
Sesampainya di apartemen, Biena langsung pergi ke kamarnya sedangkan Ziano bersiap untuk berangkat ke kantor nya.
"Tinggal bersama Sairen? Ahahaha bagus sekali kan ku buat hidup si pelakor itu seperti babu" Batin Biena yang masih menyimpan dendam pada Sairen.
Pukul Sembilan malam Sairen masuk dengan banyak sekali belanjaan di tangan nya.
"Zii aku pulang" Ucap Sairen meletakan belanjaan nya di Sofa.
"Oh kau sudah pulang, bagaimana apa kau sudah puas belanjanya hmmm cewe matre" Ucap Biena menyambut kedatangan Sairen membuat wanita itu mundur beberapa langkah.
"Bi-biena!!? Ngapain kau di sini?" Tanya Sairen sedikit takut.
"Hah!! apa kata mu? Kenapa aku disini? Sejak awal ini tempat ku pulang kau hanya numpang dasar pelakor tak sadar diri di mana letak malu mu itu hah!!?" Bentak Biena menatap tajam Sairen dengan tatapan kebencian, tak ada lagi kata sahabat di kamus Biena, ia sudah tak percaya akan hal itu.
"Ziano tidak mencintai mu dia hanya mencintai ku" Sairen memamerkan cinta Ziano pada nya.
"Kau tau Lily? Aku dengar dari Gin kau sangat mirip dengan nya, kau hanya pelarian Ren suatu hari aku akan tertawa melihat kau di campak kan. istirahat lah, besok kau akan bekerja keras ahahha" Tawa jahat Biena membuat sairen takut apalagi Biena terkenal kasar dan egois di tempat tinggalnya dulu.
...***...
__ADS_1
"Hiks.. Biena tinggal di sini bagaimana dengan nasib ku? aku harus melawan nya aku tak boleh diam saja pokoknya harus atau meminta pisah rumah dengan nya iya itu ide bagus" Tangis sairen.
Sementara Ziano tengah bersama Gin di Club malam.
"Jadi kau akan tinggal dengan dua istri mu?" Tanya Gin pada Ziano yang sibuk minum.
"Ya begitulah" Jawab Ziano.
"Ahaha apa mereka akan akur?, yang aku tau Biena itu emosian bagaimana nasib istri kedua mu yang lemah lembut itu?" Tawa Gin membayangkan apa yang akan terjadi.
"Mereka kan sahabat dari kecil Biena juga sangat menyayangi Sairen" Pikir Ziano.
"Itu dulu, sekarang pasti Biena menganggap nya musuh. Persahabatan dari kecil pun akan hancur jika salah satu nya adalah pengkhianat, tak ada yang abadi di dunia ini". Tutur Gin.
Setelah puas di club malam Ziano pun pulang ke apartemen nya, sepanjang perjalanan ia membayangkan Biena menyambut kepulangan nya seperti sebelumnya.
"CKLEK" Pintu terbuka.
"Dari mana kau? ke club lagi atau mencari wanita baru?" Tanya Biena yang sedari tadi menunggu di sofa.
__ADS_1
Ziano tersenyum kerna tebakan nya benar "Kau tidak menjemput ku?" Ucap Ziano merasa senang dengan perhatian Biena.
"Untuk apa? palingan pulang nya kau meninggalkan ku dan aku berakhir jalan kaki lagi" Jawab Biena mengingat kenyataan yang sering terjadi.
"Oh begitu"
"Ck aku mau tidur bye bye selamat malam" Biena pergi menuju kamar nya tapi Ziano malah mengikuti nya.
"Kenapa kau mengikuti ku? pergilah ke kamar mu dan Sairen" Tolak Biena mendorong tubuh Ziano dari pintu kamar nya.
"Malam ini aku tidur dengan mu" Tutur Ziano menerobos masuk kamar Biena.
"Tidak mau!! Pergilah sana aku mau sendiri" Ucap Biena yang berusaha menjaga jarak dengan Ziano.
"Terserah kau saja yang jelas aku tak akan pergi dari sini" Ziano sudah menyamankan dirinya di ranjang Biena.
"Yasudah aku cari kamar lain saja" Biena keluar kamar meninggalkan Ziano.
"Hah!!?" Cengang Ziano melihat kepergian Biena sambil menggaruk garuk kepalanya hingga rambut nya berantakan.
__ADS_1
"Apa dia tidak mencintai ku lagi?" Tanya Ziano pada dirinya sendiri, ia khawatir soal itu.
Tbc.