Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 86


__ADS_3

"Ardo sudah menikah?" tanya Elsa dengan ekspresi terkejut.


Wanita berhijab hitam itu seolah tidak percaya saat Ardo dan Elif mengenalkan Jinan padanya sebagai istri Ardo. Ia heran kenapa ia tidak tahu sama sekali tentang hal yang sepenting ini. Bahkan kedua orang tuanya pun tidak ada yang memberitahunya akan pernikahan Ardo.


"Baiklah, perkenalannya cukup sampai di sini saja dulu ya. Sebentar lagi sudah masuk waktu dzuhur, sebaiknya kita lekas bersiap untuk sholat. Kita akan sholat berjama'ah di musholla samping," ujar Basir mencoba menengahi rasa canggung yang dialami Elsa.


Sebagai seorang pria, Basir tahu jelas bagaimana tatapan tak biasa Elsa pada anak lelakinya setiap mereka bertemu. Namun sebagai orang tua, ia tidak mau terlalu ikut campur dalam urusan percintaan anak-anaknya. Yang bisa ia lakukan hanyalah mendukung keputusan anaknya jika menurutnya hal itu baik dan benar.


Setelah menyelesaikan ibadah dzuhur, mereka langsung menuju meja makan untuk makan siang bersama.


"Papa, Ay lelah. Mau gendong," ujar Ayla dengan merentangkan kedua tangannya.


Tanpa ba bi bu, Ardo segera menggendong Ayla dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia pergunakan untuk membantu Jinan berjalan menuju meja makan. Melihat hal itu, Elsa menghela nafasnya dengan begitu berat.


"Sepertinya dia sangat mencintai istri dan anak sambungnya," batin Elsa.


Elsa kembali menghela nafasnya, ia memaksakan bibirnya tersenyum untuk menguatkan dirinya, lalu ia mendekati Elif yang sedang memakai sandal.


"Bibi."


"Ya, Sayang?" sahut Elif dengan tersenyum.


"Bukankah bibi tidak menyukai rumah besar seperti ini? Lalu kenapa sekarang rumah ini menjadi tiga kali lipat dari yang sebelumnya?" tanya Elsa sedikit penasaran.


"Huri dan Ardo sudah menikah, Els. Ukuran rumah yang sebelumnya tidak akan cukup untuk menampung mereka dan anak-anak mereka di sini. Meski Huri tidak tinggal di sini, tapi suatu saat nanti mereka pasti akan berkumpul di rumah ini. Dan saat itu kita pasti akan membutuhkan kamar tidur lebih dari lima."


"Bibi benar." Elsa terdiam sejenak. "Oh ya, Bibi. Apakah musholla ini sudah lama dibuat? Soalnya, terakhir kali Elsa ke sini, musholla ini belum ada."


Elif tersenyum memandang musholla dan sekeliling taman yang sedang mereka lewati.


"Musholla ini sudah ada sejak dua tahun lalu, Els. Hanya saja kini mushollanya menjadi lebih besar sejak rumah ini direnovasi. Itu juga salah satu pendapat Jinan untuk memperbesar musholla. Katanya, agar saat semua keluarga berkumpul, kita bisa sholat berjama'ah di sana tanpa harus pergi ke masjid umum karena musholla yang lama terlalu kecil."


Elsa memandang Elif dalam diamnya. "Bibi."


"Ya, Els?"


"Boleh Elsa tanya sesuatu?"


"Tanya saja. Selagi Bibi bisa menjawabnya, Bibi akan menjawabnya."

__ADS_1


"Em ... Elsa penasaran sekali. Kenapa Ardo bisa menikahi seorang ... em maaf, janda?" tanyanya sedikit ragu.


Mendengar pertanyaan tersebut, Elif menghentikan langkahnya. Ia menghadapkan tubuhnya pada wanita berhijab hitam itu, lalu ia tersenyum tipis.


"Tidak ada yang tahu siapa dan seperti apa jodoh kita, Sayang. Awalnya juga Bibi terkejut saat mengetahui status Jinan yang seorang janda, tapi saat Bibi melihat langsung keistimewahan yang dimiliki Jinan, Bibi menjadi berpikir bahwa Ardo adalah satu satunya pria yang sangat beruntung karena bisa mendapatkan sosok Jinan dengan segala kelebihan dan kekurangannya."


Elsa tampak berpikir akan perkataan Elif. Apakah seistimewah itu sosok seorang Jinan yang telah menjadi istri Ardo?


Untuk mengetahui itu semua, saat acara makan siang berlangsung Elsa sesekali mencuri pandang pada Jinan untuk melihat, seistimewah apakah sosok Jinan yang diceritakan Elif. Namun bukannya mendapatkan jawaban, ia melainkan mendapatkan sebuah pemandangan yang sangat menyakitkan matanya. Yang di mana ia melihat Ardo yang begitu perhatian pada istri dan anak sambungnya dengan sangat romantis. Membuat rasa iri yang berusaha ia tahan kini tak bisa terbendung lagi.


Karena tak ingin menambah rasa sakit pada hatinya, akhirnya Elsa berusaha untuk fokus pada makanannya saja, dengan sesekali ia menyahuti perkataan Basir dan Elif yang melontarkan pertanyaan untuknya.


Setelah acara makan siang selesai, mereka semua berkumpul di ruang tamu untuk berbincang sejenak. Sepanjang perbincangan berlangsung Elsa terlihat canggung saat Ardo yang terang-terangan menunjukkan keposesipannya pada Jinan. Ia merasa bahwa apa yang Ardo dilakukan itu terkesan seperti disengaja. Entah itu hanya perasaannya saja atau benar begitu kenyataannya, tapi karena ia yang tak bisa melihat hal itu lebih lama lagi, akhirnya Elsa memutuskan untuk pamit pulang dengan alasan, bahwa ia sudah punya janji dengan temannya.


"Main-main ke sini lagi ya, Els. Biar Jinan ada temannya di sini selain kita."


"Nanti Elsa ke sini lagi setelah kak Huri pulang dari luar kota, Bibi. Dia bilang ingin bertemu di sini saja minggu depan."


"Baiklah kalau begitu. Kau hati-hati di jalan ya. Salam untuk kedua orang tuamu di rumah."


"Baik, Bibi. Em, Paman, Jinan, Ardo, Elsa pulang dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," sahut mereka semua.


"Kenapa kau aneh sekali," ujar Jinan dan membuat Ardo mengernyitkan keningnya karena tak mengerti.


"Aneh kenapa?" tanya Ardo bingung.


"Semenjak kedatangan Elsa tadi, kau selalu bersikap berlebihan padaku."


"Berlebihan bagaimana?"


Jinan mengedikkan bahunya. "Posesif, lebih perhatian, selalu menggenggam tanganku, dan sangat manja."


"Memangnya selama ini tidak seperti itu?" tanya Ardo.


"Tapi tidak pernah sampai–"


"Berarti aku harus seperti itu terus mulai sekarang," potong Ardo pada perkataan Jinan.

__ADS_1


"Apa kau sengaja ingin menarik perhatian Elsa?" tanya Jinan yang berhasil mengagetkan Ardo.


Ardo menarik tubuhnya yang sedang memeluk Jinan. "Kenapa jadi begitu sih? Jangan bicara sembarangan, seumur hidupku, aku tidak pernah sekalipun mencoba menarik perhatian siapapun kecuali kau."


"Hati orang siapa yang tahu," ujar Jinan dengan tersenyum sedikit meledek.


Melihat istrinya yang seperti mengejeknya, Ardo segera mendekatkan wajah mereka berdua. Ia pandang dengan dalam manik mata wanita tercintanya itu, dan dibalas Jinan dengan hal yang sama.


Ardo mendekatkan wajahnya pada wajah Jinan dengan perlahan, saat jarak tersisa dua ruas jari, Jinan menahan dada Ardo agar pria itu tidak melanjutkan aksinya.


"Ada Ayla, Ar."


Belum dua detik Jinan berkata seperti itu, sosok yang dibicarakanpun keluar dari walk in closet setelah sekian menit mencoba memakai bajunya sendiri.


"Mama, Ay tidak bisa mengancingkannya," ujar Ayla dengan suara cadelnya. Ia memberengutkan wajahnya sembari berjalan untuk memeluk mamanya yang masih terduduk di atas kasur.


Jinan tersenyum dan menarik tubuh anaknya dari tubuhnya. "Sini Mama yang kancingkan."


Jinan mengambil alih untuk mengancingkan piyama tidur siang anaknya.


"Nah, sudah selesai, kan? Sekarang ayo tidur sama Mama di sini."


Ayla naik ke atas kasur dan berbaring di antara Jinan dan Ardo. Tidak butuh waktu lama untuk membuat anak kecil itu tidur, hingga membuat Ardo memiliki kesempatan untuk menukar posisi tempat tidurnya dengan Ayla. Sahingga kini Ayla berada di sisi kasur, dan ia di tengah-tengah antara istri dan anaknya.


***


Indonesia, 18.40 PM.


Di sebuah mall yang ada di pusat kota Jakarta, malam ini kehebohan diciptakan oleh pasangan suami istri yang sedang bertengkar.


"Kamu benar-benar gila, Rom. Setelah Jinan dan anaknya yang kamu campakkan, apakah selanjutnya giliran aku dan Andre?"


   


******


   


Novel ini sengaja aku buat tamat meski sebenarnya novel ini belum tamat, karena aku sedang sibuk banget dan gak sempet buat nulis. Buat bab ini aja baru kelar 4 hari😭

__ADS_1


Tapi tenang aja, insyaa Allah aku bakal up lagi dengan semampuku.


Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys 😘


__ADS_2