Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 66


__ADS_3

"Bisa kau lepaskan, Ar?" bisik Jinan pada Ardo yang terus menggenggam tangannya.


Sedari menaiki pelaminan hingga saat ini, Ardo memang tak sedetikpun melepaskan tangan Jinan dari genggaman tangannya. Ini untuk pertama kalinya ia bersentuhan fisik dengan Jinan, dan ini juga untuk pertama kalinya bagi Jinan bisa bersentuhan fisik secara sengaja dengan pria yang bukan mahramnya selain Romi.


"Kenapa? Apa kau tidak suka jika suamimu ini memegang tanganmu?" tanya Ardo dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Em, bukan begitu."


"Lalu? Apa kau malu?"


Jinan mengalihkan pandangannya dengan tersipu malu, dan hal itu jelas membuat Ardo tersenyum senang karena tebakannya benar. Bukannya melepas genggaman tangan itu, kini Ardo justru menarik tangan Jinan agar wanita itu lebih mendekat padanya.


"Ya Allah, kenapa rasanya aneh sekali" batin Jinan saat pandangannya bertemu dengan Ardo.


"Tidak perlu malu, kita sudah sah sebagai suami istri."


Jinan mengangguk pelan, ia menyematkan senyum tipisnya pada Ardo, dan Ardo pun membalasnya dengan senyuman manisnya. Melihat senyum bahagia di wajah kedua mempelai tersebut, membuat semua orang yang ada di ruangan itu menjadi saksi betapa bahagianya kedua pasangan baru itu.


Acara terus berlanjut, kini suara merdu Elena yang sedang membawakan sebuah lagu romantis berjudul ''Karena cinta - Joy Tobing' membuat semua para tamu yang sedang menikmati hidangan yang telah disajikan seolah merasa sedang melaksanakan makan siangnya di hadapan seorang penyanyi papan atas yang sedang menggelar konser. 


Dekorasi ruangan yang mewah, kenyamanan fasilitas, souvenir yang cukup memanjakan mata, makanan yang cukup menggoyang lidah, hingga sampai acara hiburan yang disajikan, membuat para tamu undangan mendefinisikan pernikahan tersebut sebagai pernikahan yang sangat sempurna. Bahkan tak sedikit dari mereka yang mengabadikan momen langkah itu dengan mengupload foto atau sekedar membuat story singkat pada akun sosmednya masing-masing.


Karena rangkaian acara yang tidak terlalu banyak, tepat pukul 1 siang perlahan para tamu undangan mulai meninggalkan lokasi pernikahan untuk segera pulang. Kini tersisa anggota keluarga dari kedua mempelai serta beberapa tamu yang masih mengantri untuk memberikan ucapan selamat kepada kedua pengantin itu.


Melihat Jinan yang masih menampilkan senyum lebarnya dipenghujung acara, membuat Ardo mengernyitkan keningnya. Ia heran karena Jinan tidak sedikitpun menampilkan wajah lelahnya, padahal sudah setengah jam lebih wanita itu berdiri di atas heels yang lumayan tinggi sembari menyapa para tamu yang mendatanginya untuk memberikan selamat.


"Apa kau tidak lelah?"  tanya Ardo dengan berbisik.


Jinan tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa, sebentar lagi juga selesai."


Perkataan Jinan yang menurutnya tidak pasti, membuat Ardo berpikir bahwa wanita itu sedang menahan lelahnya.

__ADS_1


"Duduklah."


Jinan menatap tak mengerti ke arah Ardo.


"Duduklah, aku tidak ingin melihat istriku kelelahan."


"Em, tidak apa, aku tidak lelah." Jinan menampilkan senyum indahnya, bermaksud untuk menjelaskan kepada Ardo bahwa ia tidak lelah.


"Tapi–"


"Ar," potong Jinan.


Ardo menghela nafasnya. "Baiklah."


Karena Jinan yang kekeh untuk terus berdiri dan ia juga tidak ingin berdebat, akhirnya Ardo memilih untuk mengalah saja. Lagipula sepertinya Jinan sangat menikmati acara. Mungkin memang wanita itu belum merasa lelah, jadi lebih baik ia membiarkannya saja untuk saat ini. Tapi jika wajah lelah mulai nampak di wajah istrinya itu, barulah ia bertindak tegas atau bahkan ia akan memaksanya kembali ke kamar untuk beristirahat.


***


Di waktu yang bersamaan dengan tempat yang berbeda, Romi yang sedang menjaga anak lelakinya yang sedang bermain mobil-mobilan kini terlihat fokus pada ponselnya. Dari sepuluh menit yang lalu matanya tak henti melihat layar ponselnya yang berisikan postingan orang-orang yang menayangkan proses pernikahan mantan istrinya. Pernikahan yang begitu megah, bahkan lebih megah dari pada acara pernikahan pertamanya.


Melihat suaminya yang sangat fokus pada ponselnya membuat Aurel mengernyitkan keningnya.


"Fokus banget. Lagi lihat apaan sih?" tanya Aurel penasaran.


Mendengar suara istrinya yang tiba-tiba, membuat Romi terlonjak kaget. Hampir saja ponselnya terjatuh jika ia tidak menggenggamnya dengan benar.


"Astaga, Sayang. Kenapa ngagetin gini sih."


"Kamu itu yang fokus banget dengan ponsel. Sampai-sampai aku di sini aja kamu nggak sadar," ujar Aurel dengan memberengutkan wajahnya. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Romi dan melihat isi dari layar ponsel suaminya itu.


Aurel mengernyitkan keningnya saat menyadari apa yang sedari tadi dilihat oleh suaminya. Yaitu potret kebersamaan Jinan dan suami barunya yang sedang melangsungkan acara pernikahannya.


Aurel menatap ke arah Romi tanpa ekspresi, ia menatap dalam pada mata pria itu. Jujur saja ia cemburu jika Romi memikirkan wanita lain selain dirinya. Bahkan rasa cemburu ini sudah ada sejak pertama kali Romi bercerita padanya mengenai pernikahannya bersama Jinan. Dan puncak rasa cemburunya itu terjadi saat pertemuan mereka bersama Jinan di sebuah restoran berapa hari lalu.

__ADS_1


"Apa kamu masih mengharapkan dia, Rom?" tanya Aurel dengan tidak suka.


"Kamu ngomong apaan sih, Sayang. Dateng-dateng kok langsung nuduh nggak jelas gitu."


Romi hendak meraih ponselnya yang ada di tangan Aurel namun Aurel dengan cepat mengangkat tangannya ke atas.


"Kamu nggak usah bohong sama aku. Kamu masih ngarepin dia 'kan?"


Romi menatap heran pada Aurel "Apaan sih. Kenapa kamu jadi marah-marah nggak jelas begini? Kembalikan ponselku."


"Aku nggak akan balikin sebelum kamu jawab pertanyaan aku. Kamu masih ngarepin Jinan, kan? Jawab aja, kamu ingin rujuk 'kan sama dia?"


"Nggak usah ngacok deh. Aku nggak ada niatan sama sekali untuk rujuk sama dia. Aku sudah punya kamu, dan dia juga sudah menikah dengan pria lain. Jadi jangan berpikiran yang aneh-aneh lagi."


"Kalau kamu tidak ingin rujuk dengan Jinan, terus kenapa kamu melihat foto Jinan sampai segitunya. Sampai-sampai kehadiran aku di sini saja kamu tidak menyadarinya."


Romi menghela nafasnya. "Sayang, maafin aku. Aku ... aku benar-benar tidak sadar kalau kamu ada di sini. Tapi bukan berarti aku fokus pada Jinan dan ingin rujuk sama dia. Aku hanya penasaran saja dengan pernikahan mereka, tidak lebih. Sayang, jangan marah lagi ya. Aku cuma cinta sama kamu kok." Romi membawa Arel dalam pelukannya. Ia sangat mencintai istrinya, jadi ia tidak ingin istrinya itu marah padanya.


"Tapi aku cemburu, Rom. Apalagi ... apalagi saat kamu terus membicarakan Ayla padaku. Aku tidak suka," ujar Aurel yang mulai meneteskan air matanya.


  


  


      


******


   


   


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕

__ADS_1


Piupiu, see u nxt bab 😘


__ADS_2