
"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Ardo seraya menarik istrinya untuk kembali ke tempat duduknya semula, kemudian ia periksa beberapa bagian tubuh istrinya karena takut akibat benturan tadi membuat tubuh istrinya terluka.
"Aku tidak apa-apa. Kenapa berhenti mendadak, Ar?"
"Entahlah, Sayang. Ada–"
Baru saja Ardo ingin bertanya kepada sopir yang mengendarai taksi yang mereka tumpangi, tiba-tiba saja perkataannya terhenti saat pandangannya menangkap sebuah mobil sedan berwarna hitam yang berhenti tepat 1 meter di depan taksi mereka.
"Ada apa dengan mobil itu, Pak? Kenapa dia berhenti dan diam saja di sana?" tanya Ardo pada sang sopir.
"Saya tidak tahu, Tuan."
Sopir itu menekan klakson beberapa kali untuk menegur mobil sedan yang ada di depannya, namun sayang, sepertinya orang yang ada di dalam mobil itu sengaja menulikan telinganya.
"Biar saya samperin aja ya, Tuan. Mohon tunggu sebentar," lanjutnya.
Setelah Ardo menganggukkan kepalnya, sopir tersebut keluar dari mobil dan menghampiri mobil yang ada di depan mereka.
"Apa kau benar tidak apa-apa?" tanya Ardo kedua kalinya pada Jinan.
"Tidak apa-apa, Sayang. Hanya dahiku saja yang sedikit ngilu karena benturan kursi mobil."
"Maafkan aku karena sudah tidak becus menjagamu." Ardo mencium kening sang istri selama bebera detik.
"Its oke. Jangan khawatir," sahut Jinan dengan tersenyum manis.
Ardo menarik Jinan ke dalam pelukannya sembari sesekali mencium pucuk kepalanya, kemudian ia arahkan pandangannya keluar mobil. Dan saat itu, pandangannya langsung menangkap ke arah sopir yang sedang mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil yang sejak tadi berhenti di depan mereka.
Karena sang pemilik mobil tak kunjung juga keluar, akhirnya Ardo memutuskan untuk keluar dari taksinya dan menghampiri sang sopir yang masih mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil tersebut.
"Ada apa, Pak? Kenapa lama sekali?" tanya Ardo saat sudah berada tak jauh dari sopir.
"Pemilik mobil ini tidak mau keluar, Pak."
"Apa dia pingsan?"
"Sepertinya tidak, Pak."
Sang sopir menyingkir dari pintu mobil saat Ardo sudah ada di hadapannya.
Duukk !! Duukk !!
__ADS_1
"Tuan, apa kau baik-baik saja?" ujar Ardo sembari mengetuk-ngetuk kaca pintu mobil tersebut.
"Hey Tuan, tolong keluarlah. Kenapa kau diam saja."
Ardo mengintip pada kaca mobil tersebut, ia melihat seorang lelaki yang mengenakan sebuah jaket warna hitam. Ia tidak bisa melihat wajah pria itu karena pria itu sedang menundukkan kepalanya dengan posisi kepala yang ditutupi oleh topi jaket.
Duukk !! Duukk !!
"Hey, apa kau baik-baik saja? Jika kau mendengarku, tolong keluarlah."
Ardo mengedarkan pandangannya pada jalanan sekitar, kemudian ia menghembuskan nafasnya kesal.
"Hey Tuan. Jika kamu tidak mau keluar, setidaknya majukan sedikit mobilmu. Ini sudah hampir maghrib, saya harus segera pulang," teriak Ardo dengan kesalnya.
"Bagaimana, Tuan? Apa kita biarkan saja dia?"
Ardo menatap sang sopir, ia berpikir sejenak sebelum mengiyakan perkataan sopir itu. Namun baru dua langkah mereka berjalan, suara pintu mobil yang terbuka membuat Ardo dan sopir taksi itu menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap pintu depan mobil tersebut.
Tampak terlihat sosok pria yang persis seperti Ardo lihat tadi keluar dari mobil. Belum sempat menutup pintu mobilnya, pria itu terjatuh ke lantai jalan dengan posisi si badan yang ditekuk ke depan dan tangan kanan yang memegang tubuh baguan perutnya yang ditutupi oleh jaket.
"Anda tidak apa-apa, Tuan?" tanya Ardo dengan berjalan mendekati pria tersehut.
"Ka ... kau," serunya saat melihat ternyata pria tersebut adalah Romi.
Ya, itu adalah Romi. Setelah kepergian Ardo, Jinan dan para warga dari rumahnya, Romi membantu Linda untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Setelah mamanya itu terlelap, barulah ia pergi menyusul kepergian Jinan dan Ardo menggunakan mobil temannya yang kebetulan saat itu hendak berkunjung ke rumahnya.
Meski berkali-kali Linda memintanya untuk mengikhlaskan apa yang sudah terjadi dan ia mengiyakan ucapan mamanya, tapi Romi tidak mungkin bisa menurut begitu saja. Api kemarahan dan api dendam yang sudah tertanam di hatinya tidak bisa pudar begitu saja hanya dengan sebuah permintaan maaf. Ia akan melakukan apapun hal untuk membalas dendam akan perbuatan jahat orang lain terhadapnya, tanpa pernah berkaca jika ia juga pernah -bahkan sering- melakukan kejahatan pada orang-orang di sekitarnya.
Kembali pada Ardo dan Romi.
Ardo yang terlihat marah akan perbuatan Romi yang melukainya, dengan menahan rasa sakit, ia cabut pisau yang menancap pada pinggangnya, lalu ia buang pisau itu dengan sembarang.
"Apa kau gila, hah!" teriak Ardo sembari menarik kerah baju Romi dengan sangat kencang.
Berhubung Ardo adalah bukan tipikal pria yang mudah untuk bersabar jadi, tanpa babibu ia segera melayangkan tinjunya dengan tidak main-main pada wajah Romi. Dan dalam satu pukulan saja, Romi berhasil terjungkal ke belakang sejauh empat meter.
Merasa tidak senang akan balasan dari Ardo, Romi segera bangkit dan hendak memukul Ardo kembali. Namun baru juga ia berdiri, tiba-tiba kepalanya mulai terasa sedikit pusing akibat pukulan dari Ardo yang sangat kencang tadi.
"Sial. Kenapa sakit sekali," gumamnya pelan sembari mengusap darah segar yang keluar dari sudut bibirnya.
Karena tidak ingin terlihat lemah dihadapan musuhnya, Romi memaksakan diri untuk berjalan dan membalas pukulan Ardo. Kini kedua pria itu terlibat perkelahian di pinggir jalan raya dengan sangat brutal.
__ADS_1
Dalam perkelahian kali ini, terlihat jelas jika Ardo yang memimpin perkelahian. Mungkin karena pukulan yang Ardo berikan tadi benar-benar tidaklah main-main, sehingga membuat Romi sedikit kehilangan fokus dan tenaga.
Selama perkelahian, tidak ada satupun orang yang berniat ingin memisahkan mereka. Para pengendara yang ada di sana hanya bisa melihat dari kaca mobilnya, meski ada juga beberapa dari mereka yang turun dari mobil untuk membuat macet jalan dan hanya menyaksikan pertarungan tersebut layaknya sebuah teater action.
Sedangkan Jinan, kini wanita itu masih berada di dalam taksi bersama dengan sang sopir. Ia sebenarnya sangat ingin keluar dan menghentikan aksi brutal suaminya itu. Ia sangat takut jika suaminya itu akan bertindak lebih jauh, karena ia tahu seberapa besar tenaga suaminya jika pria itu benar-benar sedang dirundung emosi. Namun sayangnya, ia tidak bisa keluar dari taksi itu karena sang sopir sudah mengunci mobil itu sesuai permintaan Ardo agar Jinan dan tidak keluar dari mobil.
Di dalam mobil, Jinan hanya bisa menangis menyaksikan sang suami yang dengan buasnya menyiksa Romi tanpa ada satupun yang menghalanginya.
Tak lama dari itu, Jinan melihat Ardo berjalan tertatih menuju ke arah taksi yang ia tumpangi setelah berhasil membuat Romi tergeletak di atas aspal.
"Pak, buka pintunya. Itu suami saya mau masuk," ujar Jinan pada sang sopir.
"Baik, Bu."
Setelah pintu mobil terbuka, Jinan dengan segera keluar dari mobil dan mendekati suaminya. Ia berlari dengan kencang, lalu ia peluk tubuh basah suaminya itu dengan air mata yang sangat deras.
"Maafkan aku. Maafkan aku."
Jinan tak membalas perkataan Ardo, ia masih terus menangis dengan kesedihannya karena perkelahian hari ini. Ia pikir semuanya akan berakhir saat di kediaman Romi, tapi ternyata tidak. Hal ini benar-benar jauh dari apa yang ia duga.
"Ka ... kau terluka," seru Jinan saat teringat akan tusukan yang Romi berikan pada pinggang suaminya ketika ia merasakan ada yang mengalir di lengannya.
"Tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil. Jangan menangis."
Ardo mengusap air mata yang membanjiri wajah istrinya dengan tangannya yang kotor, namun dengan cepat Jinan menangkis pelan usapan itu.
"Aku minta maaf. Ini semua salahku. Aku yang sudah membuat kalian bertengkar seperti ini. Aku minta maaf," lirih Jinan membuat hati Ardo bergetar. Tidak, ia tidak mau melihat istrinya sepertu itu, ia tidak mau. Semua ini bukan kesalahan Jinan, ini semua murni salahnya dan juga Romi. Bukan Jinan.
"Sayang, jangan seperti ini. Ka–"
Perkataan Ardo terhenti saat semua orang yang masih berada di sana berteriak dengan kencang secara serentak. Karena penasaran, ia dan Jinan segera menatap ke arah sumber suara tersebut. Tak jauh dari tempat perkelahian terjadi, Jinan dan Ardo dibuat terbelalak saat melihat tubuh seorang pria yang sudah terkapar dengan darah segar yang menggenangi salah satu sisi jalan raya.
******
Belum di edit ya, maaf, udah ngantuk wkwk
Btw tengkyu banget bagi yang sudah setia dengan PERJALANAN HIDUP JINAN sampai saat ini💕 Love u guys😘
__ADS_1