
"Ar!"
Sudah lima kali Jinan berteriak memanggil suaminya itu yang saat ini sedang memeluknya dengan erat dari belakang. Semenjak kehamilannya menginjak trisemester kedua ini, Ardo memang sering sekali memeluk tubuhnya dan menciumi aroma tubuhnya, baik sebelum ataupun sesudah mandi.
Awalnya Jinan menyukai itu, namun saat kehamilannya sudah memasuki empat minggu terakhir, Jinan sudah mulai risih dengan tingkah suaminya yang sangat berlebihan itu. Karena dengan begitu ia jadi tidak bisa kemana-mana karena suaminya itu terus saja menahan dirinya di atas tempat tidur tanpa berniat melepaskannya hingga pria itu lelah sendiri. Bahkan Ardo rela terlambat datang ke kantor jika belum puas memeluk dan menciumi aromi tubuhnya yang menurutnya tidak sedap itu karena belum mandi.
Tookk ... Tookk ...
Ketukan pada pintu kamar membuat Jinan menoleh pada pintu tersebut, sementara Ardo saat itu hanya diam membatu dengan posisi nyamannya.
"Ar, ada yang ngetuk pintu."
Ardo tak bergeming, ia sengaja menulikan telinganya dan tak ingin keluar dari posisi nyamannya itu.
Tookk ... Tookk ...
"Ar–"
"Biarkan saja, Sayang," sela Ardo dengan suara manjanya.
"Mama, Papa." Suara teriakan dari luar sana membuat Jinan kembali mengarahkan pandangannya pada pintu kamar. Ia tersenyum tipis, lalu mengarahkan pandangannya pada Ardo dengan mengusap lembut kepala pria itu.
"Itu Ayla, Ar," bisik Jinan menahan tawa.
Satu hingga dua detik berlalu, Ardo masih tak bergeming dengan posisinya, namun di detik ketiga, pria itu mulai menghela nafasnya malas dan langsung bangkit dari tidurnya. Ia meraih bajunya yang ada di atas nakas, kemudian memakainya sebelum membukakan pintu untuk anak gadisnya itu.
Saat pintu terbuka, Ardo memasang wajah kesalnya pada sang mama yang sedang menggandeng tangan Ayla. Mamanya itu selalu saja mengganggu waktu santainya, padahal 'kan saat ini waktu masih menunjukkan pukul 10.56. Belum saatnya untuk mereka makan siang.
"Papa." Ayla merentangkan tangannya, meminta untuk digendong. Dan dengan cepat Ardo menggendong tubuh mungil itu dalam pelukannya dengan tersenyum kecil.
"Ayla mau main sama adiknya, katanya."
Ardo memicingkan matanya. "Mama sengaja ya?"
"Sengaja apanya? Kau-nya saja yang terlalu manja. Tidak ada kerjaan sekali, setiap libur kerja bukannya berkumpul di luar, tapi malah mengurung istrimu di dalam kamar."
"Aku ini sedang ngidam, Mamaku sayang."
__ADS_1
"Alasan saja," sahut Elif sewot.
"Tidak percaya sekali. Ayla saja mengerti kalau papanya sedang ngidam. Iya 'kan, Sayang?" tanya Ardo dan dibalas anggukan polos oleh Ayla.
Elif memutar bola matanya malas sembari menggelengkan kepalanya. Anaknya satu itu terkadang memang suka berlebihan jika menyangkut orang yang disayanginya. Apalagi kepada istrinya yang sedang hamil tua itu. Entah bisa dibilang ngidam atau sekedar manja, tapi beberapa bulan belakangan ini Ardo memang sangat tidak bisa lepas dari istrinya jika sedang berduaan bersama Jinan.
"Terserah kau saja." Elif berlalu meninggalkan anak dan cucunya itu menuju lantai satu untuk membantu pegawainya memasak makan siang.
Seperginya Elif, Ardo segera membawa Ayla masuk ke dalam kamar. Di dalam sana, terlihat Jinan yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Papa, Ay mau turun," ujar Ayla saat melihat kehadiran Jinan.
Setelah Ardo menurunkannya, Ayla segera berlari kecil menuju Jinan dan memeluk kaki mamanya itu.
"Mama, mau gendong," ucapnya penuh harap.
"Ayla, Sayang. Mama belum bisa gendong Ayla. Di perut Mama 'kan ada adik bayinya, nanti adik bayinya terjepit bagaimana?" ujar Ardo yang mengingatkan anak kecil itu tentang keadaan mamanya.
Ayla memberengutkan wajahnya. "Tapi Ay mau gendong sama Mama."
"Tidak apa-apa, Ar. Aku masih bisa kok menggendong Ayla," ujar Jinan yang tidak tega melihat anak gadisnya yang terlihat bersedih itu.
"Ji." Ardo menatap penuh peringatan pada istrinya itu.
Jinan menghela nafasnya, lalu ia mengiyakan saja apa kata suaminya.
"Ayo, Papa gendong. Ayla mau ke mana, Sayang?" tanya Ardo sembari mengangkat tubuh mungil Ayla.
"Mau main sama adik bayi," ujar Ayla dengan menunjuk pada perut besar Jinan.
"Baiklah, ayo kita main sama adik bayi."
Ardo mengajak Ayla duduk di atas kasur sembari menuntun Jinan untuk ikut duduk di atas kasur juga. Baru saja mereka mendudukkan tubuhnya di atas kasur, tiba-tiba saja pintu kamar mereka diketuk dari arah luar.
Saat Ardo membuka pintu itu, terlihat mamanya berdiri di depan pintu seorang diri.
"Ada apa, Ma?"
__ADS_1
"Ada Elsa di bawah, Ar. Dia baru saja pulang dari Amerika kemarin. Ayo turun, ajak Jinan dan Ayla juga. Sekalian kau kenalkan mereka pada Elsa."
"Elsa?" tanya Ardo dengan mengernyitkan keningnya.
"Iya. Temanmu saat di kampus dulu. Adik kelas Huri saat di SMA. Apa kau ingat?"
"Oh, ngapain dia ke sini?" tanya Ardo malas.
"Ngapain? Ya silaturahmi lah, Ar. Kau ini bagaimana sih. Ayo turun, ajak Jinan dan Ayla juga. Sekalian kita bersiap sholat berjama'ah di bawah."
Sebenarnya Ardo malas sekali untuk bertemu dengan wanita bernama Elsa itu. Karena ia tahu bahwa Elsa memiliki perasaan kepadanya sejak zaman mereka kuliah dulu.
Sebenarnya juga Elsa merupakan wanita yang cantik, baik, berpendidikan, dan berasal dari keluarga yang cukup terpandang di Istanbul. Bahkan Elsa juga sangat sopan dan sangat pandai mengambil hati keluarganya. Tapi sayang sekali, sikap Elsa yang terlalu menunjukkan rasa sukanya pada Ardo, membuat Ardo ilfil dan perlahan mulai menjauhinya.
Sepergi mamanya dari sana, Ardo segera masuk ke dalam kamarnya dan memberitahu Jinan tentang kedatangan Elsa.
"Elsa siapa, Ar?"
"Teman kuliah. Dia adik kelas kak Huri saat di SMA dulu. Sudah seperti keluarga kita juga karena dia sering sekali datang ke sini saat masih kuliah."
"Yasudah, ayo kita ke bawah."
Ardo mengangguk malas. Ia menggendong Ayla sambil menuntun Jinan untuk berjalan ke lantai satu. Cukup memakan waktu untuk mereka turun ke lantai satu karena Jinan yang tidak bisa lagi berjalan cepat di kehamilannya yang sudah mendekati hari kelahiran.
Ardo sebenarnya ingin mereka pindah ke kamar bawah karena kasihan dengan istrinya itu, tapi karena Jinan yang ngotot ingin tinggal di lantai dua, dengan terpaksa Ardo menuruti kemauan istrinya itu dengan berbagai syarat tertentu.
Setibanya mereka di ruang tamu, di sana sudah ada kedua orang tua Ardo bersama seorang wanita cantik berhijab hitam yang dililitkan ke lehernya. Dari raut wajahnya, sangat terlihat jelas jika wanita itu terkejut saat melihat sosok Jinan yang datang bersama Ardo dengan perut besarnya, apalagi ditambah sosok Ayla dalam gendongan Ardo.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘
__ADS_1