
Biena terdiam menatap Ain yang telah lelap, ia tak memperdulikan sepasang mata yang memandangi nya sejak tadi.
"Bie"
"Shuut diam, anak ku sedang tidur" Potong Biena cepat.
"Aku ingin berbicara, dengarkan aku dulu"
"Aku tidak mau dengar, sudah melihat putramu kan? Kalau gitu sekarang pergilah, keberadaan mu membuat ku tidak nyaman"
Sakit rasanya mendengar perkataan Biena barusan, tapi bukan Ziano namanya kalau langsung menyerah begitu saja, ingatlah pria ini gila!.
"Sudah cukup kabur kabur nya Bie, besok kita pulang"
"Jangan mengatur ku, kau tak punya hak"
"Aku punya hak penuh akan dirimu"
"Terserah, yang jelas aku mau kau jauh dari ku"
"Mau tidak mau aku akan tetap membawa mu pulang" Keukeuh Ziano, pria ini emang keras kepala. Biena bingung menghadapi nya dan mulai takut sekarang.
__ADS_1
Ingin rasanya Biena teriak membentak atau pun memaki tapi tercekat kerna adanya Ain yang tengah pulas.
"Apa yang kau harapkan dari ku brengsek?" Tekan Biena.
"Kembali lah padaku, kita bisa memulai nya dari awal, aku mencintaimu Bie aku janji tak akan ada wanita lain lagi"
"Omong kosong! rumor mu dengan Mirda saja belum kering. Sekali brengsek ya tetap berengsek"
"Rumor itu tidak benar" Sanggah Ziano meyakinkan.
Biena memicingkan matanya menatap netra Ziano dengan menahan rasa kesal yang kian menumpuk dalam benak. Ziano berbohong! jelas sekali dia berbohong, Biena tau itu.
"Lihat belum apa apa saja kau sudah berbohong, jelas jelas itu nyata dan kau masih ingin menghindar? Benar benar tak dapat di percaya"
"Kenapa malah menyalahkan ku? Dasar sinting!"
"Terserah, yang jelas aku tak akan membiarkan mu kabur lagi"
***
Di lain tempat seorang wanita tengah merajuk dengan calon suaminya, yap Andre sedang bertengkar dengan Aerum kerna pria itu memberi tau Ziano tentang Biena serta anak nya.
__ADS_1
"Rum sampai kapan kau mendiami aku seperti ini" Tanya Andre.
"Dasar cepu! Jangan berbicara dengan ku aku sedang malas mendengar mu"
"Hei aku tak tega melihat mu kesakitan waktu itu"
Yap, saat itu Ziano benar benar marah dengan Aerum bahkan sampe mencekram tangan Aerum begitu keras hingga membuat Aerum menjerit kesakitan. Andre yang semula nya bersama papa turun kebawah kerna mendengar suara teriakan Aerum. Dengan sangat terpaksa Andre membuka suara kerna ia tak dapat menyentuh Ziano waktu itu, Ziano tak memberi celah bahkan papanya sendiri terdorong kebelakang.
"Sekarang bagaimana dengan Biena ya?" Sendu Aerum, ia takut Biena marah padanya, Aerum tau betul Ziano itu pemaksa ia yakin sekali sebentar lagi Biena akan kembali ke kota ini kerna paksaan Ziano.
"Jangan khwatir ku rasa ini adalah pilihan terbaik, Ain butuh sosok ayah"
"Tapi Ziano belum berubah"
"Dia tak akan pernah berubah sendiri butuh seseorang untuk hal itu, yang dia butuh kan adalah istrinya. Jika dia sudah mendapatkan apa yang ia mau aku yakin dia tak akan melepaskan nya dan menjaganya sebaik mungkin"
"Dia selalu mengulangi kesalahan yang sama, lihat lah berita nya dengan seorang model saja masih menjadi perdebatan di media sosial" Ketus Aerum.
"Maka dari itu dia butuh Biena, percayalah keberadaan Biena lah yang mempengaruhi nya. Semua akan berjalan baik baik saja jika Biena kembali membuka hatinya untuk Ziano"
"Benarkah?"
__ADS_1
"Tentu saja"
Tbc.