
Selepas melaksanakan ibadah subuh, Jinan sudah bersiap untuk menyambut hari bahagianya yang akan dilaksanakan pukul 10 pagi nanti. Kini Jinan dan para wanita dari keluarga Ria maupun Ardo sudah ada di sebuah ruangan untuk segera didandani.
Tiga orang make up wedding papan atas yang berbeda telah Ardo datangkan untuk mendandani delapan orang wanita yang ada di sana. Ardo sengaja mengundang 3 orang make up wedding sekaligus agar 8 orang wanita itu tidak terlalu lama menunggu giliran untuk di make up.
Untuk masalah budget, itu bukanlah masalah bagi Ardo. Selagi orang-orang terdekatnya merasa senang dan puas dengan fasilitas yang ia berikan, ia tidak akan ragu untuk mengeluarkan kocek sebesar apa pun itu. Apalagi ini adalah hari spesial bagi mereka semua, terutama bagi Ardo dan Jinan, jadi Ardo tidak ingin mempersulit ataupun membuat mereka kecewa.
Seraya menunggu orang make up yang masih mendandani Ria, Huri, dan Elena, Jinan mengisi waktu kosongnya untuk menyusui Ayla sembari memakan cemilan ringan yang telah disediakan Huri. Ia sengaja meminta untuk didandani di urutan kedua karena ia ingin menyusui anaknya terlebih dahulu sebelum ia meninggalkan anaknya pada Sila nanti.
Karena masih ada waktu sekitar setengah jam lagi untuk Jinan segera di make up, Elif datang menghampiri Jinan dan memberikan sebuah alat pompa ASI kepada Jinan. Ia meminta Jinan untuk memompa ASI-nya agar jika Ayla menangis saat acara berlangsung nanti, Jinan tidak harus repot-repot meninggalkan pelaminan untuk memberi ASI secara langsung pada baby Ayla. Jujur saja, ini adalah pengalaman pertama untuk Jinan menggunakan alat pompa, karena selama hampir 4 bulan ia menyusui, Jinan tidak pernah sekalipun menggunakan alat semacam itu.
Waktu hampir menunjukkan pukul 9 pagi, semua orangpun sudah selesai didandani, namun kini tersisa Jinan yang belum selesai dengan make up-nya. Meski wajah itu belum selesai di make up, tapi semua orang yang ada di dalam ruangan itu sudah berdecak kagum akan wajah Jinan yang terlihat berseri. Ditambah lagi dengan gaun coklat muda yang sangat mewah di tubuh wanita itu, membuat mereka semua bisa menebak bahwa Jinan akan menjadi satu-satunya ratu yang akan menjadi pusat perhatian bagi siapapun yang ada di sekitarnya.
"Adik iparku cantik juga ya. Ternyata Ardo ada bakat untuk mencari istri yang cantik," ucap Huri bangga.
"Kak Jinan sudah cantik sejak lahir. Bukan hanya wajahnya saja, tapi juga hatinya," sambung Ria pada ucapan Huri.
Huri hanya tersenyum membenarkan perkataan Ria sembari menatap wanita itu yang sedang menatap ke arah Jinan.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya Jinan telah selesai didandani, dan orang yang mendandani Jinan pun telah keluar ruangan . Kini hanya tinggal menunggu ijab kabul dimulai, barulah Jinan diperbolehkan untuk memasuki ballroom.
Sembari menunggu acara dimulai, Ria dan Elena mengajak Jinan dan Cemile untuk berfoto bersama di ruangan itu. Sementara para orang tua sudah mulai keluar ruangan untuk bergabung bersama para suaminya yang akan menyaksikan berlangsungnya ijab qobul.
__ADS_1
"Sudah stop, Ri. Kakak lelah," ujar Jinan saat Ria masih ingin berfoto dengannya.
Ria menyengir kuda, kalau sudah asik dengan kameranya, kadang ia suka lupa diri dan juga lupa waktu. Seperti saat ini.
"Kau ini kalau sudah di depan kamera lupa segalanya. Sudah hentikan foto-fotonya, ayo duduk sini," ujar Elena seraya menepuk tempat duduk di sebelahnya.
"Maaf, Kak. Ayo-ayo duduk, Kak. Jangan sampai lelah, nanti aku diomeli kak Ardo lagi. 'Kan gawat," ucap Ria.
Jinan menggelengkan kepalanya dan segera mendudukkan tubuhnya di pinggir kasur sebelah Elena. Bersama-sama mereka menatap layar televisi yang menayangkan keadaan di ballroom saat ini. Jinan tersenyum saat melihat Ardo yang baru saja memasuki ballroom dan hendak duduk di hadapan penghulu.
Kini acara telah dimulai, jantung Jinan mulai berdetak tak karuan saat melihat penghulu yang mulai mengucapkan beberapa patah kata berupa nasihat kepada Ardo. Sampai pada saat ijab qobul mulai diucapkan, kedua tangan Jinan yang sedang digenggam oleh Ria dan Elena kini sudah mulai banjir akan keringatnya sendiri. Ia bahkan sempat menahan nafasnya selama ijab qabul itu berlangsung hingga selesai.
Setelah diperintahkan untuk segera memasuki ballroom, Jinan beserta Ria, Elena dan Cemile selaku pengiring pengantin berjalan dengan anggun menuju ballroom yang letaknya tepat di sebelah ruang make up mereka. Sepanjang perjalanan menuju ballroom, Jinan terus menampilkan senyum indahnya seraya mengucap syukur atas kenikmatan yang sudah ia dapatkan hingga pada hari ini. Tak lupa ia juga mengucapkan beberapa untaian doa agar pernikahannya kali ini tidak gagal kembali seperti pernikahannya yang sebelumnya.
Setiba di depan pintu ballroom, tiba-tiba jantung Janin kembali berkecamuk seperti saat ijab qobul dilaksanakan tadi. Ia mulai merasakan gugup ketika semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arahnya.
"Ji, santai saja. Jangan gugup," bisik Elena di samping kanan Jinan.
"Jangan gugup, Kak. Banyak orang yang memotret Kakak, jangan sampai wajah Kakak terlihat tegang saat di foto. Ayo senyum," ujar Ria di samping kirinya sembari tertawa kecil.
Jinan menghirup udara yang sebanyak-banyaknya, kemudian ia hembuskan sembari menutup matanya. Setelah dirasa lebih baik, mereka kembali melanjutkan langkahnya memasuki ballroom dengan iringan musik klasik yang terdengar sangat romantis di telinga siapapun yang mendengarnya.
__ADS_1
Dari jarak sekitar sepuluh meter dari posisi Jinan berada saat ini, ia bisa melihat Ardo yang sedang berdiri di depan kursinya sembari tersenyum lebar ke arahnya. Entahlah apakah ini hanya pikiran Jinan saja atau memang Ardo yang memang terlihat berbeda, tapi Jinan merasa bahwa Ardo memang terlihat jauh lebih tampan dari pada biasanya.
Tanpa sadar kini Jinan menyematkan kembali senyum indahnya yang khusus ia berikan pada seorang pria yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Evardo Rafandra.
Setiba di samping meja tempat berlangsungnya ijab qobul, Ardo mengulurkan tangannya untuk membantu Jinan duduk di kursinya. Jinan yang ragu untuk menerima uluran tangan Ardo akhirnya memberanikan diri untuk meraih tangan itu setelah Ardo menganggukkan kepalanya. Lagipula mereka sudah sah menjadi suami istri, jadi tidak ada salahnya jika ia bersentuhan dengan Ardo.
"Kau cantik sekali, Ratuku," puji Ardo dengan suara pelan yang nyaris seperti berbisik pada Jinan.
******
Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕
Piupiu, see u nxt bab 😘
__ADS_1