
Jangan kira Biena telah memaafkan Ziano, tidak semudah itu walaupun Ziano mudah membawanya pulang. Lihatlah sekarang, sedari tadi suaminya mengajak bicara ia malah menutup telinga bahkan menyembunyikan kepala di bawah bantal.
"Bie ayo selesaikan masalah kita dulu" Pujuk Ziano lagi.
Tidak ada respon dari lawan bicara, Biena masih marah padanya dalam banyak hal, jangan di hitung berapa banyak.
"Kalau kau masih diam aku akan menelanjangi mu sekarang juga" Ancam Ziano, Biena langsung terduduk kerna ia tau perkataan barusan bukan lah omong kosong saja.
"Gila!"
"Emang" Jawab Ziano santai dengan senyuman yang sialnya teramat tampan.
"Sialan! Kenapa Tuhan memberikan wajah itu padanya?" Membatin.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak tau!"
"Ok sekarang dengarkan aku" Ziano mengarahkan tubuh Biena untuk menghadap nya, ia ingin bicara serius sekarang.
Mata ketemu mata, saling tatap tatapan memperhatikan wajah satu sama lain. Hal itu membuat pipi Biena memerah, ia tak tahan terus bertatapan seperti ini di tambah hanya diam diaman.
"Katakan cepat" Ujar nya dengan menoleh ke arah lain.
"Maafkan aku, aku janji hanya akan ada kau dan Ain saja dalam rumah tangga kita. Ku mohon maafkan aku"
"Hubungan mu dengan Mirda gimana?"
__ADS_1
"Aku tidak punya hubungan apapun padanya selain memuaskan satu sama lain"
"Cih menjijikkan"
"Kau sudah di sisi ku lagi sekarang, aku tak akan mengulangi nya lagi"
Biena tampak berpikir sejenak, ia melirik Ziano kemudian kembali berpikir lagi.
"Berikan aku waktu" Ucap nya yang masih ragu.
"Baiklah, asalkan kau tetap di sisi ku tidak masalah berapa lama pun kau akan memaafkan ku"
Ya itu cukup, Ziano membutuhkan kehadiran Biena, tidak masalah sang istri masih membenci nya ia yakin ada sedikit harapan untuk memperbaiki semuanya. Membayangkan di saat pulang kerja ia di sambut istri dan anak saja sudah membuat Ziano rasanya ingin terbang ke langit tujuh.
TOK TOK TOK
"Ain kenapa mah?" Tanya Ziano.
"Cari mama nya mungkin"
"Yasudah sini biar Ziano gendong"
"Mama ke dapur dulu ya, bentar lagi makan malam jangan lupa"
"Iya"
Biena mengambil alih Ain, putranya itu kalau magrib magrib gini emang suka di kelon sambil *****. Di baringkan nya Ain dengan dirinya yang juga ikut baring dengan posisi miring.
__ADS_1
"Cup cup sayang, capek ya?"
Ziano tersenyum tipis, pemandangan ini membuatnya hati nya menghangat, sangat hangat hingga membawa kedamaian tersendiri dalam kalbunya. Tak pernah ia merasa sebahagai ini.
Ziano ikut berbaring di samping Ain, bayi itu berada di tengah tengah di antara kedua orang tuanya.
***
"Ziano sudah berhasil menemukan Biena kata mu?"
Barusan adalah Elias yang berucap, ia kesal kerna fakta nya ia berniat terlebih dahulu menemukan Biena.
"Iya Pak" Jawab Bima
"Kenapa Ziano selalu lebih dulu dari ku? Ini tidak adil, apa yang aku inginkan selalu saja dia yang dapatkan. Aku membenci nya"
"Cari wanita lain saja pak, lagian mereka sudah punya anak. Di dunia ini banyak sekali wanita cantik"
"Iya tapi banyak juga yang tidak punya harga diri dan tidak menarik sama sekali"
"Main bapak kurang jauh, gadis gadis jaman sekarang suka sekali bersembunyi. Yang di luar itu hanya sebagian"
"Apa maksud mu?"
"Gadis introvert pak, mereka sangat menarik dan lucu. Di luar lugu di dalam penjelajah 1821, ahaha ketakutan terbesar mereka adalah cowok datang ke rumah untuk mengajak berkenalan. Di jamin mereka langsung panas dingin" Tawa Bima, kerna ia memiliki teman yang adik nya bahkan jarang keluar kamar.
"Lucu sih, gadis jaman sekarang ada ada saja" Kekeh Elias.
__ADS_1
Tbc.