lamunan mereka berempat.
"Em, aku ke ruanganku sebentar," ujar Jinan yang berpamitan untuk membawa baby Ayla ke ruangannya.
Ardo menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis. "Aku akan menunggu di sini."
Jinan menganggukkan kepalanya lalu berlalu dari sana setelah mengambil baby Ayla dari stroller dan menggendongnya menuju ruangannya.
...
__ADS_1
Tengkyu sudah membaca PERJALANAN HIDUP JINAN sampai di bab ini😘