Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 52


__ADS_3

Pagi hari di kediaman Jinan.


Setelah selesai dengan aktifitas paginya, Jinan mengajak baby Ayla untuk berjemur di teras rumahnya. Entah kenapa tiba-tiba saja Jinan teringat akan kepulangan Ardo hari ini.


"Apa dia sudah pergi ya?" tanya Jinan pada dirinya sendiri.


Jinan termenung seketika. Ingatannya kembali pada percakapannya pada Sila semalam saat di mobil. Ya, Sila benar. Mungkin perasaan nyaman ini adalah petunjuk dari Allah atas istikharahnya selama tiga hari ini.


Tapi, bukankah Ardo akan pulang ke Turki hari ini? Bukankah itu artinya mereka akan berpisah jauh. Lalu bagaimana dengan kisah yang belum dimulai ini, pikir Jinan.


Tunggu dulu! Kisahnya? Kenapa ia jadi memikirkan hal-hal konyol seperti itu. Astaga Jinan, sepertinya pikirannya sudah mulai gila.


Masih dengan lamunannya, tiba-tiba suara deru mobil di depan teras rumahnya berhasil menyadarkan Jinan dari lamunannya.


Jinan menatap mobil itu dengan posisi yang sudah berdiri tegak. Hingga saat sang pemilik mobil keluar dari dalam mobil, Jinan pun membelalakkan matanta karena terkejut. Jinan terkejut karena orang yang akan bertamu ke rumahnya saat itu adalah Linda dan Putra. Mantan mertuanya.


Linda yang dengan niat awalnya ingin mengunjungi Jinan kemarin sore terpakasa harus mengurungkan kepergiannya karena kemarin sore rumahnya sedang kedatangan tamu dari suaminya. Dan akhirnya ia baru bisa ke rumah Jinan pagi ini.


"Tante Linda," gumam Jinan pelan.


Jinan sangat bingung dengan kehadiran Linda di rumahnya. Dari mana mereka tahu bahwa ia sudah pulang? Apakah Linda memang sering datang ke rumahnya selama ia berada di Jerman? Apakah Romi juga mengetahui kepulangannya ini?


Berbagai pertanyaan mulai bermunculan di kepala Jinan. Entah kenapa ia menjadi takut akan kedatangan mantan mertuanya itu ke rumahnya.


"Assalamu'alaikum," seru Linda dan Putra hampir bersamaan saat mereka sudah berada dua meter di depan Jinan.


"Wa'alaikumsalam," sahut Jinan.


Dengan meninggalkan anaknya yang masih di dalam stroller, Jinan berjalan mendekati Linda dan menyalami tangan wanita itu sebagai bentuk hormatnya kepada orang tua.


"Tante, Om. Apa kabar?" tanya Jinan basa-basi.


Jujur saja, Jinan tidak bisa menyembunyikan raut kaget dan gugupnya saat berhadapan dengan kedua orang paruh baya itu. Ia juga tidak tahu kenapa.


"Baik. Kamu kapan pulang, Jinan?" tanya Sila.


"Em, dua hari lalu, Tan. Eh iya, ayo masuk, Om, Tante," ajak Jinan. Ia membawa stroller baby Ayla dan memimpin jalan untuk masuk ke dalam rumahnya. Sebenarnya tidak perlu dipimpin juga Linda dan Putra tidak akan tersesat, tapi karena mereka berdua belum juga masuk, Jinan terpaksa masuk lebih dulu seperti seorang pemandu.


Jinan meletakkan stroller baby Ayla di samping sofa single tempatnya duduk, kemudian ia berpamitan terlebih dahulu ke dapur untuk membuatkan minuman. Saat ia kembali ke ruang tamu, Jinan melihat Linda dan Putra yang masih dengan posisi duduknya seperti semula. Tidak ada dari mereka yang beranjak meski hanya sekedar untuk melihat wajah anaknya saja.

__ADS_1


Jinan berpikiran bahwa Linda dan Putra pasti masih mengira bahwa baby Ayla adalah anak dari pria lain. Jinan menghela nafasnya, ia memasang senyum terbaiknya kepada Linda dan Putra sembari berjalan mendekat.


...


 


 


Di tempat yang berbeda.


Di dalam sebuah toko perhiasan yang terdapat di dalam mall yang tak jauh dari hotel tempatnya menginap, Ardo terlihat serius saat memasati sebuah kalung emas yang ada di tangannya. Ia mengamati setiap detail dari kalung tersebut dengan seksama. Jangan sampai ada kesalahan sedikitpun pada kalung tersebut saat ia sudah membelinya nanti. Ia tidak mau memberikan hadiah pada orang spesialnya dengan keadaan yang tidak sempurna.


Ya, Ardo ingin memberikan kalung emas itu kepada Jinan dan juga kepada dua orang wanita spesialnya yang lain. Wanita spesial yang di maksud tak lain adalah mama dan kakak perempuan Ardo.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, Ardo segera membayar ketiga kalung dengan jenis yang sama tersebut menggunakan uang cash. Setelah semuanya selesai, Ardo segera pergi menuju kediaman Jinan untuk memberikan kalung itu, sekaligus ia juga ingin berpamitan pada Jinan dan kedua orang tua Ria.


Setengah jam perjalanan dari mall tersebut ke rumah Jinan, kini akhirnya taksi yang Ardo tumpangi sampai juga di depan rumah Jinan. Ardo mengernyitkan keningnya saat melihat sebuah mobil yang terparkir di depan teras rumah Jinan.


Tanpa berpikir macam-macam Ardo segera melangkahkan kakinya mendekati rumah itu. Baru dua langkah kakinya menginjak teras rumah Jinan, sayup-sayup telinga Ardo menangkap dengar suara seorang wanita yang terdengar seperti sedang marah-marah dengan menggunakan bahasa Indonesia.


Karena takut akan terjadi sesuatu pada Jinan dan anaknya, Ardo langsung saja masuk ke dalam rumah itu tanpa mengucapkan salam. Di dalam sana ia melihat Jinan duduk dengan kapala tertunduk dan kedua tangan yang saling bertautan. Dan di hadapan Jinan saat itu terdapat dua orang paruh baya yang di mana salah satunya terlihat raut emosi di wajahnya. Ya, mereka adalah Linda dan Putra.


"Ada apa ini?" tanya Ardo dengan bahasa Inggris.


"Siapa kau?" tanya Linda dengan bahasa Inggris juga.


Ardo berjalan mendekati ketiga orang itu. "Kalian yang siapa. Kenapa membuat keributan di rumah Jinan?" tanya Ardo balik tanpa menghiraukan pertanyaan Linda.


Linda dan Putra mengernyitkan keningnya saat mendengar Ardo menyebut nama Jinan. Apakah Jinan memiliki teman bule, pikir mereka. Karena setahu Linda, teman Jinan tidaklah banyak, dan mereka juga hanyalah anak-anak kampung sini, mana ada bule seperti ini. Apakah jangan-jangan pria ini adalah pria bule yang di maksud oleh temannya kemarin?


"Jadi pria ini yang membuat kamu bercerai dari Romi, Jinan?" tanya Linda pada Jinan.


Jinan menggelengkan kepalanya cepat. Sementara Ardo mengernyitkan keningnya saat mendengar nama Romi disebut. Apakah mereka berdua ini orang tua Romi?


"Kalian orang tua Romi? Mantan suami Jinan?" tanya Ardo dengan menyela pembicaraan Linda pada Jinan.


Linda dan Putra menatap Ardo dengan terkejut. Mereka terkejut karena Ardo mengetahui bahwa Romi adalah mantan suami Jinan. Apakah pria ini mengenal anaknya, pikir mereka.


"Siapa kau? Kenapa kau mengenal anakku?" tanya Linda.

__ADS_1


Ardo tersenyum tipis, ternyata benar tebakannya.


"Aku adalah calon suami Jinan."


Linda dan Putra membelalakkan matanya. Mereka masih berpikir bahwa Ardo ini adalah selingkuhan Jinan. Bahkan dengan Ardo yang mengatakan bahwa ia suami Jinan, itu semakin membuat mereka yakin jika gosip yang beredar kemarin adalah sebuah kebenaran.


"Jadi benar bahwa kau yang menyebabkan Jinan dan anakku bercerai? Dan kau jugalah yang membuat Jinan mengandung saat itu?" tanya Linda dengan emosi. Sementara Putra hanya diam karena ia saat ini tak percaya dengan apa yang ia lihat dan pikirkan


Jinan semakin menundukkan kepalanya. Ia tak kuat mendengar segala macam tuduhan yang dilontarkan Linda padanya dan Ardo.


Ardo tersenyum mengejek. "Di mana anakmu, Jinan?" tanya Ardo pada Jinan.


Jinan mendongak menatap Ardo. Ia yang awalnya bingung dengan pertanyaan Ardo kini menunjuk ke arah kamarnya setelah Ardo memberi kode padanya untuk tenang. Tanpa berucap apa pun, Ardo masuk ke dalam kamar Jinan. Jinan yang hendak protes dengan kelakuan Ardo kini hanya bisa terbengong saat melihat Ardo yang keluar dari kamarnya dengan menggendong baby Ayla.


Jinan menundukkan kepalanya dengan air mata yang sudah tak dapat ditahan lagi. Ia kini sudah bisa menebak apa yang akan Ardo lakukan, dan ia tidak tahu harus melakukan apa untuk ini. Ia ingin mencegah Ardo, tapi entah kenapa mulutnya terasa sangat kaku untuk mengeluarkan suara. Dan hati kecilnya seolah berkata bahwa ia harus membiarkan Ardo dengan aksinya saat ini.


"Kau lihat anak ini baik-baik." Ardo menggendong baby Ayla dengan posisi bayi itu setengah tegak. "Ria bilang jika wajah anak ini mirip dengan anak lelakimu. Lalu atas dasar apa kau mengatakan bahwa Jinan hamil karena pria lain?"


Linda ingin membuang muka karena tak mau melihat wajah anak itu, namun sial, ternyata pandangannya tak sengaja menatap sekilas wajah bayi perempuan itu yang sedang tertawa.


Deg!


Wajah itu. Wajah itu kenapa mirip sekali dengan wajah anaknya semasa ia kecil? Ya, Sila mengingat itu dengan jelas. Dengan seketika tubuh Linda membatu, nafasnya terpompa dengan sangat cepat.


Sementara Putra saat ini tak kalah terkejutnya dengan Linda. Ia berjalan pelan ingin menghampiri bayi tersebut, namun sayang langkahnya langsung di tahan oleh Ardo.


"Mau apa kau?"


"Cucuku. Di ... dia cucuku," gumam Putra.


Putra memang sempat tidak percaya jika Jinan berselingkuh dari anaknya, tapi ia juga tidak bisa apa-apa tanpa bukti yang kuat. Apalagi Jinan sendiri yang mengakui itu, dan ditambah dengan istrinya yang sangat ngotot mengatakan bahwa Jinan berselingkuh dan mengandung anak dari pria lain.


Tapi jika Jinan tidak berselingkuh, lalu kenapa mereka bercerai?


******


 


 

__ADS_1


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘


__ADS_2