Perjalanan Hidup Jinan

Perjalanan Hidup Jinan
Bab. 76


__ADS_3

Sebelum waktu subuh, Ardo dan Jinan sudah bergegas untuk pergi ke bandara dengan di antar Sila dan Deddy. Setiba mereka di bandara, ternyata keluarga Ardo sudah menunggu mereka di sana.


"Kenapa tiba-tiba mengganti jadwal penerbangan, Ar? Bukankah kau bilang bahwa penerbangan kita pukul 12 siang?" tanya Basir heran.


Semalam saat mereka hendak terlelap, tiba-tiba saja Ardo menelponnya dan mengatakan bahwa penerbangan mereka dimajukan menjadi pukul 6 pagi. Basir beserta anak dan istrinya jelas kaget dengan keputusan Ardo yang tiba-tiba itu. Saat mereka bertanya, Ardo tidak menjelaskan alasannya dan justru hanya mengatakan bahwa ada pekerjaan penting yang harus ia kerjakan besok pagi. Karena keputusan Ardo itu juga, mereka bahkan tidak cukup tidur karena harus mempersiapkan semuanya secara dadakan semalam.


"Iya, Nak. Papamu bilang, kau ada pekerjaan penting. Pekerjaan penting apa memangnya? Bukankah semua pekerjaanmu sudah diserahkan pada Kemal?" tanya Elif.


"Maaf, Ma, Pa. Ada klien penting yang ingin bertemu langsung dengan Ardo besok. Jadi Ardo harus mempersiapkan semuanya untuk klien pertama Ardo itu. Ardo tidak ingin mengecewakan Papa yang sudah memercayai perusahaan pada Ardo," ujar Ardo dengan wajah seriusnya.


"Siapa?" tanya Basir penasaran.


"Em ... Ardo ... Ardo lupa namanya, Pa. Dia bilang, dia belum pernah bertemu dengan Papa sebelumnya."


Ardo menelan salivanya dengan menatap mata Basir. Sedetik kemudian, Ardo membuang pandangannya dengan menatap Jinan.


"Sayang, kau masih mengantuk, kan? Ayo kita cari ruang menyusui untuk memompa ASI, agar kau bisa tidur nyenyak saat di pesawat nanti."


Jinan mengiyakan dan berpamitan pada keluarga Ardo, Sila dan Deddy. Setelah mereka menjuh, Basir menatap aneh kepada Ardo. Ia merasa jika putranya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya dan mereka semua. Tapi ia yang tidak ingin berprasangka buruk pada anaknya, lantas membiarkan saja dulu apa yang akan putranya itu lakukan. Selagi putranya tidak melakukan hal buruk dan merugikan banyak orang, ia akan diam dan membiarkannya saja.


Sementara Ardo yang masih mencari ruang menyusui, menghela nafasnya panjang. 


"Maafkan Ardo, Pa," batin Ardo merasa bersalah karena sudah berbohong.


  


🍁Flashback On🍁


Saat Jinan sedang menyiapkan makan malam di atas meja makan, ponsel Jinan yang ada di atas kasur tiba-tiba saja bergetar. Ardo yang saat itu sedang berbaring tepat di samping ponsel Jinan lantas meraih ponsel istrinya itu. Ia mengernyitkan keningnya saat melihat dua pesan masuk yang berasal dari Romi. Karena penasaran, akhirnya Ardo membuka pesan itu tanpa meminta izin dari Jinan.


'Jinan, apa Ayla baik-baik saja? Aku minta maaf karena sudah terlambat mengantarnya pulang.'


'Jinan, Ayla sangat cantik dan periang. Dia tidak menangis saat digendong oleh siapapun. Dia juga sangat lahap meminum susunya, bahkan 3 botol yang kamu berikan saja sudah habis saat jam 2 siang.Tapi kamu tenang saja, aku sudah memberikan susu formula untuknya. Meskipun sepertinya Ayla kurang menyukai rasanya, tapi setidaknya itu sangat membantunya agar Ayla tidak kelaparan.' Ardo membelalakkan matanya membaca kalimat terakhir yang ia baca itu. 'Oh ya Jinan, besok kamu pergi jam berapa? Jika boleh, aku, Aurel, mama, dan papa akan ikut mengantar kalian ke bandara. Sekaligus sebagai perpisahan terakhir kami bersama Ayla,' lanjut Ardo.


Ardo menggenggam erat ponsel itu dengan emosi yang masih ia coba untuk ditahan. Jika tidak ada Jinan di sini, mungkin ia sudah berteriak dan memukul apa pun yang ada di sekitarnya sebagai bahan pelampiasan. Namun karena ada dua orang yang ia sayangi di rumah ini, dengan terpaksa ia harus meredam emosinya hingga sampai waktunya tiba nanti.

__ADS_1


Dengan perasaan kesal, Ardo segera menghapus pesan dari Romi. Jangan sampai Jinan mengetahui bahwa keluarga mantan suaminya sudah memberi Ayla susu formula dan berencana ingin mengantar kepergian mereka besok ke bandara. Biarlah Jinan tidak perlu tahu, karena ia sendiri benar-benar sudah tidak ingin Jinan maupun anaknya berhubungan dengan Romi dan keluarganya lagi hingga kapanpun.


Ardo dan Jinan bukannya melarang Ayla meminum susu formula. Namun karena ajaran orang tua mereka yang mengatakan bahwa banyak efek samping dari memberi susu formula pada bayi, membuat mereka fokus hanya untuk memberi Ayla ASI saja hingga waktunya nanti.


"Ar, makanan sudah siap. Ayo kita makan," ujar Jinan yang tiba-tiba dari ambang pintu kamar.


"Ah ... ya, aku akan ke sana. Tunggula di meja makan, aku ingin menghubungi rekan kerjaku dulu," ujar Ardo dan diiyakan Jinan.


Setelah Jinan pergi, Ardo mengutak-atik ponselnya untuk mencoba mengganti jadwal penerbangannya yang seharusnya pukul dua belas siang, menjadi pukul enam pagi. Ia sengaja mengubah jadwal penerbangan mereka secepat mungkin agar Romi dan keluarganya tidak ada kesempatan lagi untuk bertemu Jinan dan Ayla. Sudah cukup waktu mereka bermain bersama Ayla seharian kemarin, dan menurutnya, sepertinya tidak perlu lagi ada yang namanya salam perpisahan.


Setelah semua beres, Ardo hendak menghubungi keluarganya untuk mengabari tentang perubahan jadwal terbang mereka. Namun belum juga menemukan kontak papanya, dari luar sana Jinan sudah menjerit memanggil namanya untuk makan bersama. Dan dengan terpaksa ia harus menunda menghubungi papanya dan segera menghampiri istrinya di meja makan.


🍁Flashback Of🍁


   


Setelah waktu keberangkatan tiba, Sila dan Deddy memberi salam perpisahan dengan berpelukan pada Jinan dan keluarga barunya itu.


"Jangan lupa kabari Mami kalau sudah sampai ya, Sayang," ujar Sila pada Jinan.


"Aamiin, Sayang."


Sila beralih pada Ardo, sedangkan Jinan berhadapan dengan Deddy.


"Jaga Jinan baik-baik. Saya harap, kau tidak membuatnya bersedih lagi. Kembalikan senyumnya seperti saat kedua orang tuanya masih ada dulu," ujar Sila pada Ardo.


"Insyaa Allah. Aku akan berusaha untuk itu, Bibi."


"Oh ya, Bibi. Apa saya boleh minta tolong?"


"Apa?"


"Bisakah kau merahasiakan tujuan kepergian kami dari mantan suami Jinan? Aku tidak ingin Jinan memiliki hubungan apa pun pada Romi dan keluarganya, meski hanya sekedar untuk bertemu Ayla," ujar Ardo dengan suara pelan.


Sila melirik Jinan sekilas. "Tapi, Ar. Ayla adalah anak kandung Romi. Suatu saat, saat dia akan menikah, Ayla pasti akan membutuhkan sosok Romi sebagai wali nikahnya."

__ADS_1


"Aku bisa mengurus itu. Bibi tenang saja, tidak akan sulit mencari keberadaan pria itu."


Sila menghela nafasnya. "Baiklah. Terserah kau saja. Saya harap keputusanmu untuk menjauhkan Ayla dari Romi tidak akan merugikan Ayla maupun Jinan nantinya."


"Insyaa Allah."


Ardo tahu bahwa apa yang ia lakukan ini tidaklah benar. Tapi ia tidak punya pilihan lain, ia benar-benar tidak ingin keluarganya memiliki hubungan apa pun dengan keluarga br3ngs3k itu. Apalagi setelah ia mengetahui kelicikan keluarga itu.


  


***


   


Pukul 07.30 Romi dan keluarganya kini telah berada di depan rumah Jinan. Mereka tampak heran karena rumah itu terlihat sangat sepi dari luar. Saat mereka mendekati rumah itu, mereka sungguh terkejut karena pintu rumah Jinan sudah digembok dari luar.


"Bagaimana ini, Rom? Jinan pasti sudah pergi ke bandara. Kamu juga sih, sudah dibilangin untuk telepon Jinan, tapi tidak dilakukan. Heran, takut banget dengan suaminya itu," ujar Linda yang terlihat sangat kesal.


"Romi bukan takut, Ma. Romi hanya pusing saja mendengar suara bule itu berbicara."


"Alasan. Cepat, sekarang kamu telepon Jinan. Tanyakan, dia sudah ada di mana."


   


  


******


  


  


Btw tengkyu banget bagi yang sudah dukung dengan cara GIFT, VOTE, LIKE, nd COMENT karya Nai, PERJALANAN HIDUP JINAN 💕


Piupiu, see u nxt bab 😘

__ADS_1


__ADS_2