Pertemuan Kehidupan Selanjutnya

Pertemuan Kehidupan Selanjutnya
Bab 100


__ADS_3

Sairen, wanita ini sudah menikah empat bulan yang lalu dengan seorang pria berusia 57 tahun, emang umur mereka terpaut jauh yang ada di pikiran Sairen hanyalah kemewahan, dia kembali pada diri nya yang mendambakan kegerlamoran.


Di ceraikan oleh Ziano sempat membuat nya menderita hidup miskin dan serba kekurangan, penawaran dari pria berumur setengah abad menyelamatkan nya dari kelaparan bahkan sampai menjual apartemen yang di berikan oleh Ziano. Satu hal yang yang harus kalian tau, dia sangat membenci Biena.


"Pembunuh itu, aku akan membalas nya!" Gumam Sairen.


.


.


"Bie aku sangat mencintai mu"


"Awas!"


Biena tak bisa bergerak di buatnya, Ziano terus memeluk nya dengan erat sembari terus mengatakan cinta, bahkan sudah jam sembilan pagi mereka belum beranjak dari kasur kerna cuaca nya yang dingin di tambah Ziano yang terus merengek, ini sisi tersembunyi dari Ziano, benar benar mengejutkan.


"Kita pulang habis tengah hari ok"


"Kau saja, aku punya toko yang harus ku urus di sini"


"Berikan saja toko mu itu pada karyawan mu, aku bisa membiayai mu kau tak butuh toko itu"


"Aku butuh, kerna aku tak ingin pulang bersama mu" Tekan Biena sekali lagi, ia capek mengatakan hal yang sama berulang kali, tapi Ziano terlampau keras kepala, tidak! Maksudnya mereka berdua sama sama keras kepala.


Tiba tiba Ziano beranjak, ia berjalan mengambil ponsel nya yang berada di atas meja.


"Alan" Ucap nya melalui sambung telpon "Pergi ke toko Biena dan katakan pada karyawan nya mulai sekarang toko itu milik nya, jangan lupa menyebut nama Biena agar dia percaya, ambil surat surat kepemilikan di rumah Biena"

__ADS_1


Biena ternganga mendengar hal barusan.


"ZIANO! Apa apaan kau?"


"Shuut, sayang jangan teriak teriak nanti Ain terkejut"


"Kau tidak waras!"


"Emang kapan aku waras?"


"Sudah ku putuskan, kita cerai saja. Kau terlalu gila untuk di pertahankan"


"Aku tak kan Biarkan kau menginjak gedung pengadilan, mimpi saja sana. Ck kapan pun itu tak akan pernah terjadi, ingat itu! Kau selamanya milik ku"


Setelah berujar seperti itu Ziano pergi ke kamar mandi, sedangkan Biena menangis di buat nya. Ia berpikir seharusnya ia bercerai dengan Ziano sejak awal.


Jangan katakan Biena bodoh kerna tidak melawan, hanya saja lawan nya yang terlalu berat. Lapor polisi? Tidak mungkin, polisi pasti akan tertawa kerna mengira hanya perdebatan kecil pasangan, Ziano yang licik pasti bisa memanipulasi.




Sore pukul 17.12, Biena kembali ke Kota asal nya, bahkan kedatangan mereka di sambut hangat oleh papa mama kerna sebelum nya Ziano telah mengabari terlebih dahulu.



"Biena" Peluk Jessi sembari melirik bayi kecil yang berada di gendongan Ziano.

__ADS_1



"Cucu ku?"



Biena mengangguk, kedua manusia paruh baya itu meminta Ain dari gendongan Ziano.



"Tampan sekali cucu ku, kalian berdua istirahat lah, Ain biar kami saja yang jaga" Ucap papa yang kesenangan.



Biena tak bergerak dari tempat nya, ia memperhatikan putranya yang mendapat kasih sayang dari sang mertua. Hingga tiba tiba tangan nya di tarik Ziano membuat Biena melangkah sesuai arah Ziano.



Sebelum masuk Biena berpapasan dengan Aerum "Kita memiliki sesuatu yang harus di bicarakan nanti kak"



Aerum yang tau arah perkataan Biena hanya menghela napas kemudian melirik Andre yang tersenyum kikuk di sebelah nya.



Tbc.

__ADS_1


__ADS_2